Ad Placeholder Image

Solusi Mengatasi Retensio Urine Agar Buang Air Kecil Lancar

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 17 Juni 2026

Susah Buang Air Kecil? Kenali Gejala Retensio Urine

Solusi Mengatasi Retensio Urine Agar Buang Air Kecil LancarSolusi Mengatasi Retensio Urine Agar Buang Air Kecil Lancar

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu merasa ingin buang air kecil, tetapi urine sulit keluar atau justru tidak keluar sama sekali? Kondisi ini dikenal secara medis sebagai retensio urine. Retensio urine bukan sekadar gangguan kenyamanan biasa, melainkan masalah kesehatan yang dapat memicu komplikasi serius pada ginjal jika tidak segera ditangani. Bagi banyak orang, kondisi ini bisa terasa sangat menyakitkan dan menimbulkan kecemasan yang luar biasa.

Kondisi retensio urine dapat terjadi secara tiba-tiba (akut) atau berlangsung dalam jangka waktu lama tanpa disadari sepenuhnya (kronis). Pada kasus akut, ketidakmampuan untuk mengeluarkan urine sering kali disertai rasa sakit yang hebat di area perut bawah, yang menandakan adanya keadaan darurat medis. Sementara itu, pada kasus kronis, penderita mungkin masih bisa buang air kecil, namun kandung kemih tidak pernah benar-benar kosong sempurna.

Memahami penyebab dan penanganan retensio urine sangatlah krusial agar kamu bisa mengambil langkah yang tepat. Karena kondisi ini sering kali berkaitan dengan masalah organ dalam atau gangguan saraf, penanganan mandiri dengan obat bebas sangat terbatas dan biasanya memerlukan intervensi medis yang lebih mendalam dari tenaga profesional.

Nah, mau tahu apa saja informasi lengkap mengenai retensio urine dan bagaimana langkah penanganan yang tepat? Berikut ulasannya!

Mengenal Apa Itu Retensio Urine

Secara anatomis, proses buang air kecil melibatkan koordinasi yang kompleks antara otot kandung kemih (detrusor), otot katup urine (sfingter), dan sistem saraf yang mengirimkan sinyal ke otak. Retensio urine terjadi ketika ada gangguan pada salah satu jalur tersebut. Akibatnya, urine terperangkap di dalam kandung kemih meskipun volumenya sudah penuh.

Jika dibiarkan, tumpukan urine ini akan memberikan tekanan balik ke arah ureter dan ginjal. Hal ini berisiko menyebabkan hidronefrosis (pembengkakan ginjal) dan gagal ginjal akut. Oleh karena itu, mengenali jenis retensio urine yang kamu alami adalah langkah awal yang sangat penting untuk menentukan tingkat kedaruratannya.

Penyebab Retensio Urine pada Pria dan Wanita

Penyebab retensio urine bisa bervariasi tergantung pada usia dan jenis kelamin. Berikut adalah beberapa faktor utama yang sering ditemukan dalam praktik klinis:

1. Penyumbatan (Obstruksi)

Ini adalah penyebab paling umum. Pada pria lanjut usia, pembesaran prostat jinak (BPH) sering kali menekan uretra sehingga aliran urine terhambat. Pada wanita, penyumbatan bisa disebabkan oleh tumor di area panggul atau kondisi yang disebut sistokel (kandung kemih turun ke arah vagina).

2. Gangguan Saraf (Neurogenik)

Saraf yang rusak tidak dapat mengirimkan sinyal dari otak ke kandung kemih untuk berkontraksi. Kondisi ini sering ditemukan pada penderita diabetes melitus, pengidap stroke, cedera saraf tulang belakang, atau penderita multiple sclerosis.

3. Infeksi dan Peradangan

Infeksi saluran kemih (ISK) yang parah atau prostatitis (peradangan prostat) dapat menyebabkan jaringan membengkak dan menutup saluran uretra, sehingga urine sulit untuk lewat.

4. Efek Samping Obat-obatan

Beberapa jenis obat, seperti antihistamin untuk alergi, dekongestan untuk flu, dan obat antidepresan tertentu, dapat memengaruhi otot kandung kemih dan mengganggu kemampuannya untuk mengosongkan diri.

Faktor Risiko Retensio Urine
  1. Usia di atas 50 tahun, terutama pada pria dengan riwayat masalah prostat.
  2. Memiliki riwayat penyakit kronis seperti diabetes atau gangguan saraf.
  3. Pernah menjalani operasi di area panggul atau saluran kemih.
  4. Gaya hidup kurang gerak dan sering menahan buang air kecil.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala retensio urine akut meliputi ketidakmampuan total untuk buang air kecil meskipun kandung kemih terasa penuh, nyeri hebat di perut bawah, dan perut yang tampak membuncit atau keras saat ditekan. Ini adalah kondisi gawat darurat.

