Telinga kemasukan air memang umum terjadi dan umumnya tidak berbahaya, tetapi jika dibiarkan, bisa menimbulkan ketidaknyamanan hingga komplikasi.

DAFTAR ISI
- Rekomendasi Cara Mengatasi Kuping Kemasukan Air
- Bahaya Membiarkan Air di Dalam Telinga
- Tanda Bahaya dan Kapan Harus ke Dokter
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- Referensi
- FAQ
Pernahkah kamu merasakan sensasi tersumbat yang tidak nyaman di telinga setelah berenang atau mandi? Kondisi kuping kemasukan air adalah hal yang sangat umum terjadi. Secara anatomis, saluran telinga kita memiliki bentuk yang agak melengkung. Ketika air masuk, tegangan permukaan air dan keberadaan kotoran telinga (serumen) dapat membuat air terjebak di dalam saluran tersebut. Akibatnya, kamu mungkin akan merasakan suara menjadi redup, sensasi menggelitik, hingga telinga yang terasa penuh atau berdengung.
Meskipun terdengar sepele, air yang terperangkap di dalam telinga tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Telinga yang lembap merupakan tempat yang sangat ideal bagi bakteri dan jamur untuk berkembang biak. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu infeksi saluran telinga luar yang dalam dunia medis dikenal dengan istilah otitis eksterna, atau yang sering disebut sebagai swimmer’s ear. Infeksi ini bisa menyebabkan rasa sakit yang tajam, kemerahan, pembengkakan, hingga keluarnya cairan berbau dari telinga.
Reaksi pertama kebanyakan orang saat kuping kemasukan air adalah memasukkan jari atau cotton bud (kapas pembersih telinga) untuk menyerap air tersebut. Sebagai apoteker dan tenaga kesehatan, saya sangat menyarankan untuk tidak melakukan hal tersebut. Memasukkan benda asing ke dalam telinga justru akan mendorong air dan kotoran telinga semakin dalam, mendekati gendang telinga. Hal ini tidak hanya memperburuk sumbatan, tetapi juga berisiko merobek gendang telinga yang sangat tipis dan sensitif.
Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk mengetahui cara yang aman dan efektif berdasarkan prinsip medis untuk mengeluarkan cairan tersebut. Nah, mau tahu apa saja pilihan cara mengatasi kuping kemasukan air yang aman untuk dilakukan di rumah? Berikut ulasan lengkapnya!
Rekomendasi Cara Mengatasi Kuping Kemasukan Air yang Ampuh
Karena tidak semua kondisi memerlukan obat resep pada tahap awal, kamu bisa mencoba beberapa manuver fisik dan perawatan rumahan (home remedies) yang aman untuk mengeluarkan air dari saluran telinga luar. Berikut adalah langkah-langkah yang direkomendasikan:
1. Metode Gravitasi dan Gerakan Kepala
Cara paling alami, aman, dan paling sering berhasil untuk mengatasi kuping kemasukan air adalah dengan memanfaatkan gaya gravitasi bumi. Air terjebak karena posisinya berada di lekukan saluran telinga. Dengan memiringkan kepala, kamu mengubah posisi cairan tersebut agar bisa mengalir keluar secara alami tanpa perlu alat bantuan apa pun.
Untuk melakukannya, miringkan kepalamu ke sisi telinga yang tersumbat hingga sejajar dengan bahu. Kamu bisa melompat-lompat kecil dengan satu kaki (kaki di sisi yang sama dengan telinga yang tersumbat) untuk memberikan sedikit dorongan mekanis. Alternatif lainnya adalah dengan berbaring menyamping di atas bantal yang sudah dilapisi handuk kering selama beberapa menit. Gravitasi perlahan akan menarik air keluar dari saluran telingamu.
2. Menciptakan Ruang Hampa (Vacuum Technique)
Teknik ini memanfaatkan perbedaan tekanan udara untuk menarik air keluar dari saluran telinga. Sangat efektif jika air baru saja masuk dan belum terlalu dalam bercampur dengan kotoran telinga. Cara ini harus dilakukan dengan lembut agar tidak menyakiti gendang telinga.
Langkah-langkahnya cukup mudah: miringkan kepalamu ke samping, lalu tempelkan telapak tanganmu dengan rapat menutupi daun telinga yang kemasukan air. Tekan tanganmu ke arah telinga dan lepaskan dengan cepat secara berulang-ulang, menyerupai gerakan memompa. Gerakan ini akan menciptakan efek vakum (ruang hampa) ringan yang dapat memecah tegangan permukaan air dan menariknya keluar. Setelah melakukan pompaan beberapa kali, miringkan kepala sepenuhnya ke bawah agar air menetes keluar.
