ROP: Kenali, Cegah, Obati Retinopati Prematuritas

DAFTAR ISI
- Mengenal Patofisiologi ROP pada Bayi Prematur
- Klasifikasi dan Stadium ROP
- Penyebab dan Faktor Risiko ROP
- Gejala dan Kapan Harus ke Dokter
- Metode Penanganan Medis untuk ROP
- Pencegahan dan Perawatan Jangka Panjang
- Studi Terkait
- Tanya HILDA
- FAQ
Kelahiran prematur membawa berbagai tantangan medis bagi bayi yang baru lahir, mengingat organ-organ tubuh mereka belum berkembang secara sempurna. Salah satu kondisi medis yang sangat rentan dialami oleh bayi prematur adalah ROP atau Retinopathy of Prematurity. Kondisi ini merupakan kelainan pada perkembangan pembuluh darah di retina mata yang dapat memicu masalah penglihatan serius, bahkan kebutaan permanen jika tidak ditangani dengan tepat.
ROP menjadi perhatian utama di ruang perawatan intensif neonatal (NICU) di seluruh dunia. Semakin awal bayi dilahirkan dan semakin rendah berat badan lahirnya, semakin tinggi pula risiko bayi tersebut mengalami ROP. Retina adalah lapisan saraf di bagian belakang mata yang berfungsi menangkap cahaya dan mengirimkan sinyal visual ke otak. Ketika pembuluh darah di area ini tumbuh secara abnormal, retina dapat tertarik dan terlepas dari posisinya (ablasio retina).
Mengingat berbahayanya kondisi ini, deteksi dini melalui proses screening mata pada minggu-minggu awal kehidupan bayi prematur sangatlah penting. Penanganan yang cepat dan akurat dapat menyelamatkan penglihatan bayi. Nah, untuk memahami lebih dalam tentang apa itu ROP, bagaimana gejalanya, hingga langkah penanganan yang tersedia, berikut adalah ulasan lengkapnya!
Mengenal Patofisiologi ROP pada Bayi Prematur
Proses perkembangan pembuluh darah pada mata janin (vaskularisasi retina) normalnya dimulai pada usia kehamilan sekitar 16 minggu. Pembuluh darah ini tumbuh menyebar dari saraf optik di bagian tengah mata menuju tepi (perifer) retina. Pada bayi yang lahir cukup bulan (sekitar 38 hingga 40 minggu), proses pertumbuhan pembuluh darah ini hampir selesai saat mereka dilahirkan.
Namun, pada bayi yang lahir prematur, proses vaskularisasi ini terhenti secara tiba-tiba sebelum mencapai tepi retina. Akibatnya, ada area retina yang tidak mendapatkan suplai darah, oksigen, dan nutrisi yang cukup (iskemia perifer). Kondisi kekurangan oksigen ini memicu tubuh untuk memproduksi senyawa yang disebut VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor).
VEGF sebenarnya adalah protein yang merangsang pembentukan pembuluh darah baru. Sayangnya, pada kasus ROP, pembuluh darah baru yang tumbuh ini bersifat sangat rapuh, tidak normal, dan rentan bocor. Pembuluh darah yang bocor akan menyebabkan perdarahan di dalam mata dan memicu pembentukan jaringan parut (skar). Seiring waktu, jaringan parut ini akan menyusut dan menarik retina sehingga retina bisa terlepas dari dinding mata bagian dalam.
Klasifikasi dan Stadium ROP
Kondisi ROP diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahan (stadium) dan seberapa jauh penyebarannya di dalam mata (zona). Mengetahui stadium ROP sangat penting bagi dokter spesialis mata anak untuk menentukan apakah kondisi tersebut hanya perlu dipantau atau memerlukan tindakan segera. Berikut adalah lima stadium utama pada Retinopathy of Prematurity:
1. Stadium 1: Pertumbuhan Pembuluh Darah Ringan
Pada tahap ini, terlihat adanya garis batas tipis yang memisahkan antara area retina yang sudah memiliki pembuluh darah normal dengan area retina yang belum memiliki suplai darah. Sebagian besar bayi dengan ROP stadium 1 akan sembuh dengan sendirinya tanpa memerlukan pengobatan medis, dan penglihatannya akan berkembang dengan normal.
2. Stadium 2: Pertumbuhan Pembuluh Darah Sedang
Garis pemisah pada retina mulai menebal dan membentuk semacam “pematang” atau ridge. Seperti stadium 1, banyak kasus ROP stadium 2 yang dapat sembuh secara spontan tanpa intervensi. Meski begitu, bayi tetap memerlukan pengawasan ketat dari dokter mata.
