
Retensi Urine: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi Masalahnya
Retensi Urine: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi Tuntas

DAFTAR ISI
- Definisi dan Jenis Retensi Urine
- Penyebab dan Faktor Risiko
- Gejala yang Harus Diwaspadai
- Diagnosis dan Penanganan Medis
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Pernahkah kamu merasa perut bagian bawah terasa sangat penuh, namun tidak ada urine yang keluar saat mencoba buang air kecil? Atau mungkin pancaran urine terasa sangat lemah dan seolah tidak tuntas? Kondisi yang sangat tidak nyaman ini dalam dunia medis dikenal dengan istilah retensi urine. Secara mendasar, pemahaman mengenai retensi urin adalah hal yang sangat penting untuk diketahui agar kamu tidak menunda konsultasi ke dokter Halodoc, karena beberapa jenis retensi urine merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan sesegera mungkin.
Sistem saluran kemih manusia dirancang untuk menyimpan dan mengeluarkan limbah cair dari dalam tubuh secara efisien. Proses ini melibatkan koordinasi yang kompleks antara otot kandung kemih, saraf, organ ginjal, ureter, dan uretra. Ketika koordinasi ini terganggu akibat adanya penyumbatan, kerusakan saraf, atau pelemahan otot, kandung kemih kehilangan kemampuannya untuk mengosongkan urine sepenuhnya. Hal inilah yang menjadi cikal bakal terjadinya masalah retensi urine.
Kondisi ini tidak boleh dianggap remeh atau dibiarkan tanpa penanganan. Jika dibiarkan berlarut-larut, urine yang terperangkap di dalam kandung kemih dapat menjadi tempat ideal bagi bakteri untuk berkembang biak, memicu infeksi saluran kemih (ISK) yang parah. Lebih jauh lagi, tekanan dari urine yang menumpuk dapat berbalik arah (refluks) menuju ginjal, yang pada akhirnya berisiko menyebabkan kerusakan fungsi ginjal permanen.
Mengingat retensi urine membutuhkan diagnosis spesifik dari tenaga medis, pengobatannya pun sering kali melibatkan prosedur khusus atau obat-obatan resep. Setelah mendapatkan diagnosis yang tepat dari dokter, kamu bisa dengan mudah menebus resep dan beli obat secara online di Halodoc, di mana produk dipastikan 100% asli dan diantar langsung ke rumahmu. Nah, untuk memahami lebih dalam mengenai penyebab, gejala, dan cara menangani retensi urine, mari simak ulasan lengkapnya di bawah ini!
Definisi dan Jenis Retensi Urine
Retensi urine adalah suatu kondisi di mana kandung kemih tidak dapat mengosongkan isinya secara tuntas, meskipun penderitanya memiliki keinginan yang kuat untuk buang air kecil. Kondisi ini dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Namun, secara statistik, pria yang berusia di atas 50 tahun memiliki risiko yang jauh lebih tinggi, umumnya berkaitan dengan masalah pembesaran kelenjar prostat.
Dalam praktiknya, dokter membagi kondisi ini ke dalam dua kategori utama, yang masing-masing memiliki tingkat keparahan dan pendekatan medis yang berbeda:
1. Retensi Urine Akut (Acute Urinary Retention)
Retensi urine akut terjadi secara mendadak atau tiba-tiba. Penderitanya sama sekali tidak bisa mengeluarkan urine meskipun kandung kemih sudah sangat penuh. Kondisi ini menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa di area perut bagian bawah dan panggul. Retensi urine akut diklasifikasikan sebagai kondisi kegawatdaruratan medis (medical emergency). Jika tidak segera diatasi—biasanya dengan pemasangan kateter untuk mengeluarkan urine—kandung kemih bisa meregang hingga pada titik ekstrem dan memicu kerusakan organ yang fatal.
2. Retensi Urine Kronis (Chronic Urinary Retention)
Berbeda dengan tipe akut, retensi urine kronis berkembang secara perlahan dalam jangka waktu yang lama. Penderita biasanya masih bisa buang air kecil, namun kandung kemih tidak pernah benar-benar kosong (incomplete emptying). Tipe kronis sering kali tidak menimbulkan rasa nyeri yang tajam, sehingga banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka mengidap kondisi ini sampai muncul komplikasi lain, seperti infeksi saluran kemih berulang atau mengompol secara tidak sadar (overflow incontinence).
Penyebab dan Faktor Risiko Terjadinya Retensi Urine
Ada banyak faktor yang bisa mengganggu fungsi normal kandung kemih. Penyebab retensi urine umumnya dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori utama, mulai dari sumbatan fisik hingga gangguan neurologis.
