• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Tidak Semua Wanita Perlu Pemeriksaan Pap Smear, Benarkah?

Tidak Semua Wanita Perlu Pemeriksaan Pap Smear, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta – Pap smear merupakan prosedur yang menguji kanker serviks pada wanita. Kanker serviks terjadi saat tumor ganas ditemukan di serviks seorang wanita, bagian bawah rahim yang membuka ke dalam vagina. Pemeriksaan pap smear dapat mendeteksi sel-sel abnormal pada serviks, yang merupakan langkah pertama dalam menghentikan kemungkinan perkembangan kanker serviks. 

Perlu kamu ketahui bahwa hasil pemeriksaan yang positif tidak selalu berarti kamu mengalami kanker serviks. Namun, itu berarti kamu akan memerlukan pengujian tambahan untuk menentukan jenis sel abnormal yang ada dan jika seorang wanita memerlukan perawatan selanjutnya. Terutama jika hanya sel serviks normal yang ditemukan, kamu tidak akan memerlukan perawatan atau pengujian lebih lanjut hingga pap smear dan pemeriksaan panggul berikutnya. 

Pemeriksaan Pap Smear Tidak Menurunkan Risiko

Sebagian besar wanita usia 21 hingga 69 tahun membutuhkan pemeriksaan pap smear secara teratur. Namun, gadis remaja dan wanita yang lebih tua biasanya tidak membutuhkannya. Berikut alasannya!

1. Pemeriksaan Pap Smear Biasanya Tidak Membantu Wanita Berisiko Rendah

Banyak wanita memiliki risiko yang sangat rendah untuk kanker serviks. 

  • Kanker serviks jarang terjadi pada wanita berusia di bawah 21 tahun, bahkan jika mereka aktif secara seksual. Sel abnormal pada wanita muda biasanya kembali normal tanpa pengobatan. 
  • Kanker serviks jarang terjadi pada wanita di atas 69 tahun yang telah melakukan pemeriksaan pap smear teratur dengan hasil normal.
  • Pemeriksaan pap smear tidak berguna bagi wanita yang leher rahimnya diangkat selama histerektomi, kecuali histerektomi dilakukan karena ada sel kanker atau pra-kanker di serviks. 

2 . Setelah Melakukan Pap Smear, Wanita Tetap Berisiko

Pemeriksaan pap smear tidak nyaman dan menyebabkan pendarahan sedikit. Pemeriksaan dapat menunjukkan sesuatu yang tidak terlihat normal, tetapi akan hilang dengan sendirinya. Hasil abnormal menyebabkan kecemasan dan mereka dapat menyebabkan pemeriksaan pap smear berulang dan perawatan lanjutan yang mungkin tidak kamu butuhkan. 

  1. Kapan Sebaiknya Pemeriksaan Pap Smear Dilakukan?

Hal ini tergantung pada usia, riwayat kesehatan, dan risiko seorang wanita. 

  • Usia 21 hingga 29 tahun: Sebagian besar pedoman sebuah provinsi merekomendasikan bahwa jika seseorang wanita berusia setidaknya 21 tahun dan aktif secara seksual, harus melakukan pemeriksaan pap smear setiap tiga tahun. 
  • Usia 30 hingga 69 tahun: Seorang wanita sebaiknya melakukan pemeriksaan pap smear setiap tiga tahun. 
  • Usia 70 atau lebih: Tidak memerlukan pemeriksaan pap smear lagi jika tiga tes sebelumnya sudah normal. 
  • Faktor-faktor risiko termasuk sel-sel pra-kanker di serviks, riwayat kanker serviks, atau sistem kekebalan tubuh yang lemah. Jika salah satu dari ini berlaku untuk kamu, tanyakan pada dokter melalui aplikasi Halodoc sebaiknya seberapa sering kamu melakukan pemeriksaan pap smear. 

Melindungi Diri Dari Kanker Serviks

Cara terbaik untuk melindungi diri kamu dari kanker serviks adalah melindungi diri dari human papilloma virus (HPV). HPV adalah infeksi menular seksual yang dapat menyebabkan kanker serviks. 

Dapatkan vaksin HPV. Anak perempuan harus mendapatkan vaksin saat berusia 11 atau 12 tahun. Ini diberikan dalam tiga suntikan selama enam bulan. Anak perempuan dan wanita dewasa berusia 13 hingga 26 tahun harus mendapatkan vaksin jika belum pernah mendapatkannya. 

Wanita yang mendapatkan vaksin masih memerlukan pemeriksaan pap smear rutin, karena vaksin tidak melindungi terhadap semua jenis HPV yang dapat menyebabkan kanker. Sementara anak laki-laki dan pria dewasa juga bisa mendapatkan vaksin. Ini dapat membantu melindungi mereka dari HPV dan dari penyebaran HPV ke pasangan seksual mereka. 

 

Referensi:
Choosing Wisely Canada. Diakses pada 2020. Pap Tests: When you need them and when you don’t.
Intermountain Healthcare. Diakses pada 2020. Do You Really Need a Pap Smear? Here’s How it Can Save Your Life