Ad Placeholder Image

Testosteron Dihasilkan Oleh Apa Saja? Yuk, Simak!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   23 Juni 2026

Testosteron Dihasilkan Oleh Testis dan Ovarium, Yuk Pahami

Testosteron Dihasilkan Oleh Apa Saja? Yuk, Simak!Testosteron Dihasilkan Oleh Apa Saja? Yuk, Simak!

DAFTAR ISI


Ketika mendengar kata hormon testosteron, hal pertama yang mungkin terlintas di pikiran kamu adalah simbol kejantanan pria. Mulai dari otot yang kekar, suara yang berat, hingga pertumbuhan rambut di wajah dan tubuh. Hal ini wajar, mengingat testosteron memang merupakan hormon seks utama pada laki-laki. Namun, tahukah kamu bahwa hormon ini juga memiliki peran krusial bagi tubuh wanita?

Hormon testosteron termasuk dalam kelompok hormon androgen. Dalam dunia medis, keberadaan hormon ini sangat penting tidak hanya untuk fungsi reproduksi dan gairah seksual, tetapi juga untuk menjaga kepadatan tulang, distribusi lemak, hingga produksi sel darah merah. Jika kadar testosteron tidak seimbang, baik terlalu rendah maupun terlalu tinggi, sistem metabolisme tubuh secara keseluruhan bisa mengalami gangguan.

Mengingat peranannya yang begitu vital, penting bagi kita untuk memahami dari mana sebenarnya hormon ini berasal. Banyak orang yang bertanya kepada dokter maupun mencari informasi secara mandiri mengenai organ apa saja yang memproduksinya, serta bagaimana cara kerja sistem endokrin dalam mengatur pelepasannya ke dalam aliran darah.

Bagi kamu yang sedang mendalami anatomi tubuh atau mungkin sedang mengalami keluhan seputar ketidakseimbangan hormon, memahami sumber produksi hormon ini adalah langkah awal yang tepat. Pertanyaan mendasar mengenai testosteron dihasilkan oleh organ apa saja akan kita bahas secara tuntas secara medis. Mari simak ulasan lengkapnya di bawah ini!

Organ Utama Penghasil Hormon Testosteron

Produksi testosteron dalam tubuh manusia tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses kompleks yang melibatkan poros Hipotalamus-Hipofisis-Gonad (HPA axis). Otak, melalui hipotalamus, mengirimkan sinyal ke kelenjar pituitari (hipofisis) di dasar otak. Kelenjar pituitari kemudian melepaskan Luteinizing Hormone (LH), yang akan melakukan perjalanan melalui aliran darah untuk memberikan perintah kepada organ-organ spesifik agar memproduksi testosteron. Berikut adalah organ-organ penghasilnya:

1. Testis pada Pria

Pada pria, sekitar 95% dari total testosteron diproduksi oleh testis. Di dalam anatomi testis, terdapat sel-sel khusus yang disebut dengan Sel Leydig. Ketika hormon LH dari kelenjar pituitari mencapai testis, hormon ini akan berikatan dengan reseptor pada Sel Leydig dan menstimulasi konversi kolesterol menjadi testosteron. Proses ini berlangsung secara terus-menerus sejak pria memasuki masa pubertas. Puncak produksi biasanya terjadi pada pagi hari dan akan sedikit menurun menjelang malam.

2. Ovarium pada Wanita

Meski identik dengan pria, wanita juga memproduksi testosteron, meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit (sekitar sepersepuluh hingga seperduapuluh dari kadar pria). Pada wanita, ovarium (indung telur) adalah organ utama yang memproduksinya. Testosteron pada wanita sangat penting karena sebagian besar akan diubah (dikonversi) menjadi hormon estrogen oleh enzim aromatase. Sisa testosteron yang tidak diubah akan digunakan untuk menjaga fungsi ovarium, kekuatan tulang, serta mengatur gairah seksual (libido) wanita.

3. Kelenjar Adrenal (Anak Ginjal)

Baik pada pria maupun wanita, sisa persentase kecil testosteron diproduksi oleh kelenjar adrenal. Kelenjar kecil berbentuk segitiga ini terletak tepat di atas ginjal. Kelenjar adrenal memproduksi dehydroepiandrosterone (DHEA) dan androstenedion, yang merupakan hormon prekursor (bahan baku). Hormon-hormon prekursor ini kemudian diubah menjadi testosteron dan estrogen di jaringan perifer tubuh. Pada wanita yang telah memasuki masa menopause (ketika ovarium berhenti berfungsi), kelenjar adrenal menjadi sumber utama produksi hormon androgen tubuh.

