Bukan Sekadar Kejang, Seizure Penyakit Otak!

Memahami Kejang (Seizure): Apakah Termasuk Penyakit?
Kejang (seizure) adalah suatu kondisi medis yang sering menimbulkan pertanyaan apakah ia sendiri merupakan penyakit atau sekadar gejala. Secara medis, kejang dapat dipahami sebagai peristiwa ketika miliaran sel saraf (neuron) di otak mengirimkan sinyal listrik secara tidak teratur dan berlebihan, menyerupai “korsleting” singkat dalam sistem kelistrikan otak. Fenomena ini mengganggu fungsi normal otak untuk sementara waktu.
Meskipun satu kali episode kejang bisa menjadi gejala dari kondisi lain, kejang yang terjadi berulang kali tanpa pemicu yang jelas umumnya dikenal sebagai epilepsi. Epilepsi inilah yang dikategorikan sebagai penyakit atau gangguan neurologis kronis pada otak.
Apa Itu Kejang (Seizure)?
Kejang merupakan episode gangguan aktivitas listrik otak yang tidak normal dan tidak terkendali. Gangguan ini dapat menyebabkan perubahan kesadaran, perilaku, gerakan, dan sensasi. Sifat kejang sangat bervariasi, tergantung pada bagian otak yang terpengaruh dan seberapa luas area yang terlibat.
Sebagai contoh, beberapa kejang hanya menyebabkan tatapan kosong atau kedutan otot ringan. Sementara itu, jenis kejang lain dapat menyebabkan kejang seluruh tubuh dan kehilangan kesadaran.
Kejang: Gejala atau Penyakit?
Pertanyaan kunci mengenai apakah seizure adalah penyakit perlu dijawab dengan pemahaman bahwa kejang itu sendiri merupakan manifestasi dari aktivitas listrik otak yang tidak biasa. Dalam banyak kasus, kejang adalah gejala dari penyakit lain atau gangguan yang mendasarinya.
Jika kejang terjadi satu kali dan disebabkan oleh pemicu spesifik seperti demam tinggi, cedera kepala akut, atau kadar gula darah rendah ekstrem, kondisi ini sering dianggap sebagai kejang simptomatik akut. Artinya, kejang tersebut merupakan respons otak terhadap masalah sementara.
Namun, ketika kejang terjadi berulang kali tanpa pemicu yang jelas atau karena adanya kelainan struktural pada otak, ini disebut epilepsi. Epilepsi adalah gangguan neurologis kronis yang menjadikan kejang sebagai ciri utamanya. Dengan demikian, epilepsi adalah penyakit, sedangkan kejang adalah salah satu gejalanya.
Penyebab Terjadinya Kejang
Berbagai kondisi dapat memicu aktivitas listrik abnormal di otak yang menyebabkan kejang. Beberapa penyebab umum meliputi:
- Cedera kepala, terutama yang parah dan dapat merusak jaringan otak.
- Infeksi otak seperti meningitis, ensefalitis, atau abses otak.
- Stroke atau perdarahan otak yang merusak sel-sel saraf.
- Tumor otak yang menekan atau mengiritasi area otak tertentu.
- Kelainan genetik atau bawaan yang memengaruhi perkembangan otak.
- Demam tinggi, terutama pada anak-anak kecil (kejang demam).
- Gangguan metabolik seperti kadar gula darah rendah (hipoglikemia) atau gangguan elektrolit.
- Penyalahgunaan alkohol atau penarikan obat-obatan tertentu.
- Penyakit autoimun yang memengaruhi otak.
Gejala Kejang yang Perlu Diwaspadai
Gejala kejang sangat bervariasi, tergantung pada bagian otak yang terpengaruh. Beberapa gejala umum yang mungkin timbul antara lain:
- Kehilangan kesadaran sebagian atau seluruhnya.
- Gerakan otot tak terkendali seperti kedutan, kekakuan, atau sentakan pada lengan dan kaki.
- Tatapan kosong dan tidak responsif terhadap lingkungan sekitar.
- Perubahan perilaku, seperti kebingungan, agitasi, atau berbicara yang tidak jelas.
- Sensasi aneh seperti kesemutan, mati rasa, kilatan cahaya, atau mencium bau yang tidak ada.
- Jatuh tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.
- Gigit lidah atau buang air kecil/besar tanpa disadari.
Penting untuk mengamati durasi dan jenis gejala saat kejang terjadi untuk membantu diagnosis.
Diagnosis dan Penanganan Kejang
Diagnosis kejang melibatkan evaluasi riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan tes neurologis. Dokter mungkin akan merekomendasikan elektroensefalogram (EEG) untuk merekam aktivitas listrik otak. Tes pencitraan otak seperti MRI atau CT scan juga bisa dilakukan untuk mencari penyebab struktural.
Penanganan kejang bertujuan untuk mengendalikan episode kejang dan mengatasi penyebab yang mendasari. Obat antikejang sering diresepkan untuk penderita epilepsi guna mencegah kejang berulang. Pada beberapa kasus, perubahan gaya hidup atau tindakan medis lain seperti operasi otak mungkin diperlukan.
Pencegahan dan Manajemen Risiko Kejang
Pencegahan kejang bergantung pada penyebabnya. Untuk kejang yang merupakan gejala penyakit lain, mengelola kondisi medis yang mendasari adalah kunci. Misalnya, mengontrol demam pada anak-anak atau menjaga kadar gula darah pada penderita diabetes.
Bagi penderita epilepsi, pencegahan berfokus pada kepatuhan minum obat antikejang sesuai anjuran dokter. Selain itu, menghindari pemicu kejang yang diketahui seperti kurang tidur, stres, atau paparan cahaya berkedip, juga sangat membantu dalam manajemen risiko.
Gaya hidup sehat, termasuk diet seimbang dan olahraga teratur, dapat mendukung kesehatan otak secara keseluruhan.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Setiap episode kejang adalah kondisi serius yang memerlukan perhatian medis. Jika mengalami kejang untuk pertama kalinya atau jika ada perubahan pola kejang yang sudah ada, segera konsultasikan dengan dokter. Penanganan medis yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi.
Melalui aplikasi Halodoc, dapat mencari dan menghubungi dokter spesialis saraf untuk mendapatkan diagnosis akurat dan rencana penanganan yang sesuai. Mendapatkan informasi dan dukungan medis dari sumber terpercaya adalah langkah krusial dalam memahami dan mengelola kondisi kejang.



