Syringoma: Kenali Penyebab, Gejala, & Cara Hilangkannya

DAFTAR ISI
- Apa Itu Syringoma?
- Gejala dan Ciri-Ciri Syringoma
- Penyebab dan Faktor Risiko
- Perbedaan Syringoma dan Milia
- Diagnosis dan Kapan Harus ke Dokter
- Pilihan Pengobatan Medis untuk Syringoma
- Studi Mengenai Penanganan Syringoma
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Pernahkah kamu bercermin dan menyadari adanya bintik-bintik kecil atau benjolan halus di sekitar area mata, pipi, atau dahi? Banyak orang sering kali keliru menganggap benjolan kecil ini sebagai jerawat batu, komedo putih, atau milia, padahal bisa jadi kondisi tersebut adalah syringoma. Meskipun ukurannya kecil, kemunculannya di area wajah yang terlihat jelas sering kali membuat banyak orang merasa tidak percaya diri.
Syringoma adalah kondisi dermatologis yang sangat umum terjadi, terutama pada wanita dewasa. Meskipun tidak berbahaya secara medis, kondisi ini sering kali menjadi perhatian utama dalam dunia estetika. Benjolan ini terbentuk akibat adanya pertumbuhan berlebih pada sel-sel kelenjar keringat ekrin (kelenjar keringat yang mengatur suhu tubuh). Karena akar masalahnya berada jauh di bawah lapisan kulit, syringoma tidak bisa sekadar dipencet atau diolesi krim jerawat biasa.
Penting untuk dipahami bahwa syringoma adalah tumor jinak, yang berarti ia tidak memiliki potensi untuk berubah menjadi kanker kulit yang ganas. Namun, karena sifatnya yang resisten terhadap perawatan kulit topikal (seperti krim atau serum bebas), penanganannya memerlukan pendekatan medis yang tepat oleh dokter spesialis kulit. Menggunakan jarum sembarangan atau mencoba memencetnya di rumah justru dapat memicu infeksi dan meninggalkan jaringan parut (bekas luka) yang permanen.
Mengingat kondisi ini memerlukan prosedur klinis seperti terapi laser atau bedah minor, saat ini tidak ada rekomendasi obat bebas (OTC) berbentuk krim atau salep di apotek yang secara mandiri mampu menghilangkan syringoma. Nah, mau tahu lebih dalam tentang apa itu syringoma, penyebab, gejala, serta opsi perawatan medis yang tersedia? Berikut ulasan lengkapnya!
Apa Itu Syringoma?
Secara medis, syringoma adalah tumor jinak (non-kanker) yang berasal dari saluran kelenjar keringat ekrin. Kelenjar ekrin adalah jenis kelenjar keringat terbanyak yang ada di tubuh manusia, dan paling banyak ditemukan di telapak tangan, telapak kaki, dan wajah. Kelenjar ini berfungsi untuk mengeluarkan keringat cair tak berbau untuk membantu mendinginkan suhu tubuh.
Pada kasus syringoma, sel-sel yang membentuk saluran kelenjar keringat ini bereproduksi atau tumbuh secara berlebihan. Akibatnya, terbentuklah benjolan-benjolan padat berukuran kecil (biasanya antara 1 hingga 3 milimeter) di bawah permukaan kulit. Meskipun bisa muncul di bagian tubuh mana saja yang memiliki kelenjar keringat, syringoma paling sering “bersarang” di area wajah, khususnya di kelopak mata bagian bawah, pipi bagian atas, dahi, dan terkadang di ketiak, dada, perut, atau area genital.
Kondisi ini umumnya mulai muncul pada masa pubertas atau pada awal usia dewasa (usia 20 hingga 40 tahun). Secara visual, benjolan ini sering kali muncul dalam pola simetris, artinya jika ia muncul di kelopak mata bawah bagian kanan, kemungkinan besar ia juga akan muncul di kelopak mata bawah bagian kiri. Meski jumlahnya bisa bertambah banyak seiring bertambahnya usia, syringoma tidak menular dan tidak menyebar ke orang lain melalui kontak fisik.
Gejala dan Ciri-Ciri Syringoma
Sangat penting untuk bisa mengenali ciri-ciri khas dari syringoma agar tidak salah langkah dalam melakukan penanganan. Beberapa karakteristik utama dari syringoma antara lain:
- Bentuk dan Ukuran: Berupa benjolan kecil atau papula yang bentuknya membulat atau sedikit pipih di bagian atasnya. Ukurannya sangat kecil, biasanya hanya berdiameter 1 hingga 3 milimeter.
