Ad Placeholder Image

Sawan: Gejala, Penyebab, dan Mitos yang Perlu Tahu!

5 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Juni 2026

Sawan sering dikaitkan dengan kejang atau epilepsi, suatu kondisi neurologis yang memengaruhi sistem saraf pusat.

Sawan: Gejala, Penyebab, dan Mitos yang Perlu Tahu!Sawan: Gejala, Penyebab, dan Mitos yang Perlu Tahu!

DAFTAR ISI


Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, istilah “sawan” tentu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga. Istilah ini sering kali dikaitkan dengan kondisi bayi atau anak balita yang tiba-tiba menangis histeris tanpa henti, rewel parah, mata mendelik, hingga tubuhnya kaku dan gemetar. Di beberapa daerah, kondisi ini bahkan masih sering diselimuti oleh mitos dan kepercayaan mistis, seperti gangguan dari makhluk halus setelah anak dibawa keluar rumah pada waktu magrib.

Namun, jika kita kaji dari kacamata medis, sawan artinya merujuk pada kondisi kejang (seizure) atau bangkitan aktivitas listrik yang tidak normal di dalam otak. Kejang ini bisa terjadi akibat berbagai faktor fisik, mulai dari lonjakan suhu tubuh yang tiba-tiba (kejang demam), infeksi, hingga kondisi neurologis seperti epilepsi. Memahami arti sawan secara medis sangatlah krusial agar orang tua tidak salah langkah dalam memberikan penanganan awal.

Penanganan yang keliru akibat termakan mitos justru bisa membahayakan nyawa anak. Misalnya, kebiasaan memasukkan benda ke dalam mulut anak saat kejang atau menahan tubuh anak dengan paksa justru berisiko menyebabkan cedera, tersedak, hingga asfiksia (kekurangan oksigen). Oleh karena itu, penting bagi setiap orang tua untuk mengetahui fakta medis di balik kondisi ini.

Lantas, apa sebenarnya penyebab sawan, bagaimana gejala lengkapnya, dan apa yang harus dilakukan sebagai bentuk pertolongan pertama secara medis? Berikut adalah ulasan lengkap mengenai sawan dari sisi medis yang wajib kamu pahami!

Sawan Artinya Secara Medis

Dalam dunia kedokteran, sawan artinya adalah manifestasi klinis dari kejang. Kejang terjadi ketika ada gangguan aliran listrik secara tiba-tiba dan tidak terkendali pada sel-sel saraf di otak manusia. Otak kita bekerja dengan mengirimkan sinyal-sinyal listrik ke seluruh tubuh untuk mengatur gerakan, perasaan, dan fungsi organ. Ketika sinyal listrik ini mengalami “korsleting” atau lonjakan yang berlebihan, tubuh akan bereaksi dengan gerakan otot yang tidak terkendali, perubahan kesadaran, hingga kelumpuhan sementara.

Pada anak-anak dan balita, jenis sawan yang paling sering terjadi adalah febrile seizure atau kejang demam. Kejang demam biasanya dipicu oleh kenaikan suhu tubuh yang sangat drastis dan cepat, sering kali menyertai penyakit infeksi seperti radang tenggorokan, flu, atau infeksi telinga. Meski terlihat sangat menakutkan bagi orang tua, kejang demam umumnya tidak berbahaya dan tidak merusak fungsi otak jika ditangani dengan benar.

Jika anak sering mengalami kejang meski tidak sedang demam, kamu tidak boleh menundanya. Segera konsultasi ke dokter spesialis anak di Halodoc untuk mendapatkan pemeriksaan fisik dan neurologis yang komprehensif, guna menyingkirkan kemungkinan epilepsi atau kelainan saraf lainnya.

Penyebab Terjadinya Sawan

Ada banyak faktor medis yang bisa menjadi dalang di balik kondisi sawan. Mengetahui penyebab pastinya sangat penting untuk menentukan pengobatan yang tepat. Berikut adalah beberapa penyebab utama sawan:

1. Kejang Demam (Sawan Demam)

Ini adalah penyebab sawan yang paling mendominasi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Otak balita yang masih dalam masa perkembangan sangat sensitif terhadap perubahan suhu tubuh. Kenaikan suhu di atas 38 derajat Celcius secara tiba-tiba dapat memicu gangguan sinyal otak dan menyebabkan kejang.

2. Epilepsi (Ayan)

Jika sawan terjadi secara berulang dan tanpa disertai adanya demam atau pemicu penyakit akut lainnya, kondisi ini secara medis dikenal sebagai epilepsi. Epilepsi adalah gangguan sistem saraf pusat bawaan atau didapat, di mana otak memiliki kecenderungan untuk memicu kejang secara spontan.