1. Obstruksi atau Penyumbatan Saluran Kemih
Penyumbatan pada aliran urine adalah penyebab paling umum. Pada pria, penyebab utamanya adalah Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak. Prostat yang membesar akan menjepit uretra, membuat aliran urine terhambat. Penyebab obstruksi lainnya meliputi striktur uretra (penyempitan saluran kencing), batu saluran kemih, tumor pada panggul atau kandung kemih, dan konstipasi parah yang menekan kandung kemih. Pada wanita, kondisi seperti prolaps organ panggul (seperti sistokel atau rektokel) dapat mengubah posisi saluran kemih dan memicu sumbatan.
2. Gangguan Saraf (Masalah Neurologis)
Proses buang air kecil membutuhkan sinyal saraf yang lancar antara otak, sumsum tulang belakang, dan kandung kemih. Jika saraf ini rusak, sinyal untuk mengosongkan kandung kemih tidak akan tersampaikan. Gangguan saraf yang bisa menyebabkan retensi urine meliputi stroke, cedera tulang belakang, diabetes melitus (neuropati diabetik), multiple sclerosis, penyakit Parkinson, dan trauma pada area panggul.
3. Pengaruh Obat-obatan Tertentu
Beberapa jenis obat memiliki efek samping yang dapat mengganggu kontraksi otot kandung kemih. Obat-obatan tersebut termasuk antihistamin (obat alergi), dekongestan (obat flu), obat antispasmodik untuk kram perut, obat antidepresan trisiklik, serta obat pereda nyeri golongan opioid. Itulah mengapa penggunaan obat harus selalu di bawah pengawasan medis jika kamu memiliki riwayat masalah berkemih.
4. Kelemahan Otot Kandung Kemih (Detrusor Underactivity)
Seiring bertambahnya usia, otot kandung kemih (otot detrusor) bisa melemah dan kehilangan daya dorongnya untuk mengeluarkan urine. Kelemahan ini juga bisa dipicu oleh kebiasaan buruk menahan kencing terlalu lama secara terus-menerus, yang lama-kelamaan membuat otot kandung kemih meregang melebihi kapasitas normalnya dan kehilangan elastisitas.
5. Faktor Pascakoperasi dan Anestesi
Setelah menjalani prosedur operasi, terutama operasi pada area panggul, tulang belakang, atau sendi, pasien kerap mengalami retensi urine sementara. Hal ini disebabkan oleh efek obat bius (anestesi) yang memblokir sinyal saraf sementara waktu, serta pembengkakan di area operasi yang menekan saluran kemih.
Tips Pencegahan Menjaga Kesehatan Saluran Kemih
- Hindari kebiasaan menahan buang air kecil. Segeralah ke toilet jika sudah terasa panggilan alam.
- Lakukan senam Kegel secara rutin untuk memperkuat otot dasar panggul.
- Cukupi kebutuhan cairan harian, namun hindari minum air dalam jumlah yang terlalu banyak sekaligus menjelang waktu tidur.
- Atasi sembelit dengan mengonsumsi makanan tinggi serat, karena tinja yang keras dapat menekan kandung kemih.
- Lakukan pemeriksaan rutin untuk pria di atas 50 tahun untuk mendeteksi pembesaran prostat sejak dini.
Gejala yang Harus Diwaspadai
Mengenali gejala retensi urine sejak dini bisa menyelamatkan ginjal dan saluran kemihmu dari kerusakan permanen. Gejala yang muncul sangat bergantung pada apakah kondisi tersebut bersifat akut atau kronis.
Pada retensi urine akut, gejalanya sangat jelas dan traumatis. Pasien akan merasakan ketidakmampuan total untuk buang air kecil, perut bagian bawah terasa membengkak, menegang, dan sangat menyakitkan (nyeri hebat). Kondisi ini kerap disertai dengan rasa gelisah, berkeringat dingin, dan perut terasa keras saat ditekan.
Sementara itu, retensi urine kronis memiliki gejala yang lebih “diam-diam” namun konstan. Beberapa gejala khas retensi urine kronis antara lain:
- Frekuensi buang air kecil yang meningkat (lebih dari 8 kali sehari), namun volume urine yang keluar hanya sedikit.
- Kesulitan untuk mulai kencing (hesitancy).
- Pancaran urine terasa lemah, menetes, atau terputus-putus.
- Rasa mengganjal atau merasa tidak tuntas setelah buang air kecil.
- Sering terbangun di malam hari hanya untuk buang air kecil (nokturia).
- Terjadinya “overflow incontinence”, yaitu urine menetes dengan sendirinya tanpa disadari karena kandung kemih sudah sangat penuh (luberk).
Diagnosis dan Penanganan Medis
Karena retensi urine berkaitan dengan kerusakan organ secara struktural maupun saraf, kondisi ini tidak bisa diatasi hanya dengan obat bebas (OTC). Diperlukan intervensi langsung dari tenaga medis profesional.
