Ad Placeholder Image

Tumbuh Gigi Bayi Umur Berapa? Ini Rentang Normalnya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   22 Juni 2026

Tumbuh Gigi Bayi Umur Berapa? Ini Tahapannya, Moms!

Tumbuh Gigi Bayi Umur Berapa? Ini Rentang NormalnyaTumbuh Gigi Bayi Umur Berapa? Ini Rentang Normalnya

DAFTAR ISI


Momen menantikan kemunculan gigi pertama sang buah hati sering kali menjadi fase yang mendebarkan sekaligus membanggakan bagi para orang tua. Tidak sedikit ibu dan ayah yang terus memantau setiap perubahan pada gusi anak, mencari tahu tanda-tandanya, dan sering kali bertanya-tanya tentang berapa bulan bayi tumbuh gigi yang paling ideal dan normal sesuai dengan standar medis.

Memahami jadwal pertumbuhan gigi bayi sangatlah penting karena hal ini berkaitan erat dengan transisi asupan nutrisi anak, dari yang semula hanya mengonsumsi ASI atau susu formula, menuju fase Makanan Pendamping ASI (MPASI). Kemampuan mengunyah yang baik akan sangat mendukung sistem pencernaan anak sekaligus mengoptimalkan penyerapan nutrisi untuk pertumbuhan otak dan fisiknya.

Meskipun merupakan proses biologis yang sangat alami, fase tumbuh gigi atau teething sering kali menjadi ujian tersendiri bagi orang tua dan anak. Proses robeknya jaringan gusi oleh mahkota gigi yang mendesak keluar kerap menimbulkan rasa tidak nyaman, nyeri, hingga membuat bayi menjadi sangat rewel, sulit tidur, dan menolak makan. Di sinilah pentingnya pengetahuan orang tua dalam memberikan penanganan yang tepat dan aman di rumah.

Nah, mau tahu penjelasan lengkap mengenai rentang waktu pertumbuhan gigi bayi, gejala penyertanya, serta langkah-langkah medis maupun alami untuk meredakan ketidaknyamanan si Kecil? Berikut ulasan mendalamnya!

Fase Pertumbuhan Gigi Bayi

Pada dasarnya, setiap anak memiliki garis waktu pertumbuhannya masing-masing. Namun, secara umum dalam ilmu kedokteran gigi anak (Pedodonti), pertumbuhan gigi susu (gigi desidui) pada bayi dimulai saat mereka menginjak usia 6 bulan. Gigi susu ini sebenarnya sudah mulai terbentuk sejak bayi masih berada di dalam kandungan ibu, tepatnya pada trimester kedua kehamilan, namun baru akan erupsi (muncul ke permukaan gusi) beberapa bulan setelah bayi lahir.

Total gigi susu yang akan tumbuh pada anak berjumlah 20 buah, yang terdiri dari 10 gigi di rahang atas dan 10 gigi di rahang bawah. Proses ini biasanya akan berlanjut secara bertahap hingga anak berusia 2,5 sampai 3 tahun. Berikut adalah rincian rata-rata usia kemunculan masing-masing gigi:

1. Gigi Seri Bawah Tengah (Usia 6–10 Bulan)

Dua gigi depan di rahang bawah ini hampir selalu menjadi gigi yang pertama kali menyapa dunia. Bentuknya yang tipis dan pipih berfungsi layaknya pisau untuk memotong makanan bertekstur lunak saat bayi mulai belajar makan MPASI.

2. Gigi Seri Atas Tengah (Usia 8–12 Bulan)

Menyusul gigi bawah, sepasang gigi depan di rahang atas biasanya akan muncul. Saat keempat gigi depan ini sudah lengkap, senyum bayi akan terlihat semakin menggemaskan. Pada fase ini, bayi mulai pintar menggigit benda-benda di sekitarnya.

3. Gigi Seri Samping (Usia 9–13 Bulan)

Gigi ini tumbuh tepat di sebelah gigi seri tengah. Biasanya gigi seri samping rahang atas akan muncul lebih dulu dibandingkan rahang bawah. Fungsi gigi ini adalah membantu gigi seri tengah dalam memotong dan menahan makanan di dalam mulut.

4. Gigi Geraham Pertama (Usia 13–19 Bulan)

Ini adalah fase yang sering kali cukup menyakitkan bagi bayi. Gigi geraham memiliki permukaan yang lebar dan datar karena fungsinya untuk menumbuk dan menggilas makanan. Karena permukaannya lebar, proses menembus gusi akan memakan waktu lebih lama dan menimbulkan rasa tidak nyaman yang lebih besar.