Faktor yang Memengaruhi Kadar Testosteron
  1. Usia: Secara alami, produksi testosteron pria akan menurun sekitar 1-2% setiap tahunnya setelah usia 30 atau 40 tahun.
  2. Obesitas: Jaringan lemak berlebih mengandung enzim aromatase yang mengubah testosteron menjadi estrogen, sehingga menurunkan kadar testosteron bebas.
  3. Stres Kronis: Tingginya hormon kortisol akibat stres dapat menekan sinyal dari otak yang memerintahkan produksi testosteron.
  4. Kondisi Medis: Penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit ginjal, dan gangguan tiroid sangat memengaruhi produksi hormon ini.

Fungsi Penting Hormon Testosteron dalam Tubuh

Setelah mengetahui organ yang menghasilkannya, kamu juga perlu memahami betapa luasnya fungsi hormon ini. Tidak sekadar urusan reproduksi, testosteron mengatur berbagai fungsi fisiologis yang krusial:

1. Mendukung Pertumbuhan Fisik dan Seksual

Pada masa janin, testosteron berperan dalam pembentukan organ kelamin pria. Saat pubertas, hormon ini memicu pertumbuhan rambut kemaluan, dada, wajah, serta pembesaran ukuran penis dan testis. Selain itu, pita suara akan menebal sehingga menghasilkan suara yang lebih berat (bas).

2. Memelihara Massa Otot dan Tulang

Testosteron adalah hormon anabolik. Ini berarti hormon ini merangsang sintesis protein yang penting untuk membangun dan mempertahankan massa otot. Selain itu, testosteron membantu memelihara kepadatan mineral tulang. Pria atau wanita dengan kadar testosteron yang terlalu rendah memiliki risiko lebih tinggi terkena osteoporosis atau tulang keropos.

3. Mengatur Fungsi Kognitif dan Mood

Kadar hormon yang sehat berkontribusi pada energi sehari-hari, konsentrasi, dan regulasi mood (suasana hati). Ketidakseimbangan testosteron sering kali dikaitkan dengan kelelahan kronis (fatigue), mudah marah, hingga risiko depresi, terutama pada pria paruh baya yang mengalami penurunan hormon drastis.

4. Produksi Sel Darah Merah

Hormon ini merangsang sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah. Itulah sebabnya mengapa pria umumnya memiliki jumlah sel darah merah yang sedikit lebih tinggi dibandingkan wanita. Kadar testosteron yang rendah dapat menyebabkan anemia ringan pada beberapa kasus.

Tanda dan Gejala Ketidakseimbangan Hormon

Ketidakseimbangan hormon bisa menimbulkan keluhan kesehatan yang signifikan. Secara klinis, dokter membedakan gejala berdasarkan jenis kelamin pasien:

1. Pada Pria (Kadar Testosteron Rendah / Hipogonadisme)

Jika testis tidak memproduksi cukup hormon, seorang pria bisa mengalami kondisi yang disebut hipogonadisme. Gejalanya meliputi penurunan gairah seksual (libido) yang drastis, disfungsi ereksi, kerontokan rambut, berkurangnya massa otot, pembesaran payudara (ginekomastia), serta gangguan tidur. Jika kondisi ini dibiarkan, kualitas hidup pasien bisa menurun drastis. Penanganannya memerlukan diagnosis dokter dan mungkin membutuhkan terapi penggantian testosteron (TRT) yang hanya bisa diberikan dengan resep dokter.

2. Pada Wanita (Kadar Testosteron Terlalu Tinggi)

Kasus yang sering terjadi pada wanita bukanlah kekurangan, melainkan kelebihan hormon testosteron. Kondisi ini sangat erat kaitannya dengan Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS). Gejalanya meliputi siklus menstruasi yang tidak teratur atau berhenti sama sekali, munculnya jerawat kistik yang parah, kebotakan berpola seperti pria, serta pertumbuhan rambut berlebih di area wajah, dada, atau punggung (hirsutisme).

Cara Alami Menjaga Kadar Testosteron Tetap Ideal

Gaya hidup modern yang kurang gerak dan pola makan buruk sangat rentan merusak keseimbangan hormon. Berikut adalah langkah medis yang direkomendasikan untuk menjaga kadarnya:

1. Rutin Berolahraga, Terutama Latihan Beban

Studi medis membuktikan bahwa aktivitas fisik secara teratur adalah cara paling efektif untuk mencegah penurunan testosteron akibat penuaan. Latihan ketahanan (resistance training) seperti angkat beban dan latihan interval intensitas tinggi (HIIT) adalah jenis olahraga terbaik yang memicu tubuh memproduksi testosteron dan hormon pertumbuhan.

2. Konsumsi Makanan Kaya Zinc dan Vitamin D

Nutrisi sangat berperan penting. Zinc (seng) adalah mineral esensial yang sangat dibutuhkan oleh Sel Leydig dalam memproduksi testosteron. Zinc bisa didapatkan dari tiram, daging merah, dan kacang-kacangan. Selain itu, Vitamin D berfungsi seperti hormon steroid di dalam tubuh dan sangat penting untuk kesehatan seksual pria. Jika tubuh kekurangan Vitamin D, produksi testosteron bisa menurun.

