Ad Placeholder Image

Seroma: Kenali Cairan di Bekas Luka Usai Operasi.

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Seroma Adalah: Jangan Panik, Atasi Bengkak Setelah Bedah

Seroma: Kenali Cairan di Bekas Luka Usai Operasi.Seroma: Kenali Cairan di Bekas Luka Usai Operasi.

DAFTAR ISI


Menjalani prosedur operasi, baik itu operasi besar maupun kecil, tentu membutuhkan waktu pemulihan yang tidak sebentar. Selama masa penyembuhan ini, tubuh melakukan berbagai mekanisme alami untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Namun, terkadang proses ini menimbulkan kondisi yang membuat khawatir, salah satunya adalah munculnya benjolan berisi cairan di sekitar area sayatan atau bekas operasi.

Dalam dunia medis, benjolan berisi cairan bening kekuningan di area sayatan bedah ini dikenal dengan istilah seroma. Kondisi ini sebenarnya merupakan respons peradangan alami tubuh terhadap trauma jaringan akibat operasi. Ketika jaringan dipotong atau diangkat, akan terbentuk “ruang kosong” di bawah kulit. Tubuh kemudian merespons dengan memproduksi cairan serum (bagian cair dari darah tanpa sel darah merah) untuk mengisi ruang tersebut.

Meskipun sebagian besar seroma tidak berbahaya dan dapat diserap kembali oleh tubuh seiring berjalannya waktu, benjolan ini tetap perlu mendapat perhatian ekstra. Jika ukurannya terus membesar, seroma dapat meregangkan kulit di sekitar sayatan bedah, memperlambat proses penyembuhan luka, dan yang paling berbahaya, menjadi tempat ideal bagi bakteri untuk berkembang biak sehingga memicu infeksi yang serius.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kamu yang sedang dalam masa pemulihan pasca-operasi untuk mengetahui apa penyebabnya, bagaimana membedakan benjolan yang normal dengan yang terinfeksi, serta langkah penanganan apa yang tepat. Mari kita bahas secara lengkap di bawah ini.

Apa Itu Benjolan Berisi Cairan di Bekas Operasi (Seroma)?

Seroma adalah penumpukan cairan serosa (cairan bening atau kekuningan) di dalam rongga tubuh, jaringan, atau di bawah kulit, tepatnya di area bekas sayatan bedah. Berbeda dengan abses yang berisi nanah kental akibat infeksi, atau hematoma yang berisi darah pekat, seroma berisi cairan plasma darah yang merembes keluar dari pembuluh darah kapiler yang terputus selama operasi.

Kondisi ini paling sering terjadi setelah operasi ekstensif yang melibatkan pengangkatan jaringan dalam jumlah besar. Tubuh secara alami memproduksi cairan peradangan pada hari-hari pertama pasca-operasi. Cairan ini sebenarnya mengandung nutrisi dan sel-sel imun yang bertujuan membantu penyembuhan. Namun, ketika produksi cairan melebihi kemampuan tubuh untuk menyerapnya kembali melalui sistem limfatik, cairan tersebut akan menumpuk dan membentuk benjolan yang menyerupai kantung air.

Penyebab dan Faktor Risiko Munculnya Seroma

Secara umum, seroma terjadi karena terputusnya pembuluh darah kecil dan pembuluh getah bening selama tindakan pembedahan. Namun, tidak semua orang yang dioperasi akan mengalami hal ini. Ada beberapa faktor dan jenis operasi tertentu yang membuat risiko munculnya benjolan berisi cairan ini menjadi lebih tinggi.

1. Jenis Operasi yang Dilakukan

Seroma sangat umum terjadi pada operasi yang menciptakan “ruang mati” (dead space) atau rongga kosong yang cukup luas di bawah kulit. Beberapa contoh operasi yang berisiko tinggi memicu seroma meliputi:

  • Operasi pengangkatan payudara (mastektomi) atau lumpektomi.
  • Operasi perbaikan hernia (hernioplasti).
  • Operasi pengencangan perut (tummy tuck atau abdominoplasti).
  • Operasi pengangkatan kelenjar getah bening (limfadenektomi).
  • Operasi bedah plastik atau rekonstruksi.