5. Gigi Taring (Usia 16–22 Bulan)

Gigi taring terletak di antara gigi seri samping dan gigi geraham pertama. Bentuknya yang runcing berfungsi untuk mencabik makanan yang berserat, seperti daging atau buah-buahan yang teksturnya lebih padat.

6. Gigi Geraham Kedua (Usia 25–33 Bulan)

Ini adalah gigi susu terakhir yang akan tumbuh, berlokasi di bagian paling belakang rahang mulut anak. Ketika seluruh gigi geraham kedua ini sudah tumbuh, anak telah memiliki set lengkap 20 gigi susu dan siap mengonsumsi makanan keluarga pada umumnya.

Gejala Bayi Sedang Tumbuh Gigi

Proses erupsi gigi sering kali didahului oleh serangkaian tanda fisik maupun perubahan perilaku pada bayi. Mengetahui gejala ini akan membantu orang tua untuk tidak panik dan bisa membedakan antara gejala tumbuh gigi dengan gejala suatu penyakit infeksi. Berikut adalah beberapa tanda umum bayi sedang tumbuh gigi:

1. Produksi Air Liur Berlebih (Drooling)

Ini adalah gejala yang paling klasik. Pertumbuhan gigi merangsang kelenjar saliva di dalam mulut bayi untuk memproduksi lebih banyak air liur. Hal ini sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh untuk menenangkan gusi yang sedang meradang dan melumasi mulut agar proses keluarnya gigi lebih mudah. Air liur yang berlebihan ini sering kali membuat dagu, leher, atau dada bayi menjadi basah.

2. Ruam di Area Mulut dan Dagu

Sebagai akibat langsung dari poin pertama, air liur yang terus-menerus membasahi area sekitar mulut, dagu, hingga leher dapat memicu iritasi kulit. Ruam kemerahan ini sering disebut dengan drool rash. Sangat penting bagi orang tua untuk rutin mengeringkan area tersebut menggunakan kain berbahan katun yang lembut dengan cara ditepuk-tepuk perlahan, bukan digosok kasar.

3. Suka Menggigit Benda Sekitar

Gusi yang akan ditembus oleh gigi akan terasa gatal, bengkak, dan berdenyut. Untuk meredakan rasa gatal dan tekanan tersebut, bayi akan secara insting menggigit apa saja yang bisa ia raih. Mulai dari mainan, selimut, dot, hingga jari orang tua atau jarinya sendiri. Tekanan dari aktivitas menggigit (counter-pressure) ini membantu menetralkan rasa nyeri dari dalam gusi.

4. Rewel dan Sering Menangis

Rasa nyeri akibat peradangan pada jaringan gusi tentu sangat mengganggu, terutama karena ini adalah rasa sakit pertama yang mungkin dirasakan secara intens oleh bayi dalam hidupnya. Mereka belum bisa berkomunikasi sehingga satu-satunya cara untuk mengekspresikan rasa frustrasinya adalah dengan rewel, merengek, atau menangis tanpa henti, terutama di malam hari.

5. Penurunan Nafsu Makan

Aktivitas mengisap botol susu, mengisap payudara ibu, atau menelan makanan padat dapat memicu aliran darah ke area gusi meningkat, yang pada gilirannya akan memperparah rasa berdenyut dan nyeri. Akibatnya, banyak bayi yang tiba-tiba menolak makan atau minum susunya saat fase tumbuh gigi berlangsung.

6. Menggosok Pipi atau Menarik Telinga

Saraf di area mulut, rahang, pipi, dan telinga saling terhubung melalui jalur saraf wajah (nervus trigeminus). Nyeri pada gusi (terutama saat geraham tumbuh) dapat menjalar dan dirasakan oleh bayi sebagai rasa sakit di telinga atau pipinya. Oleh karena itu, bayi sering kali terlihat menarik-narik telinganya atau menggaruk pipinya.

Mitos vs Fakta Gejala Tumbuh Gigi
  1. Mitos: Tumbuh gigi menyebabkan demam tinggi (di atas 39 derajat Celcius). Fakta: Tumbuh gigi hanya memicu demam ringan (low-grade fever) sekitar 37,5 hingga 38 derajat Celcius akibat peradangan gusi lokal. Jika anak demam tinggi, itu adalah tanda infeksi lain, bukan karena gigi.
  2. Mitos: Tumbuh gigi menyebabkan diare parah. Fakta: Diare bukan efek langsung dari tumbuh gigi. Bayi sering mengalami masalah pencernaan di fase ini karena mereka sering memasukkan benda kotor ke dalam mulut untuk digigit, sehingga bakteri penyebab diare ikut tertelan.
  3. Mitos: Bayi yang giginya cepat tumbuh akan lebih cepat bisa berjalan. Fakta: Tidak ada kaitan biologis antara perkembangan motorik (berjalan) dengan kemunculan gigi. Keduanya diatur oleh sistem tubuh yang berbeda.

