Ad Placeholder Image

Retensi Urine: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi Masalahnya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   11 Juni 2026

Retensi Urine: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi Tuntas

Retensi Urine: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi MasalahnyaRetensi Urine: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi Masalahnya

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu merasa ingin buang air kecil, namun urine sulit keluar atau justru tidak keluar sama sekali? Kondisi medis ini dikenal dengan istilah retensi urine. Masalah ini bukan sekadar ketidaknyamanan biasa, melainkan kondisi yang membutuhkan perhatian medis segera karena dapat berdampak pada kesehatan ginjal dan saluran kemih secara keseluruhan.

retensi urine adalah ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan isinya secara sempurna. Kondisi ini bisa terjadi secara tiba-tiba (akut) atau berlangsung dalam jangka waktu lama (kronis). Pada kasus akut, seseorang mungkin merasa sangat kesakitan karena kandung kemih yang penuh namun tersumbat total.

Memahami penyebab dan gejalanya sangat penting agar kamu tidak terlambat mendapatkan penanganan. Sebab, jika dibiarkan, penumpukan urine dapat memicu infeksi saluran kemih hingga kerusakan permanen pada jaringan kandung kemih. Penanganan yang tepat biasanya melibatkan diagnosis mendalam untuk mengetahui apakah ada hambatan fisik atau gangguan saraf yang mendasarinya.

Selain penanganan medis, pemenuhan kebutuhan suplemen pendukung juga terkadang diperlukan untuk menjaga kesehatan saluran kemih. Jika dokter sudah memberikan resep, kamu bisa dengan mudah beli obat online di Halodoc untuk mendukung proses pemulihanmu dengan produk yang 100% asli.

Nah, mau tahu lebih dalam mengenai kondisi ini, penyebab, serta langkah penanganan yang tepat? Berikut ulasannya!

Apa itu Retensi Urine?

Retensi urine terjadi ketika otot-otot kandung kemih tidak mampu mendorong urine keluar atau ketika ada sumbatan yang menghalangi aliran urine melalui uretra. Dalam keadaan normal, koordinasi antara otot kandung kemih (detrusor) dan otot katup (sfingter) memungkinkan urine mengalir lancar. Namun, pada penderita retensi urine, koordinasi ini terganggu.

Ada dua jenis utama retensi urine yang perlu kamu ketahui:

  • Retensi Urine Akut: Terjadi secara mendadak dan merupakan keadaan darurat medis. Penderitanya tidak bisa buang air kecil sama sekali meski kandung kemih terasa sangat penuh dan nyeri.
  • Retensi Urine Kronis: Kondisi ini berkembang perlahan. Kamu mungkin masih bisa buang air kecil, tetapi kandung kemih tidak pernah benar-benar kosong. Banyak orang tidak menyadari mereka mengalami kondisi ini sampai muncul komplikasi seperti inkontinensia urine (urine merembes keluar tanpa kendali).

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala retensi urine bervariasi tergantung pada jenis yang dialami. Pada retensi akut, gejalanya sangat jelas dan menyakitkan, meliputi nyeri hebat di perut bawah, ketidakmampuan total untuk kencing, dan perut yang tampak membuncit. Ini adalah kondisi gawat darurat yang memerlukan pemasangan kateter segera.

Sedangkan pada retensi urine kronis, gejalanya cenderung lebih samar, seperti:

  • Frekuensi buang air kecil yang sangat sering (lebih dari 8 kali sehari).
  • Aliran urine yang lemah atau tersendat-sendat.
  • Kesulitan saat memulai aliran urine (hesitancy).
  • Merasa kandung kemih masih penuh meski baru saja selesai kencing.
  • Sering terbangun di malam hari untuk kencing (nokturia).
  • Urine yang menetes tanpa sadar (dribbling).
Faktor Risiko Retensi Urine
  1. Jenis kelamin laki-laki, terutama yang berusia di atas 50 tahun (terkait risiko prostat).
  2. Riwayat operasi pada area panggul atau saluran kemih.
  3. Penderita penyakit kronis seperti diabetes atau multipel sklerosis.
  4. Penggunaan obat-obatan tertentu seperti antihistamin atau antidepresan.

Penyebab Retensi Urine

Mengapa urine bisa tertahan? Secara medis, penyebabnya dibagi menjadi beberapa kategori utama:

1. Sumbatan (Obstruksi)

Ini adalah penyebab paling umum. Pada pria, pembesaran prostat atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) seringkali menekan uretra sehingga aliran urine terhambat. Pada wanita, kondisi seperti sistokel (kandung kemih turun ke arah vagina) juga bisa menyebabkan sumbatan. Selain itu, batu kandung kemih atau tumor di area panggul dapat menjadi penghalang fisik.

2. Masalah Saraf (Neurogenic Bladder)

Proses berkemih melibatkan sinyal saraf dari otak ke kandung kemih. Jika saraf ini rusak akibat stroke, diabetes, cedera tulang belakang, atau persalinan pervaginam yang sulit, kandung kemih mungkin tidak menerima sinyal untuk berkontraksi, sehingga urine tetap tertahan di dalam.

