• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Terapi Interpersonal untuk Menangani Bulimia

Terapi Interpersonal untuk Menangani Bulimia

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Terapi Interpersonal untuk Menangani Bulimia

Halodoc, Jakarta - Bulimia nervosa, atau biasa disebut bulimia, adalah gangguan makan serius yang berpotensi mengancam jiwa. Pengidap bulimia bisa makan dalam jumlah besar atau berlebihan lalu mengeluarkannya kembali dengan cara yang tidak sehat untuk menghilangkan kalori ekstra dan mencegah penambahan berat badan. 

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan pengidap bulimia untuk menghilangkan kalori ekstra. Misalnya, dengan memuntahkannya kembali, menggunakan obat pencahar, suplemen penurun berat badan, diuretik, atau enema setelah makan terlalu banyak. Mereka juga bisa berpuasa, diet ekstrem atau olahraga berlebihan.

Intinya, pengidap bulimia sangat menjaga berat badan dan bentuk tubuhnya, tetapi tidak bisa melepaskan diri dari makan berlebihan. Karena kondisi ini berhubungan erat dengan citra diri dan bukan soal makanan saja, bulimia bisa sangat sulit diatasi. Nah, terapi interpersonal adalah salah satu pengobatan untuk menangani bulimia. Begini metode terapinya. 

Baca juga: Pernah Diidap Lady Diana, Ini 5 Fakta Tentang Bulimia

Terapi Interpersonal untuk Tangani Bulimia

Terapi interpersonal berfokus untuk mengajarkan pengidap tentang cara berhubungan dengan orang lain yang mampu memengaruhi kesehatan emosional dan mental mereka. Harry Stack Sullivan seorang psikiater dan psikoanalisis yang mencetuskan teori interpersonal percaya bahwa kepribadian seseorang sangat dipengaruhi oleh hubungan interpersonalnya.

Awalnya, terapi interpersonal digunakan untuk mengobati depresi. Namun, pada awal tahun 1990-an, terapi ini mulai digunakan untuk menangani bulimia secara khusus. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, terapi interpersonal berfokus untuk menangani cara seseorang berhubungan dengan orang lain. Lantas, bagaimana terapi ini bisa membantu untuk mengatasi gangguan makan?

Sebenarnya, hampir semua pendekatan terapeutik akan membahas lebih dari sekadar gejala yang seseorang alami. Apakah pendekatannya Cognitive Behavioral Therapy (CBT), Dialectical Behavior Therapy (DBT) atau Psikoanalisis, terapis dan pasien kemungkinan akan membahas riwayat keluarga, persepsi diri, pengalaman hidup, citra tubuh dan sejumlah topik lain yang mungkin saling berkaitan dengan masalah yang mereka alami.

Baca juga: Awas, Bulimia Gangguan Makan yang Mengancam Jiwa

Namun, terapi interpersonal secara khusus berfokus pada bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain dalam hidup mereka. Apabila orang tersebut percaya bahwa jika hubungan ini membaik dan belajar untuk menangani konflik, otomatis perilaku yang terkait dengan bulimia pun akan membaik.

Christopher Fairburn, Profesor Psikiatri di Universitas Oxford menjelaskan bahwa terapi interpersonal dapat bekerja melalui beberapa mekanisme:

  • Membantu pengidap untuk mengatasi masalah interpersonal yang disebabkan oleh bulimia, sehingga membantu mencegah masalah lebih lanjut.
  • Membantu individu mengembangkan hubungan interpersonal yang lebih sehat yang menghasilkan peningkatan evaluasi diri. Dengan kata lain, mereka mulai melihat diri mereka sendiri dalam sudut pandang yang lebih positif dan tidak bergantung pada gaya hidup tidak sehat. 
  • Menumbuhkan perasaan bahwa pengidap mampu mempengaruhi kehidupan interpersonal mereka, sehingga dapat mengurangi kebiasaan buruk, mampu mengontrol makan, berat badan dan bentuk tubuh mereka dengan cara yang lebih sehat dan positif.

Baca juga: Bagaimana Mengenali Tanda dan Gejala Bulimia?

Nah, itulah penjelasan seputar terapi interpersonal untuk atasi bulimia. Bila kamu punya pertanyaan lebih lanjut mengenai kondisi ini, jangan ragu untuk bertanya ke dokter lewat aplikasi Halodoc. Melalui Halodoc, kamu bisa menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Bulimia Nervosa.
Eating Disorder Hope. Diakses pada 2020. IPT Therapy – How it is Used for Bulimia Nervosa.