Ad Placeholder Image

Sunat Perempuan Wajib? Kupas Tuntas Beragam Pandangannya.

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   28 Mei 2026

Wajibkah Perempuan Sunat? Simak Perbedaan Hukumnya

Sunat Perempuan Wajib? Kupas Tuntas Beragam Pandangannya.Sunat Perempuan Wajib? Kupas Tuntas Beragam Pandangannya.

DAFTAR ISI


Sunat perempuan, atau secara internasional dikenal sebagai Female Genital Mutilation (FGM), merupakan topik yang sangat kompleks karena melibatkan persinggungan antara tradisi budaya, keyakinan agama, dan standar kesehatan medis. Di Indonesia, praktik ini telah berlangsung secara turun-temurun di berbagai daerah, namun dalam beberapa dekade terakhir, diskursus mengenai dampaknya terhadap kesehatan reproduksi perempuan semakin mengemuka.

Secara medis, organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa sunat perempuan tidak memberikan manfaat kesehatan bagi wanita, melainkan justru berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi. Penting bagi orang tua dan masyarakat umum untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi selama prosedur ini, serta bagaimana dampaknya terhadap tumbuh kembang dan kesehatan seksual perempuan di masa depan.

Penanganan terhadap komplikasi atau pertanyaan mengenai kesehatan reproduksi harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan berbasis ilmu pengetahuan. Jika kamu atau keluarga memerlukan bantuan medis terkait kondisi kesehatan organ intim, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan diagnosis yang akurat.

Selain konsultasi, menjaga kebersihan area kewanitaan dan memenuhi kebutuhan nutrisi juga menjadi kunci utama kesehatan reproduksi. Untuk mendapatkan produk perawatan kesehatan yang terjamin kualitasnya, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah dengan praktis.

Nah, mau tahu apa saja ulasan mendalam mengenai sunat perempuan dari perspektif medis dan hukum? Berikut ulasannya!

Mengenal Sunat Perempuan dan Praktiknya

Sunat perempuan mencakup semua prosedur yang melibatkan pengangkatan sebagian atau seluruh alat kelamin perempuan eksternal, atau cedera lain pada organ kelamin perempuan untuk alasan non-medis. Prosedur ini sering kali dilakukan oleh dukun bayi atau penyedia layanan tradisional, meskipun dalam beberapa kasus di Indonesia, ada upaya medikalisasi di mana prosedur dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan membatasi tindakan hanya pada goresan atau simbolis.

WHO mengklasifikasikan prosedur ini menjadi empat tipe, mulai dari pengangkatan sebagian klitoris hingga penutupan lubang vagina (infibulasi). Di Indonesia, bentuk yang paling umum ditemukan adalah tipe IV, yang melibatkan prosedur non-jaringan seperti menusuk, menggores, atau melukai area klitoris tanpa mengangkat jaringan secara permanen.

Pandangan Medis dan Hukum di Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan regulasi yang cukup dinamis terkait masalah ini. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 6 Tahun 2014, pemerintah mencabut Permenkes Nomor 1636/Menkes/Per/XI/2010 tentang Sunat Perempuan. Dalam aturan terbaru tersebut, ditegaskan bahwa sunat perempuan bukan merupakan tindakan kedokteran karena tidak memiliki dasar indikasi medis dan belum terbukti bermanfaat bagi kesehatan.

Para ahli kesehatan reproduksi menekankan bahwa klitoris memiliki konsentrasi saraf yang sangat tinggi yang berperan penting dalam fungsi seksual perempuan. Melakukan tindakan pada area sensitif ini tanpa kebutuhan medis yang mendesak dapat merusak sistem persarafan dan menyebabkan trauma fisik maupun psikis yang mendalam.

Dampak Psikologis Sunat Perempuan
  1. Gangguan stres pascatrauma (PTSD) akibat rasa nyeri hebat saat prosedur.
  2. Munculnya rasa cemas atau ketakutan berlebih terhadap pemeriksaan medis di area genital.
  3. Potensi gangguan pada kepercayaan diri dan fungsi seksual di masa dewasa.

