Ad Placeholder Image

Suntik DPT 2 di Bagian Mana? Simak Lokasi Paling Tepatnya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   23 Juni 2026

Suntik DPT 2 di Bagian Mana? Ini Lokasi yang Tepat dan Aman

Suntik DPT 2 di Bagian Mana? Simak Lokasi Paling TepatnyaSuntik DPT 2 di Bagian Mana? Simak Lokasi Paling Tepatnya

DAFTAR ISI


Menjaga kesehatan buah hati adalah prioritas utama setiap orang tua, dan salah satu cara paling efektif untuk melindunginya dari berbagai penyakit menular yang berbahaya adalah melalui imunisasi. Dari sekian banyak jenis imunisasi dasar yang diwajibkan oleh pemerintah dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), imunisasi DPT menempati posisi yang sangat krusial. Vaksin ini diberikan secara bertahap untuk memastikan pembentukan antibodi anak berjalan dengan optimal.

Ketika anak sudah melewati fase imunisasi DPT dosis pertama, langkah selanjutnya yang tidak boleh terlewatkan adalah jadwal imunisasi DPT 2. Imunisasi lanjutan ini berfungsi untuk memperkuat memori sistem imun tubuh bayi yang sudah mulai terbentuk pada dosis pertama. Tanpa dosis kedua dan ketiga, perlindungan terhadap tiga penyakit mematikan, yaitu Difteri, Pertusis, dan Tetanus, tidak akan terbentuk secara sempurna.

Banyak orang tua yang sering merasa cemas saat jadwal imunisasi DPT 2 tiba. Pertanyaan seputar efek samping seperti demam, hingga rasa penasaran mengenai lokasi penyuntikannya, sering kali menjadi topik hangat di kalangan ibu-ibu. Memahami prosedur, lokasi suntikan, serta cara penanganan pasca-imunisasi sangat penting agar kamu tidak panik dan bisa memberikan perawatan terbaik untuk Si Kecil.

Nah, jika kamu masih bingung mengenai detail seputar imunisasi DPT 2, termasuk di bagian tubuh mana suntikan ini diberikan dan apa saja yang harus dipersiapkan, kamu berada di tempat yang tepat. Berikut ulasan medis lengkapnya yang perlu kamu ketahui!

Apa itu Imunisasi DPT 2 dan Mengapa Penting?

Imunisasi DPT 2 adalah dosis kedua dari rangkaian vaksinasi DPT yang bertujuan untuk melindungi anak dari tiga penyakit bakteri yang sangat menular dan berpotensi mengancam jiwa. Saat ini, di Indonesia, vaksin DPT umumnya diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi pentavalent (DPT-HB-Hib), yang berarti dalam satu kali suntikan, anak sekaligus dilindungi dari Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, dan infeksi Haemophilus influenzae tipe b (penyebab meningitis dan pneumonia).

Mari kita bedah ketiga penyakit utama yang dicegah oleh komponen DPT ini:

  • Difteri (D): Penyakit infeksi akut pada saluran pernapasan bagian atas. Bakteri Corynebacterium diphtheriae menghasilkan racun yang dapat membentuk selaput abu-abu tebal di tenggorokan, menyebabkan bayi kesulitan bernapas, gagal jantung, hingga kelumpuhan.
  • Pertusis (P): Dikenal juga dengan sebutan batuk rejan atau batuk seratus hari. Penyakit ini sangat berbahaya bagi bayi di bawah usia satu tahun karena dapat memicu batuk hebat yang berujung pada berhentinya napas sementara (apnea) dan kerusakan paru-paru.
  • Tetanus (T): Infeksi yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani yang masuk melalui luka terbuka (termasuk tali pusat pada bayi baru lahir yang tidak dirawat dengan higienis). Tetanus menyebabkan kekakuan otot yang parah, terutama pada rahang (lockjaw), yang membuat bayi tidak bisa menyusu dan bernapas.

Pemberian dosis kedua (imunisasi DPT 2) sangat penting karena sistem kekebalan tubuh bayi memerlukan beberapa kali paparan antigen yang dilemahkan agar bisa membangun “pasukan” antibodi yang kuat dan bertahan lama. Jika kamu melewatkan dosis kedua ini, kadar antibodi yang terbentuk dari dosis pertama akan perlahan menurun dan bayi kembali rentan terinfeksi.

Jadwal Pemberian Imunisasi DPT 2

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menetapkan jadwal imunisasi dasar yang terstruktur. Vaksin DPT primer (dasar) diberikan sebanyak tiga kali pada tahun pertama kehidupan bayi.

Berdasarkan rekomendasi IDAI terbaru, jadwal pemberian imunisasi DPT adalah sebagai berikut:

  • DPT 1: Diberikan saat bayi berusia 2 bulan.
  • DPT 2: Diberikan saat bayi berusia 3 bulan.
  • DPT 3: Diberikan saat bayi berusia 4 bulan.

Selain jadwal dasar di atas, anak juga membutuhkan dosis penguat (booster) untuk menjaga kekebalan tubuhnya. Booster DPT pertama diberikan saat anak berusia 18 bulan, dan booster selanjutnya diberikan pada usia 5-7 tahun (biasanya melalui program BIAS – Bulan Imunisasi Anak Sekolah), serta pada usia 10-18 tahun.

