Tambalan Amalgam: Kenapa Makin Jarang Dipilih?

DAFTAR ISI
- Mengenal Apa Itu Tambalan Amalgam
- Komposisi Bahan Pembuat Amalgam
- Kelebihan Tambalan Amalgam
- Kekurangan Tambalan Amalgam
- Apakah Tambalan Amalgam Aman Bagi Tubuh?
- Alternatif Pengganti Tambalan Amalgam
- Kapan Harus Mengganti Tambalan dan Ke Dokter Gigi?
- Perawatan Setelah Penambalan Gigi
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- Studi Terkait
- FAQ
Karies atau gigi berlubang merupakan salah satu masalah kesehatan mulut yang paling umum dialami oleh masyarakat Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika bakteri di dalam mulut menghasilkan asam yang secara perlahan mengikis lapisan email gigi yang keras. Jika dibiarkan tanpa penanganan, lubang akan semakin dalam mencapai lapisan dentin bahkan saraf gigi, yang pada akhirnya menyebabkan rasa sakit yang tak tertahankan, infeksi, hingga risiko kehilangan gigi secara permanen.
Untuk mengatasi gigi berlubang dan mengembalikan fungsi kunyah serta anatomi gigi seperti sedia kala, dokter gigi akan melakukan prosedur penambalan atau restorasi gigi. Selama lebih dari 150 tahun, dunia kedokteran gigi sangat mengandalkan satu jenis bahan tambalan yang dikenal karena ketahanannya yang luar biasa, yaitu amalgam. Bahan ini telah menjadi standar emas (gold standard) di masa lalu, terutama untuk menambal gigi geraham belakang yang menerima tekanan kunyah paling besar.
Namun, seiring dengan perkembangan teknologi material kedokteran gigi dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan nilai estetika, popularitas amalgam mulai meredup. Banyak orang kini lebih memilih tambalan yang warnanya menyerupai gigi asli, meskipun dari segi kekuatan, amalgam masih sulit ditandingi oleh beberapa bahan modern. Selain masalah estetika, isu mengenai kandungan zat di dalam amalgam juga sering kali memunculkan kekhawatiran tersendiri di kalangan pasien.
Lantas, apa sebenarnya tambalan amalgam itu? Benarkah bahan ini berbahaya bagi kesehatan tubuh? Dan apa saja alternatif yang bisa kamu pilih saat ini? Mari kita bedah secara tuntas mengenai fakta, keamanan, serta kelebihan dan kekurangan tambalan amalgam dalam ulasan medis berikut ini!
Mengenal Apa Itu Tambalan Amalgam
Tambalan amalgam, yang sering kali disebut oleh masyarakat awam sebagai “tambalan perak” atau “tambalan hitam”, adalah bahan restorasi gigi yang digunakan untuk mengisi rongga akibat pembusukan gigi (karies). Amalgam telah digunakan dalam praktik kedokteran gigi di seluruh dunia sejak abad ke-19 karena sifat mekanisnya yang sangat baik, harganya yang relatif terjangkau, dan kemudahan dalam aplikasinya oleh dokter gigi.
Secara fisik, amalgam awalnya berbentuk adonan logam yang lunak sehingga mudah dibentuk dan dimasukkan ke dalam lubang gigi yang telah dibersihkan dari jaringan karies. Setelah beberapa saat, adonan ini akan mengeras secara mandiri di dalam rongga mulut dan membentuk struktur logam padat yang sangat kokoh. Karena kemampuannya menahan beban mekanis yang berat, amalgam hampir secara eksklusif diaplikasikan pada gigi posterior (gigi geraham atau molar dan premolar) yang berfungsi menumbuk dan mengunyah makanan.
