• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengenal Remdesivir, Obat Virus Corona yang Akan Dipatenkan

Mengenal Remdesivir, Obat Virus Corona yang Akan Dipatenkan

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Di tengah wabah virus corona yang semakin memburuk dan mengkhawatirkan warga dunia, otoritas Cina terus mengembangkan pengobatan untuk mengatasi wabah ini. 

Sayangnya, belum ada pengobatan yang disetujui untuk penyakit yang disebabkan oleh coronavirus. Oleh sebab itu, sejak 21 Januari lalu, Cina mulai mengajukan hak paten obat yang diyakini bisa melawan coronavirus. Nama obat untuk corona ini adalah remdesivir. 

Baca juga: 10 Fakta Virus Corona yang Wajib Diketahui

Melansir The New York Times, remdesivir bukan obat baru. Remdesivir adalah obat buatan raksasa farmasi asal Amerika Serikat, Gilead Sciences Inc yang sebelumnya dipakai untuk menguji berbagai penyakit seperti Ebola dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). 

Lebih Jauh Tentang Remdesivir

Untuk membunuh coronavirus, remdesivir harus diberikan secara intravena. Namun sejauh ini, remdesivir masih bersifat eksperimental dan belum disetujui untuk penggunaan apa pun. Akan tetapi, penelitian terhadap tikus dan kera yang terinfeksi membuktikan bahwa remdesivir dapat melawan coronavirus.

Remdesivir juga dinilai aman karena pernah diuji pada pengidap Ebola sebelumnya dan tidak menyebabkan efek buruk. Melansir dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remdesivir menunjukkan potensi perbaikan klinis yang baik terhadap virus Ebola dan infeksi filovirus. Obat remdesivir ini juga diterapkan pada wabah virus Ebola di Afrika Barat yang terjadi pada tahun 2013-2016. 

The New York Times menyebutkan, dokter di negara bagian Washington juga pernah memberikan remdesivir kepada pengidap coronavirus pertama di Amerika Serikat. Hal ini karena kondisinya memburuk dan gejala pneumonia mulai berkembang ketika ia berada di rumah sakit selama seminggu. Hasilnya, gejala pneumonia membaik pada hari berikutnya.

Faktanya, hingga kini memang belum ada pengobatan yang disetujui untuk mengatasi infeksi virus corona. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, mereka yang terinfeksi biasanya menerima perawatan terutama untuk membantu meringankan gejala yang terjadi.  Beberapa obat juga dipakai untuk mengurangi gejalanya, dari obat yang menargetkan Ebola hingga HIV. 

Hingga kini, Gilead sudah bekerja dengan otoritas kesehatan China untuk membuat uji coba acak dengan kontrol (randomized controlled trial). Pengujian ini menentukan apakah remdesivir bisa digunakan secara aman dan efektif untuk mengobati 2019-nCoV. Gilead juga dilaporkan mempercepat pengujian laboratorium yang sesuai untuk menguji remdesivir terhadap sampel 2019-nCoV. 

Baca juga: Awas, Hewan Peliharaan Juga Rentan Terkena Virus Corona

Meski Telah Banyak Korban, Kemungkinan Sembuh juga Besar

Hingga artikel ini ditulis, 636 orang sudah menjadi korban akan penyakit ini. Kasus coronavirus di 31 wilayah provinsi Cina pun sudah tercatat menjadi 28.018 kasus. Negara-negara lain pun semakin meningkatkan kewaspadaan mereka akan virus ini, karena mereka sangat mungkin menyebar melalui penerbangan internasional. 

Namun, kabar kesembuhan penyakit ini juga semakin banyak. Komisi Kesehatan Nasional Cina juga menyebutkan bahwa sudah ada  892 pengidap virus corona yang dinyatakan sembuh. Kunci dari penyembuhan infeksi virus corona akan menekankan pada upaya-upaya pendukung untuk meredakan gejala seperti menjaga asupan nutrisi, menjaga kebutuhan cairan tubuh, serta istirahat.

Jadi, bisa dikatakan bahwa kunci penyembuhannya virus corona adalah melalui penguatan sistem kekebalan tubuh. Di dalam dunia medis, istilah ini disebut fagositosis, yakni kondisi ketika virus yang menginfeksi tubuh berhasil dikalahkan atau “ditelan” oleh sel-sel imun, sehingga virus bisa mati.

Baca juga: 4 Tips Jaga Imunitas untuk Cegah Penularan Corona

Itulah informasi mengenai remdesivir, obat virus corona yang akan segera dipatenkan dan beberapa hal yang dilakukan untuk menyembuhkan infeksi coronavirus. Apabila kamu mengalami tanda-tanda infeksi pernapasan, maka sebaiknya segera kunjungi rumah sakit agar diperiksa lebih lanjut. Sebelum mengunjungi rumah sakit, kamu bisa membuat janji dengan dokter terlebih dahulu melalui aplikasi Halodoc.

Referensi:
The New York Times. Diakses pada 2020. China Begins Testing an Antiviral Drug in Coronavirus Patients.
Livescience. Diakses pada 2020. How Experts Plan to Treat the New Coronavirus.
Center for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. Coronavirus.