Kenali Lasa Obat yang Mirip Agar Tidak Salah Pakai

DAFTAR ISI
- Apa Itu Obat LASA?
- Mengapa Obat LASA Sangat Berbahaya?
- Kategori dan Contoh Obat LASA
- Cara Mencegah Kesalahan Konsumsi Obat LASA
- Strategi Apotek dalam Menangani LASA
- Studi Terkait Keamanan Obat LASA
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Pernahkah kamu pergi ke apotek atau rumah sakit, menerima sekantung obat, lalu menyadari ada dua kotak obat yang bentuk dan warnanya sangat mirip padahal fungsinya berbeda? Atau mungkin, kamu pernah mendengar nama dua jenis obat yang pengucapannya hampir sama persis sehingga membingungkan? Kondisi inilah yang dalam dunia medis dan farmasi dikenal dengan istilah LASA.
Isu mengenai keselamatan pasien (patient safety) merupakan prioritas utama dalam pelayanan kesehatan. Salah satu tantangan terbesar yang sering dihadapi oleh tenaga kesehatan, mulai dari dokter, perawat, hingga apoteker, adalah mencegah terjadinya medication error atau kesalahan pemberian obat. Kesalahan ini bisa terjadi di tahap mana saja, mulai dari penulisan resep, penyiapan obat di apotek, hingga saat obat diminum oleh pasien di rumah.
Mengetahui dan memahami apa itu obat LASA sangatlah penting bukan hanya bagi tenaga medis, tetapi juga bagi kamu sebagai pasien atau keluarga pasien. Dengan pemahaman yang baik, kamu bisa menjadi benteng pertahanan terakhir untuk mencegah kesalahan konsumsi obat yang berpotensi membahayakan nyawa.
Nah, mau tahu apa itu LASA, mengapa hal ini bisa terjadi, dan bagaimana cara menghindarinya agar kamu tidak salah minum obat? Berikut ulasan lengkap dari kacamata farmasi!
Apa Itu Obat LASA?
LASA adalah singkatan dari Look-Alike, Sound-Alike. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga sering menggunakan istilah NORUM, yang merupakan kependekan dari Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip. Seperti namanya, ini adalah kelompok obat-obatan yang memiliki kemasan, bentuk fisik, warna, atau nama yang sangat mirip satu sama lain.
Kemiripan ini bisa menjadi jebakan yang sangat berbahaya jika tidak dikelola dengan hati-hati. Obat LASA dibagi menjadi dua karakteristik utama:
1. Look-Alike (Rupa Mirip)
Ini merujuk pada obat-obatan yang secara visual terlihat serupa. Kemiripan ini bisa terjadi karena desain kemasan dari pabrik farmasi yang seragam untuk berbagai jenis obat (corporate trade dress), bentuk tablet atau kapsul yang sama, atau warna blister yang identik. Bahkan, obat dengan zat aktif yang sama namun memiliki dosis yang berbeda (misalnya tablet 5 mg dan 10 mg) sering kali dikemas dalam kotak yang nyaris tidak bisa dibedakan kecuali dibaca dengan sangat teliti.
2. Sound-Alike (Ucapan Mirip)
Ini merujuk pada nama obat yang terdengar mirip saat diucapkan secara lisan, atau terlihat mirip saat ditulis dengan tangan (terutama jika tulisan tangan dokter kurang jelas). Kemiripan nama ini bisa terjadi pada nama generik maupun nama dagang (merek). Contohnya, Cefotaxime dan Ceftriaxone adalah dua jenis antibiotik yang namanya mirip, tulisan tangannya bisa terlihat sama, namun indikasinya bisa saja berbeda dalam protokol klinis tertentu.
Mengapa Obat LASA Sangat Berbahaya?
Kesalahan mengambil atau mengonsumsi obat LASA dapat berujung pada medication error yang serius. Dampaknya bagi tubuh bisa sangat bervariasi, mulai dari yang ringan hingga fatal. Jika pasien salah meminum obat, ada beberapa skenario buruk yang bisa terjadi.
Pertama, kegagalan terapi. Jika pasien membutuhkan obat penurun tekanan darah tinggi namun malah meminum obat dengan nama mirip yang berfungsi untuk diabetes, maka tekanan darahnya tidak akan turun, sementara kadar gula darahnya bisa drop drastis secara tiba-tiba (hipoglikemia).