1. Proses Diagnosis
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk meraba perut bagian bawah dan melakukan colok dubur (Digital Rectal Exam/DRE) untuk mengecek ukuran prostat pada pria. Selain itu, tes spesifik yang biasa dilakukan adalah tes Post-Void Residual (PVR). PVR menggunakan alat ultrasonografi (USG) khusus atau kateter untuk mengukur sisa urine dalam kandung kemih setelah kamu mencoba buang air kecil. Tes lainnya meliputi tes urine (urinalisis) untuk mengecek infeksi, tes darah untuk menilai fungsi ginjal, sitoskopi untuk melihat bagian dalam saluran kemih, serta tes urodinamik untuk mengevaluasi kemampuan saraf dan otot kandung kemih.
2. Pemasangan Kateter (Katerisasi)
Langkah pertama dan paling utama dalam menangani retensi urine, terutama yang akut, adalah mengeluarkan urine yang terjebak secepat mungkin. Dokter akan memasukkan selang tipis yang disebut kateter melalui uretra hingga ke kandung kemih. Jika uretra tersumbat total, dokter mungkin akan membuat sayatan kecil di perut bawah untuk memasukkan kateter langsung ke kandung kemih (kateter suprapubik).
3. Pemberian Obat-obatan dengan Resep Dokter
Jika retensi disebabkan oleh pembesaran prostat (BPH), dokter akan meresepkan obat golongan alpha-blockers untuk merelaksasi otot prostat dan leher kandung kemih, atau obat golongan 5-alpha reductase inhibitors untuk mengecilkan ukuran prostat seiring waktu. Obat-obatan ini masuk dalam kategori obat keras dan mutlak memerlukan resep serta pengawasan dokter.
4. Tindakan Pembedahan (Operasi)
Bila obat-obatan tidak lagi efektif atau penyebabnya adalah kelainan anatomi yang parah, tindakan operasi menjadi pilihan. Prosedur seperti TURP (Transurethral Resection of the Prostate), pengangkatan batu saluran kemih, pembedahan untuk mengatasi striktur uretra, atau perbaikan prolaps organ panggul pada wanita mungkin direkomendasikan oleh dokter spesialis urologi.
Studi Mengenai Insidensi dan Komplikasi Retensi Urine
National Institutes of Health (NIH) pernah mempublikasikan sejumlah literatur medis yang menyoroti betapa tingginya angka kejadian retensi urine pada populasi pria lanjut usia. Studi menunjukkan bahwa risiko pria mengalami setidaknya satu kali episode retensi urine akut meningkat tajam setelah mereka memasuki usia 70 tahun, dengan pembesaran prostat jinak (BPH) sebagai kontributor utama dalam lebih dari 50% kasus.
Lebih lanjut, studi urodinamik mengonfirmasi bahwa menunda penanganan retensi urine akut dapat menyebabkan kerusakan ireversibel (tidak dapat pulih kembali) pada serabut saraf parasimpatis di dinding kandung kemih. Hal ini menekankan pentingnya deteksi dini dan intervensi cepat—seperti pemasangan kateter dan evaluasi farmakologis—untuk mempertahankan kualitas hidup dan fungsi renal (ginjal) pasien dalam jangka panjang.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Urinary Retention – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Urinary Retention: Causes, Symptoms & Treatment.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diakses pada 2024. Urinary Retention.
Urology Care Foundation. Diakses pada 2024. What is Urinary Retention?
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Urological conditions and ageing.
FAQ
1. Apakah retensi urin adalah kondisi yang bisa sembuh total?
Hal ini bergantung pada penyebab dasarnya. Jika disebabkan oleh efek samping obat, operasi, atau batu ginjal yang dapat diangkat, kondisi ini bisa disembuhkan sepenuhnya. Namun, jika disebabkan oleh kerusakan saraf permanen atau pembesaran prostat yang progresif, kondisi ini membutuhkan manajemen medis jangka panjang.
2. Apa bahayanya jika retensi urine dibiarkan tanpa pengobatan?
Membiarkan kandung kemih terus-menerus penuh dapat menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK) yang parah, batu kandung kemih, pelemahan otot kandung kemih secara permanen, dan yang paling berbahaya adalah gagal ginjal akibat tekanan urine yang mengalir balik ke atas (hidronefrosis).
3. Apakah wanita bisa mengalami retensi urine?
Ya, wanita bisa mengalaminya, meskipun kasusnya tidak sebanyak pria. Pada wanita, kondisi ini umumnya dipicu oleh prolaps organ panggul (kandung kemih atau rektum yang turun), infeksi saluran kemih akut, kehamilan, atau kerusakan saraf pasca operasi panggul.
4. Makanan atau minuman apa yang harus dihindari penderita retensi urine?
Penderita disarankan untuk membatasi konsumsi alkohol, kafein (kopi, teh pekat, soda), dan makanan yang sangat pedas atau asam, karena zat-zat tersebut dapat mengiritasi dinding kandung kemih dan memperburuk gejala masalah berkemih.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Urologi via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Urologi terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.