3. Infeksi pada Sistem Saraf Pusat

Infeksi bakteri atau virus yang menyerang otak dan selaput pelindungnya sangat rentan memicu kejang parah. Penyakit seperti meningitis (radang selaput otak) atau ensefalitis (radang otak) adalah kondisi kegawatdaruratan medis yang salah satu gejala utamanya adalah sawan yang tak kunjung berhenti.

4. Cedera Kepala Berat

Trauma atau benturan keras pada area kepala akibat terjatuh atau kecelakaan bisa menyebabkan perdarahan di dalam tengkorak kepala. Tekanan darah yang menumpuk ini akan menekan jaringan otak dan memicu terjadinya kejang sebagai respons dari kerusakan jaringan saraf.

Faktor Risiko yang Rentan Memicu Sawan pada Anak
  1. Genetik: Memiliki riwayat keluarga (orang tua atau saudara kandung) yang pernah mengalami kejang demam atau epilepsi.
  2. Usia: Balita berusia 12 hingga 18 bulan berada pada masa puncak paling rentan mengalami kejang demam.
  3. Penyakit Infeksi: Infeksi virus seperti roseola, flu, dan radang amandel sering kali menyebabkan demam mendadak yang tinggi.

Gejala dan Tanda Sawan yang Harus Diwaspadai

Sawan tidak selalu ditandai dengan kelojotan seluruh tubuh. Tergantung pada bagian otak mana yang mengalami gangguan listrik, gejala sawan bisa bervariasi. Secara umum, gejala sawan meliputi:

  • Otot-otot lengan dan kaki menjadi sangat kaku, lalu menyentak-nyentak secara ritmis (kelojotan).
  • Kehilangan kesadaran sementara (anak tidak merespons panggilan atau tidak mengenali lingkungan sekitar).
  • Bola mata mendelik ke atas atau tatapan mata kosong terpaku pada satu titik.
  • Rahang terkunci rapat (mengatup kuat) dan terkadang mengeluarkan air liur berlebih atau berbusa.
  • Napas menjadi tersengal-sengal, tidak teratur, atau bahkan kulit wajah dan bibir tampak kebiruan (sianosis) akibat kurangnya aliran oksigen.
  • Setelah kejang berhenti, penderita biasanya akan merasa sangat kelelahan, bingung, linglung, dan langsung tertidur lelap.

Mitos vs Fakta Seputar Sawan di Indonesia

Kentalnya budaya di Indonesia membuat sawan sering disalahartikan. Mari kita luruskan beberapa mitos berbahaya seputar sawan:

1. Mitos: Sawan Disebabkan Makhluk Halus

Faktanya, sawan sepenuhnya merupakan kondisi medis yang berkaitan dengan aktivitas listrik di otak. Tidak ada hubungannya dengan hal-hal mistis. Membawa anak ke dukun saat sedang kejang justru akan menunda penanganan medis yang bisa berakibat fatal jika anak sebenarnya mengalami infeksi otak.

2. Mitos: Masukkan Sendok ke Mulut Agar Lidah Tidak Tergigit

Ini adalah mitos yang sangat berbahaya. Memasukkan sendok, jari, kain, atau benda apa pun ke dalam mulut anak yang sedang kejang berisiko mematahkan giginya. Gigi yang patah bisa menyumbat jalan napas dan menyebabkan anak tersedak hingga gagal napas.

3. Mitos: Minum Kopi Bisa Mencegah Kejang

Banyak orang tua yang mencekoki bayi dengan kopi hitam agar tidak step (kejang). Faktanya, sistem pencernaan bayi belum siap menerima kafein. Kopi justru bisa memicu jantung berdebar cepat, gangguan tidur, asam lambung, dan dehidrasi, yang sama sekali tidak memiliki efek mengobati atau mencegah kejang saraf.

Pertolongan Pertama Saat Terjadi Sawan

Melihat orang terdekat, terutama anak, mengalami kejang tentu memicu kepanikan. Namun, kunci utama menolong penderita sawan adalah tetap tenang. Berikut langkah pertolongan pertamanya:

