Telinga Kiri Nyut-Nyutan? Ini Sebab dan Cara Atasinya

DAFTAR ISI
- Penyebab Telinga Sakit Nyut-nyutan
- Gejala yang Sering Menyertai
- Cara Mengatasi Telinga Sakit di Rumah
- Kapan Harus ke Dokter?
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Pernahkah kamu merasakan telinga sakit nyut-nyutan yang tiba-tiba muncul dan sangat mengganggu? Sensasi nyeri berdenyut pada telinga ini merupakan salah satu keluhan kesehatan yang paling umum dialami oleh berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Rasa sakitnya bisa bervariasi, mulai dari nyeri ringan yang hilang timbul, hingga nyeri tajam yang terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari maupun kualitas tidur di malam hari.
Telinga manusia adalah organ yang memiliki struktur sangat kompleks dan sensitif. Secara anatomi, telinga dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Adanya gangguan, peradangan, infeksi, atau bahkan perubahan tekanan udara pada salah satu bagian tersebut dapat memicu respons saraf yang kita rasakan sebagai nyeri berdenyut atau nyut-nyutan. Kondisi ini tidak boleh diabaikan, karena telinga berada sangat dekat dengan otak dan terhubung langsung dengan saluran pernapasan atas.
Mengetahui penyebab pasti dari telinga sakit nyut-nyutan adalah langkah pertama yang krusial untuk menentukan penanganan yang tepat. Seringkali, rasa sakit ini bisa mereda dengan sendirinya atau melalui perawatan sederhana di rumah. Namun, pada beberapa kasus, nyeri berdenyut bisa menjadi sinyal adanya infeksi serius yang memerlukan intervensi medis untuk mencegah terjadinya komplikasi permanen seperti kehilangan pendengaran.
Lantas, apa saja sebenarnya yang menjadi dalang di balik rasa sakit berdenyut pada telingamu, dan bagaimana cara aman untuk mengatasinya? Mari kita bahas secara mendalam ulasan lengkapnya di bawah ini!
Penyebab Telinga Sakit Nyut-nyutan
Rasa nyeri yang berdenyut pada telinga jarang terjadi tanpa alasan. Kondisi ini umumnya dipicu oleh proses inflamasi (peradangan) atau penumpukan tekanan. Berikut adalah beberapa penyebab utama yang paling sering ditemui dalam dunia medis:
1. Infeksi Telinga Tengah (Otitis Media)
Otitis media adalah penyebab paling klasik dari keluhan telinga nyut-nyutan, terutama pada anak-anak, meskipun orang dewasa juga bisa mengalaminya. Kondisi ini terjadi ketika bakteri atau virus menginfeksi ruang di belakang gendang telinga (telinga tengah). Infeksi ini biasanya didahului oleh batuk, pilek, flu, atau alergi yang menyebabkan pembengkakan pada saluran Eustachius—saluran sempit yang menghubungkan telinga tengah dengan bagian belakang tenggorokan.
Ketika saluran Eustachius tersumbat, cairan lendir akan terperangkap di telinga tengah. Cairan ini menjadi tempat berkembang biak yang sempurna bagi bakteri. Penumpukan nanah dan cairan inilah yang menekan gendang telinga secara kuat, menghasilkan rasa sakit yang berdenyut hebat. Jika tekanan terlalu tinggi, gendang telinga bahkan bisa robek atau pecah.
2. Infeksi Telinga Luar (Otitis Eksterna / Swimmer’s Ear)
Berbeda dengan otitis media, otitis eksterna menyerang saluran telinga bagian luar, yaitu jalur yang membentang dari daun telinga menuju gendang telinga. Kondisi ini sering dijuluki “telinga perenang” karena sering terjadi ketika air terperangkap di dalam saluran telinga setelah berenang atau mandi. Lingkungan yang lembap membuat bakteri atau jamur tumbuh subur.
Gejala khas dari otitis eksterna adalah rasa sakit yang semakin memburuk saat daun telinga ditarik atau saat kamu menekan tonjolan kecil di depan telinga (tragus). Saluran telinga biasanya akan tampak kemerahan, bengkak, dan terasa sangat gatal sebelum akhirnya berubah menjadi nyeri nyut-nyutan.
3. Penumpukan Kotoran Telinga (Serumen Prop)
Tubuh kita secara alami memproduksi kotoran telinga (serumen) untuk melindungi dan melumasi saluran telinga, serta menjebak kotoran dan bakteri. Namun, terkadang kelenjar memproduksi terlalu banyak serumen, atau serumen tersebut terdorong terlalu dalam—biasanya akibat kebiasaan mengorek telinga dengan cotton bud.
Kotoran yang mengeras dan menumpuk (serumen prop) dapat menyumbat saluran telinga sepenuhnya dan menekan gendang telinga. Tekanan fisik inilah yang kemudian menimbulkan rasa sakit berdenyut, sensasi telinga penuh, berdenging (tinnitus), hingga penurunan fungsi pendengaran sementara.