3. Manuver Valsalva
Kadang-kadang, air tidak masuk dari luar (telinga luar), melainkan cairan terjebak di telinga tengah, misalnya setelah kamu menyelam atau karena hidung tersumbat. Jika sumbatan terasa dari bagian dalam, Manuver Valsalva bisa membantu membuka Tuba Eustachius—saluran yang menghubungkan hidung, tenggorokan, dan telinga tengah.
Cara melakukannya: tarik napas dalam-dalam, tutup mulutmu, dan pencet hidungmu dengan jari. Kemudian, embuskan napas secara perlahan dari hidung yang tertutup tersebut (seperti saat kamu mengejan atau membuang ingus dengan pelan). Hentikan dorongan saat kamu mendengar bunyi “pop” atau “klik” di telingamu. Bunyi ini menandakan bahwa Tuba Eustachius telah terbuka. Penting: Jangan meniup terlalu keras karena tekanan yang berlebihan dapat merusak gendang telinga.
Tips Pencegahan Telinga Kemasukan Air
- Gunakan earplug (penyumbat telinga) silikon khusus berenang saat melakukan aktivitas di dalam air.
- Kenakan topi renang (swim cap) hingga menutupi daun telinga untuk perlindungan ganda.
- Keringkan bagian luar telinga dengan handuk bersih segera setelah mandi atau berenang.
- Hindari membersihkan telinga dengan cotton bud yang justru bisa memicu penumpukan kotoran, membuat air lebih mudah terperangkap.
4. Kompres Hangat
Suhu hangat dapat membantu melebarkan saluran telinga, melelehkan kotoran telinga yang mungkin mengeras dan menahan air, serta melancarkan aliran darah di area tersebut. Terapi ini juga sangat merelaksasi jika telingamu mulai terasa sedikit pegal atau nyeri akibat tekanan air yang terperangkap.
Siapkan waslap atau handuk kecil yang bersih, rendam dalam air hangat (bukan air panas), lalu peras hingga tidak ada air yang menetes. Lipat waslap dan tempelkan pada telinga yang sakit sambil memiringkan kepala ke bawah. Tahan selama 3 hingga 5 menit. Suhu hangat juga dapat membantu membuka Tuba Eustachius jika masalahnya ada di telinga tengah.
5. Menggunakan Pengering Rambut (Hair Dryer)
Jika air tidak mau keluar karena posisinya terlalu dalam, kamu bisa menguapkannya dengan bantuan udara kering. Alat pengering rambut bisa menjadi solusi darurat yang sangat efektif asal digunakan dengan cara yang benar dan aman.
Nyalakan hair dryer pada pengaturan suhu paling rendah (dingin atau hangat kuku) dan kecepatan kipas paling rendah. Jauhkan alat setidaknya 30 sentimeter dari telingamu. Arahkan aliran udara ke telinga sambil menggerakkan hair dryer maju-mundur secara perlahan. Jangan pernah menggunakan suhu panas karena dapat membakar kulit saluran telinga yang sensitif. Lakukan ini selama beberapa menit hingga telinga terasa kering.
6. Campuran Alkohol dan Cuka Putih
Ini adalah resep medis rumahan klasik yang sering direkomendasikan oleh dokter dan apoteker untuk para perenang. Alkohol (rubbing alcohol atau isopropil alkohol 70%) berfungsi untuk mengikat dan menguapkan air di dalam telinga, sementara cuka putih memiliki sifat asam (acetic acid) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur.
Cara membuatnya: campurkan alkohol 70% dan cuka putih dengan perbandingan 1:1. Menggunakan pipet tetes bersih, teteskan 3-4 tetes campuran tersebut ke dalam telinga yang bermasalah. Tunggu selama 30 detik, lalu miringkan kepala ke arah sebaliknya agar cairan mengalir keluar. Peringatan penting: Jangan gunakan metode ini jika kamu mencurigai gendang telingamu robek (berlubang) atau jika telingamu sedang mengeluarkan cairan nanah dan darah.
Bahaya Membiarkan Air di Dalam Telinga
Mengabaikan kuping yang kemasukan air bisa membawa dampak kesehatan jangka panjang. Kondisi lembap yang berkepanjangan dapat melunakkan sel-sel kulit di saluran telinga (maserasi). Kulit yang melunak ini sangat rentan mengalami luka mikro (robekan kecil), terutama jika kamu mencoba mengoreknya dengan jari panjang atau alat lain.
