Ad Placeholder Image

Transfusi Sel Darah Putih: Harapan Baru Lawan Infeksi

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   08 Mei 2026

Transfusi Sel Darah Putih: Bantu Atasi Infeksi Bandel

Transfusi Sel Darah Putih: Harapan Baru Lawan InfeksiTransfusi Sel Darah Putih: Harapan Baru Lawan Infeksi

Transfusi sel darah putih, atau dikenal juga sebagai transfusi leukosit, adalah prosedur medis yang bertujuan untuk memindahkan sel darah putih sehat dari seorang donor ke pasien. Prosedur ini sangat jarang dilakukan, biasanya menjadi pilihan terakhir bagi individu yang mengalami infeksi parah dan memiliki jumlah sel darah putih sangat rendah (neutropenia) akibat kondisi seperti kemoterapi intensif atau gangguan sumsum tulang. Tujuan utama tindakan ini adalah membantu sistem kekebalan tubuh pasien melawan infeksi yang mengancam jiwa, terutama ketika pengobatan antibiotik tidak lagi efektif.

Apa Itu Transfusi Sel Darah Putih?

Transfusi sel darah putih merupakan prosedur khusus yang melibatkan pemindahan jenis sel darah putih tertentu, yaitu granulosit, dari darah donor ke tubuh pasien. Granulosit adalah bagian penting dari sistem kekebalan tubuh yang bertugas melawan bakteri, jamur, dan mikroorganisme lain penyebab infeksi. Prosedur ini berbeda dengan transfusi darah pada umumnya yang lebih sering mentransfer sel darah merah atau trombosit.

Prosedur ini jarang dilakukan dan dipertimbangkan secara cermat karena kompleksitas serta potensi risikonya. Penilaian menyeluruh oleh tim medis sangat diperlukan sebelum memutuskan untuk melaksanakannya.

Kapan Transfusi Sel Darah Putih Diperlukan?

Indikasi utama dilakukannya transfusi sel darah putih adalah kondisi neutropenia berat yang disertai dengan infeksi yang parah dan mengancam jiwa. Neutropenia adalah kondisi di mana jumlah neutrofil, jenis granulosit yang paling umum, sangat rendah dalam darah.

  • Neutropenia Akibat Kemoterapi atau Gangguan Sumsum Tulang. Pasien yang menjalani kemoterapi untuk kanker sering mengalami penekanan sumsum tulang, yang berakibat pada penurunan produksi sel darah putih. Demikian pula, individu dengan penyakit sumsum tulang tertentu juga bisa mengalami neutropenia.
  • Infeksi Berat yang Tidak Responsif Terhadap Antibiotik. Ketika pasien dengan neutropenia parah mengembangkan infeksi bakteri atau jamur yang persisten dan tidak membaik dengan terapi antibiotik dosis tinggi, transfusi granulosit dapat menjadi pertimbangan. Infeksi ini seringkali menjadi fatal jika tidak ditangani secara efektif.
  • Kondisi Mengancam Jiwa. Prosedur ini dikhususkan untuk situasi di mana nyawa pasien terancam oleh infeksi dan sistem kekebalan tubuh pasien sendiri tidak mampu memberikan respons yang memadai.

Bagaimana Proses Transfusi Sel Darah Putih Dilakukan?

Proses ini melibatkan beberapa tahapan yang membutuhkan persiapan dan pengawasan ketat:

  • Pengambilan Sel dari Donor. Sel darah putih, khususnya granulosit, diambil dari donor yang sehat melalui prosedur yang disebut aferesis. Dalam aferesis, darah donor ditarik keluar, sel darah putih dipisahkan, dan komponen darah lainnya dikembalikan ke donor.
  • Pemilihan Donor. Donor sel darah putih harus memenuhi kriteria kesehatan yang ketat dan seringkali merupakan individu yang memiliki kecocokan golongan darah atau jaringan dengan pasien untuk meminimalkan risiko reaksi.
  • Penyimpanan dan Penggunaan. Granulosit memiliki masa hidup yang sangat singkat. Oleh karena itu, sel darah putih yang telah dikumpulkan harus segera digunakan, idealnya dalam waktu 24 jam setelah pengambilan untuk memastikan efektivitasnya.
  • Proses Transfusi. Sel darah putih yang telah disiapkan kemudian diberikan kepada pasien melalui jalur intravena, mirip dengan transfusi darah pada umumnya.
  • Pengawasan Medis Ketat. Selama dan setelah transfusi, pasien akan diawasi secara intensif oleh dokter hematologi dan tim medis terlatih untuk memantau kemungkinan reaksi atau efek samping.

Risiko dan Pertimbangan dalam Transfusi Sel Darah Putih

Meskipun memiliki potensi menyelamatkan jiwa, transfusi sel darah putih memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan:

  • Reaksi Transfusi. Pasien dapat mengalami berbagai reaksi, termasuk demam, menggigil, gatal-gatal, atau bahkan reaksi alergi yang lebih serius. Oleh karena itu, pengawasan ketat sangat penting.
  • Penularan Infeksi. Meskipun donor telah melalui skrining ketat, risiko penularan infeksi tertentu, meskipun sangat kecil, tetap ada.
  • Reaksi Imunologis. Ada risiko sistem kekebalan tubuh pasien mengenali sel darah putih donor sebagai benda asing dan menyerangnya.
  • Ketersediaan Granulosit. Ketersediaan granulosit dari donor yang cocok seringkali menjadi tantangan, mengingat masa simpannya yang sangat singkat.

Peran Dokter Hematologi dalam Transfusi Sel Darah Putih

Dokter hematologi memiliki peran sentral dalam setiap tahap prosedur transfusi sel darah putih. Mereka bertanggung jawab untuk:

  • Menilai indikasi secara cermat dan menentukan apakah prosedur ini merupakan pilihan terbaik untuk kondisi pasien.
  • Mengelola proses pengambilan dan transfusi sel darah putih.
  • Mengawasi pasien selama dan setelah transfusi untuk mendeteksi serta mengatasi potensi reaksi atau komplikasi.
  • Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai manfaat dan risiko prosedur.

Jika memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai kondisi kesehatan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Melalui Halodoc, dapat dengan mudah menghubungi dokter spesialis untuk mendapatkan informasi dan rekomendasi medis yang akurat.