Rhesus Darah Orang Indonesia: Mayoritas Positif Kenapa?

DAFTAR ISI
- Mengenal Apa Itu Rhesus dalam Golongan Darah
- Sejarah Singkat dan Genetika Rhesus
- Fakta Rhesus Darah pada Orang Indonesia
- Rhesus dan Kehamilan: Bahaya Inkompatibilitas
- Aturan Transfusi Darah Berdasarkan Rhesus
- Studi Terkait Inkompatibilitas Rhesus
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Pernahkah kamu memperhatikan tanda positif (+) atau negatif (-) di belakang huruf golongan darahmu, seperti A+, O-, atau B+? Tanda tersebut merupakan indikator keberadaan faktor rhesus pada sel darah merahmu. Meski sering dianggap sepele dibandingkan sistem golongan darah ABO, rhesus nyatanya memegang peranan yang sangat vital, terutama dalam situasi medis darurat dan masa kehamilan.
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, memiliki rhesus positif adalah hal yang sangat umum. Namun, bagaimana jika kamu atau pasanganmu termasuk dalam kelompok rhesus negatif yang sangat langka di Asia? Ketidaktahuan akan status rhesus bisa memicu komplikasi kesehatan yang serius, mulai dari reaksi penolakan saat transfusi darah hingga kondisi fatal pada janin yang sedang dikandung.
Mengingat rhesus bukanlah penyakit melainkan kondisi genetis, tidak ada obat bebas yang bisa “mengubah” status rhesus seseorang. Meski begitu, memahami status rhesus sejak dini memungkinkan kamu untuk melakukan tindakan medis pencegahan yang tepat bersama dokter.
Nah, mau tahu lebih dalam mengenai apa itu rhesus, bagaimana distribusinya pada orang Indonesia, serta dampaknya terhadap kesehatan medis dan kehamilan? Berikut ulasan lengkapnya!
Mengenal Apa Itu Rhesus dalam Golongan Darah
Darah manusia secara umum diklasifikasikan menggunakan dua sistem utama, yaitu sistem ABO dan sistem Rh (Rhesus). Sistem ABO membagi darah menjadi golongan A, B, AB, dan O berdasarkan keberadaan antigen A dan B di permukaan sel darah merah. Sementara itu, sistem rhesus menentukan keberadaan protein spesifik yang disebut antigen D.
Jika sel darah merah kamu memiliki antigen D pada permukaannya, maka kamu diklasifikasikan sebagai rhesus positif (Rh+). Sebaliknya, jika darahmu tidak memiliki antigen D tersebut, kamu termasuk dalam golongan rhesus negatif (Rh-). Secara global, sebagian besar populasi manusia memiliki rhesus positif, menjadikannya golongan darah yang dominan.
Antigen rhesus ini tidak memengaruhi kesehatanmu sehari-hari. Artinya, orang dengan rhesus negatif sama sehatnya dengan mereka yang memiliki rhesus positif. Perbedaan ini baru menjadi sangat krusial ketika darah dari dua orang dengan rhesus berbeda saling bersentuhan, yaitu melalui prosedur transfusi darah atau selama masa kehamilan dan proses persalinan.
Sejarah Singkat dan Genetika Rhesus
Nama “rhesus” sendiri memiliki sejarah yang cukup unik. Faktor ini pertama kali ditemukan pada tahun 1937 oleh ilmuwan Karl Landsteiner dan Alexander S. Wiener. Saat melakukan penelitian mengenai darah, mereka menggunakan darah kera jenis Rhesus macaque. Karena protein antigen yang ditemukan pada manusia ternyata sangat identik dengan yang ada pada kera tersebut, maka dinamakanlah “Faktor Rhesus”.
Secara genetika, faktor rhesus diwariskan dari kedua orang tua. Gen yang membawa sifat rhesus positif bersifat dominan, sedangkan gen rhesus negatif bersifat resesif. Hal ini berarti:
- Jika kamu menerima gen Rh+ dari kedua orang tua, atau satu gen Rh+ dan satu gen Rh-, kamu akan memiliki golongan darah rhesus positif.
- Kamu hanya bisa memiliki golongan darah rhesus negatif jika kamu menerima dua gen Rh- (masing-masing satu dari setiap orang tua).
Karena pewarisan ini, sepasang suami istri yang keduanya memiliki rhesus positif masih memiliki kemungkinan untuk memiliki anak dengan rhesus negatif, asalkan kedua orang tua tersebut masing-masing membawa satu gen resesif (Rh-). Namun, jika kedua orang tua memiliki rhesus negatif, anak mereka dipastikan 100% akan memiliki rhesus negatif pula.
Fakta Rhesus Darah pada Orang Indonesia
Distribusi rhesus di dunia sangat bervariasi bergantung pada ras dan etnis. Di negara-negara Kaukasia (Eropa dan Amerika Utara), sekitar 15-18% populasinya memiliki rhesus negatif. Namun, statistik ini berbanding terbalik dengan populasi di Benua Asia, termasuk Indonesia.