  1. Amankan Lingkungan: Pindahkan barang-barang berbahaya, keras, dan tajam dari sekitar penderita agar tubuhnya tidak terbentur saat kelojotan.
  2. Baringkan dan Miringkan Tubuh: Baringkan tubuhnya di lantai yang datar dan empuk. Segera miringkan posisi tubuhnya ke salah satu sisi (kiri atau kanan). Posisi miring ini sangat penting untuk mencegah air liur atau muntahan masuk ke saluran napas yang bisa menyebabkan tersedak.
  3. Longgarkan Pakaian: Buka kancing kerah baju, lepaskan jaket, atau kendurkan ikat pinggang agar penderita bisa bernapas dengan lebih lega.
  4. Jangan Tahan Gerakannya: Biarkan kejang berlangsung. Jangan memeluk kuat, menindih, atau menahan paksa tangan dan kakinya karena bisa menyebabkan otot robek atau tulang patah.
  5. Hitung Durasi Kejang: Perhatikan jam dan catat berapa lama kejang berlangsung. Informasi ini sangat berguna bagi dokter nantinya.
  6. Jangan Beri Makan/Minum: Selama kejang hingga penderita benar-benar sadar penuh, jangan pernah memasukkan obat, air, atau makanan ke mulutnya.

Sebagai langkah pencegahan awal di rumah saat anak mulai demam, pastikan kamu selalu memantau suhunya. Kamu bisa melengkapi perlengkapan medis di rumah seperti termometer dan obat penurun panas dengan cara beli obat, beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah dengan praktis.

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun kejang demam biasa umumnya akan berhenti sendiri di bawah 5 menit, ada beberapa kondisi red flags (tanda bahaya) di mana kamu harus segera mencari pertolongan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD):

  • Kejang berlangsung lebih dari 5 menit tanpa tanda-tanda berhenti.
  • Kejang terjadi hanya pada salah satu sisi tubuh saja (misal hanya tangan kanan dan kaki kanan yang kelojotan).
  • Anak mengalami kesulitan bernapas setelah kejang berhenti, atau bibirnya tetap berwarna biru.
  • Anak lambat sadar atau tidak merespons sama sekali (koma) setelah durasi kejang selesai.
  • Ini adalah kejang pertama kali dalam hidupnya tanpa disertai demam.
  • Kejang berulang dalam rentang waktu 24 jam.

Studi Mengenai Sawan dan Kejang Demam

Pediatrics Journal menerbitkan studi komprehensif mengenai profil kejang demam yang menjelaskan bahwa sekitar 2 hingga 5 persen anak-anak yang sehat akan mengalami setidaknya satu kali episode kejang demam sebelum mereka berusia 5 tahun. Studi ini menegaskan bahwa kejang demam sederhana tidak menurunkan tingkat kecerdasan (IQ) anak di masa depan dan sangat jarang berkembang menjadi epilepsi.

Temuan ini memberikan kelegaan bagi para orang tua. Secara medis, sawan akibat demam adalah respons fisiologis otak yang masih imatur, bukan tanda kerusakan otak permanen. Meski demikian, diagnosis pembanding oleh dokter spesialis saraf anak tetap diperlukan jika kejang berlangsung sangat lama (lebih dari 15 menit) yang disebut sebagai status epileptikus.

Jika kamu atau si Kecil mengalami gejala yang mencurigakan, jangan pernah menunda untuk melakukan pemeriksaan medis. Ingat, diagnosis dini adalah kunci untuk pencegahan dan pemulihan yang maksimal.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Saraf via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Saraf terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Epilepsy.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Seizures – Symptoms and Causes.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Penanganan Kejang Demam pada Anak.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Febrile Seizures: Causes, Symptoms & Treatment.
National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Diakses pada 2024. Febrile Seizures Fact Sheet.

FAQ

1. Apa itu sawan pada bayi secara medis?

Secara medis, sawan pada bayi paling sering merujuk pada kejang demam (febrile seizure). Ini adalah kondisi di mana tubuh bayi mengalami hentakan otot tak terkendali akibat lonjakan suhu tubuh yang tiba-tiba saat mengalami demam akibat infeksi.

2. Apakah sawan (kejang demam) bisa merusak otak anak?

Kejang demam sederhana yang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit) umumnya tidak berbahaya dan tidak akan merusak sel-sel otak atau menurunkan tingkat kecerdasan anak di masa depan.

3. Apa yang mutlak tidak boleh dilakukan saat anak sawan?

Kamu dilarang keras memasukkan benda apa pun ke dalam mulut anak (seperti sendok, kopi, jari, atau air) karena dapat menyumbat jalan napas. Selain itu, jangan menahan paksa gerakan kelojotannya karena bisa menyebabkan patah tulang.

4. Apakah anak yang sering sawan demam pasti akan terkena epilepsi?

Tidak selalu. Risiko anak dengan riwayat kejang demam untuk berkembang menjadi epilepsi di kemudian hari hanya sedikit lebih tinggi (sekitar 1-2%) dibandingkan anak yang tidak pernah kejang demam, kecuali terdapat riwayat keluarga atau kelainan saraf bawaan.