Kedua, toksisitas atau overdosis. Jika pasien keliru mengambil dosis obat yang lebih tinggi karena kemasannya persis dengan dosis rendah yang biasa ia minum, organ tubuh seperti hati dan ginjal bisa mengalami keracunan. Oleh karena itu, jika kamu merasakan gejala medis yang tidak wajar setelah minum obat, jangan tunda untuk segera berkonsultasi dengan dokter untuk penanganan darurat.
Faktor Pemicu Kesalahan Obat LASA di Lapangan
- Tulisan tangan resep yang sulit dibaca atau disingkat sembarangan.
- Pemesanan obat secara lisan melalui telepon yang tidak dieja dengan metode alfabet fonetik.
- Kondisi apotek atau rumah sakit yang terlalu sibuk sehingga petugas kurang fokus.
- Pencahayaan ruangan yang kurang memadai saat meracik atau meminum obat.
- Penyimpanan obat di rumah yang digabung dalam satu wadah tanpa label.
Kategori dan Contoh Obat LASA
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut adalah beberapa contoh pasangan obat yang sering masuk dalam daftar kewaspadaan LASA di apotek maupun rumah sakit. (Catatan: Ini adalah contoh edukasi, beberapa di antaranya adalah obat keras yang memerlukan resep dokter).
1. Nama Obat yang Terdengar Mirip (Sound-Alike)
Contoh klasik yang sering membingungkan adalah Asam Mefenamat (obat pereda nyeri) dengan Asam Traneksamat (obat penghenti pendarahan). Keduanya diawali dengan kata “Asam” dan diakhiri dengan “mat”. Jika ditulis dengan cepat, apoteker harus sangat teliti mengonfirmasi keluhan pasien sebelum menyerahkan obat.
Contoh lainnya adalah Amlodipine (obat antihipertensi) dengan Nifedipine (juga obat antihipertensi namun dengan durasi kerja dan efek samping yang berbeda). Ada juga Ephedrine (obat untuk tekanan darah rendah / asma) dengan Epinephrine (adrenalin untuk syok anafilaktik darurat).
2. Kemasan yang Terlihat Mirip (Look-Alike)
Sering kali pabrik farmasi menggunakan desain template untuk semua produk mereka. Misalnya, obat batuk sirup dan obat penurun panas sirup anak dari merek yang sama sering menggunakan botol, warna kotak, dan desain grafis yang 100% sama. Pembedanya hanyalah tulisan kecil “Paracetamol” atau “Ambroxol”. Hal ini sangat rawan tertukar oleh orang tua saat panik mengurus anak sakit di malam hari.
3. Dosis Berbeda, Kemasan Sama
Obat seperti Candesartan 8 mg dan Candesartan 16 mg sering memiliki warna blister yang sama. Jika pasien lansia yang penglihatannya sudah menurun meminum dosis 16 mg padahal resepnya 8 mg, hal ini bisa menyebabkan hipotensi (tekanan darah anjlok).
Kini, demi keamanan dan kemudahan, saat kamu membeli produk kesehatan, vitamin, atau obat bebas di platform digital terpercaya, pastikan kamu selalu membaca detail deskripsi produk, dosis, serta zat aktifnya sebelum melakukan checkout.
Cara Mencegah Kesalahan Konsumsi Obat LASA di Rumah
Menyerahkan keamanan pengobatan 100% kepada tenaga medis tidaklah cukup. Pasien dan keluarga juga harus berperan aktif menjadi smart patient. Berikut adalah langkah perlindungan yang bisa kamu terapkan:
1. Terapkan Prinsip “Baca Tiga Kali”
Biasakan untuk selalu membaca label obat sebanyak tiga kali: pertama saat menerima obat dari apoteker, kedua saat akan mengeluarkan obat dari kemasan sebelum diminum, dan ketiga saat akan mengembalikan sisa obat ke dalam kotak penyimpanannya.
2. Kenali Nama Generik (Zat Aktif) Obatmu
Jangan hanya menghafal merek obat atau warna tabletnya. Merek bisa berganti jika apotek kehabisan stok, dan warna tablet bisa berbeda antar pabrik. Hafalkan nama zat aktifnya (misalnya “Paracetamol”, bukan sekadar “Obat Panas Warna Biru”).
3. Jangan Membuang Kemasan Asli Obat
Kesalahan fatal sering terjadi karena orang memindahkan berbagai macam tablet ke dalam satu botol polos atau wadah plastik tanpa keterangan untuk menghemat tempat. Selalu simpan obat di dalam kemasan aslinya yang memuat informasi nama obat, dosis, cara pakai, dan tanggal kedaluwarsa (expired date).