Di Indonesia, angka pemilik rhesus negatif sangatlah minim, yakni diperkirakan kurang dari 1% dari total penduduk. Hal ini berarti 99% orang Indonesia memiliki golongan darah dengan rhesus positif. Kondisi demografis ini memunculkan tantangan tersendiri di dunia medis tanah air.
Tantangan Pemilik Rhesus Negatif di Indonesia
- Ketersediaan Darah: Karena jumlahnya yang sangat sedikit, Palang Merah Indonesia (PMI) seringkali tidak memiliki stok darah rhesus negatif yang cukup. Jika terjadi kecelakaan atau operasi darurat, mencari donor yang sesuai bisa memakan waktu kritis.
- Komunitas Rhesus Negatif: Untuk mengatasi kelangkaan ini, banyak pemilik rhesus negatif di Indonesia membentuk komunitas donor darah khusus agar bisa saling membantu saat terjadi keadaan darurat medis.
- Risiko Pernikahan Campur: Wanita Indonesia (Rh+) yang menikah dengan pria Kaukasia (yang mungkin membawa gen Rh-) perlu lebih waspada terhadap perbedaan genetik yang bisa memengaruhi kehamilan. Sebaliknya, wanita Kaukasia ber-Rh- yang menikah dengan pria Indonesia ber-Rh+ memiliki risiko inkompatibilitas rhesus yang tinggi.
Rhesus dan Kehamilan: Bahaya Inkompatibilitas
Kondisi medis paling mengkhawatirkan terkait rhesus dikenal sebagai inkompatibilitas rhesus (ketidakcocokan rhesus) selama kehamilan. Kondisi ini hanya terjadi pada satu skenario spesifik: ketika seorang ibu memiliki rhesus negatif (Rh-) mengandung janin dengan rhesus positif (Rh+) yang diwarisi dari gen ayahnya.
1. Bagaimana Sensitisasi Terjadi?
Selama masa kehamilan, darah ibu dan janin pada dasarnya terpisah oleh plasenta. Namun, ada saat-saat tertentu—seperti saat keguguran, kehamilan ektopik, prosedur amniosentesis, trauma pada perut, atau terutama saat proses persalinan—di mana sedikit darah janin (Rh+) bisa menyeberang dan masuk ke sirkulasi darah ibu (Rh-).
Sistem imun ibu akan mendeteksi antigen D dari darah janin sebagai benda asing (seperti virus atau bakteri). Akibatnya, tubuh ibu akan mulai memproduksi antibodi khusus untuk menyerang dan menghancurkan sel darah merah rhesus positif tersebut. Proses pembentukan antibodi ini disebut sebagai sensitisasi.
2. Risiko pada Kehamilan Pertama vs Kehamilan Selanjutnya
Biasanya, kehamilan pertama bayi rhesus positif pada ibu rhesus negatif tidak menimbulkan masalah besar. Hal ini dikarenakan tubuh ibu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memproduksi antibodi yang signifikan, dan bayi sering kali sudah lahir sebelum antibodi tersebut cukup kuat untuk menimbulkan kerusakan.
Namun, bahaya mengintai pada kehamilan kedua dan seterusnya (jika janin berikutnya juga Rh+). Tubuh ibu yang sudah “mengingat” antigen D akan dengan cepat melepaskan antibodi dalam jumlah besar. Antibodi ini berukuran sangat kecil sehingga mampu menembus plasenta, masuk ke aliran darah janin, dan menghancurkan sel darah merah janin secara masif.
3. Penyakit Hemolitik pada Bayi Baru Lahir (HDN)
Hancurnya sel darah merah janin akibat serangan antibodi ibu menyebabkan kondisi yang disebut Hemolytic Disease of the Newborn (HDN) atau eritroblastosis fetalis. Dampaknya bagi janin dan bayi sangat fatal, di antaranya:
- Anemia berat: Janin kekurangan sel darah merah untuk membawa oksigen.
- Penyakit kuning (Jaundice): Pemecahan sel darah merah menghasilkan bilirubin dalam jumlah berlebihan yang membuat kulit dan mata bayi menguning.
- Pembesaran organ: Hati dan limpa janin harus bekerja ekstra keras untuk memproduksi sel darah merah baru, sehingga organ ini membesar.
- Kerusakan otak: Kadar bilirubin yang sangat tinggi bisa menembus penghalang darah-otak dan menyebabkan kernicterus, yaitu kerusakan otak permanen.
- Gagal jantung dan kematian: Dalam kasus terburuk, janin bisa mengalami pembengkakan seluruh tubuh (hidrops fetalis) dan meninggal di dalam kandungan atau sesaat setelah lahir.
Untuk mencegah komplikasi ini, jika kamu sedang merencanakan kehamilan, sangat penting untuk melakukan konsultasi dokter kandungan agar dapat memeriksakan golongan darah dan rhesus pasangan sejak dini. Dokter biasanya akan memantau ketat kehamilan dan dapat memberikan suntikan imunoglobulin Rh (RhoGAM) di usia kehamilan 28 minggu dan dalam waktu 72 jam setelah persalinan untuk mencegah tubuh ibu memproduksi antibodi.