Komposisi Bahan Pembuat Amalgam
Karakteristik unik dari tambalan amalgam berasal dari perpaduan (alloy) berbagai jenis logam. Proses pencampuran logam-logam ini disebut dengan proses amalgamasi. Secara umum, tambalan amalgam terdiri dari dua komponen utama yang dicampur sesaat sebelum diaplikasikan ke gigi pasien:
1. Merkuri Cair (Elemental Mercury)
Merkuri membentuk sekitar 50 persen dari total berat tambalan amalgam. Merkuri digunakan karena ini adalah satu-satunya logam yang berbentuk cair pada suhu ruang. Fungsinya sangat krusial, yaitu sebagai “lem” atau bahan pengikat (binder) yang menyatukan partikel-partikel logam padat lainnya. Tanpa merkuri, logam-logam serbuk tidak akan bisa menyatu membentuk adonan padat yang kuat.
2. Serbuk Paduan Logam (Metal Alloy Powder)
Setengah bagian lainnya dari amalgam terdiri dari campuran serbuk logam padat. Komposisi utamanya meliputi:
- Perak (Silver): Memberikan kekuatan mekanis dan membantu proses pengerasan amalgam (setting time). Perak biasanya mencakup 22 hingga 32 persen dari komposisi.
- Timah (Tin): Berfungsi untuk mengontrol reaksi pengerasan agar tidak terlalu cepat dan membantu amalgam beradaptasi dengan dinding rongga gigi. Timah mencakup sekitar 14 persen.
- Tembaga (Copper): Tembaga ditambahkan (biasanya sekitar 8 persen atau lebih pada amalgam modern berkadar tembaga tinggi) untuk meningkatkan kekuatan restorasi, mengurangi risiko korosi, dan mencegah perubahan bentuk (creep) pada tambalan seiring berjalannya waktu.
- Seng (Zinc): Terkadang ditambahkan dalam jumlah sangat kecil untuk mencegah oksidasi logam-logam lain selama proses pembuatan pabrikasi.
Kelebihan Tambalan Amalgam
Meskipun saat ini banyak pasien yang meninggalkannya karena alasan estetika, amalgam tetap memiliki deretan keunggulan yang membuatnya bertahan selama lebih dari satu abad di dunia kedokteran gigi:
1. Kekuatan dan Daya Tahan Ekstra
Ini adalah keunggulan absolut dari amalgam. Bahan ini sangat tahan terhadap keausan akibat tekanan mengunyah. Tambalan amalgam rata-rata bisa bertahan selama 10 hingga 15 tahun, bahkan banyak kasus menunjukkan tambalan ini tetap utuh selama lebih dari 20 tahun. Jauh lebih awet dibandingkan tambalan resin komposit biasa.
2. Toleransi Terhadap Kelembapan
Berbeda dengan tambalan sewarna gigi (komposit) yang membutuhkan kondisi mulut yang benar-benar kering saat diaplikasikan (sangat sensitif terhadap air liur), amalgam jauh lebih “pemaaf”. Amalgam dapat mengeras dan melekat dengan baik meskipun area penambalan sedikit terpapar kelembapan, membuatnya ideal untuk pasien anak-anak atau pada area gusi yang sulit dikeringkan.
3. Biaya yang Ekonomis
Dibandingkan dengan bahan restorasi lain seperti resin komposit, porselen, atau emas, bahan baku amalgam jauh lebih murah. Waktu pengerjaannya di kursi dokter gigi juga lebih cepat. Hal ini menjadikan amalgam sebagai pilihan yang sangat hemat biaya untuk perawatan masalah gigi berlubang.
Kekurangan Tambalan Amalgam
Tentu saja, di balik kekuatannya yang mumpuni, amalgam memiliki beberapa kelemahan signifikan yang menjadi alasan utama mengapa popularitasnya menurun:
1. Estetika yang Buruk
Amalgam memiliki warna perak mengilap yang seiring waktu akan teroksidasi dan berubah warna menjadi abu-abu gelap atau hitam kebiruan. Warna ini sangat kontras dengan warna alami gigi, sehingga tidak cocok digunakan pada gigi depan (anterior) atau bagi pasien yang sangat mengutamakan penampilan.
2. Pengambilan Jaringan Gigi yang Lebih Banyak
Amalgam tidak memiliki kemampuan untuk berikatan secara kimia (adhesi) dengan struktur email atau dentin gigi. Agar tambalan tidak lepas, dokter gigi harus membuang jaringan gigi yang sehat lebih banyak untuk menciptakan bentuk lubang “retensi” khusus (seperti bentuk trapesium atau undercut) agar logam bisa terkunci secara mekanis di dalam gigi.