3. Optimalkan Kualitas Tidur Malam

Tahukah kamu bahwa sebagian besar pelepasan testosteron harian terjadi saat kita berada pada fase tidur dalam (deep sleep)? Kurang tidur atau menderita sleep apnea dapat menurunkan kadar testosteron pria secara drastis layaknya menua 10 tahun lebih cepat. Pastikan kamu tidur 7-8 jam tanpa gangguan setiap malamnya.

4. Manajemen Stres dan Penurunan Berat Badan

Stres jangka panjang meningkatkan kadar kortisol. Kortisol dan testosteron bekerja seperti jungkat-jungkit; saat kortisol naik, testosteron akan turun. Selain itu, mengurangi lemak tubuh (visceral fat) adalah langkah wajib. Lemak perut bertindak seperti spons hormon yang menyerap testosteron dan mengubahnya menjadi estrogen.

Studi Terkait Testosteron dan Kesehatan Metabolik

The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism menerbitkan sebuah studi komprehensif yang menjelaskan bahwa pria dengan kondisi obesitas dan diabetes tipe 2 memiliki risiko 50% lebih tinggi mengalami defisiensi testosteron dibandingkan pria sehat. Penurunan berat badan dan modifikasi gaya hidup terbukti mampu mengembalikan kadar hormon ke tingkat normal secara signifikan.

Hal ini menegaskan bahwa hormon testosteron tidak hanya soal sistem reproduksi, tetapi merupakan indikator penting dari status kesehatan metabolik dan kardiovaskular seseorang secara menyeluruh. Terapi hormon hanya boleh dilakukan jika modifikasi gaya hidup tidak membuahkan hasil dan harus di bawah pengawasan ketat dokter spesialis endokrinologi atau urologi.

Jika kamu atau pasangan mengalami gejala-gejala penurunan hormon seperti kelelahan ekstrem, perubahan mood yang tidak menentu, atau gangguan fungsi seksual yang mengganggu aktivitas harian, sebaiknya jangan mendiagnosis diri sendiri. Kondisi ketidakseimbangan hormon memerlukan pemeriksaan medis menyeluruh, termasuk tes darah laboratorium, untuk memastikan kadarnya secara akurat.

Kamu bisa mendapatkan berbagai produk kesehatan, vitamin pendukung daya tahan tubuh, dan suplemen zinc atau vitamin D dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Produk dijamin asli dan diantar langsung ke depan pintu rumahmu.

Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis andrologi atau endokrinologi terkait masalah hormon yang sedang dialami melalui Halodoc secara langsung dari smartphone kamu.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Testosterone therapy: Potential benefits and risks as you age.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Low Testosterone (Male Hypogonadism).
National Institutes of Health (NCBI). Diakses pada 2024. Physiology, Testosterone.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Endocrine disrupting chemicals.
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2024. Testosterone — What It Does And Doesn’t Do.

FAQ

1. Sebenarnya hormon testosteron dihasilkan oleh organ apa saja pada manusia?

Pada pria, sekitar 95% testosteron dihasilkan oleh testis (sel Leydig), sedangkan sisanya oleh kelenjar adrenal. Pada wanita, hormon ini dihasilkan dalam jumlah kecil oleh ovarium (indung telur) dan kelenjar adrenal.

2. Apakah benar wanita juga memiliki dan membutuhkan hormon testosteron?

Ya, sangat benar. Walaupun jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding pria, testosteron pada wanita sangat penting untuk mengatur gairah seksual (libido), menjaga kepadatan tulang, memelihara otot, dan sebagian besar akan diubah menjadi hormon estrogen untuk mendukung sistem reproduksi.

3. Apa ciri-ciri fisik jika tubuh kekurangan hormon testosteron?

Ciri fisik yang sering muncul pada pria antara lain menurunnya massa dan kekuatan otot, peningkatan lemak tubuh (terutama perut), rambut rontok yang lebih cepat, kelelahan kronis, serta penurunan gairah seksual yang disertai disfungsi ereksi.

4. Apakah suplemen di pasaran bisa meningkatkan kadar testosteron dengan instan?

Tidak ada suplemen bebas yang bisa meningkatkan testosteron secara instan dan drastis. Suplemen yang mengandung zinc, magnesium, atau vitamin D hanya membantu mengoptimalkan produksi alami tubuh jika kamu memang mengalami defisiensi nutrisi tersebut. Terapi peningkatan hormon yang signifikan hanya bisa dilakukan melalui medis (suntik atau gel testosteron) berdasarkan resep dari dokter.