Ad Placeholder Image

Rantidin: Sudah Ditarik BPOM, Pahami Alasannya Kini

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   08 Mei 2026

Kenapa Rantidin Ditarik? Amankah Penggantinya?

Rantidin: Sudah Ditarik BPOM, Pahami Alasannya KiniRantidin: Sudah Ditarik BPOM, Pahami Alasannya Kini

Ranitidin: Kegunaan, Mekanisme Kerja, dan Alasan Penarikan dari Peredaran

Ranitidin adalah jenis obat yang sebelumnya umum digunakan untuk mengatasi kondisi akibat produksi asam lambung berlebihan. Obat ini efektif dalam meredakan gejala penyakit refluks gastroesofagus (GERD), tukak lambung, dan gastritis. Namun, Ranitidin telah ditarik dari peredaran di banyak negara, termasuk Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta Brasil oleh Anvisa, karena adanya kekhawatiran terkait potensi kandungan zat pemicu kanker.

Apa Itu Ranitidin dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Ranitidin termasuk dalam golongan obat penghambat reseptor H2. Mekanisme kerjanya adalah dengan menghambat reseptor histamin H2 yang terdapat di sel parietal lambung.

Penghambatan ini secara signifikan mengurangi jumlah asam klorida yang diproduksi oleh lambung. Dengan berkurangnya produksi asam lambung, gejala yang berhubungan dengan iritasi atau kerusakan pada saluran pencernaan dapat mereda.

Kegunaan Ranitidin Sebelum Ditarik

Sebelum penarikannya, Ranitidin banyak diresepkan untuk berbagai kondisi medis. Obat ini merupakan pilihan utama dalam pengelolaan masalah pencernaan yang melibatkan kelebihan asam lambung.

Beberapa indikasi umum penggunaan Ranitidin meliputi:

  • Mengobati dan mencegah tukak (ulkus) di lambung dan usus dua belas jari, yaitu luka pada lapisan dinding organ tersebut.
  • Mengatasi gejala penyakit refluks gastroesofagus (GERD), kondisi di mana asam lambung naik kembali ke kerongkongan, serta esofagitis, peradangan pada kerongkongan.
  • Mencegah perdarahan akibat tukak stres pada pasien yang sakit parah, terutama mereka yang menjalani perawatan intensif.

Alasan Penarikan Ranitidin dari Peredaran

Keputusan untuk menarik Ranitidin dari pasar global merupakan langkah serius yang diambil oleh otoritas kesehatan di berbagai negara. Penarikan ini dipicu oleh penemuan zat N-Nitrosodimethylamine (NDMA) dalam produk Ranitidin.

NDMA adalah senyawa kimia yang diklasifikasikan sebagai karsinogen potensial pada manusia. Artinya, zat ini dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko kanker jika terpapar dalam jangka panjang.

Meskipun kadar NDMA yang ditemukan pada awalnya dianggap rendah, kekhawatiran akan stabilitas obat dan potensi peningkatan kadar NDMA seiring waktu penyimpanan membuat regulator seperti BPOM di Indonesia dan Anvisa di Brasil mengeluarkan keputusan penarikan. Prioritas utama adalah keselamatan pasien.

Alternatif Pengobatan untuk Asam Lambung

Setelah penarikan Ranitidin, banyak pasien mencari alternatif yang aman dan efektif untuk mengatasi masalah asam lambung. Untungnya, ada beberapa pilihan pengobatan yang tersedia dan direkomendasikan oleh tenaga medis.

Alternatif tersebut termasuk:

  • Penghambat Pompa Proton (PPI). Obat-obatan seperti omeprazole, lansoprazole, dan esomeprazole bekerja dengan cara yang lebih kuat dalam mengurangi produksi asam lambung.
  • Antasida. Obat ini bekerja cepat untuk menetralkan asam lambung dan meredakan gejala ringan seperti mulas atau sakit perut.
  • Penghambat Reseptor H2 Lainnya. Beberapa obat dalam golongan yang sama dengan Ranitidin, seperti famotidine, masih dianggap aman dan tersedia.

Selain obat-obatan, modifikasi gaya hidup juga memegang peran penting. Mengonsumsi makanan dalam porsi kecil, menghindari makanan pemicu (seperti makanan pedas, berlemak, atau asam), tidak langsung berbaring setelah makan, dan menjaga berat badan ideal dapat membantu mengelola gejala asam lambung.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Sangat penting untuk mencari saran medis profesional jika mengalami gejala asam lambung yang persisten atau memburuk. Gejala yang memerlukan perhatian khusus meliputi nyeri dada, kesulitan menelan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau muntah darah.

Dokter dapat melakukan evaluasi menyeluruh untuk menentukan penyebab pasti gejala dan merekomendasikan rencana pengobatan yang paling sesuai. Pemberian obat alternatif atau penyesuaian gaya hidup harus berdasarkan diagnosis dan anjuran dokter.

Kesimpulan dan Rekomendasi Halodoc

Ranitidin, meskipun efektif dalam mengurangi produksi asam lambung, telah ditarik dari peredaran karena kekhawatiran akan adanya zat pemicu kanker. Penting bagi siapa pun yang sebelumnya mengonsumsi Ranitidin untuk tidak lagi menggunakan obat tersebut dan mencari alternatif yang direkomendasikan oleh dokter.

Jika mengalami gangguan asam lambung atau memerlukan informasi lebih lanjut mengenai pilihan pengobatan yang aman, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Halodoc menyediakan layanan konsultasi medis yang dapat membantu mendapatkan penanganan tepat dan informasi kesehatan yang akurat sesuai kondisi. Prioritaskan selalu kesehatan dengan mengikuti anjuran medis dari ahli yang terpercaya.