2. Faktor Risiko pada Pasien

Selain jenis operasinya, kondisi fisik dan kebiasaan pasien juga berpengaruh. Orang dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi karena jaringan lemak rentan mengalami trauma dan lambat pulih. Usia yang lebih tua, riwayat terjadinya seroma pada operasi sebelumnya, serta pergerakan fisik yang berlebihan di area sayatan sebelum luka benar-benar sembuh juga memicu gesekan jaringan yang meningkatkan produksi cairan.

Tips Mencegah Benjolan Cairan Pasca Operasi
  1. Batasi aktivitas fisik: Hindari mengangkat beban berat atau melakukan peregangan berlebihan pada area sayatan.
  2. Gunakan pakaian kompresi: Pakaian atau perban kompresi yang disarankan dokter dapat membantu meminimalisir ruang kosong di bawah kulit.
  3. Jaga kebersihan luka: Pastikan area sayatan tetap kering dan bersih untuk mencegah komplikasi infeksi.
  4. Patuhi jadwal kontrol: Jangan mencabut selang drainase sendiri sebelum diinstruksikan oleh dokter.

Gejala dan Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai

Gejala utama seroma adalah munculnya pembengkakan atau benjolan yang terasa kenyal seperti balon berisi air (fluktuatif) di dekat sayatan bedah. Benjolan ini biasanya muncul sekitar 7 hingga 10 hari setelah operasi, seringkali tepat setelah selang drainase (jika ada) dilepas oleh dokter.

Pada kondisi normal, seroma mungkin hanya menyebabkan rasa sedikit tidak nyaman atau sensasi penuh/kencang di kulit, tanpa disertai rasa sakit yang hebat. Benjolan ini juga biasanya tidak kemerahan atau panas jika disentuh. Seiring waktu, benjolan kecil dapat mengempis dengan sendirinya dalam beberapa minggu hingga bulan karena cairan diserap kembali oleh tubuh.

Namun, seroma bisa menjadi masalah serius jika terinfeksi atau berkembang menjadi abses. Oleh karena itu, jika kamu mengalami gejala bahaya (red flags) seperti benjolan membesar dengan cepat, kulit di sekitarnya menjadi sangat merah, panas, disertai rasa nyeri yang berdenyut hebat, cairan yang keluar berbau busuk atau berwarna keruh/kehijauan (nanah), serta muncul demam tinggi, jangan tunda untuk mencari pertolongan medis. Dalam situasi seperti ini, sangat disarankan agar kamu segera melakukan konsultasi dokter di Halodoc untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dan mencegah komplikasi berbahaya seperti sepsis atau robeknya jahitan operasi.

Cara Penanganan Medis untuk Seroma

Pengobatan seroma sangat bergantung pada ukuran benjolan, letaknya, dan apakah terdapat tanda-tanda infeksi atau tidak. Berikut adalah beberapa langkah medis yang umumnya dilakukan:

1. Observasi (Menunggu dan Memantau)

Jika seroma berukuran kecil, tidak membesar, dan tidak menimbulkan rasa sakit, dokter biasanya hanya akan menyarankan untuk memantaunya saja. Tubuh manusia memiliki kemampuan alami untuk menyerap cairan serosa tersebut secara perlahan dalam beberapa minggu.

2. Aspirasi Jarum Halus

Jika benjolan cukup besar hingga meregangkan kulit, menyebabkan rasa sakit, atau mengganggu pergerakan, dokter akan melakukan prosedur aspirasi. Ini dilakukan dengan menyuntikkan jarum ke dalam benjolan untuk menyedot cairan keluar. Prosedur ini relatif cepat dan langsung meredakan tekanan, namun seroma terkadang bisa terisi cairan kembali sehingga prosedur ini mungkin perlu diulang beberapa kali.

3. Pemasangan Drainase Ulang atau Operasi Lanjutan

Pada kasus seroma yang terus-menerus kembali (kronis), dokter mungkin perlu memasang kembali selang drainase untuk mengalirkan cairan secara konstan selama beberapa hari. Dalam kasus yang lebih jarang terjadi, jika cairan telah membentuk kapsul jaringan fibrosa yang keras di sekitarnya, operasi kecil mungkin diperlukan untuk mengangkat benjolan beserta kapsulnya secara keseluruhan.

