• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Skizofrenia Bisa Semakin Parah Seiring Bertambahnya Usia

Skizofrenia Bisa Semakin Parah Seiring Bertambahnya Usia

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Orang dari segala usia, laki-laki ataupun perempuan, bisa mengalami skizofrenia. Hanya saja gejala skizofrenia yang berupa halusinasi dan delusi biasanya pertama kali muncul pada usia 16 hingga 30 tahun. Meski gangguan ini sering muncul di masa remaja, gejala yang muncul pada masa kanak-kanak juga tetap perlu diwaspadai.

Pada remaja, tanda dan gejala skizofrenia sulit untuk dikenali. Terkadang orangtua juga mengabaikan gejalanya. Padahal, gangguan ini bisa semakin parah seiring bertambahnya usia jika dibiarkan. Terlebih lagi saat semakin tua, tubuh akan mengalami banyak perubahan dan penurunan fungsi. 

Baca juga: Ini Alasan Orang dengan Skizofrenia Bisa Bertindak Nekat

Penanganan Skizofrenia Mencegah Keparahan di Usia Tua

Tubuh setiap orang akan mengalami banyak perubahan saat semakin tua. Perubahan yang terjadi berupa penurunan fisik, kognitif, mental, dan sosial. Ini juga jadi pertanda bahwa tubuh semakin rentan terhadap berbagai penyakit fisik ataupun mental. 

Namun, hal yang patut disyukuri adalah keparahan skizofrenia dapat dicegah seiring bertambahnya usia. Dengan penangan yang tepat dan dilakukan dengan segera oleh psikiater serta dukungan orang terdekat, gejala dapat dikendalikan dengan baik. 

Hanya saja yang perlu diingat bahwa bukan berarti kamu bisa tenang-tenang saja dan mengabaikan gejalanya saat mengidap skizofrenia. Sebab, gejala skizofrenia kemungkinan akan terus berkembang hingga semakin parah apabila kamu mengabaikannya tanpa pengobatan medis. 

Baca juga: Pengidap Skizofrenia Sulit Melakukan Interaksi Sosial

Dalam episode atau tahapan psikotik yang dialami oleh pengidap skizofrenia, kondisi tersebut dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada otak apabila tidak segera ditangani. Terutama jika gaya hidup pengidap tidak sehat, seperti memiliki kebiasaan merokok, minum alkohol, hiperkortisolemia, dan kurang beraktivitas fisik. 

Pada pengidap skizofrenia, pola hidup yang tidak sehat dapat mengurangi volume materi abu-abu (gray matter) pada otak. Apabila materi abu-abu pada otak semakin sedikit, maka akan semakin sulit pula bagi pengidap untuk menenangkan diri dan memicu gejala skizofrenia. Semakin lama dibiarkan, pengidap mungkin dapat mengalami psikosis yang lebih parah, yaitu delusi, halusinasi, hingga mendengar suara-suara tak berwujud. 

Namun, di sisi lain gejala skizofrenia cenderung mereda dan membaik seiring bertambah usia. Pada orang paruh baya dan lansia, ditemukan bahwa fungsi psikososial justru meningkat. 

Semakin tua pengidap, mereka lebih mampu mengendalikan gejala skizofrenia yang sering kambuh. Orang yang lebih tua biasanya juga semakin patuh dengan perawatan mental yang diberikan, karena tumbuh kesadaran bahwa ingin hidup normal dan sehat. Dengan begitu pengidap skizofrenia yang lebih tua merasa lebih percaya diri dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. 

Baca juga: Pikiran Negatif Memicu Gangguan Mental, Kok Bisa?

Pentingnya Usaha untuk Perawatan Mental Segera Mungkin

Perlu disadari bahwa parah atau tidaknya gejala skizofrenia tergantung bagaimana upaya pengidapnya untuk mendapatkan perawatan mental sesegera mungkin. Jika terapi psikis semakin segera dilakukan, gejala skizofrenia pun bisa semakin cepat dikendalikan. Dengan begitu, kamu tidak lagi terganggu dengan skizofrenia di usia tua atau seumur hidup. 

Pertama, langkah yang harus kamu lakukan adalah menghubungi psikiater sesegera mungkin melalui aplikasi Halodoc. Biasanya, kamu akan diminta untuk menemui psikiater untuk diberikan terapi kognitif dan perilaku (CBT) selama enam bulan untuk meningkatkan fungsi sosial serta membantu mengendalikan gejala skizofrenia yang sering muncul. 

Psikiater mungkin juga akan memberikan resep obat skizofrenia yang dapat diminum secara teratur, apabila gejalanya memang sering kambuh di waktu-waktu tertentu. Namun, “terapi” yang juga paling penting adalah dukungan dari keluarga, pasangan, atau kerabat terdekat dalam membantu melewati masa-masa sulit. 

Referensi:
Help Guide. Diakses pada 2020. Schizophrenia Treatment and Self-Help.
Brain & Behavior. Diakses pada 2020. Frequently Asked Questions about Schizophrenia.