3. Efek Samping Obat-obatan

Beberapa jenis obat dapat mengganggu kontraksi otot kandung kemih. Obat golongan antikolinergik (sering ditemukan pada obat flu), antidepresan, dan obat antispasmodik diketahui memiliki efek samping yang dapat memicu retensi urine pada orang yang rentan.

4. Infeksi dan Peradangan

Infeksi saluran kemih (ISK) yang parah atau prostatitis (peradangan prostat) dapat menyebabkan pembengkakan pada uretra atau jaringan sekitarnya. Pembengkakan ini menyempitkan jalur keluar urine, membuat seseorang sulit untuk kencing secara tuntas.

Kapan Harus ke Dokter?

Kamu tidak boleh menyepelekan gangguan berkemih. Segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam jika kamu merasakan nyeri hebat di perut bawah disertai ketidakmampuan untuk mengeluarkan urine sedikit pun. Ini adalah tanda retensi akut yang butuh bantuan medis darurat.

Selain itu, jangan tunda untuk memeriksakan diri jika kamu mulai mengalami gejala retensi kronis, seperti urine yang sering menetes atau aliran yang sangat lemah. Diagnosis dini dapat mencegah komplikasi serius seperti gagal ginjal akut, hidronefrosis (pembengkakan ginjal), dan infeksi sistemik.

Cara Mengatasi Retensi Urine

Penanganan retensi urine disesuaikan dengan penyebab dasarnya. Dokter mungkin akan melakukan beberapa langkah berikut:

  • Kateterisasi: Pemasangan selang kecil melalui uretra untuk mengeluarkan urine secara paksa. Ini adalah langkah pertama pada kasus retensi akut.
  • Pemberian Obat-obatan: Dokter dapat meresepkan obat untuk merelaksasi otot prostat atau mengurangi pembengkakan.
  • Prosedur Bedah: Jika disebabkan oleh prostat yang sangat besar atau adanya batu, tindakan operasi mungkin diperlukan untuk menghilangkan sumbatan.
  • Terapi Fisik: Latihan otot dasar panggul (Kegel) sering disarankan untuk memperbaiki fungsi kandung kemih pada beberapa kasus retensi fungsional.
Tips Mencegah Gangguan Berkemih
  1. Jangan membiasakan menahan buang air kecil terlalu lama.
  2. Lakukan senam Kegel secara rutin untuk memperkuat otot panggul.
  3. Konsumsi serat yang cukup untuk mencegah sembelit (konstipasi dapat menekan uretra).
  4. Pantau kesehatan prostat bagi pria di atas usia 45 tahun.

Studi Mengenai Retensi Urine

Journal of Urology & Nephrology menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa deteksi dini pada retensi urine kronis secara signifikan menurunkan risiko penyakit ginjal tahap akhir. Studi tersebut menekankan bahwa banyak pasien lansia tidak menyadari gejala kronis sampai fungsi ginjal mereka menurun hingga 30%.

Penelitian lain menunjukkan bahwa manajemen gaya hidup, termasuk pembatasan asupan kafein dan alkohol di malam hari, dapat membantu mengurangi gejala retensi urine pada pria dengan BPH ringan. Hal ini menunjukkan pentingnya edukasi pasien dalam pengelolaan mandiri selain penanganan medis yang diberikan oleh tenaga profesional.

Punya Keluhan saat Buang Air Kecil? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu merasa tidak nyaman saat buang air kecil atau curiga mengalami retensi urine? Tidak perlu khawatir atau bingung mencari informasi yang simpang siur! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

[Halodoc Intelligent Digital Assistant](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

[HILDA](https://www.halodoc.com/hilda) akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Jika keluhan berlanjut, sangat disarankan untuk segera menemui tenaga medis profesional. Kamu bisa dengan mudah mendapatkan kebutuhan kesehatan dan beli obat online di Halodoc dengan pengiriman yang cepat langsung ke rumahmu.

Kesehatan saluran kemih adalah kunci kenyamanan aktivitas harianmu. Jangan biarkan gangguan kecil berkembang menjadi masalah besar yang mengancam fungsi ginjalmu.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Urinary Retention.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diakses pada 2026. Urinary Retention.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Acute and Chronic Urinary Retention.
WebMD. Diakses pada 2026. What Is Urinary Retention?

FAQ

1. Apakah retensi urine adalah kondisi yang berbahaya?

Ya, terutama pada jenis akut. Ketidakmampuan mengeluarkan urine dapat menyebabkan rasa nyeri luar biasa dan kerusakan ginjal jika tidak segera ditangani dengan pemasangan kateter.

2. Apa perbedaan retensi urine dan anuria?

Retensi urine adalah kondisi di mana urine ada di kandung kemih tapi tidak bisa keluar. Sedangkan anuria adalah kondisi di mana ginjal tidak memproduksi urine sama sekali.

3. Apakah wanita bisa mengalami retensi urine?

Bisa. Meski lebih sering terjadi pada pria karena masalah prostat, wanita dapat mengalaminya akibat infeksi, kandung kemih turun (sistokel), atau pasca persalinan.

4. Apakah konstipasi bisa menyebabkan sulit kencing?

Ya, tinja yang keras dan menumpuk di rektum dapat memberikan tekanan fisik pada uretra atau kandung kemih, sehingga menghambat aliran urine keluar.