Sistostomi: Prosedur, Tujuan, Jenis, & Perawatan

Sistostomi adalah prosedur medis yang membuat jalan pintas dari perut ke kandung kemih untuk mengeluarkan urine. Tindakan ini diperlukan ketika saluran kemih normal terhambat atau kateter biasa tidak dapat digunakan. Bagaimana prosedur ini dilakukan dan kapan diperlukan? Simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu Sistostomi?
Sistostomi adalah prosedur bedah untuk membuat lubang (stoma) pada kandung kemih melalui dinding perut. Tujuannya adalah untuk mengalirkan urine dari kandung kemih ketika saluran kemih normal terhambat. Prosedur ini memungkinkan urine keluar dari tubuh melalui kateter yang dimasukkan ke dalam stoma.
Sistostomi sering menjadi solusi ketika pemasangan kateter uretra (melalui saluran kemih) tidak memungkinkan atau tidak aman. Kondisi ini bisa terjadi akibat penyumbatan, cedera, atau penyempitan uretra.
Tujuan Sistostomi
Tujuan utama sistostomi adalah untuk mengatasi retensi urine, yaitu kondisi ketika seseorang tidak dapat buang air kecil secara normal. Selain itu, sistostomi juga dilakukan untuk:
- Mengalirkan urine ketika kateterisasi uretra tidak memungkinkan.
- Menghindari kontaminasi urine dan meningkatkan kenyamanan pasien dalam jangka panjang.
Jenis-Jenis Sistostomi
Terdapat dua jenis utama sistostomi, yaitu:
- Sistostomi Suprapubik: Prosedur ini melibatkan pembuatan sayatan kecil di dinding perut bagian bawah untuk mencapai kandung kemih.
- Sistostomi Perkutan: Prosedur minimal invasif yang menggunakan jarum khusus dengan panduan USG untuk membuat stoma.
Pemilihan jenis sistostomi tergantung pada kondisi pasien dan preferensi dokter bedah.
Kapan Sistostomi Dilakukan?
Sistostomi dilakukan pada kondisi-kondisi berikut:
- Sumbatan uretra akibat pembesaran prostat, batu saluran kemih, atau cedera.
- Kerusakan atau penyempitan uretra yang parah.
- Kebutuhan drainase kandung kemih jangka panjang.
- Pada beberapa kasus, sistostomi dilakukan sebagai bagian dari penanganan kanker kandung kemih.
Prosedur Sistostomi
Prosedur sistostomi umumnya melibatkan langkah-langkah berikut:
- Pasien diberikan anestesi lokal atau umum.
- Area perut dibersihkan dan disterilkan.
- Dokter membuat sayatan kecil (pada sistostomi suprapubik) atau memasukkan jarum (pada sistostomi perkutan) ke dalam kandung kemih.
- Kateter dimasukkan melalui stoma ke dalam kandung kemih.
- Kateter dihubungkan ke kantong penampung urine.
- Stoma ditutup dengan jahitan dan perban steril.
Prosedur biasanya memakan waktu sekitar 30 menit.
Perawatan Setelah Sistostomi
Perawatan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi dan memastikan keberhasilan sistostomi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Perawatan stoma secara teratur untuk mencegah infeksi.
- Penggantian kateter secara berkala sesuai dengan petunjuk dokter.
- Memastikan kantong penampung urine selalu berada di bawah ketinggian kandung kemih.
- Memantau tanda-tanda infeksi seperti demam, kemerahan, atau nyeri di sekitar stoma.
Penting untuk mengikuti semua instruksi dokter dan perawat mengenai perawatan sistostomi.
Komplikasi Sistostomi
Seperti semua prosedur medis, sistostomi juga memiliki risiko komplikasi, meskipun jarang terjadi. Beberapa komplikasi yang mungkin timbul meliputi:
- Infeksi saluran kemih.
- Perdarahan.
- Kerusakan organ di sekitar kandung kemih.
- Penyumbatan kateter.
- Iritasi kulit di sekitar stoma.
Segera konsultasikan dengan dokter jika mengalami gejala-gejala yang mengkhawatirkan setelah menjalani sistostomi.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika mengalami kesulitan buang air kecil, nyeri saat buang air kecil, atau gejala lain yang mencurigakan pada saluran kemih, segera konsultasikan dengan dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan dan menentukan apakah sistostomi diperlukan.
Untuk konsultasi lebih lanjut mengenai masalah saluran kemih, gunakan fitur chat di aplikasi Halodoc. Download Halodoc sekarang untuk kemudahan akses layanan kesehatan!



