Sklera Mata: Si Putih Pelindung Bola Mata Kita

DAFTAR ISI
- Apa Itu Sklera Mata dan Fungsinya?
- Gangguan Kesehatan pada Sklera
- Cara Menjaga Kesehatan Mata
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Mata adalah salah satu organ tubuh yang paling kompleks dan memiliki peran sangat krusial bagi kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita bercermin dan menatap mata kita, bagian yang paling luas dan mendominasi pandangan adalah area berwarna putih. Bagian putih pada bola mata ini dalam istilah medis dikenal dengan sebutan sklera mata.
Meskipun sering kali kita hanya memperhatikan pupil atau iris yang memberikan warna pada mata, sklera sebenarnya memegang peranan yang sangat penting sebagai fondasi dan pelindung utama struktur bola mata. Tanpa sklera yang kuat dan sehat, bola mata kita tidak akan mampu mempertahankan bentuknya atau menahan tekanan dari dalam mata (tekanan intraokular). Sklera berfungsi bagaikan dinding benteng yang kokoh untuk melindungi jaringan-jaringan halus di dalam bola mata dari berbagai ancaman eksternal maupun internal.
Penting bagi kita untuk menyadari bahwa perubahan sekecil apa pun pada warna atau kondisi sklera dapat menjadi indikator adanya masalah kesehatan, tidak hanya pada mata itu sendiri, tetapi juga pada kondisi sistemik tubuh secara keseluruhan. Misalnya, sklera yang menguning sering kali menjadi tanda awal adanya gangguan fungsi organ hati. Mengingat fungsinya yang begitu sentral, menjaga kesehatan mata secara menyeluruh adalah sebuah keharusan.
Lantas, bagaimana sebenarnya anatomi sklera, apa saja penyakit yang bisa mengintainya, dan bagaimana cara terbaik untuk menjaga kesehatannya? Berikut ulasan lengkapnya!
Apa Itu Sklera Mata dan Fungsinya?
Sklera adalah lapisan terluar dari bola mata yang berserabut, kuat, dan buram (tidak tembus cahaya). Jaringan ini menutupi sekitar 83 persen dari seluruh permukaan bola mata, memanjang dari tepi kornea di bagian depan hingga ke saraf optik di bagian belakang mata. Sklera didominasi oleh jaringan ikat yang terdiri dari serat kolagen dan elastin. Kombinasi kedua protein ini memberikan sifat yang sangat kuat namun tetap memiliki fleksibilitas yang dibutuhkan oleh mata.
Secara anatomis, sklera terbagi menjadi tiga lapisan utama. Lapisan terluar disebut episklera, yaitu jaringan ikat longgar yang letaknya berada tepat di bawah konjungtiva (selaput bening yang melapisi mata). Di bawah episklera terdapat stroma sklera, yang merupakan bagian paling tebal dan terdiri dari kumpulan kolagen padat. Bagian paling dalam adalah lamina fusca, lapisan tipis yang berbatasan langsung dengan koroid dan traktus uvea, yang mengandung banyak sel pigmen (melanosit) sehingga warnanya cenderung agak kecokelatan.
Fungsi sklera sangatlah krusial bagi mekanisme penglihatan dan perlindungan mata. Berikut adalah beberapa fungsi utamanya:
- Mempertahankan Bentuk Bola Mata: Mata memiliki tekanan alami dari cairan di dalamnya (humor aqueous dan vitreous). Sklera yang keras menahan tekanan intraokular ini agar bola mata tidak membesar, menyusut, atau berubah bentuk. Bentuk yang konsisten sangat penting agar cahaya dapat difokuskan dengan tepat ke retina.
- Melindungi Bagian Dalam Mata: Sklera bertindak sebagai pelindung mekanis atau tameng terhadap trauma luar, benturan, hingga penetrasi benda asing yang berisiko merusak struktur internal mata yang sangat sensitif seperti retina dan lensa.
- Titik Tumpu Otot Mata: Terdapat enam otot ekstraokular (otot penggerak bola mata) yang menempel langsung pada sklera. Berkat otot-otot yang bertumpu pada lapisan putih ini, mata kita dapat bergerak ke atas, bawah, samping, maupun berputar dengan sangat presisi dan cepat.