Perawatan Luka Mandiri di Rumah

Perawatan luka pasca-operasi di rumah memegang peranan krusial dalam mencegah komplikasi seroma. Pastikan kamu selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah menyentuh area perban. Gantilah perban sesuai dengan instruksi dokter, dan hindari menggunakan obat oles, salep, atau ramuan herbal yang tidak diresepkan oleh tenaga medis ke atas luka yang belum menutup sempurna.

Untuk mendukung proses penyembuhan jaringan, pastikan kamu mengonsumsi makanan tinggi protein, vitamin C, dan zinc. Jika kamu merasakan nyeri ringan di area luka akibat peregangan kulit, kamu bisa berkonsultasi dengan apoteker atau dokter mengenai penggunaan obat pereda nyeri yang aman. Agar lebih praktis, kamu bisa langsung beli obat pereda nyeri atau alat rawat luka online di Halodoc, sehingga kamu tidak perlu repot keluar rumah dan bisa fokus pada proses pemulihan. Pastikan juga kamu tidak menggunakan pakaian ketat yang bergesekan langsung dengan sayatan, kecuali pakaian kompresi medis yang memang disarankan oleh dokter bedahmu.

Studi Terkait Mengenai Seroma

National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa penggunaan terapi kompresi pasca-operasi dapat secara signifikan menurunkan insiden pembentukan seroma pada pasien bedah rekonstruktif.

Penelitian ini menegaskan pentingnya imobilisasi (membatasi pergerakan) dan tekanan lembut yang konsisten pada area yang baru dioperasi. Tekanan mekanis ini membantu “menempelkan” kembali lapisan jaringan yang sebelumnya terpisah saat operasi, sehingga menutup ruang kosong (dead space) yang menjadi tempat menumpuknya cairan serosa.

Kondisi pemulihan pasca operasi memang membutuhkan kesabaran ekstra. Jika benjolan berisi cairan di bekas operasi kamu tidak kunjung mengecil atau disertai keluhan nyeri yang mengganggu, jangan ragu untuk mencari evaluasi medis guna mencegah terjadinya infeksi luka operasi yang lebih dalam.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Bedah via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Bedah terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Seroma: Why it happens and how it’s treated.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Seroma: Symptoms, Causes & Treatment.
National Institutes of Health (NCBI). Diakses pada 2026. Prevention and Management of Postoperative Seroma.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Global Guidelines for the Prevention of Surgical Site Infection.

FAQ

1. Apakah benjolan berisi cairan di bekas operasi bisa pecah sendiri?

Ya, dalam beberapa kasus yang jarang, jika seroma terlalu penuh dan kulit menipis, cairan bisa merembes keluar melalui sela-sela jahitan operasi. Jika ini terjadi, tutupi dengan kasa steril dan segera hubungi dokter karena luka terbuka rentan terhadap infeksi bakteri.

2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan agar seroma hilang sepenuhnya?

Waktu penyembuhan bervariasi pada setiap individu. Seroma berukuran kecil biasanya akan diserap kembali oleh tubuh dan menghilang dengan sendirinya dalam waktu 2 hingga 4 minggu. Namun, pada seroma yang lebih besar atau kronis, proses penyerapannya bisa memakan waktu hingga beberapa bulan.

3. Apakah boleh memijat benjolan seroma agar cairannya menyebar?

Sangat tidak disarankan memijat atau menekan keras benjolan seroma sendiri. Memijat area yang baru dioperasi justru berisiko merusak pembuluh darah kapiler yang baru tumbuh, merusak jahitan bedah bagian dalam, serta meningkatkan risiko masuknya kuman yang menyebabkan abses (infeksi bernanah).

4. Apakah seroma sama dengan nanah atau abses?

Tidak. Seroma berisi cairan serosa yang merupakan bagian alami dari plasma darah, warnanya bening kekuningan dan relatif encer tanpa bakteri. Sedangkan abses adalah komplikasi infeksi yang berisi nanah kental (sel darah putih mati, bakteri, jaringan mati) dan biasanya berbau tidak sedap serta disertai rasa sakit berdenyut.