Ad Placeholder Image

Stool Test: Cara Mudah Cek Kesehatan Pencernaan

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Yuk Kenali Stool Test: Deteksi Masalah Perutmu

Stool Test: Cara Mudah Cek Kesehatan PencernaanStool Test: Cara Mudah Cek Kesehatan Pencernaan

DAFTAR ISI


Ketika membaca hasil pemeriksaan laboratorium atau artikel kesehatan berbahasa Inggris, kamu mungkin sering menemukan kata stool. Secara harfiah dalam bahasa Inggris sehari-hari, kata ini bisa berarti bangku atau kursi tanpa sandaran punggung. Namun, dalam konteks medis, stool artinya adalah feses, tinja, atau kotoran manusia yang dikeluarkan melalui proses buang air besar (BAB).

Mengetahui arti stool sangat penting, terutama karena zat buangan ini bukan sekadar kotoran yang tidak berguna. Dalam dunia medis, feses merupakan jendela utama untuk melihat kesehatan sistem pencernaanmu secara keseluruhan. Bentuk, tekstur, warna, hingga bau dari stool bisa memberikan petunjuk awal yang sangat akurat mengenai apa yang sedang terjadi di dalam usus, lambung, hingga organ hati dan empedu.

Banyak penyakit serius, mulai dari infeksi parasit, gangguan penyerapan nutrisi (malabsorpsi), penyakit radang usus (Inflammatory Bowel Disease), hingga kanker kolorektal, sering kali pertama kali terdeteksi dari perubahan pada feses. Oleh karena itu, dokter kerap menyarankan pemeriksaan yang disebut stool test atau tes feses untuk menegakkan diagnosis medis.

Jika kamu sedang mengalami masalah pencernaan seperti diare berkepanjangan, sembelit, atau perubahan warna tinja yang mencurigakan, penting untuk segera konsultasi ke dokter Halodoc agar bisa mendapatkan diagnosis dan penanganan medis yang tepat sedini mungkin.

Arti Kata Stool dalam Medis

Dalam terminologi medis, stool adalah sisa-sisa makanan yang tidak dapat dicerna dan diserap oleh tubuh, yang kemudian dikeluarkan melalui rektum dan anus. Proses pengeluaran ini dikenal dengan istilah defekasi. Makanan yang masuk ke mulut akan melewati kerongkongan, lambung, usus halus, hingga usus besar. Sepanjang perjalanan ini, tubuh menyerap air dan nutrisi esensial.

Sisa dari proses panjang tersebut yang tidak terpakai oleh tubuh akan dipadatkan di dalam usus besar dan menjadi feses. Kualitas dan karakteristik feses sangat dipengaruhi oleh asupan makanan harian, tingkat hidrasi (konsumsi air putih), kondisi mikrobioma atau bakteri baik di dalam usus, serta fungsi organ-organ pencernaan seperti pankreas dan empedu.

Komposisi Stool (Feses) yang Normal

Banyak yang mengira bahwa feses hanya berisi sisa makanan semata. Padahal, komposisi feses jauh lebih kompleks dari itu. Feses manusia yang sehat umumnya terdiri dari:

  • Air: Sekitar 75 persen dari total volume feses adalah air. Air ini yang membuat feses memiliki tekstur yang cukup lunak sehingga mudah dikeluarkan tanpa menyebabkan rasa sakit.
  • Bakteri Mati dan Hidup: Sistem pencernaan manusia dihuni oleh triliunan bakteri (mikrobioma). Bakteri yang sudah mati maupun yang hidup membentuk porsi besar dari feses padat.
  • Serat Tidak Tercerna: Serat dari sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian yang tidak bisa dicerna oleh enzim tubuh manusia akan keluar bersama feses. Inilah yang memberi massa atau “bentuk” pada feses.
  • Sel-sel Mati dan Lendir: Dinding usus secara rutin melepaskan sel-sel mati dan memproduksi lendir (mukus) untuk melumasi jalur pembuangan. Keduanya juga akan ikut terbuang bersama tinja.
  • Zat Kimia dan Pigmen Empedu: Warna cokelat pada feses normal berasal dari sterkobilin, yaitu turunan dari bilirubin (pigmen empedu) yang telah dipecah oleh bakteri usus.
Faktor Pemicu Perubahan Karakteristik Stool
  1. Pola Makan: Konsumsi makanan tinggi lemak, pedas, atau rendah serat dapat secara drastis mengubah bentuk dan frekuensi BAB.
  2. Obat-obatan: Penggunaan antibiotik, suplemen zat besi, atau obat pereda nyeri tertentu bisa menyebabkan tinja berubah warna menjadi hitam atau memicu sembelit.
  3. Stres Psikologis: Stres dan kecemasan (anxiety) dapat memicu sindrom iritasi usus (IBS) yang menyebabkan diare kronis atau sembelit berulang.
  4. Infeksi Patogen: Masuknya bakteri jahat, virus (seperti Rotavirus), atau parasit dari makanan yang kurang bersih dapat menyebabkan feses menjadi cair dan frekuensi BAB meningkat tajam.