Dari luka mikro tersebut, bakteri alami yang ada di kulit (seperti Pseudomonas aeruginosa) atau bakteri dari air kotor akan masuk dan menginfeksi jaringan. Kondisi ini memicu otitis eksterna kronis. Gejalanya tidak main-main; rasa sakitnya bisa menjalar hingga ke rahang bagian bawah, menyebabkan kesulitan mengunyah makanan, pembengkakan kelenjar getah bening di leher, hingga demam tinggi. Pada tahap ini, penanganan mandiri tidak lagi efektif dan kamu sangat membutuhkan obat resep, seperti antibiotik tetes telinga atau kortikosteroid untuk meredakan peradangan.
Jika kamu membutuhkan produk perawatan kebersihan telinga atau obat pereda nyeri ringan seperti paracetamol untuk mengatasi ketidaknyamanan, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk dijamin 100% asli dan pesananmu akan langsung diantar ke rumah tanpa perlu keluar rumah dengan kondisi telinga berdengung.
Tanda Bahaya dan Kapan Harus ke Dokter
Secara umum, air yang masuk ke telinga akan keluar dengan sendirinya dalam waktu 1 hingga 2 hari. Namun, jika kamu sudah mempraktikkan berbagai cara di atas namun telinga masih berdengung, kamu perlu mewaspadai tanda-tanda infeksi. Segera cari pertolongan medis jika kamu mengalami salah satu dari gejala berikut:
- Telinga terasa sangat nyeri, terutama saat daun telinga ditarik atau disentuh.
- Keluar cairan berwarna kuning, hijau, atau berbau busuk dari dalam telinga (nanah).
- Kulit di sekitar telinga dan saluran masuk tampak merah, bengkak, dan terasa panas.
- Kemampuan pendengaran menurun drastis dan tidak kunjung membaik.
- Muncul demam ringan hingga tinggi.
- Telinga berdenging keras (tinnitus) terus-menerus.
Jika kamu merasakan gejala-gejala infeksi di atas, jangan tunda lagi. Segeralah konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam. Dokter spesialis atau dokter umum dapat melakukan wawancara medis mendalam, memberikan diagnosis, dan meresepkan obat antibiotik yang tepat agar infeksi tidak merusak gendang telinga.
Studi Terkait Otitis Eksterna dan Perawatan Telinga
National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi komprehensif yang menjelaskan bahwa Otitis Externa (infeksi saluran telinga luar) paling sering dipicu oleh kelembapan yang berlebihan di saluran telinga. Studi tersebut mencatat bahwa paparan air terus-menerus merusak cerumen (kotoran telinga) yang secara alami berfungsi sebagai pelindung asam dan antimikroba.
Studi ini menegaskan bahwa penggunaan profilaksis berupa tetes telinga yang bersifat asam (seperti asam asetat atau campuran cuka dan alkohol) secara signifikan dapat mencegah terjadinya infeksi pada perenang. Selain itu, studi medis dengan tegas melarang penggunaan kapas aplikator (cotton bud) karena dapat menyebabkan trauma mikro pada saluran epitel telinga, yang menjadi pintu gerbang masuknya patogen berbahaya. Oleh karena itu, pengeringan pasif dan manuver gravitasi jauh lebih direkomendasikan secara klinis.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Swimmer’s ear – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. How Do I Get Water Out of My Ear?
Healthline. Diakses pada 2024. How to Get Water Out of Your Ear: 10 Easy Methods.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Acute Otitis Externa: An Update.
FAQ
1. Apakah aman menggunakan cotton bud untuk mengatasi kuping kemasukan air?
Sangat tidak aman dan tidak direkomendasikan secara medis. Menggunakan cotton bud berisiko mendorong air dan kotoran telinga lebih dalam ke arah gendang telinga, yang justru membuat air semakin terjebak dan berpotensi memicu infeksi serta merusak gendang telinga.
2. Berapa lama air di dalam telinga biasanya akan hilang dengan sendirinya?
Dalam kondisi normal dan tanpa sumbatan kotoran telinga yang parah, air yang terperangkap biasanya akan mengering dan mengalir keluar dengan sendirinya dalam waktu 1 hingga 2 hari berkat panas tubuh alami dan gaya gravitasi.
3. Apakah boleh menggunakan lilin telinga (ear candling) untuk menyedot air?
Sama sekali tidak boleh. FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) dan dokter spesialis THT sangat melarang praktik ear candling karena tidak terbukti secara medis efektif menyedot air, dan justru berisiko tinggi menyebabkan luka bakar di wajah, saluran telinga, serta perdarahan gendang telinga.
4. Kapan saya harus khawatir dengan air di telinga?
Kamu harus segera mencari pertolongan medis jika rasa penuh di telinga berubah menjadi rasa sakit yang menusuk, keluar cairan berwarna kuning atau kehijauan (nanah), terjadi pembengkakan pada daun telinga, atau disertai dengan demam, karena hal tersebut menandakan telah terjadinya infeksi bakteri atau jamur.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis THT via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis THT terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.