4. Gangguan Sendi Rahang (TMJ Syndrome)
Tidak semua sakit telinga berasal dari telinga itu sendiri. Sendi temporomandibular (TMJ) adalah sendi yang menghubungkan rahang bawah dengan tengkorak, dan letaknya persis di depan telinga. Jika kamu memiliki kebiasaan menggemeretakkan gigi saat tidur (bruxism), sering mengunyah permen karet, atau memiliki masalah radang sendi pada rahang, sendi TMJ bisa meradang.
Karena letaknya yang sangat berdekatan dan berbagi jaringan saraf yang sama, rasa sakit dari peradangan sendi rahang ini sering “menyebar” dan dirasakan sebagai nyeri berdenyut di dalam telinga. Kondisi ini sering disebut sebagai referred pain atau nyeri alih.
5. Barotrauma Telinga (Perubahan Tekanan Udara)
Pernahkah telingamu terasa sakit luar biasa saat pesawat sedang lepas landas atau mendarat? Itulah yang disebut barotrauma telinga. Kondisi ini terjadi ketika terdapat perbedaan tekanan udara yang ekstrem antara lingkungan di luar telinga dan ruang di telinga tengah. Selain saat naik pesawat, barotrauma juga umum dialami oleh penyelam scuba (scuba divers) atau saat kamu berkendara di pegunungan yang tinggi. Jika saluran Eustachius gagal membuka untuk menyamakan tekanan, gendang telinga akan meregang secara menyakitkan.
6. Sakit Gigi atau Infeksi Gusi
Sama halnya dengan gangguan rahang, infeksi pada gigi (seperti gigi berlubang, abses gigi, atau gigi bungsu yang tumbuh miring/impaksi) dapat memancarkan rasa sakit hingga ke telinga. Saraf trigeminal adalah saraf besar yang mempersarafi wajah, rahang, dan sebagian area telinga. Kerusakan atau infeksi pada gigi bawah dapat mengirimkan sinyal nyeri melalui saraf ini, sehingga otak menerjemahkannya sebagai telinga yang sakit nyut-nyutan.
Gejala yang Sering Menyertai
Untuk membantu mengidentifikasi akar penyebabnya, penting untuk memperhatikan gejala lain yang mungkin muncul bersamaan dengan nyeri berdenyut pada telinga. Beberapa gejala penyerta yang patut kamu waspadai antara lain:
- Demam: Seringkali menandakan adanya infeksi bakteri atau virus, terutama pada otitis media.
- Keluarnya Cairan (Otorrhea): Cairan bisa berwarna bening, kekuningan seperti nanah, atau bahkan bercampur darah. Jika cairan keluar tiba-tiba disertai hilangnya rasa sakit secara drastis, ini bisa menjadi pertanda gendang telinga telah robek akibat tekanan.
- Gangguan Pendengaran: Suara mungkin terdengar teredam atau bergema karena adanya penumpukan cairan atau kotoran yang menghalangi gelombang suara mencapai gendang telinga.
- Sensasi Penuh di Telinga: Telinga terasa seperti kemasukan air atau tersumbat rapat.
- Nyeri Saat Mengunyah: Indikasi kuat bahwa nyeri mungkin berkaitan dengan masalah sendi rahang (TMJ) atau infeksi gigi.
Faktor Pemicu dan Tips Pencegahan Sakit Telinga
- Hindari kebiasaan membersihkan saluran telinga bagian dalam menggunakan cotton bud, jepit rambut, atau jari, karena justru akan mendorong kotoran semakin dalam.
- Pastikan untuk mengeringkan telinga dengan lembut menggunakan handuk bersih setelah mandi atau berenang. Miringkan kepala untuk membantu air keluar.
- Gunakan pelindung telinga (earplugs) saat berenang, terutama di kolam renang umum, atau saat berada di lingkungan yang sangat bising.
- Segera obati infeksi saluran pernapasan atas (seperti pilek, flu, atau alergi) agar tidak menyebar ke saluran telinga.
Cara Mengatasi Telinga Sakit di Rumah
Sambil memantau perkembangan gejala, ada beberapa langkah pertolongan pertama yang bisa kamu lakukan secara mandiri di rumah untuk meredakan keluhan telinga sakit nyut-nyutan:
1. Gunakan Kompres Hangat atau Dingin
Suhu hangat dapat membantu melancarkan sirkulasi darah dan merelaksasi otot di sekitar area telinga dan rahang. Celupkan waslap bersih ke dalam air hangat (bukan panas), peras kelebihannya, lalu tempelkan di area telinga yang sakit selama 10 hingga 15 menit. Sebagai alternatif, jika nyeri disebabkan oleh pembengkakan yang baru terjadi, kompres dingin menggunakan es yang dibalut handuk juga bisa membantu mengebaskan area yang sakit.
2. Perhatikan Posisi Tidur
Tidur dengan posisi kepala sejajar dengan tubuh dapat meningkatkan tekanan pada telinga tengah. Cobalah untuk tidur dengan menyangga kepala menggunakan dua bantal agar posisinya lebih tinggi. Selain itu, hindari tidur miring menindih sisi telinga yang sedang sakit agar tidak memperparah rasa nyut-nyutan.