Membaca Kesehatan dari Bristol Stool Chart

Di dunia medis, dokter menggunakan skala yang disebut Bristol Stool Chart (Skala Feses Bristol) untuk mengklasifikasikan bentuk tinja manusia menjadi 7 tipe berbeda. Ini membantu dokter memahami berapa lama feses berada di dalam usus besar (waktu transit).

1. Tipe 1 dan 2: Sembelit (Konstipasi)

Tipe 1 berupa bongkahan keras yang terpisah-pisah seperti kacang dan sangat sulit dikeluarkan. Sedangkan tipe 2 berbentuk seperti sosis namun menggumpal dan keras. Kedua tipe ini mengindikasikan bahwa kamu mengalami konstipasi atau sembelit parah. Feses berada terlalu lama di dalam usus besar sehingga airnya terserap habis. Ini menandakan kamu kurang minum air putih atau kurang asupan serat.

2. Tipe 3 dan 4: Normal dan Sehat

Tipe 3 berbentuk seperti sosis namun dengan retakan di permukaannya. Sementara tipe 4 berbentuk panjang seperti sosis atau ular, halus, dan lembut. Tipe 4 adalah bentuk stool yang paling ideal. Feses tipe ini sangat mudah dikeluarkan, tidak meninggalkan rasa mengganjal, dan menandakan sistem pencernaanmu bekerja dengan sangat optimal.

3. Tipe 5, 6, dan 7: Diare

Tipe 5 berupa gumpalan lunak dengan tepi yang jelas, biasanya mudah dikeluarkan namun terlalu sering. Tipe 6 berupa potongan lembek tanpa tepi yang jelas (mushy stool). Sedangkan tipe 7 adalah cairan seutuhnya tanpa ada bagian padat sama sekali. Ketiga tipe ini mengindikasikan diare, yang berarti tinja bergerak terlalu cepat di usus sehingga usus besar tidak punya waktu untuk menyerap air.

Apabila kamu mengalami gangguan pencernaan ringan yang menyebabkan diare tipe 5 atau 6, kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk membantu memadatkan feses dan mencegah dehidrasi. Pastikan untuk selalu sedia oralit atau suplemen zink di rumah.

Arti Warna Stool dan Masalah Medisnya

Selain dari bentuk, arti stool juga sangat bergantung pada warnanya. Jika kamu melihat warna yang tidak biasa saat BAB, ini bisa menjadi alarm bahaya dari tubuhmu.

  • Cokelat: Normal. Warna ini dihasilkan dari bilirubin yang diproduksi oleh hati.
  • Hijau: Bisa karena makan banyak sayuran hijau pekat, konsumsi pewarna makanan hijau, atau karena feses bergerak terlalu cepat (diare) sehingga empedu tidak sempat dipecah sempurna menjadi warna cokelat.
  • Kuning, Berminyak, dan Bau Busuk: Menandakan adanya kelebihan lemak pada tinja (steatorea). Ini bisa disebabkan oleh gangguan malabsorpsi, penyakit celiac, atau gangguan pada pankreas.
  • Hitam Pekat (Melena): Jika kamu tidak sedang mengonsumsi suplemen zat besi, tinja hitam lengket bisa menandakan adanya perdarahan di saluran pencernaan atas, seperti tukak lambung. Darah yang tercerna akan berubah warna menjadi hitam.
  • Merah Terang (Hematochezia): Menandakan adanya perdarahan di saluran pencernaan bawah. Penyebab paling umum adalah wasir (ambeien), fisura ani, atau bisa juga polip dan kanker kolorektal.
  • Pucat, Putih, atau Warna Dempul: Mengindikasikan bahwa tubuh kekurangan empedu di dalam feses. Hal ini sering dikaitkan dengan obstruksi atau penyumbatan saluran empedu akibat batu empedu atau masalah liver.