Gangguan Kesehatan pada Sklera
Karena sklera adalah jaringan yang kuat dan relatif memiliki sedikit pembuluh darah (avaskular), bagian ini umumnya tidak mudah terinfeksi. Namun, sklera tetap dapat mengalami berbagai peradangan, trauma, dan kelainan yang dipengaruhi oleh penyakit bawaan maupun penyakit sistemik tubuh. Berikut adalah beberapa gangguan kesehatan yang sering terjadi pada sklera mata:
1. Skleritis (Peradangan Sklera)
Skleritis adalah peradangan yang parah dan dalam pada jaringan sklera. Kondisi ini sering kali menimbulkan rasa nyeri yang hebat, berdenyut, dan dapat menjalar hingga ke rahang atau dahi. Rasa nyeri ini bahkan bisa membangunkan penderitanya di malam hari. Mata akan tampak sangat merah, terkadang disertai bercak keunguan. Sebagian besar kasus skleritis tidak berdiri sendiri; sekitar 50 persen dari penderita skleritis juga mengidap penyakit autoimun sistemik, seperti Rheumatoid arthritis atau lupus. Jika kamu mengalami gejala sakit mata berkepanjangan disertai nyeri hebat, jangan tunda untuk segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan medis yang tepat.
2. Episkleritis
Berbeda dengan skleritis, episkleritis adalah peradangan yang terjadi pada lapisan episklera, yaitu jaringan tipis yang terletak di antara konjungtiva dan sklera. Kondisi ini umumnya lebih ringan, tidak terlalu menyakitkan, dan sering kali sembuh dengan sendirinya. Mata biasanya terlihat kemerahan secara terlokalisir atau menyeluruh, disertai rasa mengganjal atau iritasi ringan, tanpa ada penurunan fungsi penglihatan yang signifikan.
3. Ikterus (Sklera Menguning)
Kondisi di mana bagian putih mata berubah warna menjadi kekuningan disebut ikterus atau jaundice. Hal ini bukanlah penyakit yang bersumber dari mata itu sendiri, melainkan tanda tingginya kadar bilirubin dalam aliran darah. Bilirubin adalah zat sisa pemecahan sel darah merah. Jika hati (liver), kantung empedu, atau pankreas mengalami masalah—seperti pada kasus hepatitis, sirosis, atau penyumbatan saluran empedu—bilirubin akan menumpuk dan memberikan pigmen kuning pada sklera. Ini adalah salah satu tanda klinis yang sangat penting dalam dunia medis.
4. Perdarahan Subkonjungtiva
Pernahkah kamu melihat bercak darah merah terang yang tiba-tiba muncul di bagian putih mata? Kondisi ini disebut perdarahan subkonjungtiva. Hal ini terjadi ketika pembuluh darah kecil yang berada di bawah konjungtiva (selaput tipis pelapis sklera) pecah. Darah yang keluar akan terperangkap dan terlihat jelas dengan latar belakang sklera yang putih. Meski tampak sangat mengerikan, kondisi ini umumnya tidak berbahaya, tidak menimbulkan rasa sakit, dan tidak mengganggu penglihatan. Perdarahan ini sering dipicu oleh tekanan mendadak, seperti bersin yang terlalu keras, batuk kronis, mengejan, atau mengucek mata terlalu kuat. Darah biasanya akan diserap kembali oleh tubuh dalam waktu satu hingga dua minggu.
5. Sklera Biru (Blue Sclera)
Pada beberapa kasus genetik langka, bagian putih mata bisa tampak berwarna kebiruan atau abu-abu. Hal ini disebabkan oleh penipisan jaringan kolagen pada sklera, sehingga lapisan koroid yang berwarna gelap di bawahnya menjadi terlihat tembus pandang dan membiaskan warna biru. Kondisi ini paling sering dikaitkan dengan penyakit Osteogenesis imperfecta (penyakit tulang rapuh) atau sindrom Marfan. Pada bayi yang baru lahir, sklera mungkin terlihat sedikit kebiruan karena lapisannya masih sangat tipis, dan hal ini wajar asalkan memudar seiring bertambahnya usia.
Tips Mencegah Iritasi pada Bagian Putih Mata
- Selalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum menyentuh atau mengucek area mata.
- Gunakan kacamata pelindung hitam (sunglasses) dengan perlindungan sinar UV 100% saat beraktivitas di luar ruangan untuk mencegah pterigium atau pinguekula.
- Terapkan aturan 20-20-20; setiap 20 menit menatap layar komputer atau gadget, alihkan pandangan sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik untuk mengistirahatkan otot mata.
Cara Menjaga Kesehatan Mata
Kesehatan sklera sangat bergantung pada kesehatan mata secara keseluruhan. Meskipun kita tidak bisa mencegah kelainan genetik, kita dapat meminimalisir risiko peradangan dan iritasi pada mata dengan menerapkan gaya hidup sehat dan langkah-langkah pencegahan dasar.
1. Konsumsi Makanan Bergizi dan Vitamin Mata
Nutrisi memegang peranan krusial bagi kesehatan jaringan kolagen mata. Pastikan asupan dietmu kaya akan vitamin C dan E yang berfungsi sebagai antioksidan untuk melawan radikal bebas. Selain itu, asupan Lutein dan Zeaxanthin yang banyak ditemukan pada sayuran berdaun hijau gelap sangat baik untuk memelihara sel-sel mata. Asam lemak Omega-3 dari ikan laut juga membantu menjaga kelembapan alami mata dan mencegah mata kering (dry eye syndrome). Apabila asupan dari makanan dirasa kurang, kamu bisa mempertimbangkan suplemen. Kamu bisa beli obat tetes mata, suplemen, atau vitamin mata dengan mudah melalui aplikasi kesehatan, memastikan produknya 100% asli dan diantar langsung ke rumah.