3. Mengunyah Permen Karet atau Menelan
Jika rasa sakit dipicu oleh perubahan tekanan udara (barotrauma) seperti saat di pesawat, cobalah untuk mengunyah permen karet, mengisap permen, atau sering-sering menelan ludah. Gerakan otot rahang ini akan membantu memaksa saluran Eustachius terbuka sehingga tekanan udara di telinga tengah kembali seimbang.
4. Konsumsi Obat Pereda Nyeri Bebas
Jika rasa sakit cukup mengganggu aktivitas, kamu bisa mengonsumsi pereda nyeri ringan yang dijual bebas (OTC), seperti paracetamol atau ibuprofen. Obat-obatan ini sangat efektif untuk memblokir sinyal nyeri dan menurunkan demam jika ada peradangan. Untuk memudahkan, kamu bisa beli obat online di Halodoc agar mendapatkan produk yang 100% asli, aman, dan langsung diantar ke depan pintu rumahmu tanpa perlu repot keluar rumah saat sedang sakit.
Kapan Harus ke Dokter?
Meski sebagian besar kasus sakit telinga bisa mereda dalam beberapa hari, kamu tidak boleh lengah. Kondisi tertentu membutuhkan evaluasi medis segera untuk mencegah komplikasi berbahaya seperti infeksi tulang mastoid (mastoiditis) atau gangguan pendengaran permanen.
Bila gejala tak kunjung membaik setelah 2-3 hari, atau jika kamu mengalami nyeri yang sangat ekstrem, telinga mengeluarkan darah atau nanah berbau busuk, bengkak di belakang telinga, hingga otot wajah terasa kaku, segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam. Diagnosis yang cepat dan akurat melalui wawancara medis akan membantu dokter menentukan apakah kamu membutuhkan resep antibiotik, obat tetes telinga khusus, atau prosedur pembersihan telinga.
Studi Terkait Mengenai Nyeri Telinga
Penanganan terhadap nyeri telinga terus berkembang berdasarkan bukti klinis. National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa pendekatan watchful waiting (observasi tanpa antibiotik langsung) selama 48 hingga 72 jam pertama sangat disarankan untuk otitis media ringan tanpa komplikasi pada orang dewasa dan anak-anak tertentu.
Studi tersebut menemukan bahwa sebagian besar infeksi telinga tengah disebabkan oleh virus yang tidak akan sembuh dengan antibiotik, dan sistem imun tubuh seringkali mampu mengatasi peradangan secara mandiri. Oleh karena itu, penggunaan obat pereda nyeri (analgesik) menjadi terapi lini pertama yang paling krusial untuk menjaga kenyamanan pasien selama masa pemulihan, sebelum dokter memutuskan meresepkan antibiotik bila gejala menetap atau memburuk.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Earache.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Ear Infection (Otitis Media).
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Deafness and hearing loss.
National Institutes of Health (NIH). Diakses pada 2024. Swimmer’s Ear (Otitis Externa).
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Bahaya Mengorek Telinga Sembarangan.
FAQ
1. Apakah boleh meneteteskan minyak esensial atau air bawang putih ke telinga yang sakit?
Tidak disarankan. Meneteskan bahan-bahan alami ke dalam telinga tanpa pengawasan dokter sangat berisiko, terutama jika ternyata gendang telinga sudah mengalami robekan. Hal ini justru dapat menyebabkan iritasi parah, reaksi alergi, atau memperburuk infeksi di telinga tengah.
2. Mengapa telinga terasa lebih sakit saat malam hari?
Saat kamu berbaring di malam hari, aliran darah dan cairan lebih mudah menumpuk di area kepala dan leher akibat gravitasi. Penumpukan cairan ini meningkatkan tekanan di saluran Eustachius dan telinga tengah, sehingga rasa nyeri atau berdenyut terasa jauh lebih intens dibandingkan saat kamu berdiri atau duduk di siang hari.
3. Apakah mengorek telinga dengan cotton bud bisa menyebabkan infeksi?
Sangat bisa. Cotton bud tidak hanya berisiko mendorong kotoran telinga semakin ke dalam dan memicu penyumbatan, tetapi juga bisa menciptakan luka goresan mikro (lecet) pada kulit tipis saluran telinga. Luka terbuka ini merupakan pintu masuk yang sangat mudah bagi bakteri atau jamur penyebab otitis eksterna.
4. Bisakah sakit telinga sembuh sendiri tanpa minum antibiotik?
Bisa. Banyak kasus sakit telinga, terutama yang dipicu oleh infeksi virus (seperti flu), perubahan tekanan udara, atau radang ringan, akan membaik dengan sendirinya dalam waktu 3 hingga 5 hari berkat sistem imun tubuh. Penggunaan antibiotik hanya efektif dan diwajibkan jika infeksi terbukti secara medis disebabkan oleh bakteri.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis THT via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis THT terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.



