Ad Placeholder Image

Trombosit Rendah, Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Trombosit rendah bisa membuat tubuh mudah mengalami memar.

Trombosit Rendah, Ini Penyebab, Gejala, dan PengobatanTrombosit Rendah, Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

DAFTAR ISI


Ketika melihat hasil tes darah dan menemukan angka keping darah berada di bawah batas normal, banyak orang langsung panik dan bertanya-tanya, “trombosit turun sakit apa?”. Kondisi penurunan keping darah ini dalam dunia medis dikenal dengan istilah trombositopenia. Trombositopenia bukanlah sebuah penyakit yang berdiri sendiri, melainkan sebuah tanda klinis atau gejala dari kondisi medis lain yang mendasarinya.

Kondisi ini sangat penting untuk ditangani secara saksama karena keping darah memegang peranan krusial dalam proses pembekuan darah. Jika kadarnya terlalu rendah, tubuh akan kehilangan kemampuannya untuk menghentikan perdarahan secara efektif. Luka kecil pun bisa terus mengucurkan darah, dan yang paling berbahaya adalah risiko terjadinya perdarahan organ dalam secara spontan tanpa adanya benturan fisik sama sekali.

Memahami penyebab di balik turunnya keping darah adalah langkah pertama yang paling penting untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Masyarakat di Indonesia sering kali langsung mengaitkan kondisi ini dengan Demam Berdarah Dengue (DBD). Padahal, kenyataannya ada belasan kondisi medis dan penyakit lain yang bisa menyebabkan hancurnya keping darah atau terganggunya produksi keping darah di sumsum tulang belakang.

Nah, untuk menjawab rasa penasaran kamu mengenai trombosit turun sakit apa saja, mari kita bedah satu per satu berbagai penyakit dan kondisi yang memicu masalah kesehatan ini beserta gejala dan cara penanganannya!

Mengenal Fungsi Trombosit dan Kadar Normalnya

Sebelum membahas lebih jauh mengenai penyakitnya, kita perlu memahami terlebih dahulu apa itu trombosit. Trombosit (platelet) adalah sel darah berukuran sangat kecil yang tidak memiliki nukleus. Sel ini diproduksi di sumsum tulang belakang oleh sel raksasa yang disebut megakariosit. Setelah diproduksi, sel-sel ini dilepaskan ke dalam aliran darah dan memiliki siklus hidup yang cukup singkat, yaitu hanya sekitar 7 hingga 10 hari sebelum akhirnya dihancurkan oleh limpa dan digantikan oleh sel yang baru.

Tugas utama sel ini adalah menambal kerusakan pada pembuluh darah. Ketika kamu tergores atau terluka, sel ini akan bergegas menuju area luka, saling menempel satu sama lain, dan membentuk sumbatan awal (plug). Setelah itu, mereka akan melepaskan zat kimia yang memicu serangkaian kaskade pembekuan darah bersama dengan protein plasma untuk membentuk jaring fibrin yang kuat sehingga darah berhenti mengalir.

Pada individu dewasa yang sehat, kadar keping darah normal berkisar antara 150.000 hingga 450.000 per mikroliter darah. Jika angkanya berada di bawah 150.000, kondisi inilah yang disebut trombositopenia. Namun, risiko perdarahan serius biasanya baru muncul ketika kadarnya anjlok hingga di bawah 50.000 per mikroliter darah. Jika angka tersebut menyentuh di bawah 10.000 hingga 20.000, risiko perdarahan internal yang mengancam nyawa, seperti perdarahan di otak atau saluran cerna, akan meningkat drastis.

Trombosit Turun Sakit Apa? Ini Berbagai Kemungkinan Penyakitnya

Secara garis besar, keping darah bisa turun karena tiga alasan utama: sumsum tulang tidak memproduksi cukup trombosit, tubuh menghancurkan trombosit lebih cepat daripada memproduksinya, atau trombosit terperangkap di dalam organ limpa yang membesar. Berikut adalah daftar penyakit yang sering menjadi biang keladinya:

1. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Ini adalah jawaban paling umum di Indonesia untuk pertanyaan trombosit turun sakit apa. Infeksi virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini menyebabkan jumlah keping darah menurun tajam. Virus ini secara langsung menginfeksi sumsum tulang sehingga produksi darah terganggu. Selain itu, sistem imun tubuh yang berusaha melawan virus justru menghasilkan antibodi yang secara tidak sengaja ikut menghancurkan sel keping darah sehat. Jika kamu atau anggota keluarga mengalami gejala demam tinggi tak kunjung reda disertai bintik merah dan lemas, sebaiknya jangan ditunda. Kamu bisa langsung konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan arahan dan penanganan medis yang cepat dan tepat.

2. Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP)

ITP, atau yang sekarang sering disebut Immune Thrombocytopenia, adalah sebuah penyakit autoimun. Pada penderita ITP, sistem kekebalan tubuh mengalami kebingungan dan memproduksi antibodi yang menyerang serta menghancurkan trombositnya sendiri. Penyakit ini sering muncul tanpa penyebab yang jelas. Pada anak-anak, ITP biasanya muncul akut setelah mereka mengalami infeksi virus biasa seperti batuk pilek dan bisa sembuh sendiri. Namun pada orang dewasa, ITP cenderung menjadi penyakit kronis yang menetap dalam jangka panjang.

3. Infeksi Virus dan Bakteri Lainnya

Selain virus Dengue, banyak mikroorganisme patogen lain yang bisa menekan jumlah keping darah. Virus Hepatitis C, HIV (Human Immunodeficiency Virus), Cytomegalovirus (CMV), dan Epstein-Barr Virus (EBV) diketahui dapat merusak fungsi sumsum tulang atau memicu penghancuran keping darah. Selain itu, infeksi bakteri parah yang menyebar ke seluruh tubuh (sepsis) juga dapat merusak keping darah secara masif melalui sebuah mekanisme yang disebut Disseminated Intravascular Coagulation (DIC).

4. Leukemia dan Gangguan Sumsum Tulang

Sumsum tulang ibarat “pabrik” penghasil darah. Jika pabrik ini diserang oleh penyakit kanker seperti Leukemia (kanker darah) atau Limfoma, sel-sel kanker yang ganas akan berkembang biak secara tidak terkendali dan memenuhi ruang di dalam sumsum tulang. Akibatnya, sel sehat penghasil trombosit (megakariosit) terdesak dan tidak mendapat ruang maupun nutrisi untuk memproduksi keping darah yang cukup. Penyakit sumsum tulang lainnya seperti Anemia Aplastik dan sindrom Myelodysplastic (MDS) juga memiliki efek serupa, yakni kegagalan produksi sel darah.

5. Pembesaran Limpa (Splenomegali) dan Penyakit Hati

Organ limpa berfungsi sebagai penyaring darah, menyingkirkan sel darah merah tua dan sebagian trombosit. Biasanya, sekitar sepertiga dari total trombosit di tubuh disimpan sementara di limpa. Namun, pada orang yang mengalami pembesaran limpa—biasanya akibat sirosis hati, penyakit liver kronis kronis, atau kanker tertentu—limpa akan menjebak hingga 90% dari total keping darah di dalam tubuh. Akibatnya, jumlah yang beredar bebas di aliran darah menjadi sangat sedikit.

6. Penyakit Autoimun Sistemik

Penyakit autoimun yang lebih luas, seperti Lupus (Systemic Lupus Erythematosus/SLE) dan Rheumatoid Arthritis, sering kali melibatkan komplikasi pada darah. Hampir mirip dengan mekanisme ITP, tubuh membentuk kompleks imun yang menyebabkan inflamasi di berbagai organ dan mengeliminasi keping darah secara berlebihan. Pada pasien Lupus, trombositopenia bisa menjadi gejala awal sebelum gejala-gejala khas lainnya muncul.

7. Efek Samping Obat-obatan Tertentu

Kondisi yang disebut Drug-Induced Thrombocytopenia (DIT) terjadi ketika konsumsi obat tertentu memicu sistem imun untuk menghancurkan keping darah. Obat yang paling terkenal menyebabkan hal ini adalah Heparin (obat pengencer darah). Namun, obat-obatan umum lainnya seperti antibiotik (contohnya penisilin dan sulfonamida), obat antikejang, pil kina (untuk malaria), hingga obat anti-aritmia jantung juga bisa memicu penurunan keping darah pada sebagian orang yang sensitif.