3. Stadium 3: Pertumbuhan Pembuluh Darah Sangat Abnormal
Pada stadium ini, pembuluh darah abnormal yang rapuh mulai tumbuh secara masif dari ridge (pematang) ke arah ruang kaca mata (vitreus). Jika disertai dengan “Plus Disease”—yakni pembengkakan dan kelokan pembuluh darah yang sangat parah di retina bagian tengah—maka bayi tersebut membutuhkan tindakan medis segera untuk mencegah ablasio retina.
4. Stadium 4: Ablasio Retina Parsial
Jaringan parut yang terbentuk dari perdarahan pembuluh darah abnormal mulai menyusut dan menarik sebagian retina agar terlepas dari dinding belakang mata. Kondisi ini sudah sangat kritis dan dapat memengaruhi penglihatan bayi secara signifikan di masa depan.
5. Stadium 5: Ablasio Retina Total
Ini adalah fase paling parah di mana seluruh bagian retina telah terlepas. Tanpa intervensi bedah yang sangat kompleks, ROP stadium 5 dapat berujung pada kebutaan total secara permanen.
Penyebab dan Faktor Risiko ROP
Penyebab utama ROP adalah kelahiran prematur, yang menghentikan proses alami pembentukan pembuluh darah mata. Namun, ada berbagai faktor medis dan lingkungan selama perawatan intensif yang dapat meningkatkan risiko seorang bayi prematur mengembangkan ROP parah. Beberapa faktor risiko utama meliputi:
- Usia Kehamilan dan Berat Badan Lahir: Bayi yang lahir di bawah usia 30 minggu kehamilan atau memiliki berat badan lahir kurang dari 1.500 gram memiliki risiko paling tinggi.
- Terapi Oksigen Intensif: Oksigen berlebih di dalam inkubator (hiperoksia) pada masa lalu sering memicu ROP. Kini, rumah sakit memantau saturasi oksigen secara ketat untuk mencegah hal ini, karena baik oksigen yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah dapat memperburuk kondisi pembuluh darah retina.
- Masalah Kesehatan Lainnya: Adanya infeksi sistemik (sepsis), Respiratory Distress Syndrome (RDS), kebutuhan transfusi darah, anemia, lambatnya penambahan berat badan, hingga gangguan pernapasan berulang dapat meningkatkan morbiditas ROP.
Tips Mencegah Komplikasi ROP di NICU
- Pastikan pemantauan saturasi oksigen bayi secara ketat, agar kadar oksigen di dalam darah selalu berada di batas aman.
- Penuhi nutrisi optimal melalui ASI prematur untuk menunjang peningkatan berat badan bayi yang sehat.
- Jalani skrining mata pertama sesuai jadwal (biasanya sekitar usia 4 minggu pasca kelahiran).
Gejala dan Kapan Harus ke Dokter
Salah satu hal yang paling menantang dari ROP adalah bahwa kondisi ini tidak menimbulkan gejala yang kasat mata pada tahap awal. Orang tua tidak akan bisa melihat adanya perubahan bentuk, warna, atau ketidaknyamanan pada mata bayi prematur mereka.
Gejala fisik biasanya baru muncul pada tahap ROP stadium lanjut (stadium 4 atau 5), ketika telah terjadi ablasio retina. Gejala yang mungkin terlihat meliputi:
- Gerakan mata yang tidak normal atau bergoyang (nistagmus).
- Mata juling (strabismus).
- Pupil mata tampak berwarna putih (leukokoria) akibat pantulan cahaya dari retina yang terlepas.
- Kesulitan bayi dalam mengenali dan merespons wajah orang tua atau objek di sekitarnya.
Karena ROP stadium awal tidak menunjukkan gejala, screening mata merupakan satu-satunya cara diagnosis yang efektif. Pemeriksaan mata dengan alat oftalmoskop tidak langsung dan tetes mata pelebar pupil wajib dilakukan di NICU. Jika kamu memiliki keraguan tentang jadwal skrining bayi prematurmu, sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi dokter spesialis anak atau dokter mata subspesialis retina agar mendapatkan evaluasi medis yang akurat dan tepat waktu.
Metode Penanganan Medis untuk ROP
Penanganan ROP sangat bergantung pada tingkat stadium penyakit tersebut. Berikut adalah beberapa metode penanganan medis yang direkomendasikan:
1. Terapi Laser (Fotokoagulasi Laser)
Terapi laser saat ini adalah standar utama untuk pengobatan ROP stadium 3 yang sudah parah. Dokter akan menggunakan sinar laser kecil untuk “membakar” atau mematikan area tepi retina yang tidak memiliki pembuluh darah. Proses ini menghentikan produksi hormon VEGF, yang pada akhirnya akan menghentikan pertumbuhan pembuluh darah abnormal.
2. Suntikan Anti-VEGF
Dalam beberapa tahun terakhir, penyuntikan obat golongan anti-VEGF (seperti Bevacizumab atau Ranibizumab) ke dalam bola mata mulai sering digunakan. Obat ini bekerja dengan memblokir protein VEGF, sehingga pembuluh darah abnormal menyusut dengan cepat. Metode ini sering digunakan untuk jenis ROP yang berada di zona 1 (sangat dekat dengan saraf optik), di mana terapi laser dapat merusak penglihatan sentral secara permanen.
