• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Terlalu Banyak Makan Jeroan Picu Hiperkolesterolemia?

Terlalu Banyak Makan Jeroan Picu Hiperkolesterolemia?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Walaupun memiliki rasa yang gurih, ternyata mengonsumsi banyak jeroan dapat meningkatkan risiko kesehatan terlepas dari nilai gizinya. Jeroan memiliki kandungan kolesterol dan lemak jenuh yang tinggi.  

Karena itu, bila dikonsumsi dalam jumlah berlebihan dapat memicu hiperkolesterolemia. Suatu kondisi yang ditandai dengan tingginya kadar kolesterol dalam darah. Informasi selengkapnya mengenai mengonsumsi jeroan dan hiperkolesterolemia bisa dibaca di bawah ini! 

Meningkatkan Risiko pada Kesehatan

Tidak hanya kolesterol, jeroan juga mengandung purin, molekul yang berhubungan dengan kenaikan asam urat, sehingga mengonsumsinya memang harus serba dibatasi. Terlepas dari jeroan secara umum, kondisi hewan bagaimana dibesarkan juga dapat semakin meningkatkan risiko kesehatan.

Hewan yang telah terpapar racun dan pestisida akan memiliki toksisitas di organnya. Penting untuk diingat, bahwa organ-organ, seperti hati dan ginjal, bertindak sebagai filter untuk racun yang masuk ke dalam tubuh. Racun yang mengendap di dalam organ, kemudian organ ataupun jeroan diolah menjadi makanan akan berbahaya bila dikonsumsi oleh manusia.

Baca juga: Ketahui 6 Penyebab Kolesterol Tinggi

Seperti yang sudah ditekankan sebelumnya, tidak ada masalah dalam mengonsumsi jeroan. Hanya saja perlu batasan yang jelas supaya kamu tidak berlebihan dalam memakannya. Kalau dimakan dengan porsi sedang, justru jeroan dapat melengkapi diet seimbang dan sehatmu.

Butuh informasi lebih lengkap mengenai diet seimbang untuk hidup sehat, tanyakan saja langsung di Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Mewaspadai Hiperkolesterolemia

Kadar kolesterol LDL dapat menyebabkan arteri menyempit atau tersumbat yang memperlambat atau menghentikan aliran darah ke organ vital, terutama pada jantung dan otak. Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh National Cholesterol Education Program, selain mengonsumsi jeroan terlalu banyak, ada beberapa faktor yang dapat memicu peningkatan kadar kolesterol. Berikut ini faktor-faktornya:

  1. Pria dengan usia di atas 45 tahun.

  2. Wanita dengan usia di atas 55 tahun.

  3. Wanita dengan kondisi menopause dini.

  4. Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit arteri koroner prematur (ayah atau saudara laki-laki di bawah 55 tahun dengan penyakit arteri koroner atau ibu atau saudara perempuan yang lebih muda dari 65 tahun dengan penyakit arteri koroner).

  5. Merokok.

  6. Memiliki tekanan darah tinggi.

  7. Tidak memiliki cukup kolesterol baik (high density lipoprotein atau HDL).

Kebanyakan orang dengan kolesterol tinggi tidak memiliki gejala apapun, inilah yang harus diwaspadai. Ketika kondisi sudah parah gejalanya adalah nyeri dada yang berhubungan dengan jantung (angina) atau gejala lain penyakit arteri koroner serta gejala penurunan suplai darah ke otak (serangan iskemik transien atau stroke).

Baca juga: Santan Sebabkan Kolesterol Tinggi, Mitos atau Fakta?

Sekitar 1 dari setiap 500 orang memiliki kelainan bawaan yang disebut hiperkolesterolemia familial, yang dapat menyebabkan kadar kolesterol sangat tinggi (di atas 300 miligram per desiliter). Orang dengan kelainan ini dapat mengembangkan nodul yang penuh dengan kolesterol (xanthomas) pada berbagai tendon, terutama tendon achilles pada tungkai bawah. Deposit kolesterol juga dapat terjadi pada kelopak mata, di mana mereka disebut xanthelasma.

Komplikasi yang tidak diinginkan bisa menjadi akibat dari hiperkolesterolemia. Makanya, sangat penting untuk menjaga kesehatan yang dimulai dari pola hidup.

Referensi:

Medical News Today. Diakses pada 2020. Are organ meats good for you?
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2020. High Cholesterol (Hypercholesterolemia).