3. Perubahan Suhu dan Risiko Retak
Semua logam memiliki sifat memuai jika terkena panas dan menyusut jika terkena dingin. Ketika kamu mengonsumsi makanan panas atau dingin, tambalan amalgam di dalam gigi akan mengalami pemuaian dan penyusutan. Proses yang terjadi berulang-ulang selama bertahun-tahun ini dapat menyebabkan munculnya retakan mikro pada struktur gigi asli di sekitar tambalan, yang berujung pada gigi patah.
4. Risiko Perubahan Warna pada Gigi Asli
Komponen logam dalam amalgam dapat meresap ke dalam tubulus dentin (pori-pori mikroskopis pada gigi) seiring berjalannya waktu. Hal ini dapat menyebabkan struktur gigi yang tersisa di sekitar tambalan tampak keabu-abuan (amalgam tattoo).
Tips Mencegah Gigi Berlubang Agar Tidak Perlu Ditambal
- Sikat gigi minimal dua kali sehari, pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur, menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride.
- Gunakan benang gigi (dental floss) setiap hari untuk membersihkan sisa makanan dan plak di sela-sela gigi yang tidak terjangkau sikat gigi.
- Kurangi konsumsi makanan dan minuman yang tinggi gula serta karbohidrat lengket.
- Rutin memeriksakan kondisi kesehatan gigi dan mulut ke dokter gigi minimal setiap 6 bulan sekali.
Apakah Tambalan Amalgam Aman Bagi Tubuh?
Isu mengenai keamanan amalgam selalu bermuara pada satu kata: Merkuri. Merkuri memang dikenal sebagai logam berat yang beracun jika terakumulasi dalam tubuh. Paparan merkuri tingkat tinggi dapat merusak sistem saraf, ginjal, dan paru-paru.
Namun, penting untuk memahami perbedaan jenis merkuri. Merkuri yang mencemari lingkungan dan masuk ke dalam rantai makanan laut (seperti ikan) adalah metilmerkuri, yang sangat mudah diserap dan berbahaya bagi tubuh manusia. Sementara itu, merkuri dalam tambalan amalgam adalah merkuri elemental.
Ketika merkuri elemental dicampur dengan serbuk logam (perak, timah, tembaga), terjadi reaksi kimia yang mengunci merkuri tersebut menjadi senyawa padat yang stabil. Berbagai lembaga kesehatan dunia, termasuk Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), American Dental Association (ADA), serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menyatakan bahwa tambalan amalgam aman untuk orang dewasa dan anak-anak di atas usia 6 tahun.
Memang benar bahwa tambalan amalgam melepaskan sejumlah kecil uap merkuri akibat tekanan mengunyah dan gesekan (bruxism), yang dapat terhirup dan masuk ke aliran darah. Namun, jumlah uap merkuri yang dilepaskan ini sangatlah kecil dan berada jauh di bawah batas ambang bahaya yang dapat memicu masalah kesehatan klinis.
Meski secara umum aman, FDA dan organisasi kesehatan lainnya merekomendasikan tindakan pencegahan. Kelompok rentan tertentu disarankan untuk menghindari penggunaan amalgam baru, antara lain:
- Wanita hamil atau mereka yang merencanakan kehamilan.
- Ibu menyusui.
- Anak-anak, khususnya yang berusia di bawah 6 tahun.
- Individu dengan gangguan saraf (neurologis) yang sudah ada sebelumnya.
- Individu dengan gangguan ginjal.
- Orang yang memiliki riwayat alergi atau hipersensitivitas terhadap merkuri, tembaga, perak, atau timah (meskipun alergi ini sangat jarang terjadi).
