Ad Placeholder Image

Rajungan vs Kepiting: Beda Gizi dan Cara Pilih!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Rajungan vs Kepiting: Beda Gizi, Rasa & Cara Pilih

Rajungan vs Kepiting: Beda Gizi dan Cara Pilih!Rajungan vs Kepiting: Beda Gizi dan Cara Pilih!

DAFTAR ISI


Makanan laut atau seafood selalu menjadi primadona bagi banyak orang, terutama di Indonesia yang merupakan negara maritim. Di antara berbagai jenis hidangan laut yang menggugah selera, krustasea seperti kepiting dan rajungan sering kali menduduki peringkat teratas sebagai hidangan favorit. Keduanya kerap disajikan dalam berbagai bumbu lezat, mulai dari saus padang, lada hitam, hingga saus tiram. Namun, tahukah kamu bahwa rajungan dan kepiting adalah dua jenis hewan yang berbeda, baik dari segi fisik, habitat, hingga kandungan gizinya?

Memahami perbedaan rajungan vs kepiting sangatlah penting, bukan hanya bagi para pencinta kuliner agar tidak salah beli, tetapi juga bagi kamu yang sangat peduli dengan asupan nutrisi harian. Keduanya memang sama-sama lezat dan kaya akan protein, namun ada perbedaan signifikan pada profil lemak, kolesterol, dan tekstur dagingnya. Bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti hiperkolesterolemia (kolesterol tinggi) atau penyakit kardiovaskular, memilih jenis makanan laut yang tepat bisa sangat berdampak pada kesehatan jangka panjang.

Selain itu, baik rajungan maupun kepiting termasuk dalam kelompok makanan yang berpotensi memicu reaksi alergi pada sebagian orang. Mengetahui batasan konsumsi, cara pengolahan yang sehat, serta langkah antisipasi jika terjadi reaksi alergi adalah informasi krusial yang wajib dipahami. Mengonsumsi hidangan laut tidak boleh hanya berfokus pada kelezatannya saja, melainkan juga harus mempertimbangkan efeknya terhadap tubuh kita.

Nah, mau tahu apa saja perbedaan mendasar antara rajungan vs kepiting, perbandingan nutrisinya, serta tips memilih yang terbaik untuk kesehatan? Berikut ulasan lengkapnya!

Perbedaan Fisik dan Habitat Rajungan vs Kepiting

Meskipun sering dianggap sama oleh orang awam, rajungan (Portunus pelagicus) dan kepiting (Scylla serrata atau mud crab) memiliki perbedaan yang sangat mencolok jika diperhatikan dengan saksama. Perbedaan ini dipengaruhi oleh habitat tempat mereka hidup dan beradaptasi.

1. Habitat dan Tempat Hidup

Perbedaan paling utama terletak pada tempat tinggalnya. Rajungan adalah hewan yang hidup sepenuhnya di lautan lepas yang memiliki salinitas (kadar garam) tinggi. Mereka tidak bisa bertahan hidup lama jika diangkat dari air laut. Inilah mengapa kamu sangat jarang melihat rajungan hidup dijual di pasar tradisional; rajungan biasanya sudah dalam keadaan mati atau dibekukan menggunakan es. Sebaliknya, kepiting hidup di perairan payau, seperti area hutan bakau (mangrove) atau muara sungai di mana air laut bertemu dengan air tawar. Kepiting memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa dan mampu bertahan hidup di luar air selama berhari-hari asalkan insangnya tetap lembap. Oleh karena itu, kepiting sering dijual dalam keadaan hidup dengan capit yang diikat.

2. Bentuk dan Warna Cangkang

Dari segi fisik, cangkang rajungan cenderung lebih pipih, melebar, dan tipis. Rajungan jantan memiliki warna dasar kebiruan dengan bercak-bercak putih yang khas (sehingga dalam bahasa Inggris disebut blue swimming crab), sedangkan rajungan betina berwarna lebih kehijauan atau cokelat kusam dengan capit yang lebih kecil. Di sisi lain, kepiting bakau memiliki cangkang yang sangat keras, tebal, dan berbentuk lebih membulat. Warna cangkang kepiting umumnya lebih gelap, mulai dari hijau kecokelatan hingga hitam keabu-abuan. Perbedaan ketebalan cangkang ini membuat cara memakan keduanya pun sedikit berbeda; kepiting membutuhkan alat pemecah cangkang khusus, sedangkan cangkang rajungan kadang bisa diremukkan dengan lebih mudah.