- Warna: Benjolan ini bisa berwarna sama persis dengan warna kulit sekitarnya, atau sedikit lebih kekuningan, merah muda pucat, hingga kecokelatan pada orang dengan warna kulit yang lebih gelap.
- Tekstur: Jika disentuh, syringoma terasa padat dan keras, tidak berisi cairan nanah (seperti jerawat) atau materi keratin putih (seperti milia).
- Sensasi: Pada sebagian besar kasus, syringoma sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit, gatal, atau perih. Namun, pada varian langka yang disebut eruptive syringoma (syringoma erupsi), beberapa pasien melaporkan rasa gatal ringan, terutama saat tubuh berkeringat parah.
- Lokasi: Paling sering berkelompok di area sekitar mata (periorbital), pipi atas, leher, atau rahang.
Mitos vs Fakta Syringoma
- Mitos: Syringoma disebabkan oleh penggunaan krim mata yang terlalu tebal. Fakta: Salah. Krim mata yang comedogenic bisa menyebabkan milia, tetapi syringoma disebabkan oleh pertumbuhan berlebih kelenjar keringat dari dalam, bukan karena produk topikal.
- Mitos: Bisa hilang dengan sendirinya. Fakta: Jarang sekali syringoma bisa hilang tanpa intervensi medis. Ia cenderung menetap dan jumlahnya perlahan bertambah seiring waktu.
- Mitos: Syringoma bisa dipencet seperti komedo. Fakta: Sangat dilarang! Memencet syringoma tidak akan mengeluarkan apa-apa selain darah, memicu rasa sakit, dan berisiko tinggi menyebabkan infeksi bakteri.
Penyebab dan Faktor Risiko
Hingga saat ini, para ilmuwan dan ahli dermatologi belum mengetahui secara pasti apa yang memicu sel-sel kelenjar keringat ekrin tumbuh secara abnormal hingga membentuk syringoma. Namun, berdasarkan berbagai observasi klinis dan penelitian medis, terdapat beberapa faktor risiko kuat yang berkaitan erat dengan kemunculan kondisi ini, yaitu:
1. Faktor Genetik dan Keturunan
Genetik memainkan peran yang sangat signifikan. Jika salah satu atau kedua orang tua kamu memiliki riwayat syringoma, peluang kamu untuk mengembangkan kondisi yang sama akan jauh lebih tinggi. Mutasi genetik tertentu diyakini mempengaruhi regulasi pertumbuhan sel kelenjar keringat di lapisan dermis kulit.
2. Faktor Hormonal dan Jenis Kelamin
Statistik medis menunjukkan bahwa syringoma jauh lebih sering didiagnosis pada wanita dibandingkan pria. Selain itu, kondisi ini sering kali pertama kali muncul saat masa pubertas, kehamilan, atau fluktuasi hormon lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa hormon seks (seperti estrogen dan progesteron) kemungkinan besar berperan dalam menstimulasi aktivitas dan pertumbuhan kelenjar keringat.
3. Sindrom Down (Down Syndrome)
Berbagai literatur medis mencatat bahwa individu dengan sindrom Down memiliki insiden syringoma yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Syringoma pada pasien sindrom Down juga sering kali berjumlah lebih banyak dan menyebar di area yang lebih luas, meskipun mekanisme pasti di balik hubungan ini masih terus dipelajari oleh para ahli.
4. Kondisi Medis Lainnya
Syringoma terkadang juga dikaitkan dengan sindrom Marfan, sindrom Ehlers-Danlos, serta penyakit diabetes melitus. Orang yang memiliki tipe kulit sangat berminyak atau sangat aktif berkeringat (hiperhidrosis) juga dinilai sedikit lebih rentan.
Perbedaan Syringoma dan Milia
Karena lokasinya yang sering tumpang tindih (terutama di area mata), syringoma sangat sering disalahartikan sebagai milia. Penting untuk mengetahui perbedaannya agar penanganannya tepat:
- Milia: Adalah kista kecil berisi keratin (protein kulit) yang terperangkap di bawah permukaan kulit. Warnanya biasanya putih mutiara atau kekuningan yang sangat jelas. Terasa seperti ada “biji” keras di dalamnya. Milia sering kali bisa diatasi dengan eksfoliasi rutin (AHA/BHA) atau ekstraksi sederhana menggunakan jarum steril oleh dokter/terapis kecantikan.
