Ad Placeholder Image

Sunat Perempuan Wajib? Kupas Tuntas Beragam Pandangannya.

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Wajibkah Perempuan Sunat? Simak Perbedaan Hukumnya

Sunat Perempuan Wajib? Kupas Tuntas Beragam Pandangannya.Sunat Perempuan Wajib? Kupas Tuntas Beragam Pandangannya.

DAFTAR ISI


Isu mengenai sunat wanita atau sunat perempuan sering kali menjadi topik perbincangan yang memicu berbagai pandangan di masyarakat. Praktik yang dalam istilah medis global dikenal sebagai Female Genital Mutilation/Cutting (FGM/C) ini melibatkan prosedur pemotongan, pelukaan, atau pengubahan sebagian maupun seluruh alat kelamin perempuan bagian luar tanpa adanya indikasi medis yang jelas.

Secara historis dan kultural, praktik ini masih dapat ditemukan di beberapa wilayah di dunia, termasuk di sebagian komunitas di Indonesia. Berbeda dengan sirkumsisi pada laki-laki yang telah terbukti secara medis memiliki manfaat untuk mencegah infeksi saluran kemih dan penyakit menular seksual, sunat pada perempuan sama sekali tidak memberikan keuntungan kesehatan apa pun.

Dari kacamata medis, organ reproduksi perempuan memiliki anatomi yang sangat sensitif dan kompleks. Tindakan intervensi tanpa indikasi klinis berisiko tinggi merusak jaringan saraf, mengganggu fungsi alami organ, serta memicu komplikasi kesehatan fisik dan mental di masa depan. Oleh karena itu, penting untuk mengedukasi masyarakat mengenai fakta-fakta medis di balik prosedur ini agar dapat mengambil keputusan yang bijak demi masa depan reproduksi dan kualitas hidup anak perempuan.

Lantas, apa saja jenis, risiko, dan bagaimana pandangan medis secara komprehensif mengenai hal ini? Mari kita kupas tuntas berbagai pandangan dan fakta medis terkait sunat perempuan di bawah ini!

Memahami Jenis-Jenis Sunat Wanita

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan sunat wanita ke dalam empat tipe utama berdasarkan tingkat keparahan prosedur yang dilakukan. Berikut adalah pembagiannya:

1. Tipe 1: Klitoridektomi

Prosedur ini melibatkan pengangkatan sebagian atau seluruh klitoris (bagian kecil yang sangat sensitif pada alat kelamin wanita) dan/atau kulup di sekitarnya. Tindakan ini merusak ujung saraf yang sangat penting untuk fungsi seksual dan respons rangsangan secara alami.

2. Tipe 2: Eksisi

Pada tipe eksisi, tindakan yang dilakukan adalah pengangkatan sebagian atau seluruh klitoris yang disertai dengan pengangkatan labia minora (bibir kemaluan bagian dalam), dan kadang-kadang juga melibatkan labia mayora (bibir kemaluan bagian luar). Kondisi ini menyebabkan kerusakan anatomis yang jauh lebih luas dan memperbesar risiko perdarahan.

3. Tipe 3: Infibulasi

Ini adalah bentuk sunat wanita yang paling ekstrem. Infibulasi adalah prosedur penyempitan lubang vagina yang dilakukan dengan cara memotong dan mengubah posisi labia minora maupun labia mayora, lalu dijahit untuk membentuk suatu segel penutup. Sisanya hanya disisakan lubang kecil untuk aliran urine dan darah menstruasi. Proses ini sering kali membuat fungsi kemih dan organ reproduksi mengalami gangguan berat.

4. Tipe 4: Prosedur Lainnya

Tipe keempat mencakup semua prosedur berbahaya lainnya yang dilakukan pada alat kelamin wanita tanpa indikasi medis. Ini meliputi penusukan, penindikan, penggoresan (insisi), pengikisan, hingga penyulutan (pembakaran) pada area genital. Praktik “simbolis” yang tidak memotong jaringan secara besar-besaran sering dimasukkan ke dalam kategori ini, namun tetap dinilai sebagai tindakan manipulasi genital tanpa nilai medis.

