Ad Placeholder Image

SNH ICD 10: Kode Infark Serebral (Stroke Iskemik)

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   22 Juni 2026

SNH ICD 10: Kode Infark Serebral & Panduan Lengkap

SNH ICD 10: Kode Infark Serebral (Stroke Iskemik)SNH ICD 10: Kode Infark Serebral (Stroke Iskemik)

DAFTAR ISI


Penyakit stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Secara umum, stroke terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu stroke hemoragik (perdarahan) dan stroke iskemik atau yang sering disebut sebagai stroke infark. Dalam dunia medis dan sistem administrasi kesehatan global, setiap kondisi penyakit diklasifikasikan menggunakan sistem pengkodean khusus untuk memastikan akurasi diagnosis, pelaporan, dan penanganan. Oleh karena itu, penting bagi tenaga medis untuk memahami kode icd 10 stroke infark.

Stroke infark atau stroke non-hemoragik (SNH) terjadi ketika aliran darah ke sebagian area otak terhenti akibat adanya sumbatan, baik berupa gumpalan darah (trombosis) maupun emboli dari bagian tubuh lain. Tanpa pasokan darah yang membawa oksigen dan nutrisi, sel-sel otak akan mulai mengalami kerusakan bahkan kematian (infark) hanya dalam hitungan menit. Itulah mengapa kondisi ini dikategorikan sebagai kegawatdaruratan medis yang membutuhkan intervensi secepat mungkin untuk meminimalkan risiko kerusakan otak permanen.

Penggunaan kode ICD-10 (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision) sangat krusial dalam rekam medis pasien. Kode ini tidak hanya berfungsi untuk kepentingan administrasi seperti klaim asuransi kesehatan, tetapi juga berperan penting dalam pencatatan epidemiologi untuk melihat tren penyakit stroke di suatu populasi. Dengan penetapan kode yang tepat, fasilitas layanan kesehatan dapat merencanakan program penanganan, rehabilitasi, dan penyediaan obat-obatan yang sesuai dengan standar medis yang berlaku.

Nah, mau tahu apa saja rincian dari kode tersebut dan bagaimana panduan medis terkait kondisi ini? Berikut ulasan lengkapnya!

Memahami Kode ICD 10 Stroke Infark dan Klasifikasinya

ICD-10 diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai standar klasifikasi penyakit internasional. Dalam sistem ini, penyakit yang berkaitan dengan sistem peredaran darah, termasuk penyakit serebrovaskular, diletakkan pada blok I00-I99. Secara spesifik, kode icd 10 stroke infark (Cerebral Infarction) adalah I63.

Sistem ICD-10 sangat mendetail, sehingga kode I63 ini dipecah lagi menjadi beberapa subkategori berdasarkan penyebab pasti dari sumbatan atau infark tersebut. Diagnosis yang akurat melalui pencitraan medis (seperti CT Scan atau MRI) diperlukan untuk menentukan digit terakhir dari kode ini. Berikut adalah rincian subkategori dari I63 yang paling sering digunakan dalam rekam medis:

1. I63.0 hingga I63.2 (Infark Serebral akibat Trombosis atau Emboli pada Arteri Preserebral)

Kategori ini digunakan jika sumbatan terjadi pada arteri preserebral, yakni pembuluh darah besar di leher (seperti arteri karotis atau arteri vertebralis) sebelum memasuki otak. I63.0 menandakan sumbatan akibat trombosis (gumpalan darah lokal), I63.1 akibat emboli (gumpalan darah dari tempat lain yang menyumbat), dan I63.2 untuk penyumbatan yang mekanismenya tidak spesifik.

2. I63.3 hingga I63.5 (Infark Serebral akibat Trombosis atau Emboli pada Arteri Serebral)

Berbeda dengan kategori sebelumnya, kode ini dipakai ketika sumbatan terjadi langsung di dalam arteri serebral (pembuluh darah di dalam otak itu sendiri). I63.3 adalah untuk trombosis arteri serebral, I63.4 untuk emboli arteri serebral, dan I63.5 untuk penyumbatan arteri serebral yang tidak dirinci secara spesifik. Ini merupakan salah satu kode yang paling umum didiagnosis pada pasien penderita SNH.

3. I63.8 dan I63.9 (Infark Serebral Lainnya dan Tidak Dirinci)

Terkadang, mekanisme atau lokasi persis dari stroke infark tidak dapat langsung diketahui pada saat pasien masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Jika infark disebabkan oleh kondisi lain yang tidak termasuk dalam daftar di atas (seperti penyakit pembuluh darah kecil yang memicu infark lakunar), dokter mungkin menggunakan I63.8. Sedangkan I63.9 digunakan untuk Cerebral infarction, unspecified atau stroke infark yang tidak dijelaskan lebih lanjut karena keterbatasan data diagnostik pada saat itu.