Selain penanganan medis khusus dari dokter, menjaga stamina dan nutrisi ibu hamil juga tak kalah penting. Kamu dapat membeli suplemen dan vitamin kehamilan secara online untuk memastikan kebutuhan zat besi dan asam folat harian terpenuhi selama trimester pertama hingga menjelang persalinan.
Aturan Transfusi Darah Berdasarkan Rhesus
Selain kehamilan, faktor rhesus sangat memengaruhi aturan transfusi darah. Pemberian transfusi darah yang tidak cocok rhesus-nya dapat berakibat fatal bagi pasien. Aturan dasarnya adalah sebagai berikut:
- Pasien Rhesus Positif (Rh+): Dapat menerima transfusi darah dari donor dengan rhesus positif (Rh+) maupun rhesus negatif (Rh-). Hal ini karena tubuh mereka sudah mengenali antigen D, sehingga jika diberi darah Rh-, tubuh tidak akan bereaksi karena tidak ada antigen asing yang masuk.
- Pasien Rhesus Negatif (Rh-): HANYA boleh menerima darah dari donor dengan rhesus negatif (Rh-). Jika mereka diberikan darah Rh+, sistem imun mereka akan segera memproduksi antibodi untuk menghancurkan darah donor tersebut, menyebabkan reaksi transfusi hemolitik akut yang mengancam nyawa.
Karena aturan ini, golongan darah O negatif (O-) sering disebut sebagai donor universal. Darah O- tidak memiliki antigen A, B, maupun rhesus, sehingga secara teoritis aman diberikan kepada pasien dengan golongan darah apa pun saat keadaan darurat kritis di mana golongan darah pasien belum diketahui.
Studi Terkait Inkompatibilitas Rhesus
Journal of Global Health menerbitkan studi yang menjelaskan beban global penyakit hemolitik pada janin dan bayi baru lahir akibat aloimunisasi Rh (Rhesus). Studi tersebut mengestimasi bahwa setiap tahunnya, ratusan ribu janin secara global berisiko mengalami komplikasi fatal akibat antibodi ibu yang menyerang sel darah merah mereka.
Penelitian ini menyoroti bahwa kematian neonatus (bayi baru lahir) dan kecacatan permanen akibat inkompatibilitas rhesus sebenarnya sangat bisa dicegah (preventable). Pencegahan paling efektif adalah melalui pemeriksaan screening golongan darah rutin pada awal kehamilan dan pemberian profilaksis anti-D (RhoGAM) tepat waktu, sebuah praktik yang sayangnya masih memiliki cakupan rendah di beberapa negara berkembang, termasuk bagian tertentu di Asia Tenggara. Oleh karena itu, edukasi masyarakat mengenai pentingnya cek rhesus sebelum menikah atau hamil menjadi fokus utama intervensi kesehatan modern.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Rh factor blood test.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Rh Factor.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Blood safety and availability.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pentingnya Mengetahui Golongan Darah dan Rhesus.
PubMed/NCBI. Bhutani VK, et al. Diakses pada 2024. Estimated burden of striking the balance between the risks and benefits of maternal and neonatal interventions to prevent Rh alloimmunization.
FAQ
1. Apakah status rhesus darah bisa berubah seiring bertambahnya usia?
Tidak, status rhesus adalah sifat genetik bawaan yang diwariskan dari orang tua. Kondisi rhesus kamu ditentukan sejak proses pembuahan di dalam rahim dan tidak akan pernah berubah sepanjang hidupmu, baik karena faktor usia, penyakit, maupun pola makan.
2. Apa yang harus saya lakukan jika saya memiliki rhesus negatif dan sedang hamil?
Langkah terpenting adalah segera berkonsultasi dengan dokter kandungan. Dokter akan menjadwalkan tes darah antibodi berkala untuk memantau apakah tubuhmu sudah mulai ter-sensitisasi. Kamu juga akan dijadwalkan untuk menerima suntikan imunoglobulin rhesus (RhoGAM) pada minggu ke-28 kehamilan dan setelah persalinan untuk melindungi janin.
3. Bisakah pria dengan rhesus positif menikah dengan wanita rhesus negatif?
Tentu saja bisa. Perbedaan status rhesus sama sekali tidak menjadi halangan medis untuk menikah. Hal yang terpenting adalah kesadaran dari kedua belah pihak terkait potensi inkompatibilitas rhesus pada kehamilan nanti, sehingga bisa didiskusikan dengan dokter kandungan sejak program hamil dimulai untuk mencegah komplikasi.
4. Apakah ada tes khusus untuk mengetahui status rhesus selain saat tes golongan darah biasa?
Pemeriksaan rhesus umumnya selalu dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan golongan darah sistem ABO standar (tes blood typing). Jika kamu mendonorkan darah ke PMI atau melakukan cek darah lengkap di laboratorium dan rumah sakit, status rhesusmu otomatis akan dicantumkan bersama golongan darahmu.