8. Kehamilan dan Sindrom HELLP

Penurunan keping darah ringan merupakan hal yang cukup lumrah pada kehamilan trimester akhir (disebut trombositopenia gestasional) dan tidak membahayakan. Akan tetapi, jika penurunan terjadi sangat drastis dan disertai dengan peningkatan tekanan darah yang ekstrem (preeklamsia), hal ini bisa mengarah pada komplikasi langka dan mematikan yang disebut Sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver enzymes, Low Platelet count). Kondisi ini membutuhkan persalinan sesegera mungkin untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayi.

Faktor Risiko dan Pemantauan Rutin
  1. Memiliki riwayat penyakit autoimun dalam keluarga meningkatkan risiko ITP atau Lupus.
  2. Orang dengan kebiasaan konsumsi alkohol berlebih rentan terkena sirosis hati yang berdampak pada limpa dan keping darah.
  3. Melakukan pemeriksaan darah lengkap (Complete Blood Count/CBC) secara berkala minimal setahun sekali sangat dianjurkan untuk mendeteksi anomali pada darah sejak dini.

Gejala yang Menyertai Penurunan Trombosit

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, tidak semua kondisi trombositopenia menimbulkan gejala. Jika penurunannya hanya sedikit (misalnya di angka 120.000), pasien umumnya tidak akan merasakan keluhan fisik apa pun. Namun, ketika angka terus merosot, gejala-gejala terkait perdarahan mulai bermunculan. Berikut adalah tanda-tanda yang patut diwaspadai:

  • Memar Tanpa Sebab (Purpura): Munculnya bercak biru, ungu, atau kemerahan di kulit menyerupai lebam atau memar, padahal tidak ada riwayat terbentur benda keras.
  • Bintik Merah Kecil (Petekie): Bintik-bintik merah seukuran ujung jarum yang bergerombol di permukaan kulit, paling sering di area kaki bagian bawah. Bintik ini terjadi karena perdarahan kapiler di bawah kulit. Jika ditekan, bintiknya tidak memudar (berbeda dengan ruam akibat alergi).
  • Perdarahan yang Sulit Berhenti: Jika kamu tidak sengaja teriris pisau, darah akan terus merembes keluar dalam waktu yang jauh lebih lama dari biasanya.
  • Gusi Berdarah dan Mimisan: Perdarahan spontan dari hidung (mimisan) atau gusi, terutama saat menyikat gigi dengan pelan sekalipun.
  • Menstruasi Ekstrem: Pada wanita, siklus menstruasi menjadi sangat berat (menorrhagia), jumlah darah yang keluar sangat banyak dan berlangsung lebih lama dari siklus normal.
  • Tanda Perdarahan Internal: Ini adalah kondisi darurat medis. Gejalanya meliputi adanya darah dalam urine (hematuria), feses berwarna hitam pekat dan lengket seperti aspal (melena), muntah darah, atau sakit kepala hebat yang tidak tertahankan akibat perdarahan mikro di area otak.

Langkah Penanganan dan Dukungan Nutrisi

Penanganan terhadap kondisi ini mutlak bergantung pada jawaban dari pertanyaan “trombosit turun sakit apa?”. Pengobatan tidak ditujukan sekadar untuk menaikkan angka trombosit, melainkan harus memberantas penyakit utamanya.

Jika penyebabnya adalah DBD derajat ringan hingga sedang, fokus utamanya adalah rehidrasi. Pasien harus minum air putih yang banyak, mengonsumsi oralit, atau menerima cairan infus intravena untuk menjaga kekentalan darah dan volume cairan tubuh, sembari menunggu sistem imun melawan virus. Jika penyebabnya ITP atau penyakit autoimun, dokter biasanya meresepkan obat golongan kortikosteroid (seperti prednison) untuk menekan aktivitas sistem imun yang berlebihan. Pada kasus yang mengancam nyawa, transfusi keping darah (platelet concentrate) di rumah sakit menjadi satu-satunya jalan darurat untuk menghentikan perdarahan.