Patofisiologi: Apa yang Terjadi pada Otak?

Untuk memahami mengapa stroke infark sangat mematikan, kita perlu melihat proses patofisiologinya. Otak adalah organ yang sangat bergantung pada pasokan oksigen dan glukosa secara konstan. Walaupun berat otak hanya sekitar 2% dari total berat badan manusia, organ ini menggunakan sekitar 20% dari total suplai oksigen dan darah tubuh. Ketika sebuah trombus (gumpalan darah) menyumbat arteri otak, aliran darah akan terhenti.

Area otak yang mengalami penghentian aliran darah secara total disebut *core* iskemik. Di area ini, sel-sel saraf (neuron) akan mati dalam hitungan menit karena kehabisan energi (ATP) dan mengalami kegagalan pompa ion, memicu pembengkakan sel (edema sitotoksik). Di sekitar area core iskemik, terdapat zona yang disebut penumbra. Jaringan di area penumbra masih mendapatkan sedikit suplai darah dari pembuluh kolateral. Sel-sel di penumbra belum mati, tetapi fungsinya terhenti sementara. Tujuan utama dari tindakan medis darurat pada pasien stroke adalah untuk menyelamatkan area penumbra ini sebelum ikut mati dan menjadi infark permanen.

Faktor Pemicu Stroke Infark yang Harus Diwaspadai
  1. Hipertensi: Tekanan darah tinggi yang kronis dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah, mempermudah terbentuknya plak aterosklerosis.
  2. Fibrilasi Atrium (AFib): Gangguan irama jantung ini dapat menyebabkan darah menggumpal di dalam jantung, yang kemudian bisa terlepas dan mengalir ke otak menjadi emboli.
  3. Diabetes Mellitus: Kadar gula darah yang tinggi merusak mikro-vaskular tubuh, meningkatkan risiko penyempitan pembuluh darah arteri (aterosklerosis).
  4. Gaya Hidup: Kebiasaan merokok, kurang olahraga, serta diet tinggi kolesterol dan lemak jenuh mempercepat penumpukan plak di pembuluh darah.

Gejala Stroke Infark yang Harus Segera Ditangani

Mengenali gejala awal stroke infark adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan meminimalisir kecacatan. Gejala yang muncul sangat bergantung pada bagian otak mana yang mengalami infark (kematian jaringan). Secara umum, kampanye global untuk deteksi dini stroke menggunakan akronim FAST (Face, Arms, Speech, Time).

1. Face (Wajah)

Salah satu sisi wajah pasien biasanya akan terlihat turun atau asimetris. Pasien kesulitan untuk tersenyum, atau mata dan bibir pada satu sisi tampak lebih kendur. Ini terjadi karena adanya kerusakan pada saraf kranial yang mengatur otot-otot wajah.

2. Arms (Lengan dan Tungkai)

Pasien akan mengalami kelemahan atau kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh (hemiparesis atau hemiplegia). Jika pasien diminta untuk mengangkat kedua tangannya secara bersamaan, satu tangan biasanya akan tertinggal atau perlahan turun kembali karena otot kehilangan kemampuannya.

3. Speech (Kemampuan Bicara)

Terjadi gangguan komunikasi yang disebut afasia atau disartria. Pasien mungkin berbicara dengan cadel, tidak jelas, atau bahkan tidak mampu merangkai kata-kata sama sekali. Dalam beberapa kasus, pasien juga kesulitan memahami perkataan orang lain.

4. Time (Waktu)

Waktu adalah elemen paling penting. Setiap menit yang berlalu tanpa pengobatan akan membunuh jutaan sel otak. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala stroke, jangan menunggu gejala mereda dan segera cari pertolongan medis ke Instalasi Gawat Darurat terdekat.

Langkah Penanganan dan Pencegahan Jangka Panjang

Penanganan stroke infark berfokus pada dua fase utama: fase akut untuk memulihkan aliran darah ke otak (reperfusi), dan fase pencegahan sekunder untuk mencegah terjadinya serangan stroke berulang di masa depan.