3. Bentuk Capit dan Kaki Renang

Rajungan memiliki capit yang berukuran lebih panjang, ramping, dan pipih, disesuaikan dengan kebutuhan mereka untuk berenang dan mencari mangsa di laut lepas. Kaki belakang rajungan juga berbentuk menyerupai dayung lebar yang berfungsi maksimal untuk berenang. Sementara itu, kepiting memiliki capit yang sangat besar, tebal, dan kuat, yang digunakan untuk menggali lumpur, mempertahankan diri, dan menghancurkan cangkang mangsanya di ekosistem bakau.

Perbandingan Kandungan Gizi Rajungan vs Kepiting

Jika perdebatan rajungan vs kepiting dibawa ke ranah nutrisi, keduanya menawarkan profil gizi yang sangat baik dan bermanfaat bagi tubuh. Namun, ada perbedaan kecil yang mungkin menjadi penentu bagi kamu yang sedang menjalani diet tertentu.

1. Kandungan Protein

Baik rajungan maupun kepiting merupakan sumber protein hewani berkualitas tinggi. Dalam 100 gram daging rajungan maupun kepiting matang, terdapat sekitar 16 hingga 19 gram protein. Protein dari hewan krustasea ini sangat mudah dicerna oleh tubuh dan mengandung asam amino esensial yang lengkap, yang sangat dibutuhkan untuk perbaikan jaringan, pembentukan otot, dan produksi enzim serta hormon.

2. Lemak dan Kolesterol

Di sinilah letak perbedaan krusialnya. Rajungan umumnya memiliki kandungan lemak total dan kolesterol yang sedikit lebih rendah dibandingkan kepiting. Daging rajungan sangat ramping (lean) dengan kadar lemak kurang dari 1,5 gram per 100 gram porsi. Sementara itu, kepiting bakau, terutama jika kamu mengonsumsi bagian telur (roe) atau lemak kuningnya (tomalley), memiliki kadar kolesterol yang cukup tinggi. Meskipun kolesterol dari makanan tidak secara langsung berdampak drastis pada kolesterol darah layaknya lemak jenuh, konsumsi kepiting secara berlebihan tetap perlu diwaspadai oleh penderita penyakit jantung atau dislipidemia.

3. Vitamin dan Mineral Esensial

Kedua jenis krustasea ini adalah gudang mineral. Keduanya kaya akan Vitamin B12, yang sangat penting untuk kesehatan saraf dan pembentukan sel darah merah. Selain itu, terdapat kandungan Zinc (seng) yang tinggi, terutama pada kepiting, yang berperan besar dalam memperkuat sistem kekebalan tubuh dan mempercepat penyembuhan luka. Kandungan Selenium di dalamnya juga berfungsi sebagai antioksidan kuat yang melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.

4. Asam Lemak Omega-3

Kabar baik bagi pencinta seafood, baik rajungan maupun kepiting mengandung asam lemak Omega-3 (EPA dan DHA). Meskipun jumlahnya tidak setinggi pada ikan salmon atau sarden, Omega-3 dalam rajungan dan kepiting tetap berkontribusi positif dalam menjaga fungsi otak dan mengurangi peradangan dalam tubuh.

Manfaat Kesehatan Mengonsumsi Rajungan dan Kepiting

Memasukkan daging rajungan atau kepiting ke dalam menu diet seimbang dapat memberikan sejumlah manfaat kesehatan yang luar biasa, di antaranya:

1. Menjaga Kesehatan Jantung

Meski kepiting sering ditakuti karena kolesterolnya, daging kepiting dan rajungan (tanpa telurnya) sebenarnya rendah lemak jenuh. Kandungan asam lemak Omega-3 di dalamnya dapat membantu menurunkan kadar trigliserida dalam darah, mengurangi risiko pembentukan plak di pembuluh darah, dan menjaga ritme jantung tetap normal.