Selain penanganan medis, perbaikan nutrisi sangat penting untuk menyediakan bahan baku bagi sumsum tulang agar bisa mempercepat produksi keping darah yang baru. Beberapa nutrisi esensial yang sangat dibutuhkan meliputi Folat (Vitamin B9) yang banyak terdapat pada bayam dan hati sapi, Vitamin B12 dari telur dan daging, serta Vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi. Jika pemenuhan gizi dari makanan dirasa kurang, kamu bisa beli vitamin, beli suplemen kesehatan secara online di Halodoc, produk 100% asli dan diantar ke rumah untuk mempercepat proses pemulihan daya tahan tubuhmu.

Studi Terkait Trombositopenia

Journal of Blood Medicine menerbitkan studi komprehensif pada tahun 2019 yang menggarisbawahi bahwa pada daerah endemik tropis seperti Indonesia, infeksi Dengue menyumbang lebih dari 60% kasus rujukan darurat untuk keluhan trombositopenia akut.

Studi ini menegaskan bahwa tingkat keparahan penurunan keping darah berbanding lurus dengan risiko kebocoran plasma pada pasien DBD. Oleh karena itu, edukasi masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan terapi herbal tanpa pemantauan darah harian di laboratorium sangat ditekankan, karena penurunan keping darah pada kasus Dengue sering kali terjadi drastis dalam kurun waktu 24 jam memasuki fase kritis.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Mengalami penurunan kadar keping darah adalah peringatan dari tubuh bahwa ada suatu kondisi medis yang butuh dievaluasi. Jangan pernah meremehkan memar spontan atau demam yang tak kunjung sembuh. Memeriksakan diri lebih dini bisa menghindarkan kamu dari komplikasi perdarahan fatal.

Selain menjaga pola hidup sehat, pastikan kamu selalu siaga memantau kondisi anggota keluarga. Segera jadwalkan konsultasi dokter melalui aplikasi Halodoc jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala penyakit yang disebutkan di atas.


Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Thrombocytopenia (low platelet count) – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Thrombocytopenia: Causes, Symptoms & Treatment.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Dengue and severe dengue.
National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). Diakses pada 2024. Thrombocytopenia.
NCBI – Journal of Blood Medicine. Diakses pada 2024. Clinical Manifestations and Management of Thrombocytopenia.

FAQ

1. Berapa angka kadar trombosit yang dianggap sangat berbahaya?

Kadar trombosit di bawah 150.000 sudah tergolong rendah. Namun, tingkat bahaya mulai muncul ketika angka turun di bawah 50.000 (risiko perdarahan saat terluka). Jika sudah menyentuh angka di bawah 10.000 hingga 20.000, kondisinya menjadi sangat kritis karena ada ancaman tinggi terjadi perdarahan spontan di organ vital seperti otak dan lambung.

2. Apakah trombosit turun sakit apa selalu merujuk pada Demam Berdarah (DBD)?

Tidak selalu. Meskipun di wilayah tropis DBD menjadi penyebab utama dan paling sering ditemui, trombositopenia juga bisa disebabkan oleh infeksi virus lain (Hepatitis, HIV), penyakit autoimun seperti ITP dan Lupus, kanker darah (Leukemia), gangguan pembesaran limpa, hingga efek samping dari obat-obatan tertentu.

3. Apakah jus jambu biji benar-benar bisa menaikkan trombosit dengan cepat?

Jus jambu biji sangat kaya akan Vitamin C dan air. Vitamin C membantu menjaga daya tahan tubuh, dan cairan tubuh yang tercukupi sangat penting pada penderita DBD. Ekstrak daun jambu biji juga dipercaya membantu menghambat replikasi virus. Meski begitu, mengonsumsinya hanyalah terapi suportif dan bukan obat utama penyembuh penyakit. Pemantauan medis tetap wajib dilakukan.

4. Apakah penderita dengan keping darah rendah bisa sembuh total?

Tergantung pada penyebab dasarnya. Jika turunnya keping darah diakibatkan oleh infeksi virus sementara seperti Dengue atau flu, pasien biasanya akan sembuh total dan kadar keping darah akan kembali normal secara alami setelah infeksi teratasi. Namun, jika disebabkan oleh penyakit kronis seperti ITP pada orang dewasa atau penyakit autoimun, kondisinya mungkin akan hilang timbul dan membutuhkan pemantauan medis seumur hidup.