1. Tindakan Medis di Fase Akut

Pada fase gawat darurat, jika pasien tiba di rumah sakit dalam golden period (idealnya kurang dari 4,5 jam sejak gejala awal muncul), dokter mungkin akan memberikan terapi trombolitik menggunakan obat seperti recombinant tissue plasminogen activator (rt-PA). Obat ini bekerja dengan cara melarutkan gumpalan darah yang menyumbat arteri otak. Jika trombolisis tidak memungkinkan, tindakan mekanik seperti trombektomi (pengambilan gumpalan darah secara langsung menggunakan kateter) dapat menjadi pilihan bagi beberapa pasien yang memenuhi kriteria klinis tertentu.

2. Medikasi dan Pencegahan Sekunder

Setelah kondisi pasien stabil, dokter akan fokus mengendalikan faktor risiko pemicu. Pasien umumnya akan diresepkan obat antiplatelet (seperti aspirin atau clopidogrel) untuk mencegah trombosit menggumpal kembali, atau antikoagulan jika stroke disebabkan oleh gangguan irama jantung (fibrilasi atrium). Selain itu, obat penurun tekanan darah dan obat golongan statin untuk mengontrol kolesterol juga rutin diberikan.

3. Perubahan Gaya Hidup

Pengobatan tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan perubahan gaya hidup sehat. Pasien pasca-stroke sangat disarankan untuk menjalani diet rendah garam dan rendah lemak jenuh (seperti diet DASH atau diet Mediterania). Aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kemampuan juga penting untuk melatih motorik. Di samping itu, dokter terkadang menyarankan pasien untuk mengonsumsi suplemen neurotropik atau vitamin yang bertujuan untuk membantu memelihara kesehatan saraf tepi, walaupun ini bersifat suportif dan harus atas persetujuan medis.

Studi Mengenai Stroke Infark

Jurnal Stroke and Cerebrovascular Diseases menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa ketepatan dalam mendiagnosis dan mengkategorikan kode ICD-10 secara langsung berkorelasi dengan tingkat kelangsungan hidup pasien. Studi tersebut menyoroti bahwa pengkodean I63 yang akurat di fasilitas kesehatan membantu mempercepat protokol *Code Stroke*.

Penelitian lain dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menunjukkan bahwa negara-negara dengan sistem rekam medis elektronik yang mengimplementasikan pengkodean ICD-10 dengan disiplin memiliki tingkat morbiditas yang lebih rendah, karena data yang terekam memungkinkan pengawasan dan pengadaan obat anti-trombosis yang lebih memadai. Hal ini membuktikan bahwa angka I63 bukan sekadar formalitas administratif, melainkan basis dari epidemiologi pencegahan stroke.

Kondisi stroke bukanlah akhir dari segalanya jika penanganan yang tepat dan rehabilitasi dilakukan secara konsisten. Edukasi keluarga dan pemantauan medis secara berkala adalah kunci utama dalam masa pemulihan.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. ICD-10 Version:2019, Block I60-I69 Cerebrovascular diseases.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Stroke – Symptoms and causes.
American Heart Association / American Stroke Association (AHA/ASA). Diakses pada 2024. Ischemic Stroke (Clots).
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Pengendalian Stroke.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Ischemic Stroke: Pathology and Pathophysiology.

FAQ

1. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kode icd 10 stroke infark?

Kode ICD-10 stroke infark adalah I63. Ini merupakan standar pengkodean internasional dari WHO yang digunakan oleh tenaga medis untuk mendiagnosis, mencatat, dan mengklasifikasikan kejadian stroke yang disebabkan oleh sumbatan atau terhentinya aliran darah ke otak.

2. Apakah stroke infark sama dengan Stroke Non Hemoragik (SNH)?

Ya, secara medis keduanya merujuk pada kondisi yang sama. Stroke infark atau Stroke Non Hemoragik (SNH) terjadi karena adanya sumbatan pembuluh darah di otak, yang membedakannya dari stroke hemoragik yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah.

3. Apa faktor risiko paling besar yang menyebabkan kode icd 10 stroke infark?

Faktor risiko utama meliputi hipertensi (tekanan darah tinggi) yang tidak terkontrol, diabetes mellitus, kadar kolesterol tinggi, fibrilasi atrium (gangguan irama jantung), serta gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan obesitas.

4. Kapan pasien yang dicurigai mengalami stroke infark harus dibawa ke dokter?

Pasien harus segera dibawa ke instalasi gawat darurat begitu gejala awal seperti wajah turun sebelah, lengan melemah, atau kesulitan bicara muncul. Penanganan yang dilakukan dalam golden period (di bawah 4,5 jam) sangat krusial untuk mencegah kerusakan otak permanen dan menyelamatkan nyawa.