Apa Itu Stool Test (Pemeriksaan Feses)?

Stool test atau pemeriksaan feses adalah prosedur non-invasif yang dilakukan di laboratorium dengan cara mengambil sampel tinja untuk dianalisis. Pemeriksaan ini sangat komprehensif dan bisa dibagi menjadi beberapa jenis tes spesifik tergantung pada kecurigaan dokter terhadap penyakit tertentu.

1. Fecal Occult Blood Test (FOBT)

Tes darah samar pada feses (FOBT) digunakan untuk mendeteksi keberadaan darah mikroskopis yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Tes ini merupakan skrining awal yang sangat penting untuk mendeteksi polip usus besar atau kanker usus besar pada stadium awal.

2. Kultur Feses (Stool Culture)

Jika kamu mengalami diare parah yang disertai demam, dokter mungkin akan meminta kultur feses. Tujuannya adalah untuk membiakkan bakteri dari sampel tinja guna melihat apakah ada infeksi patogen seperti Salmonella, Shigella, Campylobacter, atau E. coli yang berbahaya.

3. Pemeriksaan Ova dan Parasit (O&P)

Sesuai namanya, tes ini bertujuan untuk mencari keberadaan parasit atau telur (ova) parasit di dalam pencernaan. Infeksi cacing tambang, cacing pita, maupun infeksi parasit air seperti Giardia sering kali didiagnosis melalui tes mikroskopis ini.

4. Tes Fecal Calprotectin

Calprotectin adalah protein yang ditemukan pada sel darah putih. Kadar calprotectin yang tinggi di dalam stool artinya ada peradangan aktif di saluran pencernaan. Tes ini sering digunakan untuk membedakan antara Irritable Bowel Syndrome (IBS) yang bukan peradangan, dengan Inflammatory Bowel Disease (IBD) seperti Penyakit Crohn atau Kolitis Ulseratif yang merupakan penyakit radang usus kronis.

Studi Terkait Pencernaan dan Analisis Feses

National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi di tahun 2019 yang menjelaskan bahwa mikrobioma usus yang dapat dideteksi melalui sampel feses memiliki korelasi yang sangat kuat dengan imunitas dan kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Penelitian tersebut menyoroti bahwa komposisi bakteri dalam tinja tidak hanya menceritakan kondisi pencernaan lokal, tetapi juga bisa memberikan wawasan mengenai risiko obesitas, diabetes tipe 2, hingga gangguan kesehatan mental. Oleh sebab itu, pemeriksaan stool ke depannya diprediksi akan menjadi kunci utama dalam kedokteran preventif untuk mengelola mikrobioma usus manusia yang lebih sehat.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Bristol Stool Chart.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Stool Color: When to worry.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Diarrhoeal disease.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diakses pada 2024. Digestive System & How It Works.
NCBI – PubMed. Diakses pada 2024. The human gut microbiome in health and disease.

FAQ

1. Apakah perbedaan antara stool dan feses?

Sebenarnya tidak ada perbedaan antara keduanya dari segi makna medis. Stool adalah istilah bahasa Inggris medis untuk menyebut tinja atau kotoran, sementara feses adalah sebutan formal dalam bahasa Indonesia untuk hal yang sama.

2. Apa artinya jika ada darah segar menetes setelah BAB?

Darah merah terang atau darah segar yang menetes setelah feses keluar biasanya merupakan indikasi adanya wasir (ambeien) atau luka sobekan di area anus (fisura ani) akibat mengejan terlalu keras. Namun, kamu tetap perlu memeriksakannya ke dokter untuk memastikan bukan polip usus.

3. Bagaimana cara mengambil sampel untuk stool test yang benar?

Gunakan wadah steril yang disediakan laboratorium. Pastikan feses tidak bercampur dengan urine atau air kloset. Ambil sedikit bagian feses menggunakan sendok kecil yang biasanya menyatu dengan tutup wadah, dan segera bawa sampel tersebut ke laboratorium secepatnya.

4. Makanan apa yang menyebabkan feses berwarna hitam?

Feses bisa berwarna gelap atau kehitaman secara normal jika kamu rutin mengonsumsi suplemen zat besi tinggi, makan buah bit dalam jumlah banyak, blueberry, akar licorice hitam, atau obat pereda sakit perut yang mengandung Bismuth subsalicylate. Jika tidak mengonsumsi ini, segera periksa ke dokter.