2. Meningkatkan Fungsi Otak dan Saraf

Tingginya kadar Vitamin B12, tembaga (copper), dan Omega-3 membuat rajungan dan kepiting sangat baik untuk otak. Vitamin B12 mencegah penurunan kognitif dan menjaga selubung mielin (pelindung saraf) tetap sehat, sementara Omega-3 mendukung fungsi memori dan konsentrasi.

3. Mencegah Anemia

Bagi kamu yang rentan terhadap penyakit kurang darah atau anemia, daging rajungan dan kepiting bisa menjadi solusi. Kandungan Vitamin B12 dan tembaga bekerja sama untuk membantu penyerapan zat besi dan produksi sel darah merah yang sehat, sehingga tubuh tidak mudah merasa lelah dan pucat.

4. Mendukung Sistem Kekebalan Tubuh

Kandungan Zinc dan Selenium merupakan duo mineral yang sangat penting untuk fungsi imun. Zinc membantu sel imun berfungsi optimal dalam melawan bakteri dan virus, sedangkan Selenium mengurangi stres oksidatif yang dapat melemahkan daya tahan tubuh.

Tips Mengonsumsi Seafood agar Tetap Sehat
  1. Perhatikan porsi makan: Konsumsi secukupnya, idealnya tidak lebih dari 1-2 kali seminggu, terutama jika kamu memiliki riwayat kolesterol tinggi.
  2. Hindari konsumsi telur kepiting berlebihan: Telur dan bagian berwarna kuning/oranye di dalam cangkang memiliki kandungan kolesterol tertinggi. Fokuslah pada daging putih di bagian capit dan badannya.
  3. Pilih metode memasak yang sehat: Hindari menggoreng (deep fry) atau menggunakan kuah santan kental yang dipanaskan berulang kali. Lebih baik dikukus (steam), direbus, atau dipanggang dengan bumbu rempah alami.

Cara Memilih dan Mengolah yang Tepat

Kualitas nutrisi dari rajungan vs kepiting sangat bergantung pada seberapa segar hewan tersebut saat kamu membelinya, serta bagaimana kamu mengolahnya.

Untuk membeli kepiting, pastikan kamu membelinya dalam keadaan hidup. Kepiting yang sudah mati sebelum dimasak akan melepaskan enzim yang membuat dagingnya cepat hancur, lembek, dan bahkan beracun karena pembusukan terjadi sangat cepat. Pilih kepiting yang agresif, capitnya bergerak aktif, dan terasa berat saat diangkat (menandakan dagingnya padat, bukan kopong).

Sementara untuk rajungan, karena sulit menemukannya dalam keadaan hidup, pilihlah yang dibekukan dengan baik atau yang baru saja mati. Pastikan cangkangnya tidak berlendir, matanya masih terlihat jernih, aromanya amis laut yang segar (bukan bau busuk atau pesing amonia), dan daging perutnya masih terasa keras saat ditekan ringan.

Saat mengolah, membersihkan insang (bagian yang menyerupai spons abu-abu di dalam cangkang) adalah hal yang wajib dilakukan, karena bagian tersebut berfungsi menyaring kotoran dari air dan tidak bisa dimakan. Cucilah dengan air mengalir sebelum dimasak. Untuk menonjolkan rasa manis alaminya, mengukus rajungan atau kepiting dengan tambahan jahe, bawang putih, dan sedikit serai adalah metode yang paling direkomendasikan secara medis.

Risiko Alergi dan Kapan Harus Waspada

Satu hal yang tidak boleh diabaikan saat membahas makanan laut adalah risiko alergi. Alergi kerang-kerangan (shellfish allergy), yang mencakup rajungan, kepiting, udang, dan lobster, merupakan salah satu jenis alergi makanan yang paling umum terjadi pada orang dewasa.

Protein utama yang memicu alergi pada krustasea adalah tropomyosin. Sistem kekebalan tubuh pada penderita alergi secara keliru menganggap protein ini sebagai ancaman berbahaya, sehingga melepaskan histamin secara masif ke dalam aliran darah. Perlu dicatat bahwa proses memasak, baik direbus maupun digoreng dengan suhu tinggi, tidak akan merusak struktur protein tropomyosin ini, sehingga risiko alergi tetap ada pada seafood matang.