Jika karena suatu hal (misalnya anak sedang sakit berat) kamu terpaksa menunda imunisasi DPT 2, jangan khawatir. Konsep imunisasi adalah catch-up atau kejar. Kamu tidak perlu mengulang dari dosis pertama, cukup lanjutkan jadwal imunisasi yang tertinggal sesegera mungkin setelah anak pulih.

Suntik DPT 2 di Bagian Mana? Ini Lokasi Paling Tepat

Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan oleh orang tua adalah: “Suntik imunisasi DPT 2 di bagian mana?” Mengetahui lokasi anatomi penyuntikan sangat penting agar orang tua tahu area mana yang harus diperhatikan jika terjadi pembengkakan pasca-vaksinasi.

Berdasarkan panduan medis global dari World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), vaksin DPT disuntikkan secara intramuskular (IM), yang berarti jarum harus masuk menembus lapisan kulit hingga mencapai jaringan otot yang dalam.

Untuk bayi dan balita di bawah usia 3 tahun, lokasi penyuntikan DPT yang paling tepat dan direkomendasikan adalah di otot paha anterolateral (paha bagian depan samping kiri atau kanan). Ada beberapa alasan medis yang kuat mengapa paha dipilih sebagai lokasi penyuntikan, bukan bokong atau lengan:

1. Massa Otot yang Tebal

Otot vastus lateralis pada paha anterolateral adalah bagian otot yang paling besar dan tebal pada bayi. Menyuntikkan vaksin ke dalam otot besar ini memastikan vaksin diserap dengan optimal oleh tubuh, yang pada gilirannya akan memicu respons imun yang maksimal.

2. Risiko Cedera Saraf Sangat Rendah

Di masa lalu, penyuntikan pada area bokong (gluteal) cukup umum dilakukan. Namun, praktik ini kini sangat dilarang untuk bayi dan anak kecil. Di area bokong terdapat saraf besar bernama saraf skiatik (sciatic nerve). Menyuntik bayi di bokong membawa risiko fatal berupa cedera atau tertusuknya saraf skiatik, yang bisa menyebabkan kelumpuhan permanen pada kaki anak. Selain itu, area bokong bayi masih didominasi oleh jaringan lemak tebal, bukan otot, yang membuat penyerapan vaksin DPT menjadi tidak efektif.

3. Lebih Sedikit Efek Samping Lokal

Vaksin DPT mengandung adjuvan (bahan tambahan untuk merangsang sistem imun) yang bisa menyebabkan iritasi lokal jika disuntikkan terlalu dangkal atau ke dalam jaringan lemak. Dengan menyuntikkannya ke otot paha yang dalam, risiko pembengkakan, kemerahan, atau terbentuknya benjolan keras (nodul) di bawah kulit menjadi lebih kecil.

Tips Persiapan Sebelum Membawa Anak Imunisasi DPT 2
  1. Pastikan anak dalam kondisi fit: Batuk pilek ringan tanpa demam bukan halangan untuk imunisasi. Namun, jika anak demam tinggi, tunda imunisasi hingga anak sembuh.
  2. Pakaikan baju yang nyaman: Gunakan pakaian yang mudah dibuka di bagian paha, seperti celana pendek atau romper yang longgar.
  3. Bawa catatan imunisasi: Jangan lupa membawa buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) agar dokter dapat mencatat riwayat vaksinasi dengan tepat.
  4. Tetap tenang: Bayi dapat merasakan kecemasan ibunya. Peluk bayi dengan posisi yang nyaman sesuai arahan tenaga medis saat penyuntikan berlangsung untuk mengurangi rasa takutnya.

Efek Samping DPT 2 dan Cara Mengatasinya

Vaksin DPT, khususnya komponen Pertusis (whole cell yang sering digunakan di Puskesmas atau Posyandu), dikenal sering memicu reaksi pasca-imunisasi (KIPI – Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Orang tua tidak perlu panik, karena efek samping ini adalah tanda bahwa tubuh bayi sedang merespons vaksin dan aktif membangun kekebalan.

Beberapa efek samping ringan yang sangat umum terjadi setelah suntik imunisasi DPT 2 antara lain:

  • Demam: Biasanya muncul beberapa jam setelah penyuntikan dan berlangsung selama 1 hingga 2 hari. Suhu tubuh bisa naik hingga 38°C – 38.5°C.
  • Kemerahan dan bengkak: Terjadi tepat di area bekas suntikan (paha). Area tersebut mungkin terasa hangat saat disentuh.
  • Anak menjadi rewel: Bayi mungkin menangis lebih lama dari biasanya dan tampak tidak nyaman akibat rasa nyeri di pangkal pahanya.
  • Nafsu makan atau menyusu menurun: Bayi mungkin lebih sering tertidur atau sebaliknya, lebih sulit tidur.