- Syringoma: Warnanya lebih menyatu dengan warna kulit (flesh-colored). Letaknya lebih dalam (di lapisan dermis). Tidak ada inti keratin putih di dalamnya, melainkan jaringan padat. Krim eksfoliasi tidak akan bisa menghilangkan syringoma.
Selain milia, syringoma juga harus dibedakan dari Xanthelasma (endapan kolesterol kuning di kelopak mata yang sering terkait dengan kolesterol tinggi) dan kutil wajah (infeksi virus HPV).
Diagnosis dan Kapan Harus ke Dokter
Diagnosis syringoma biasanya cukup lugas dan dilakukan secara visual oleh dokter spesialis kulit (dermatolog). Dokter akan melihat karakteristik benjolan, pola penyebarannya, dan lokasinya. Pada kasus yang sangat jarang atau jika bentuk benjolan terlihat atipikal (mencurigakan menyerupai karsinoma sel basal), dokter mungkin akan merekomendasikan biopsi kulit—yakni mengambil sampel kecil jaringan benjolan untuk diperiksa di bawah mikroskop secara histopatologis.
Syringoma pada dasarnya tidak memerlukan pengobatan karena tidak membahayakan kesehatan fisik. Namun, jika kamu merasa terganggu secara kosmetik atau benjolan semakin bertambah banyak dan menyebar, inilah saat yang tepat untuk mencari tahu kapan harus ke dokter agar mendapatkan diagnosis dan penanganan klinis yang aman. Jangan menunda jika benjolan tiba-tiba membesar dengan cepat, berubah warna, berdarah, atau menimbulkan rasa sakit kronis.
Pilihan Pengobatan Medis untuk Syringoma
Jika kamu memutuskan untuk menghilangkan syringoma demi alasan estetika, ada beberapa prosedur medis yang bisa dilakukan oleh dokter spesialis kulit. Pendekatannya biasanya bersifat destruktif, artinya bertujuan untuk menghancurkan jaringan tumor jinak tersebut. Berikut adalah metode yang paling umum digunakan:
1. Terapi Laser (Laser CO2 atau Erbium)
Ini adalah salah satu metode yang paling populer dan efektif. Dokter akan menggunakan sinar laser ablatif untuk membakar dan menguapkan jaringan syringoma lapis demi lapis dengan sangat presisi. Keuntungannya adalah kerusakan jaringan di sekitarnya sangat minimal, pemulihannya relatif cepat, dan risiko munculnya bekas luka lebih rendah dibandingkan pembedahan konvensional. Sebelum prosedur, krim anestesi lokal akan dioleskan agar pasien tidak merasa sakit.
2. Elektrokauter (Electrosurgery)
Metode ini menggunakan alat seperti jarum kecil yang dialiri arus listrik frekuensi tinggi. Ujung jarum digunakan untuk membakar dan menghancurkan pembuluh darah serta jaringan syringoma. Prosedur ini sangat efektif, namun membutuhkan keahlian dokter yang tinggi untuk menghindari kerusakan dermis yang terlalu dalam yang bisa memicu skar (bekas luka parut).
3. Eksisi Bedah Minor
Untuk syringoma yang ukurannya cukup besar atau bentuknya tidak biasa, dokter mungkin akan melakukan eksisi, yaitu memotong benjolan secara manual menggunakan pisau bedah kecil (scalpel), lalu menjahitnya kembali. Prosedur ini sangat jarang digunakan untuk syringoma yang jumlahnya banyak dan kecil-kecil karena memakan waktu dan berisiko meninggalkan banyak bekas jahitan.
4. Krioterapi (Cryotherapy)
Metode ini melibatkan penggunaan nitrogen cair dengan suhu sangat dingin untuk membekukan dan menghancurkan jaringan syringoma. Jaringan yang beku nantinya akan mati, mengering, dan mengelupas dengan sendirinya dalam beberapa hari hingga minggu. Namun, metode ini kurang difavoritkan untuk area wajah bagian mata karena berisiko menyebabkan perubahan pigmen kulit (hipopigmentasi atau hiperpigmentasi) pasca inflamasi.
5. Peeling Kimiawi Dalam (Chemical Peeling)
Penggunaan larutan asam kuat seperti Asam Trikloroasetat (TCA) dengan konsentrasi tinggi dapat diaplikasikan langsung pada setiap benjolan syringoma. Asam ini akan merusak protein jaringan tumor hingga akhirnya mengelupas. Metode ini butuh beberapa kali sesi untuk mendapatkan hasil maksimal.