3. Krioterapi (Terapi Beku)
Sebelum terapi laser lazim digunakan, dokter menggunakan probe pembeku untuk membekukan bagian tepi retina. Tujuannya sama dengan terapi laser, yaitu mematikan jaringan retina tepi agar tidak lagi merangsang pembuluh darah abnormal.
4. Bedah Vitrektomi atau Scleral Buckle
Jika ROP sudah mencapai stadium 4 atau 5 (ablasio retina), operasi bedah mutlak diperlukan. Vitrektomi melibatkan pengangkatan cairan vitreus di dalam mata dan memotong jaringan parut yang menarik retina, lalu mengembalikan retina ke posisi semula. Tindakan ini sangat kompleks dan sayangnya tidak selalu menjanjikan pemulihan penglihatan secara optimal.
Pencegahan dan Perawatan Jangka Panjang
Pencegahan terbaik untuk ROP adalah mencegah kelahiran prematur itu sendiri. Ibu hamil harus rutin memeriksakan kehamilannya dan menjaga kesehatan reproduksi secara optimal. Selama kehamilan, penting untuk memenuhi nutrisi janin agar berat badan lahir sesuai dengan usia gestasi. Untuk melengkapi nutrisi ibu hamil atau suplemen kesehatan yang dibutuhkan bayi setelah keluar dari rumah sakit, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah dengan praktis.
Bagi bayi yang berhasil sembuh dari ROP, tantangan belum usai. Mereka memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk mengalami komplikasi penglihatan di masa kanak-kanak, seperti rabun jauh yang ekstrem (miopia), mata juling (strabismus), mata malas (ambliopia), atau bahkan glaukoma pediatrik. Oleh karena itu, pemeriksaan mata tahunan dengan dokter mata anak adalah hal yang wajib dilakukan hingga anak tersebut tumbuh dewasa.
Studi Terkait Mengenai Penanganan ROP
The New England Journal of Medicine menerbitkan studi BEAT-ROP pada tahun 2011 yang membandingkan efikasi terapi anti-VEGF (Bevacizumab) dengan terapi laser konvensional pada bayi dengan ROP stadium 3 zona 1. Studi ini menjelaskan bahwa terapi injeksi anti-VEGF menunjukkan hasil yang lebih unggul dibandingkan laser dalam menyelamatkan penglihatan tepi bayi.
Temuan ini menjadi revolusi dalam penanganan retinopati prematuritas di ruang gawat darurat neonatal. Terapi anti-VEGF mampu menekan progresivitas pembuluh darah abnormal dengan lebih cepat tanpa merusak jaringan retina sekitarnya, meskipun evaluasi efek jangka panjang pada perkembangan saraf anak masih terus diteliti lebih lanjut oleh para ahli oftalmologi.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
American Academy of Ophthalmology. Diakses pada 2024. Retinopathy of Prematurity (ROP).
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Retinopathy of prematurity – Symptoms and causes.
National Eye Institute (NIH). Diakses pada 2024. Retinopathy of Prematurity.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Preterm birth and eye care.
The New England Journal of Medicine. Diakses pada 2024. Efficacy of Intravitreal Bevacizumab for Stage 3+ Retinopathy of Prematurity.
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan penyakit ROP?
ROP atau Retinopathy of Prematurity adalah kelainan pada perkembangan pembuluh darah di retina mata yang terjadi khusus pada bayi prematur. Kondisi ini bisa memicu perdarahan, jaringan parut, hingga lepasnya retina yang menyebabkan kebutaan.
2. Kapan bayi prematur harus menjalani skrining ROP?
Skrining mata pertama biasanya direkomendasikan saat bayi berusia sekitar 4 minggu setelah kelahiran, atau saat usia gestasinya mencapai 31 minggu (mana saja yang lebih dulu tercapai). Dokter spesialis anak atau mata akan menentukan jadwal pastinya berdasarkan berat badan lahir bayi.
3. Apakah ROP bisa sembuh dengan sendirinya?
Ya, sebagian besar bayi yang mengalami ROP stadium 1 dan 2 dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus, dan penglihatan mereka akan berkembang normal. Namun, kondisi ini tetap harus dipantau secara ketat oleh dokter.
4. Apakah kebutaan akibat ROP bisa disembuhkan?
Jika ROP sudah mencapai stadium 5 (lepasnya retina secara total) dan telah menyebabkan kebutaan yang permanen, kondisi ini sangat sulit disembuhkan meskipun dengan operasi. Itulah mengapa deteksi dini melalui skrining mata sangat krusial untuk mencegah ablasio retina.