Cara Mengatasi Rewel Saat Tumbuh Gigi

Melihat bayi menangis menahan sakit tentu membuat hati orang tua ikut sedih. Beruntungnya, ada banyak metode non-farmakologis maupun pertolongan medis ringan yang bisa diterapkan di rumah untuk membantu meringankan ketidaknyamanan si Kecil selama fase tumbuh gigi ini:

1. Berikan Teether (Mainan Gigitan) yang Tepat

Memberikan mainan khusus untuk digigit (teether) adalah langkah paling efektif. Pilihlah teether yang terbuat dari silikon atau karet yang aman (BPA-Free, non-toxic). Untuk memberikan efek ekstra nyaman, kamu bisa memasukkan teether tersebut ke dalam kulkas (bukan freezer) selama beberapa saat sebelum diberikan kepada bayi. Suhu dingin akan memberikan efek kebas (anestesi alami) sementara pada gusi yang meradang. Jangan pernah membekukan teether hingga keras seperti batu karena justru dapat melukai gusi bayi.

2. Pijat Gusi Bayi dengan Lembut

Sentuhan fisik dari ibu atau ayah bisa sangat menenangkan. Cuci tangan kamu hingga benar-benar bersih menggunakan sabun antiseptik. Kemudian, gunakan jari telunjuk yang bersih, atau balut jari dengan kain kassa steril yang dibasahi air matang, lalu pijat gusi bayi yang bengkak secara perlahan dengan gerakan memutar. Tekanan ringan ini dapat mengalihkan fokus otak dari rasa sakit.

3. Beri Makanan dan Minuman Dingin

Jika bayi sudah berusia di atas 6 bulan dan sudah memulai tahap MPASI, memberikan makanan dengan suhu dingin akan sangat membantu. Kamu bisa memberikan buah potong dingin (seperti semangka, apel, atau pisang) yang dimasukkan ke dalam jaring makanan khusus bayi (food feeder) agar bayi tidak tersedak. Yoghurt dingin tanpa tambahan gula atau pure buah dingin juga bisa menjadi alternatif yang menyegarkan sekaligus menutrisi saat anak menolak makanan hangat.

4. Lap Basah Dingin (Chilled Washcloth)

Ambil waslap atau kain katun yang bersih, basahi dengan air matang, peras airnya, lalu masukkan ke dalam kantong plastik bersih dan simpan di kulkas sebentar. Berikan kain basah dingin ini untuk dikunyah atau diisap oleh bayi. Tekstur kain yang kasar ditambah suhu dingin akan memijat gusi gatal mereka secara efektif.

5. Penggunaan Obat Pereda Nyeri Anak

Jika segala cara alami di atas tidak membuahkan hasil dan bayi tampak sangat tersiksa hingga tidak bisa tidur semalaman, pemberian obat analgetik atau pereda nyeri seperti Paracetamol khusus anak (bentuk tetes/drops atau sirup) bisa menjadi opsi terakhir. Namun, penggunaannya harus sangat hati-hati dan dosisnya wajib disesuaikan dengan berat badan bayi. Jangan berikan obat yang mengandung ibuprofen pada bayi di bawah 6 bulan, dan hindari sama sekali pemberian aspirin karena berisiko memicu sindrom Reye yang mematikan. Untuk menjamin keaslian dan ketersediaan, ibu bisa beli obat pereda nyeri atau teether dan produk perawatan bayi lainnya secara online melalui platform kesehatan terpercaya.

Kapan Harus Membawa Bayi ke Dokter?

Meskipun tumbuh gigi adalah proses normal, terkadang ada komplikasi atau kondisi tumpang tindih (overlapping) dengan penyakit lain yang memerlukan intervensi medis profesional. Segera konsultasikan ke dokter spesialis anak atau dokter gigi anak (Pedodontis) jika kamu menemui kondisi berikut pada si Kecil:

1. Keterlambatan Pertumbuhan Gigi yang Signifikan

Jika bayi kamu sudah menginjak usia 15 hingga 18 bulan namun belum ada satu pun gigi yang menembus gusi, evaluasi medis diperlukan. Dokter mungkin perlu melakukan pemeriksaan rontgen (X-ray) panoramik gigi untuk melihat apakah ada kelainan bawaan seperti agenesis gigi (benih gigi tidak ada), gusi yang terlalu tebal, atau adanya kista yang menghalangi jalan keluarnya gigi.