Risiko Kesehatan Jangka Pendek dan Panjang

Meskipun praktik di Indonesia seringkali bersifat simbolis, risiko infeksi tetap ada apabila alat yang digunakan tidak steril atau terjadi luka yang tidak tertangani dengan baik. Berikut adalah beberapa risiko yang perlu diwaspadai:

1. Komplikasi Jangka Pendek

Nyeri hebat, perdarahan berlebih, pembengkakan jaringan genital, demam, hingga infeksi seperti tetanus bisa terjadi segera setelah prosedur. Dalam kondisi sanitasi yang buruk, risiko penularan penyakit melalui darah juga meningkat.

2. Masalah Kesehatan Jangka Panjang

Dampak jangka panjang dapat mencakup masalah kemih (nyeri saat buang air kecil, infeksi saluran kemih berulang), masalah vagina (keputihan abnormal, gatal), serta komplikasi saat persalinan di masa depan jika terjadi jaringan parut yang kaku di area perineum.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika seorang anak atau perempuan mengalami keluhan setelah menjalani prosedur sunat atau memiliki keluhan kesehatan reproduksi lainnya, jangan menunda untuk mencari bantuan medis. Segera periksakan diri jika muncul tanda-tanda berikut:

  • Perdarahan yang tidak kunjung berhenti di area genital.
  • Munculnya nanah, bau tidak sedap, atau kemerahan yang meluas.
  • Nyeri hebat saat buang air kecil atau saat menstruasi (pada remaja).
  • Adanya benjolan atau jaringan parut yang terasa mengganggu.

Studi Mengenai Sunat Perempuan

World Health Organization (WHO) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa sunat perempuan tidak memberikan manfaat kesehatan apa pun dan justru melanggar hak asasi perempuan. Studi ini menegaskan bahwa prosedur tersebut mengganggu fungsi alami tubuh perempuan.

Penelitian lain yang dimuat dalam jurnal kesehatan global menunjukkan bahwa medikalisasi sunat perempuan (dilakukan oleh tenaga medis) tetap tidak dibenarkan karena tetap melanggar etika kedokteran untuk “tidak membahayakan pasien” (non-maleficence). Edukasi kepada masyarakat mengenai risiko infeksi dan trauma menjadi sangat krusial untuk menurunkan angka praktik ini.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan, atau ingin tahu lebih banyak tentang kesehatan reproduksi tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Jika kamu merasakan gejala yang mengganggu setelah prosedur kesehatan tertentu, segera konsultasikan dengan tenaga medis ahli. Kamu bisa mendapatkan penanganan yang tepat dan aman melalui layanan kesehatan yang tersedia.

Kamu bisa mendapatkan produk kesehatan pendukung di Toko Kesehatan Halodoc dengan cepat. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc.

Referensi:
World Health Organization. Diakses pada 2026. Female Genital Mutilation.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 6 Tahun 2014.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Female Genital Mutilation Complications and Risks.
UNICEF. Diakses pada 2026. Female Genital Mutilation (FGM) Global Overview.

FAQ

1. Apakah sunat perempuan diwajibkan secara medis?

Secara medis, sunat perempuan sama sekali tidak diwajibkan dan tidak memiliki indikasi kesehatan. Organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Kemenkes RI melarang tindakan ini karena berisiko merusak jaringan sehat.

2. Apa saja risiko infeksi dari sunat perempuan?

Risiko infeksi meliputi sepsis, tetanus, infeksi saluran kemih, dan peradangan pada panggul yang dapat berdampak pada kesuburan di masa depan jika tidak ditangani dengan benar.

3. Bagaimana kebijakan pemerintah Indonesia saat ini?

Pemerintah Indonesia melalui Kemenkes telah mencabut aturan yang memberikan izin praktis sunat perempuan bagi tenaga medis, menegaskan bahwa ini bukan tindakan medis yang dibenarkan.

4. Apakah sunat perempuan memengaruhi fungsi seksual?

Ya, karena prosedur ini seringkali melibatkan atau mengganggu area klitoris yang merupakan pusat saraf seksual, tindakan ini dapat menurunkan sensitivitas dan kenyamanan seksual di masa dewasa.