4. Bertanya Saat Ragu
Jika kamu menebus resep obat rutin namun menyadari bentuk atau warna tablet yang kamu terima berbeda dari bulan lalu, jangan langsung diminum. Tanyakan kembali kepada apoteker. Bisa jadi itu adalah obat yang sama dari pabrik berbeda, atau bisa jadi telah terjadi kesalahan pengambilan obat (LASA).
Strategi Fasilitas Kesehatan dalam Menangani LASA
Rumah sakit dan apotek memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat terkait penyimpanan dan penyerahan obat LASA untuk meminimalisasi risiko human error. Jika kamu berkunjung ke apotek dan melihat rak obat, kamu mungkin akan menyadari beberapa sistem keamanan ini.
1. Penerapan Tall Man Lettering
Ini adalah metode penulisan nama obat yang direkomendasikan oleh WHO dan Institute for Safe Medication Practices (ISMP). Tall Man Lettering menggunakan huruf kapital pada bagian nama obat yang berbeda untuk mencolokkan perbedaannya dengan obat yang namanya mirip. Contohnya penulisan chlorproMAZINE dan chlorproPAMIDE, atau niCARdipine dan niFEDipine. Huruf kapital di tengah ini memaksa otak apoteker untuk berhenti sejenak dan membaca lebih teliti.
2. Penyimpanan yang Tidak Bersebelahan
Obat-obatan yang masuk dalam daftar LASA tidak boleh diletakkan berdampingan di rak apotek, meskipun secara urutan abjad seharusnya bersebelahan. Harus ada jarak atau diselingi oleh minimal satu atau dua obat lain yang namanya dan bentuknya sama sekali tidak mirip.
3. Penggunaan Stiker Peringatan LASA
Setiap kotak penyimpanan obat LASA wajib ditempeli stiker khusus (biasanya berwarna kuning atau merah dengan tulisan LASA yang mencolok) sebagai “alarm visual” bagi petugas farmasi agar mengambil obat dengan tingkat kehati-hatian ekstra.
Studi Terkait Keamanan Obat LASA
Journal of Patient Safety menerbitkan sebuah literatur ilmiah yang menjelaskan bahwa kesalahan terkait nama obat (LASA) berkontribusi hingga 25% dari total medication errors di seluruh dunia. Laporan tersebut menegaskan bahwa sistem pelabelan yang kurang informatif dan kelelahan staf medis menjadi faktor risiko utama.
Studi ini menyoroti betapa pentingnya penggunaan teknologi seperti barcode scanning sebelum obat diserahkan ke pasien. Selain itu, edukasi aktif dari apoteker kepada pasien mengenai indikasi dan nama obat saat penyerahan terbukti menurunkan angka kejadian bahaya akibat konsumsi obat yang salah di rumah.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Medication Without Harm.
Institute for Safe Medication Practices (ISMP). Diakses pada 2024. ISMP List of Confused Drug Names.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Keselamatan Pasien dan Manajemen Risiko Klinis.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Look-Alike, Sound-Alike (LASA) Drugs: A Threat to Patient Safety.
FAQ
1. Apa arti sebenarnya dari obat LASA?
LASA adalah singkatan dari Look-Alike Sound-Alike. Ini adalah kelompok obat yang memiliki kemasan atau bentuk fisik yang sangat mirip (look-alike) atau memiliki nama obat yang pengucapannya hampir sama (sound-alike), sehingga sangat rawan tertukar.
2. Bagaimana cara paling mudah mengenali obat LASA di rumah?
Cara termudah adalah dengan mengecek komposisi atau zat aktif obat, bukan hanya mereknya. Jika kamu memiliki dua obat dari merek yang sama dengan kemasan yang mirip, segera baca dan tandai bagian dosis atau zat aktifnya menggunakan spidol permanen agar tidak tertukar.
3. Apa yang harus saya lakukan jika terlanjur minum obat LASA yang salah?
Jangan panik namun jangan diabaikan. Segera bawa kemasan obat yang salah diminum tersebut ke IGD rumah sakit terdekat atau hubungi dokter. Beritahukan dengan jujur apa obat yang tertelan, berapa dosisnya, dan kapan waktu kejadiannya agar dokter bisa memberikan tindakan penawar yang tepat.
4. Mengapa apoteker sering menulis nama obat dengan huruf kapital di tengah (Tall Man Lettering)?
Teknik Tall Man Lettering (misalnya penulisan DOPamine dan DOBUTamine) sengaja digunakan oleh farmasi untuk menonjolkan perbedaan suku kata pada obat-obat LASA. Hal ini secara psikologis akan membuat mata lebih awas sehingga mencegah petugas mengambil obat yang salah.