Alternatif Pengganti Tambalan Amalgam
Jika kamu merasa tidak nyaman dengan gagasan menggunakan logam di dalam mulutmu, atau menginginkan hasil yang lebih estetik, dunia kedokteran gigi modern menawarkan berbagai alternatif restorasi:
1. Resin Komposit (Tambalan Sewarna Gigi)
Ini adalah alternatif paling populer. Terbuat dari campuran plastik akrilik dan partikel kaca halus. Keunggulan utamanya adalah warnanya yang bisa disesuaikan persis dengan warna gigi aslimu, serta kemampuannya berikatan secara kimia dengan gigi sehingga dokter tidak perlu membuang banyak jaringan gigi yang sehat. Kelemahannya, komposit lebih rentan mengalami keausan, bisa berubah warna akibat kopi/teh, dan usianya tidak selama amalgam (berkisar 5-7 tahun).
2. Glass Ionomer Cement (GIC)
Tambalan ini terbuat dari campuran asam poliakrilat dan bubuk kaca fluoroaluminosilikat. GIC memiliki keistimewaan mampu melepaskan fluoride secara perlahan ke area sekitar gigi, sehingga membantu mencegah terjadinya karies sekunder (lubang baru di bawah tambalan). Namun, GIC relatif lebih rapuh dan mudah aus, sehingga lebih sering digunakan untuk tambalan sementara, gigi susu anak-anak, atau tambalan di area leher gigi yang tidak terkena tekanan kunyah berat.
3. Porselen / Keramik (Inlay dan Onlay)
Ini adalah restorasi tidak langsung (dibuat di laboratorium gigi atau dengan mesin pencetak 3D CAD/CAM) yang kemudian direkatkan ke gigi. Porselen sangat tahan terhadap noda kopi atau teh dan memiliki daya tahan yang hampir menyamai amalgam. Estetikanya pun paling superior karena sangat menyerupai kilau gigi asli. Kekurangannya adalah biayanya yang jauh lebih mahal dan membutuhkan minimal dua kali kunjungan.
4. Logam Mulia (Emas)
Tambalan emas dibuat di laboratorium dan direkatkan ke tempatnya. Emas adalah material restorasi yang paling tangguh dan bisa bertahan lebih dari 20 tahun. Emas juga sangat biokompatibel dengan jaringan gusi. Kekurangannya tentu saja pada biaya yang sangat tinggi, warna yang mencolok, dan membutuhkan beberapa kali kunjungan.
Kapan Harus Mengganti Tambalan dan Ke Dokter Gigi?
Banyak pasien yang panik karena isu merkuri lalu meminta dokter gigi untuk membongkar semua tambalan amalgam lama mereka yang masih bagus. Ini adalah tindakan yang tidak disarankan secara medis!
Proses pengeboran untuk membongkar tambalan amalgam yang masih baik justru akan memicu pelepasan uap merkuri dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan jika tambalan tersebut dibiarkan utuh. Selain itu, pengeboran ulang berisiko membuang lebih banyak struktur gigi sehat yang tersisa, yang bisa membuat gigi semakin lemah atau memicu trauma pada saraf gigi.
Kamu hanya perlu mengganti tambalan amalgam jika:
- Terdapat celah, retakan, atau tambalan pecah sebagian.
- Timbul karies atau lubang baru di bawah atau di tepi tambalan tersebut.
- Gigi di sekitar tambalan patah.
- Kamu mengalami reaksi alergi lokal pada gusi dan mukosa mulut di dekat tambalan (lesi likenoid).
Bila kamu merasakan linu, nyeri spontan, atau mendapati tambalanmu rusak, jangan ragu untuk mendapatkan penanganan segera. Kamu bisa melakukan konsultasi ke dokter Halodoc untuk mendapatkan diagnosis awal dan rujukan yang tepat sebelum kondisi gigi memburuk.
Perawatan Setelah Penambalan Gigi
Setelah menjalani prosedur penambalan gigi, terutama jika kavitas cukup dalam, adalah hal yang wajar jika kamu merasakan sedikit ngilu atau gigi menjadi lebih sensitif terhadap makanan panas dan dingin selama beberapa hari. Untuk merawatnya, hindari mengunyah makanan yang terlalu keras atau lengket pada sisi gigi yang baru ditambal selama 24 jam pertama, terutama jika kamu menggunakan amalgam yang membutuhkan waktu 24 jam untuk mencapai kekuatan puncaknya.