2. Demam Tinggi dan Gejala Sistemik

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, tumbuh gigi tidak pernah menyebabkan demam hingga 39 derajat Celcius atau lebih. Jika bayi mengalami demam tinggi, muntah hebat, diare berdarah, atau lemas tidak berdaya, itu adalah tanda pasti adanya infeksi bakteri atau virus (seperti infeksi telinga, flu, atau gastroenteritis) yang kebetulan terjadi bersamaan dengan fase tumbuh gigi.

3. Bengkak Gusi yang Parah dan Berdarah

Terkadang, sebuah kista erupsi (eruption cyst) yang berwarna kebiruan dan berisi cairan bening atau darah dapat terbentuk di atas gusi tempat gigi akan muncul. Meskipun sebagian besar kista ini tidak berbahaya dan akan pecah sendiri saat gigi keluar, kista yang terlalu besar, bernanah, memicu perdarahan hebat, atau membuat bayi sama sekali tidak bisa menutup mulut memerlukan tindakan dari dokter gigi untuk dilakukan insisi kecil.

Studi Terkait

Pemahaman medis modern tentang gejala sistemik versus gejala lokal dari pertumbuhan gigi bayi terus berkembang. American Academy of Pediatrics (AAP) menerbitkan studi di tahun 2026 yang menjelaskan bahwa tidak ada bukti kuat yang menghubungkan proses erupsi gigi sulung dengan terjadinya demam tinggi pada bayi dan balita.

Studi observasional yang melibatkan lebih dari 10.000 bayi ini menyimpulkan bahwa peningkatan suhu tubuh selama erupsi gigi umumnya tidak akan melebihi angka 38 derajat Celcius. Gejala yang paling konsisten tercatat secara klinis hanyalah peningkatan saliva, iritabilitas ringan, dan gangguan pola tidur sementara. Temuan ini sangat penting untuk mencegah terjadinya kesalahan diagnosis (misdiagnosis) oleh dokter maupun orang tua yang kerap mengabaikan gejala penyakit serius pada bayi dengan dalih “ah, ini cuma karena mau tumbuh gigi.”

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
American Dental Association (ADA). Diakses pada 2026. Teething.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Teething: Tips for soothing sore gums.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Oral health of children.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Baby Teeth Order of Appearance.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Panduan Menjaga Kesehatan Gigi Susu Anak Sejak Dini.

FAQ

1. Apakah wajar jika bayi 4 bulan sudah tumbuh gigi?

Ya, sangat wajar. Meskipun rata-rata gigi pertama muncul di usia 6 bulan, namun rentang normal erupsi gigi sangat luas. Sebagian bayi mengalami “early teething” di usia 3 atau 4 bulan, yang sangat dipengaruhi oleh faktor genetika. Bahkan dalam kasus yang sangat langka (1 banding 2.000 kelahiran), ada bayi yang sudah memiliki gigi saat dilahirkan (gigi natal).

2. Apa yang harus dilakukan jika pertumbuhan gigi anak tidak beraturan?

Pada tahap gigi susu, celah atau jarak yang merenggang antar gigi adalah hal yang normal dan justru menguntungkan. Jarak tersebut berfungsi untuk menyiapkan ruang bagi gigi permanen dewasa yang ukurannya jauh lebih besar nantinya. Namun, jika ada keluhan terkait struktur rahang, periksakan ke dokter gigi anak secara rutin.

3. Kapan waktu yang tepat untuk mulai menyikat gigi bayi?

Perawatan mulut sebaiknya dimulai sebelum gigi tumbuh, yaitu dengan rutin mengelap gusi bayi dengan kain kassa basah. Begitu gigi pertama pecah dari gusi, itulah saat yang tepat untuk mulai menggunakan sikat gigi bayi berbulu sangat lembut (silicon brush). Gunakan pasta gigi berfluoride khusus anak dengan takaran seukuran biji beras (smear layer) untuk mencegah karies dini.

4. Bolehkah memberikan gel pereda nyeri gusi (teething gel) untuk bayi?

FDA (BPOM Amerika Serikat) serta ikatan dokter anak global sangat tidak menyarankan penggunaan gel pereda nyeri gusi yang mengandung benzocaine atau lidocaine untuk anak di bawah usia 2 tahun. Kandungan anestesi lokal ini dapat tertelan dan berisiko fatal menurunkan kadar oksigen dalam darah (methemoglobinemia). Sebaiknya gunakan metode alami seperti memijat gusi atau teether dingin.