Ad Placeholder Image

Self Harm: Kenali, Atasi, dan Cari Bantuan!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Februari 2026

Self Harm: Arti, Contoh, & Cara Mengatasinya

Self Harm: Kenali, Atasi, dan Cari Bantuan!Self Harm: Kenali, Atasi, dan Cari Bantuan!

Self Harm Adalah: Memahami, Mengatasi, dan Mencegah

Self-harm adalah perilaku menyakiti diri sendiri secara sengaja. Tindakan ini bukan upaya bunuh diri, melainkan cara seseorang untuk mengatasi emosi yang sulit. Penting untuk memahami bahwa self-harm adalah tanda adanya masalah yang lebih dalam dan membutuhkan penanganan yang tepat.

Apa Itu Self Harm?

Self-harm (menyakiti diri sendiri) adalah tindakan melukai diri sendiri secara sengaja, seperti menyayat, membakar, memukul, atau menggaruk kulit. Tujuan utama dari perilaku ini bukanlah untuk mengakhiri hidup, tetapi untuk melepaskan emosi yang tertekan, mengurangi rasa sakit emosional, atau merasa sesuatu ketika merasa hampa. Self-harm seringkali menjadi mekanisme koping yang tidak sehat untuk menghadapi stres berat, trauma, atau masalah kesehatan mental lainnya.

Ciri-Ciri dan Contoh Perilaku Self Harm

Perilaku self-harm dapat bervariasi pada setiap individu. Berikut adalah beberapa ciri-ciri dan contoh perilaku self-harm yang umum:

  • Cutting: Menyayat atau mengiris kulit dengan benda tajam seperti pisau, silet, atau pecahan kaca.
  • Burning: Membakar kulit dengan korek api, rokok, atau benda panas lainnya.
  • Scratching: Menggaruk kulit secara berlebihan hingga menimbulkan luka.
  • Hitting/Banging: Memukul diri sendiri atau membenturkan kepala ke dinding.
  • Picking/Pulling Skin or Hair: Memetik kulit atau mencabut rambut secara kompulsif.
  • Poisoning/Overdosing (Non-Lethal): Menelan zat berbahaya atau mengonsumsi obat secara berlebihan namun tidak sampai menyebabkan kematian.

Penyebab Self Harm

Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan seseorang melakukan self-harm. Beberapa penyebab umum meliputi:

  • Masalah Kesehatan Mental: Gangguan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, gangguan bipolar, gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder), dan gangguan stres pasca trauma (PTSD) dapat meningkatkan risiko self-harm.
  • Trauma: Pengalaman traumatis seperti pelecehan fisik, emosional, atau seksual dapat menjadi pemicu self-harm.
  • Stres Berat: Tekanan hidup yang berlebihan, masalah keluarga, masalah di sekolah atau tempat kerja, atau masalah keuangan dapat memicu self-harm.
  • Kesulitan Mengelola Emosi: Kesulitan dalam mengidentifikasi, mengungkapkan, dan mengatur emosi dapat menyebabkan seseorang beralih ke self-harm sebagai cara untuk mengatasi perasaan yang sulit.
  • Isolasi Sosial: Merasa terisolasi, kesepian, dan tidak memiliki dukungan sosial yang memadai dapat meningkatkan risiko self-harm.
  • Pengaruh Lingkungan: Lingkungan yang tidak mendukung, adanya teman atau anggota keluarga yang melakukan self-harm, atau paparan media yang menggambarkan self-harm secara glamor dapat mempengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan yang sama.

Dampak Self Harm

Self-harm dapat memiliki dampak yang signifikan pada berbagai aspek kehidupan seseorang, termasuk:

  • Fisik: Luka fisik, infeksi, jaringan parut permanen, dan risiko cedera yang lebih serius.
  • Emosional: Perasaan bersalah, malu, marah, sedih, cemas, dan depresi.
  • Sosial: Isolasi sosial, kesulitan dalam menjalin hubungan, dan stigma.
  • Psikologis: Harga diri rendah, perasaan tidak berdaya, dan peningkatan risiko bunuh diri.

Cara Mengatasi Self Harm

Mengatasi self-harm membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan dukungan dari berbagai pihak. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil:

  • Cari Bantuan Profesional: Konsultasikan dengan psikolog atau psikiater. Terapis dapat membantu mengidentifikasi penyebab self-harm, mengembangkan strategi koping yang lebih sehat, dan mengatasi masalah kesehatan mental yang mendasarinya.
  • Kembangkan Strategi Koping yang Sehat: Temukan cara alternatif untuk mengatasi emosi yang sulit, seperti olahraga, menulis jurnal, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas kreatif.
  • Bangun Sistem Dukungan: Jalin hubungan yang kuat dengan keluarga, teman, atau kelompok dukungan. Berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu mengurangi perasaan terisolasi dan memberikan dukungan emosional.
  • Identifikasi Pemicu: Kenali situasi, pikiran, atau perasaan yang memicu keinginan untuk melakukan self-harm. Setelah pemicu diidentifikasi, buat rencana untuk menghindarinya atau menghadapinya dengan cara yang lebih sehat.
  • Praktikkan Perawatan Diri: Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan dan menenangkan, seperti mandi air hangat, membaca buku, atau berjalan-jalan di alam.

Pencegahan Self Harm

Pencegahan self-harm melibatkan upaya untuk mengurangi faktor risiko dan meningkatkan faktor pelindung. Beberapa strategi pencegahan meliputi:

  • Edukasi dan Kesadaran: Meningkatkan kesadaran tentang self-harm di masyarakat, termasuk tanda-tanda peringatan, penyebab, dan cara mengatasi.
  • Promosi Kesehatan Mental: Mendorong gaya hidup sehat, seperti tidur yang cukup, makan makanan bergizi, dan berolahraga secara teratur.
  • Intervensi Dini: Mengidentifikasi dan memberikan dukungan kepada individu yang berisiko tinggi melakukan self-harm.
  • Mengurangi Stigma: Menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi individu yang mengalami masalah kesehatan mental.

Self-harm adalah masalah kompleks yang membutuhkan pemahaman dan penanganan yang tepat. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami self-harm, segera cari bantuan profesional. Jangan ragu untuk menghubungi psikolog atau psikiater untuk mendapatkan dukungan dan perawatan yang dibutuhkan.

Jika membutuhkan konsultasi dengan psikolog atau psikiater, jangan ragu untuk menggunakan aplikasi Halodoc. Download Halodoc sekarang juga!