Jika kamu atau anggota keluarga mengalami gejala alergi setelah mengonsumsi rajungan atau kepiting—seperti ruam merah gatal (biduran), pembengkakan pada bibir atau kelopak mata, sakit perut mendadak, hingga sesak napas—segera hentikan konsumsi. Reaksi alergi berat yang disebut anafilaksis bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani secara medis. Sebagai pertolongan pertama pada gejala ringan, kamu bisa beli obat alergi seperti antihistamin melalui platform kesehatan, namun evaluasi dokter sangat diperlukan untuk memastikan keamanan tubuhmu.

Studi Terkait

Journal of Food Science and Technology menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa profil nutrisi krustasea laut (termasuk jenis Portunidae seperti rajungan) memiliki keseimbangan asam amino esensial yang sangat tinggi dan rasio asam lemak tak jenuh yang menguntungkan bagi pencegahan penyakit kardiovaskular jika diolah dengan metode perebusan.

Studi ini memperkuat fakta bahwa daging rajungan sangat direkomendasikan sebagai alternatif sumber protein diet rendah lemak bagi masyarakat modern, asalkan metode pengolahannya tidak melibatkan penambahan lemak trans atau natrium secara berlebihan.

Kesimpulannya, perdebatan antara rajungan vs kepiting kembali pada preferensi rasa dan kondisi kesehatan masing-masing. Jika kamu mencari daging yang lebih manis, lembut, dan rendah lemak, rajungan adalah pilihan tepat. Namun jika kamu menyukai tekstur daging yang padat, tebal, dan bersedia meluangkan waktu memecahkan cangkang kerasnya, kepiting bakau bisa menjadi hidangan istimewa sesekali.

Tetaplah bijak dalam mengatur porsi makan dan pastikan tubuhmu tidak memiliki riwayat alergi seafood sebelum menikmati hidangan laut yang lezat ini. Jika kamu mengalami keluhan kesehatan terkait pencernaan atau alergi setelah mengonsumsi makanan laut, segera hubungi profesional medis.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Food and Agriculture Organization (FAO). Diakses pada 2024. Portunus pelagicus & Scylla serrata Species Fact Sheets.
U.S. Department of Agriculture (USDA) FoodData Central. Diakses pada 2024. Crab, raw & Crab, cooked – Nutritional Profile.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Shellfish allergy – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Shellfish Allergy: Causes, Symptoms & Treatment.
Journal of Food Science and Technology. Diakses pada 2024. Nutritional evaluation of marine crustaceans.

FAQ

1. Apakah rajungan dan kepiting aman untuk penderita asam urat?

Rajungan dan kepiting mengandung purin dalam jumlah sedang hingga tinggi. Penderita asam urat (gout) disarankan untuk membatasi konsumsi semua jenis krustasea agar tidak memicu lonjakan kadar asam urat yang dapat menyebabkan nyeri sendi.

2. Lebih enak rajungan atau kepiting?

Ini sangat subjektif. Daging rajungan dikenal memiliki tekstur yang lebih lembut dan rasa alami yang lebih manis, sangat cocok untuk hidangan sup atau crab cake. Sedangkan daging kepiting lebih padat, tebal, dan gurih, cocok dimasak dengan bumbu kental dan kuat seperti saus lada hitam.

3. Mengapa cangkang kepiting dan rajungan berubah warna jadi merah saat dimasak?

Cangkang krustasea mengandung pigmen bernama astaxanthin yang terikat dengan protein. Saat masih hidup, ikatan ini membuat warna cangkang tampak biru, hijau, atau gelap. Saat dipanaskan, panas merusak protein tersebut dan melepaskan pigmen astaxanthin yang memiliki warna merah menyala atau oranye kemerahan.

4. Apakah boleh makan rajungan setiap hari?

Meskipun bergizi, mengonsumsi makanan laut seperti rajungan setiap hari tidak disarankan karena adanya risiko paparan logam berat dari laut (seperti merkuri) dan risiko ketidakseimbangan gizi harian. Sebaiknya variasikan sumber proteinmu dengan unggas, daging tanpa lemak, telur, dan protein nabati.