2. Gunakan Pelindung Mata
Sinar ultraviolet (UV) dari matahari tidak hanya berbahaya bagi kulit, tetapi juga bisa merusak jaringan permukaan mata dan sklera. Paparan UV jangka panjang dapat menyebabkan penebalan jaringan pada konjungtiva yang menutupi sklera, memicu munculnya benjolan kekuningan (pinguekula) atau selaput berdaging (pterigium). Selalu gunakan kacamata hitam berkualitas saat beraktivitas di bawah terik matahari. Selain itu, gunakan kacamata safety pelindung saat melakukan pekerjaan yang berisiko menerbangkan debu, zat kimia, atau serpihan material ke arah wajah.
3. Jaga Kebersihan dan Kelembapan Mata
Mata kering adalah salah satu keluhan yang paling umum di era digital ini akibat kurangnya frekuensi berkedip saat menatap layar. Mata kering dapat membuat pembuluh darah di episklera melebar, membuat sklera terlihat merah dan lelah. Menggunakan obat tetes mata air mata buatan (artificial tears) yang dijual bebas di apotek dapat membantu menjaga kelembapan permukaan bola mata, mengurangi gesekan, dan meredakan iritasi ringan.
Studi Mengenai Sklera dan Penyakit Sistemik
Ophthalmology Journal menerbitkan studi klinis yang menjelaskan bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat antara peradangan pada sklera mata dengan penyakit autoimun sistemik di dalam tubuh manusia.
Dalam penelitian tersebut, para ahli menyimpulkan bahwa hingga 50 persen pasien yang didiagnosis menderita skleritis ternyata juga memiliki kondisi kesehatan bawaan yang tidak terdeteksi sebelumnya, khususnya Rheumatoid arthritis dan Granulomatosis dengan poliangiitis. Hal ini menjadikan skleritis bukan sekadar masalah oftalmologi lokal, melainkan sebuah alarm biologis yang sangat penting untuk mendiagnosis gangguan sistemik yang berpotensi membahayakan organ tubuh lainnya. Temuan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara dokter spesialis mata (oftalmologis) dan spesialis penyakit dalam (reumatologis) dalam menangani pasien dengan keluhan radang sklera parah.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
American Academy of Ophthalmology. Diakses pada 2026. Sclera: Function and Anatomy.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Scleritis – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Sclera (White of the Eye): Anatomy & Function.
National Institutes of Health (NIH) – StatPearls. Diakses pada 2026. Anatomy, Head and Neck, Eye Sclera.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Vision impairment and blindness.
FAQ
1. Mengapa sklera mata bisa berubah warna menjadi kuning?
Sklera yang berubah menjadi kuning biasanya merupakan tanda kondisi yang disebut ikterus atau jaundice. Hal ini terjadi akibat penumpukan bilirubin di dalam darah, yang umumnya menandakan adanya gangguan fungsi pada organ hati, kantung empedu, atau pankreas.
2. Apakah bercak merah terang pada sklera mata berbahaya?
Bercak merah terang yang muncul tiba-tiba pada bagian putih mata disebut perdarahan subkonjungtiva. Meskipun terlihat menakutkan, kondisi ini umumnya tidak berbahaya, tidak memengaruhi penglihatan, dan akan memudar dengan sendirinya dalam waktu 1-2 minggu layaknya luka memar pada kulit.
3. Apa perbedaan antara skleritis dan mata merah biasa (konjungtivitis)?
Konjungtivitis (mata merah) adalah peradangan pada selaput tipis di luar mata, biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau alergi, dan sering disertai kotoran mata (belek). Sedangkan skleritis adalah peradangan yang lebih dalam pada lapisan sklera itu sendiri, ditandai dengan rasa nyeri yang sangat hebat, kemerahan pekat, dan sering berkaitan dengan penyakit autoimun.
4. Bagaimana cara mengembalikan warna putih bersih pada sklera mata?
Cara terbaik untuk menjaga kejernihan sklera adalah dengan menjaga hidrasi tubuh, tidur yang cukup, menghindari paparan asap rokok, melindungi mata dari debu dan sinar UV dengan kacamata hitam, serta mengonsumsi sayuran berdaun hijau. Hindari menggunakan obat tetes penghilang kemerahan secara berlebihan tanpa anjuran dokter karena bisa menyebabkan efek kemerahan yang berbalik memburuk (rebound redness).