Sedangkan gejala retensio urine kronis cenderung lebih halus, seperti frekuensi buang air kecil yang meningkat (lebih dari 8 kali sehari), aliran urine yang lemah atau terputus-putus, sering merasa tidak tuntas setelah dari kamar mandi, dan sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil (nokturia).

Penanganan Medis dan Kapan Harus ke Dokter

Mengingat retensio urine sering kali disebabkan oleh masalah struktural atau saraf, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan diagnosis awal yang akurat.

1. Kateterisasi Urine

Langkah pertama yang biasanya dilakukan dokter untuk retensio urine akut adalah pemasangan kateter. Alat ini berupa selang kecil yang dimasukkan melalui uretra untuk mengeluarkan urine yang terperangkap secara instan, guna meredakan nyeri dan tekanan pada ginjal.

2. Pemberian Obat-obatan Resep

Untuk penyebab seperti BPH, dokter mungkin akan meresepkan obat golongan alpha-blocker yang berfungsi merelaksasi otot di leher kandung kemih dan prostat agar urine lebih mudah mengalir. Selain itu, obat golongan 5-alpha reductase inhibitors dapat digunakan untuk mengecilkan ukuran prostat dalam jangka panjang.

3. Prosedur Bedah

Jika penyumbatan disebabkan oleh tumor, batu saluran kemih, atau penyempitan saluran (striktur), tindakan operasi mungkin diperlukan untuk menghilangkan hambatan tersebut secara permanen.

Studi Mengenai Retensio Urine

National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa kejadian retensio urine akut meningkat secara signifikan pada pria seiring bertambahnya usia, dengan prevalensi mencapai 1 dari 10 pria di atas usia 70 tahun. Studi ini menekankan pentingnya deteksi dini pada gejala gangguan berkemih untuk mencegah kerusakan ginjal permanen.

Penelitian lain dalam jurnal urologi internasional menyebutkan bahwa manajemen retensio urine kronis memerlukan pendekatan multidisiplin, terutama jika berkaitan dengan penyakit metabolik seperti diabetes, yang dapat menyebabkan atrofi otot detrusor kandung kemih.

Jika kamu merasakan gejala awal seperti aliran urine yang tidak lancar, jangan menunggu hingga terjadi nyeri hebat. Segera lakukan pemeriksaan secara medis. Selain konsultasi, kamu juga bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah untuk kebutuhan vitamin pendukung saluran kemih atau alat kesehatan seperti popok dewasa atau cairan antiseptik jika diperlukan.

Penting untuk diingat bahwa penanganan yang cepat dapat menyelamatkan fungsi ginjal kamu. Tetaplah menjaga pola hidup sehat, cukupi asupan air putih, dan jangan membiasakan diri menahan buang air kecil.

Mengalami Masalah Buang Air Kecil? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu merasa ada yang salah dengan frekuensi buang air kecil atau merasa tidak tuntas saat ke kamar mandi? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diakses pada 2026. Urinary Retention.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Urinary Retention: Causes, Symptoms & Treatment.
Healthline. Diakses pada 2026. Everything You Need to Know About Urinary Retention.
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2026. When the bladder won’t empty.

FAQ

1. Apakah retensio urine bisa sembuh sendiri?

Retensio urine akut adalah darurat medis dan tidak bisa sembuh sendiri tanpa intervensi seperti kateterisasi. Retensio kronis juga memerlukan pengobatan untuk mengatasi penyebab dasarnya agar tidak memburuk.

2. Apa perbedaan retensio urine dan anuria?

Retensio urine adalah kondisi di mana urine ada di kandung kemih tapi tidak bisa keluar. Sedangkan anuria adalah kondisi di mana ginjal tidak memproduksi urine sama sekali, biasanya karena gagal ginjal parah.

3. Mengapa diabetes bisa menyebabkan retensio urine?

Diabetes yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan saraf (neuropati) pada kandung kemih, sehingga otot tidak menerima sinyal untuk berkontraksi dan mengeluarkan urine.

4. Apakah wanita bisa terkena retensio urine?

Ya, meskipun lebih sering pada pria karena faktor prostat, wanita bisa mengalaminya akibat sistokel (kandung kemih turun), tumor panggul, atau setelah prosedur persalinan tertentu yang memengaruhi saraf panggul.