Ad Placeholder Image

Skrofuloderma: Kenali TBC Kulit Yang Bikin Benjol

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   28 April 2026

Skrofuloderma: TBC Kulit Jarang Terjadi, Ini Faktanya!

Skrofuloderma: Kenali TBC Kulit Yang Bikin BenjolSkrofuloderma: Kenali TBC Kulit Yang Bikin Benjol

Skrofuloderma adalah suatu bentuk tuberkulosis (TBC) kulit, yaitu infeksi langka yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kondisi ini ditandai dengan munculnya benjolan pada kelenjar getah bening yang membesar, kemudian berkembang menjadi abses atau bernanah, lalu pecah membentuk luka terbuka (ulkus) pada kulit.

Penyakit ini timbul akibat penyebaran infeksi TBC dari organ di bawah kulit, seperti kelenjar getah bening, tulang, atau sendi, menuju lapisan kulit di atasnya. Skrofuloderma lebih sering menyerang individu dengan daya tahan tubuh yang lemah.

Apa Itu Skrofuloderma Secara Detail?

Skrofuloderma adalah manifestasi kulit dari penyakit tuberkulosis yang sudah ada di dalam tubuh. Ini bukan infeksi kulit primer, melainkan sekunder dari TBC yang berasal dari organ internal yang berdekatan dengan kulit.

Kelenjar getah bening adalah lokasi yang paling umum terkena, terutama di area leher. Ketika bakteri TBC menyerang kelenjar, kelenjar tersebut membengkak dan meradang.

Pembengkakan ini kemudian bisa melunak dan membentuk kantung berisi nanah (abses) yang akhirnya pecah ke permukaan kulit.

Penyebab dan Mekanisme Skrofuloderma

Penyebab utama skrofuloderma adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis, bakteri yang juga menyebabkan TBC paru dan TBC di organ lain. Infeksi ini terjadi ketika bakteri menyebar dari lokasi infeksi TBC yang sudah ada sebelumnya di dalam tubuh.

Penyebaran bakteri biasanya terjadi dari kelenjar getah bening yang terinfeksi, atau bisa juga dari tulang dan sendi yang terjangkit TBC. Bakteri kemudian bergerak menuju jaringan kulit di sekitarnya, memicu reaksi peradangan dan pembentukan lesi khas skrofuloderma.

Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah lebih rentan terhadap kondisi ini karena tubuh mereka kurang mampu melawan penyebaran dan perkembangan infeksi TBC.

Gejala Skrofuloderma yang Perlu Diwaspadai

Gejala skrofuloderma berkembang secara bertahap dan memiliki karakteristik yang khas. Berikut adalah tahapan gejala yang umumnya muncul:

  • Benjolan Awal: Dimulai dengan munculnya benjolan kenyal di bawah kulit, seringkali tanpa rasa sakit pada awalnya. Benjolan ini biasanya terletak di area kelenjar getah bening, seperti leher, ketiak, atau selangkangan.
  • Pembesaran dan Perlunakan: Benjolan secara bertahap membesar dan menjadi lebih lunak. Kulit di atas benjolan dapat tampak kemerahan atau kebiruan.
  • Pembentukan Abses: Bagian dalam benjolan akan bernanah, membentuk abses atau borok. Ini adalah tahap di mana infeksi telah menyebabkan kerusakan jaringan yang signifikan.
  • Pecahnya Abses (Ulkus): Abses kemudian pecah, mengeluarkan nanah, darah, dan jaringan nekrotik (mati). Ini meninggalkan luka terbuka yang tidak beraturan (ulkus) dengan tepi yang keunguan dan dasar yang tidak rata.
  • Jaringan Parut: Setelah luka sembuh, biasanya akan meninggalkan bekas luka yang tidak rata atau “jembatan” jaringan parut yang khas.

Selain lesi kulit, penderita juga mungkin mengalami gejala umum TBC seperti demam ringan, penurunan berat badan, keringat malam, dan kelelahan.

Diagnosis dan Pengobatan Skrofuloderma

Diagnosis skrofuloderma memerlukan pemeriksaan medis menyeluruh. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik terhadap lesi kulit dan kelenjar getah bening yang membesar.

Beberapa tes penunjang yang dapat dilakukan meliputi tes mantoux, biopsi kulit untuk analisis histopatologi dan kultur bakteri, serta tes pencitraan seperti rontgen dada untuk mencari tanda TBC paru. Pengobatan skrofuloderma melibatkan terapi obat antituberkulosis (OAT) standar.

Durasi pengobatan biasanya berlangsung selama beberapa bulan dan harus diselesaikan sesuai anjuran dokter untuk mencegah resistensi obat dan kekambuhan. Pembedahan mungkin diperlukan untuk mengangkat kelenjar yang sangat besar atau membersihkan abses yang tidak sembuh.

Pencegahan Skrofuloderma

Pencegahan skrofuloderma terutama berfokus pada pencegahan infeksi TBC secara umum. Beberapa langkah penting meliputi:

  • Vaksinasi BCG: Vaksin ini direkomendasikan untuk bayi dan anak-anak di negara dengan prevalensi TBC tinggi.
  • Hindari Kontak dengan Penderita TBC Aktif: Meminimalkan paparan terhadap individu yang memiliki TBC aktif.
  • Jaga Kebersihan Diri dan Lingkungan: Praktik kebersihan yang baik membantu mengurangi risiko infeksi.
  • Tingkatkan Daya Tahan Tubuh: Konsumsi gizi seimbang, istirahat cukup, dan olahraga teratur dapat memperkuat sistem imun.
  • Deteksi dan Pengobatan Dini TBC: Segera mencari pertolongan medis jika ada gejala TBC agar infeksi tidak menyebar ke organ lain, termasuk kulit.

Jika ada kekhawatiran mengenai gejala kulit yang tidak biasa atau riwayat kontak dengan penderita TBC, konsultasi medis sangat disarankan. Melalui aplikasi Halodoc, dapatkan informasi lebih lanjut atau jadwalkan konsultasi dengan dokter spesialis untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.