Jika rasa nyeri atau ngilu pasca penambalan cukup mengganggu aktivitasmu, kamu bisa mengonsumsi obat pereda nyeri golongan Over-The-Counter (OTC) seperti Paracetamol atau Ibuprofen sesuai dengan dosis yang dianjurkan pada kemasan. Untuk memudahkan kebutuhanmu, kamu bisa beli obat pereda nyeri secara online melalui aplikasi kesehatan terpercaya dan produk akan langsung diantar ke rumahmu.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Studi Terkait Mengenai Keamanan Amalgam
The Journal of the American Dental Association (JADA) menerbitkan studi komprehensif yang menjelaskan bahwa tidak ada hubungan kausal yang signifikan antara penggunaan restorasi gigi amalgam dan penurunan fungsi kognitif saraf atau peningkatan risiko penyakit sistemik pada pasien.
Studi observasional jangka panjang tersebut mengamati kadar paparan merkuri pada pasien dengan tambalan amalgam selama bertahun-tahun. Hasilnya menyimpulkan bahwa bioakumulasi merkuri akibat tambalan gigi sangat minim dan tidak memicu efek toksik yang membahayakan fungsi organ vital maupun perkembangan neurologis, memperkuat rekomendasi WHO bahwa bahan ini aman digunakan untuk populasi umum.
Jika rasa ngilu pada gigi yang ditambal tidak kunjung mereda lebih dari dua minggu, atau disertai pembengkakan pada gusi, segera hubungi dokter gigi kembali. Jangan mengabaikan sinyal rasa sakit dari tubuhmu.
Kamu bisa mendapatkan obat-obatan pereda nyeri dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter gigi terkait masalah kesehatan mulut yang sedang dialami melalui Halodoc.
Referensi:
Food and Drug Administration (FDA). Diakses pada 2024. Dental Amalgam Fillings.
American Dental Association (ADA). Diakses pada 2024. Amalgam Fillings.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Mercury and health.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Cavities/tooth decay – Diagnosis and treatment.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Dental Fillings.
FAQ
1. Apakah tambalan amalgam perlu diganti jika warnanya menghitam?
Perubahan warna pada amalgam menjadi gelap adalah proses oksidasi alami dari logam. Selama struktur tambalan masih utuh, tidak retak, dan tidak ada lubang baru di bawahnya, tambalan tersebut tidak perlu diganti hanya karena alasan perubahan warna, kecuali kamu merasa sangat terganggu dengan estetika pada gigi yang terlihat saat tersenyum.
2. Berapa lama pantangan makan setelah menambal gigi dengan amalgam?
Tambalan amalgam membutuhkan waktu hingga 24 jam untuk mengeras sepenuhnya (setting). Oleh karena itu, dokter gigi biasanya menyarankan untuk tidak mengunyah makanan keras atau lengket pada sisi gigi yang baru ditambal selama minimal 24 jam untuk mencegah tambalan berubah bentuk atau pecah.
3. Apakah ibu hamil boleh menambal gigi yang berlubang?
Perawatan gigi berlubang sangat penting selama kehamilan untuk mencegah infeksi yang bisa membahayakan janin. Namun, sebagai tindakan pencegahan, dokter gigi umumnya akan menghindari penggunaan amalgam baru pada ibu hamil dan memilih bahan alternatif yang lebih aman seperti resin komposit atau glass ionomer.
4. Kenapa gigi yang sudah ditambal masih terasa ngilu?
Rasa ngilu pasca penambalan adalah respon normal dari saraf gigi yang mengalami trauma ringan akibat proses pengeboran. Terutama pada penambalan yang dalam. Rasa ngilu ini biasanya akan hilang secara bertahap dalam beberapa hari hingga 1-2 minggu. Jika ngilu bertambah parah atau berdenyut tanpa henti, segera periksakan kembali ke dokter karena bisa jadi saraf gigi telah terinfeksi dan membutuhkan perawatan saluran akar.