Untuk meredakan ketidaknyamanan tersebut, ada beberapa langkah perawatan di rumah yang bisa kamu lakukan. Pertama, berikan ASI atau cairan lebih sering untuk mencegah dehidrasi dan membantu menurunkan suhu tubuh. Kedua, kompres area paha yang disuntik dengan kain bersih yang dibasahi air dingin untuk mengurangi bengkak dan nyeri. Jangan menggosok atau memijat area bekas suntikan tersebut.

Ketiga, pakaikan baju yang tipis dan menyerap keringat. Jika anak mengalami demam yang membuatnya sangat rewel, kamu bisa memberikan obat penurun panas seperti paracetamol sirup atau drops yang diformulasikan khusus untuk bayi, sesuai dengan dosis dan anjuran dokter berdasarkan berat badan anak.

Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?

Meski sebagian besar efek samping imunisasi DPT 2 bersifat ringan dan dapat hilang dengan sendirinya dalam waktu 48 jam, ada beberapa tanda bahaya atau KIPI berat yang memerlukan penanganan medis segera. Pemantauan selama 24 jam pertama sangat dianjurkan.

Segera lakukan konsultasi ke dokter atau bawa anak ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) jika kamu mendapati gejala-gejala berikut pada anak setelah imunisasi:

  • Demam sangat tinggi melebihi 39.5°C atau tidak kunjung turun setelah 3 hari meskipun sudah diberi obat penurun demam.
  • Anak menangis menjerit secara terus-menerus dan tidak bisa ditenangkan (inconsolable crying) selama lebih dari 3 jam berturut-turut.
  • Mengalami kejang, baik kejang yang disertai demam maupun tidak.
  • Tubuh anak menjadi sangat lemas, pucat, tidak responsif, atau tidak mau menyusu sama sekali.
  • Reaksi alergi berat (anafilaksis) yang ditandai dengan pembengkakan pada wajah/bibir, sesak napas, hingga muncul ruam kemerahan di seluruh tubuh (kondisi ini sangat jarang, namun berbahaya).

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan memberikan penanganan medis yang tepat untuk mengatasi komplikasi tersebut. Jangan pernah mengabaikan insting sebagai orang tua jika merasa ada yang tidak beres pada kondisi bayi.

Studi Terkait Efektivitas Vaksin DPT

World Health Organization (WHO) menerbitkan berbagai laporan dan data global yang menunjukkan bahwa penyelesaian tiga dosis imunisasi DPT (termasuk DPT 2) sangat penting. Studi mencatat bahwa vaksin DPT telah mengurangi tingkat kejadian penyakit difteri, tetanus, dan pertusis secara drastis hingga lebih dari 90% secara global sejak program vaksinasi rutin diperkenalkan.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Infectious Diseases juga menegaskan bahwa satu dosis DPT saja tidak cukup untuk menciptakan imunitas jangka panjang. Bayi yang hanya menerima satu dosis masih memiliki risiko terinfeksi pertusis berat hingga 50%. Oleh karena itu, melengkapi jadwal DPT 1, DPT 2, dan DPT 3 sesuai jadwal usia (2, 3, dan 4 bulan) adalah kunci emas dalam menurunkan angka kematian bayi akibat penyakit-penyakit saluran napas ini.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Selain informasi di atas, pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter spesialis anak mengenai jadwal tumbuh kembang dan vaksinasi. Kamu bisa menjadwalkan konsultasi atau membuat janji temu rumah sakit untuk imunisasi dengan praktis dan cepat melalui aplikasi Halodoc.

Referensi:
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Jadwal Imunisasi Anak.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI Tahun 2023.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Immunization Coverage.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. Diphtheria, Tetanus, and Whooping Cough Vaccination.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Childhood vaccines: Tough questions, straight answers.

FAQ

1. Apakah imunisasi DPT 2 selalu bikin demam?

Tidak selalu, tetapi demam ringan adalah efek samping yang sangat umum. Hal ini menandakan tubuh bayi merespons vaksin untuk membentuk antibodi. Jika bayi menggunakan vaksin jenis aseluler (DPaT), risiko terjadinya demam biasanya lebih kecil dibandingkan vaksin whole cell.

2. Bolehkah menunda imunisasi DPT 2 jika anak sedang batuk pilek ringan?

Boleh divaksin. Batuk pilek ringan tanpa disertai demam tinggi atau sesak napas bukanlah kontraindikasi untuk imunisasi. Namun, jika anak demam di atas 38°C atau sangat rewel karena sakit, dokter biasanya menyarankan penundaan hingga anak pulih.

3. Berapa jarak waktu minimal antara imunisasi DPT 1 dan DPT 2?

Jarak waktu minimal yang direkomendasikan antara pemberian dosis pertama dan kedua adalah 4 minggu (1 bulan). Ini memberikan waktu yang cukup bagi sistem kekebalan tubuh untuk memproses antigen sebelum menerima dosis lanjutan.

4. Bolehkah area bekas suntikan DPT 2 dipijat agar tidak bengkak?

Sangat tidak disarankan memijat atau menggosok keras area bekas suntikan. Memijat dapat memperparah peradangan lokal dan mengganggu penyerapan vaksin di otot. Cukup berikan kompres air dingin yang lembut pada paha yang bengkak.