Faktor Risiko dan Mitos seputar Sunat Perempuan
  1. Mitos Kesehatan Kebersihan: Ada anggapan bahwa sunat perempuan membuat alat kelamin menjadi lebih bersih. Secara medis, ini salah. Vagina memiliki mekanisme self-cleaning alami yang sempurna.
  2. Mitos Kesuburan: Beberapa meyakini sunat meningkatkan peluang kehamilan, padahal kerusakan anatomi akibat FGM justru memicu infeksi panggul kronis yang bisa berujung pada infertilitas.
  3. Risiko Infeksi: Penggunaan alat yang tidak steril (sering kali pisau silet, pecahan kaca, atau gunting) yang digunakan berulang meningkatkan risiko penularan HIV, Hepatitis B, dan infeksi tetanus.

Dampak Medis dan Risiko Jangka Pendek

Mengingat prosedur ini umumnya dilakukan tanpa menggunakan anestesi (bius) yang memadai dan bukan oleh tenaga medis berlisensi profesional di fasilitas kesehatan, risiko yang ditimbulkan secara instan sangatlah tinggi. Beberapa dampak jangka pendek yang paling sering terjadi meliputi:

1. Nyeri dan Syok Hebat

Area klitoris dan labia memiliki ribuan ujung saraf sensitif. Pemotongan area ini tanpa anestesi memicu rasa sakit yang tak tertahankan, yang dapat menyebabkan syok neurogenik hingga hilangnya kesadaran (pingsan) pada bayi atau anak perempuan.

2. Perdarahan Ekstrem (Hemorrhage)

Terpotongnya pembuluh darah utama pada area kemaluan bisa menyebabkan perdarahan berat. Jika tidak langsung ditangani, perdarahan ekstrem ini dapat mengakibatkan syok hemoragik hingga kematian.

3. Retensi Urine dan Infeksi Lokal

Rasa sakit dan pembengkakan pada area yang dilukai membuat anak perempuan sering kali takut untuk buang air kecil. Hal ini memicu retensi urine akut yang kemudian berkembang menjadi infeksi bakteri pada luka bedah maupun infeksi pada saluran kemih.

Jika terjadi infeksi ringan pasca-tindakan pembedahan minor pada area lain yang butuh penanganan awal berupa obat-obatan pereda nyeri atau antiseptik standar, kamu bisa beli obat online di Halodoc secara praktis dari rumah. Namun, untuk komplikasi berat pada organ genital, intervensi medis langsung sangat diperlukan.

Komplikasi Jangka Panjang yang Mengintai

Dampak buruk dari sunat wanita tidak berhenti saat luka sembuh. Jaringan parut yang terbentuk justru menjadi awal dari penderitaan medis berkepanjangan sepanjang hidup perempuan tersebut.

1. Gangguan Menstruasi (Dysmenorrhea)

Khususnya pada FGM tipe 3 (infibulasi), lubang vagina yang tersisa sangat kecil. Hal ini membuat aliran darah menstruasi tidak bisa keluar secara normal, menumpuk di dalam rahim, dan menyebabkan nyeri panggul yang sangat hebat setiap bulannya.

2. Komplikasi Fungsi Seksual

Karena pengangkatan jaringan sensitif (klitoris), perempuan berisiko tinggi kehilangan kemampuan untuk merasakan kepuasan seksual. Mereka sering kali mengalami dispareunia (nyeri luar biasa saat berhubungan intim) dan penurunan lubrikasi alami.

3. Risiko Komplikasi Persalinan

Jaringan parut yang kaku pada vulva membuat area vagina kehilangan elastisitas alaminya untuk meregang saat kepala bayi keluar. Hal ini meningkatkan risiko robekan perineum parah (derajat 3 dan 4), perdarahan pasca persalinan, hingga dibutuhkannya episiotomi atau operasi caesar. Keterlambatan kala dua persalinan juga mengancam suplai oksigen bagi bayi.