Pasca tindakan medis di atas, kulit akan mengalami masa pemulihan (downtime). Untuk mendukung kesehatan kulit secara umum pasca tindakan, memastikan kelembapan, dan mencegah hiperpigmentasi, dokter biasanya akan meresepkan krim khusus atau kamu bisa menggunakan produk kesehatan dan perawatan kulit seperti tabir surya (sunscreen) ber-SPF tinggi serta pelembap yang gentle.
Studi Mengenai Penanganan Syringoma
Journal of Cutaneous and Aesthetic Surgery menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa penggunaan laser karbon dioksida (CO2) fractional sangat efektif dalam menangani syringoma di area periorbital (sekitar mata).
Studi klinis tersebut menyoroti bahwa pasien yang menjalani terapi laser CO2 menunjukkan tingkat kekambuhan yang lebih rendah dan kepuasan kosmetik yang tinggi. Laser CO2 mampu menargetkan kelenjar ekrin yang abnormal di lapisan dermis tanpa merusak epidermis di atasnya secara berlebihan, sehingga masa pemulihan menjadi lebih cepat dan risiko jaringan parut dapat diminimalisasi.
Memiliki syringoma bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti atau membuat panik. Kondisi ini murni berkaitan dengan estetika dan tidak mengancam kesehatan tubuh secara keseluruhan. Jika kamu memiliki benjolan di wajah dan ragu apakah itu syringoma, jerawat, atau milia, sangat disarankan untuk tidak mendiagnosis diri sendiri. Hindari menggaruk, menusuk, atau mengoleskan sembarang obat keras tanpa indikasi yang jelas.
Sebagai pencegahan agar kulit tetap sehat, selalu jaga kebersihan wajah, gunakan tabir surya setiap hari, dan kelola stres hormonal dengan pola hidup sehat. Jika kamu memutuskan untuk menjalani prosedur penghilangan syringoma, pastikan tindakan tersebut dilakukan di klinik dermatologi yang kredibel dan diawasi oleh dokter spesialis kulit yang berpengalaman.
Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan atau kondisi kulit yang sedang dialami dengan praktis dan aman melalui aplikasi Halodoc.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kulit via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kulit terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Referensi:
American Academy of Dermatology (AAD). Diakses pada 2024. Bumps on the skin: When should you see a dermatologist?
DermNet New Zealand. Diakses pada 2024. Syringoma.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Syringoma: Causes, Symptoms & Treatment.
Journal of Cutaneous and Aesthetic Surgery. Diakses pada 2024. Fractional CO2 Laser in Treatment of Syringoma.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Benign skin tumors.
FAQ
1. Apakah syringoma bisa hilang sendiri seiring waktu?
Sangat jarang syringoma bisa hilang atau mengecil dengan sendirinya. Karena terbentuk dari jaringan sel kelenjar keringat yang tumbuh berlebih di dalam kulit, kondisinya cenderung menetap secara permanen, dan jumlahnya justru berpotensi bertambah seiring bertambahnya usia.
2. Apakah penggunaan skincare seperti retinol bisa mengobati syringoma?
Penggunaan skincare berbahan aktif seperti retinol, AHA, atau BHA sangat bagus untuk eksfoliasi kulit dan mengatasi milia atau jerawat. Namun, bahan-bahan topikal ini tidak cukup kuat untuk menembus lapisan dermis tempat syringoma berada, sehingga tidak efektif untuk menghilangkannya.
3. Apakah prosedur laser untuk menghilangkan syringoma terasa sakit?
Sebelum prosedur laser dilakukan, dokter selalu mengoleskan krim anestesi lokal (mati rasa) di area yang akan dilaser. Oleh karena itu, prosedur ini relatif nyaman dan hanya menimbulkan sensasi hangat, cekit-cekit ringan, atau seperti jepretan karet gelang tipis pada kulit.
4. Bisakah syringoma muncul kembali setelah dilaser?
Ya, ada kemungkinan syringoma dapat tumbuh kembali (kambuh) setelah beberapa waktu, meskipun telah diangkat. Hal ini dikarenakan faktor genetik dan kelenjar keringat alami yang terus memproduksi sel baru. Namun, dengan teknik destruksi yang tepat, kekambuhan bisa ditunda untuk jangka waktu yang sangat lama.