4. Gangguan Psikologis (PTSD)

Trauma fisik dari prosedur paksa di masa kecil akan tertanam di alam bawah sadar. Banyak perempuan yang menjalani FGM melaporkan gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD), kecemasan (anxiety), hingga depresi berat.

Pandangan Medis dan WHO terhadap Sunat Perempuan

World Health Organization (WHO) bersama dengan PBB secara tegas menolak dan melarang seluruh bentuk praktik FGM. Dari sudut pandang medis murni, tidak ada pembenaran atas prosedur yang sengaja merusak organ yang sehat secara anatomis. Praktik medis sejatinya berpegang teguh pada prinsip “Primum non nocere” yang berarti “pertama, jangan menyakiti”.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sendiri juga terus berupaya mengeluarkan pedoman dan melakukan edukasi bahwa pemotongan atau perlukaan pada alat kelamin perempuan tidak dianjurkan oleh standar kesehatan. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi para orang tua untuk melakukan konsultasi dokter apabila memiliki kekhawatiran terkait kesehatan organ reproduksi anak, alih-alih mengambil tindakan medis non-standar.

Studi Mengenai Sunat Wanita

World Health Organization (WHO) menerbitkan studi global yang menjelaskan bahwa perempuan yang telah menjalani FGM, secara signifikan lebih rentan mengalami komplikasi kebidanan yang membahayakan nyawa.

Penelitian dari berbagai negara membuktikan bahwa angka kematian bayi baru lahir meningkat sebesar 15% hingga 55% pada ibu yang telah mengalami FGM tipe 1 hingga tipe 3. Jaringan parut yang kaku merintangi jalur lahir, menyebabkan distosia bahu, serta pendarahan hebat (hemoragi postpartum) pada sang ibu, yang menjadi salah satu penyebab kematian maternal tertinggi.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Female genital mutilation: Fact Sheet.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Female genital mutilation.
UNICEF. Diakses pada 2024. Female Genital Mutilation (FGM).
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Kebijakan Kesehatan Terkait Organ Reproduksi Perempuan.
National Health Service (NHS) UK. Diakses pada 2024. Female genital mutilation (FGM).

FAQ

1. Apakah sunat wanita memiliki manfaat bagi kesehatan?

Tidak ada. Secara medis, sunat pada perempuan tidak memiliki satupun indikasi atau manfaat kesehatan. Sebaliknya, tindakan ini justru menyebabkan berbagai komplikasi serius pada organ reproduksi dan fungsi alami vagina.

2. Apa bedanya sunat laki-laki dengan sunat perempuan?

Sunat laki-laki membuang kulit kulup yang menutupi kepala penis dan telah terbukti secara medis dapat menurunkan risiko infeksi saluran kemih serta kanker penis. Sementara sunat perempuan memotong bagian dari organ sensitif (seperti klitoris atau labia) yang berfungsi normal, sehingga merusak struktur biologis tanpa tujuan terapeutik.

3. Apakah prosedur medis bisa memperbaiki kerusakan akibat FGM?

Tergantung tingkat keparahan. Prosedur bedah yang disebut defibulasi bisa dilakukan pada perempuan dengan FGM tipe 3 untuk membuka kembali vagina yang menyempit, sehingga membantu melancarkan haid dan proses persalinan. Namun, jaringan klitoris yang diangkat secara permanen tidak dapat dikembalikan seperti semula.

4. Kapan harus berkonsultasi ke dokter spesialis kandungan?

Jika kamu atau anak mengalami nyeri haid yang tidak biasa, kesulitan buang air kecil, infeksi saluran kemih berulang, atau masalah saat melakukan hubungan intim, segera konsultasikan dengan dokter obstetri dan ginekologi (Obgyn) guna mendapatkan penanganan serta evaluasi medis yang tepat.