
TURP: Pengertian dan Prosedur Reseksi Prostat, Ringkas!
TURP adalah prosedur bedah minimal invasif untuk mengangkat bagian prostat yang membesar guna meredakan gejala saluran kemih akibat BPH.

DAFTAR ISI
- Mengenal Apa Itu TURP
- Gejala Prostat yang Memerlukan Prosedur TURP
- Bagaimana Prosedur TURP Dilakukan?
- Proses Pemulihan Setelah Operasi
- Studi Terkait
- FAQ
Pernahkah kamu mendengar istilah TURP dalam dunia medis? Bagi pria yang memasuki usia lanjut, masalah pada kelenjar prostat sering kali menjadi keluhan utama yang mengganggu kualitas hidup. Salah satu solusi medis yang paling umum dan efektif untuk menangani gangguan prostat adalah melalui prosedur bedah yang dikenal sebagai TURP.
TURP adalah singkatan dari Transurethral Resection of the Prostate, sebuah prosedur operasi yang bertujuan untuk mengangkat sebagian kelenjar prostat yang menyumbat aliran urine. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak. BPH bukanlah kanker, namun pembesaran ini dapat menekan saluran kemih (uretra) dan menyebabkan berbagai masalah saat buang air kecil.
Memahami prosedur ini sangat penting agar kamu atau orang terkasih tidak merasa cemas jika dokter merekomendasikan tindakan ini. Penanganan yang tepat dan cepat dapat mencegah komplikasi serius seperti kerusakan kandung kemih atau gangguan ginjal. Jika kamu mulai merasakan gangguan berkemih, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosa awal yang akurat.
Nah, mau tahu lebih dalam mengenai apa itu TURP, bagaimana prosedurnya, serta apa saja yang perlu dipersiapkan? Berikut ulasannya!
Mengenal Lebih Dalam Apa Itu TURP
Secara anatomis, prostat adalah kelenjar kecil seukuran kacang kenari yang hanya dimiliki oleh pria, terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi uretra. Seiring bertambahnya usia, prostat cenderung membesar. Ketika pembesaran ini menekan uretra, aliran urine dari kandung kemih ke luar tubuh menjadi terhambat.
TURP adalah metode bedah “standar emas” (gold standard) untuk mengatasi gejala BPH yang tidak lagi merespons pengobatan oral. Berbeda dengan operasi terbuka konvensional, TURP tidak memerlukan sayatan di bagian luar tubuh. Dokter bedah urologi akan menggunakan alat khusus yang dimasukkan langsung melalui lubang kencing.
Tujuan utama dari tindakan ini adalah untuk membuang jaringan prostat yang berlebihan sehingga saluran uretra kembali lebar dan aliran urine menjadi lancar. Prosedur ini telah membantu jutaan pria di seluruh dunia untuk kembali beraktivitas dengan nyaman tanpa gangguan berkemih yang menyiksa.
Gejala Prostat yang Memerlukan Prosedur TURP
Tidak semua pembesaran prostat harus berakhir di meja operasi. Namun, jika gejala yang dirasakan sudah masuk dalam kategori sedang hingga berat, TURP adalah opsi yang sering kali diambil. Beberapa gejala umum yang menandakan kamu mungkin membutuhkan penanganan medis lebih lanjut antara lain:
- Pancaran urine yang lemah atau tersendat-sendat.
- Kesulitan untuk mulai buang air kecil (mengejan).
- Perasaan kandung kemih tidak kosong sepenuhnya setelah buang air kecil.
- Frekuensi buang air kecil yang meningkat, terutama di malam hari (nokturia).
- Rasa ingin buang air kecil yang mendadak dan sangat mendesak (urgensi).
- Adanya darah dalam urine (hematuria) yang disebabkan oleh pembesaran prostat.
Jika kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan, risiko terjadinya infeksi saluran kemih berulang, batu kandung kemih, hingga gagal ginjal dapat meningkat secara signifikan. Selain tindakan medis, dokter mungkin menyarankan penggunaan suplemen pendukung kesehatan saluran kemih yang bisa kamu temukan saat beli obat online di Halodoc.
Siapa yang Paling Berisiko Terkena BPH?
- Pria berusia di atas 50 tahun (risiko meningkat seiring usia).
- Memiliki riwayat keluarga dengan masalah prostat.
- Gaya hidup kurang sehat, seperti obesitas dan kurang olahraga.
Bagaimana Prosedur TURP Dilakukan?
Prosedur TURP dilakukan oleh dokter spesialis bedah urologi di rumah sakit. Berikut adalah tahapan umum dalam pelaksanaan tindakan tersebut:
1. Anestesi (Pembiusan)
Sebelum prosedur dimulai, pasien akan diberikan anestesi. Jenis yang umum digunakan adalah anestesi spinal (mati rasa dari pinggang ke bawah) atau anestesi umum (pasien tertidur sepenuhnya). Pemilihan jenis anestesi ini tergantung pada kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.
2. Penggunaan Resektoskop
Dokter akan memasukkan alat bernama resektoskop melalui ujung penis ke dalam uretra. Resektoskop dilengkapi dengan kamera tipis, sumber cahaya, dan jerat kawat listrik (wire loop). Karena alat masuk melalui saluran alami tubuh, tidak ada luka sayatan luar yang perlu dijahit nantinya.
3. Pemotongan Jaringan Prostat
Melalui kamera, dokter akan melihat area penyumbatan secara mendetail. Jerat kawat listrik kemudian digunakan untuk memotong potongan-potongan kecil jaringan prostat yang menyumbat uretra. Arus listrik tersebut sekaligus berfungsi untuk menghentikan perdarahan (kauterisasi) pada pembuluh darah yang terbuka.
4. Pembilasan Kandung Kemih
Selama proses pemotongan, cairan khusus dialirkan untuk membilas potongan-potongan jaringan prostat yang telah dipotong ke dalam kandung kemih, yang kemudian akan dikeluarkan di akhir prosedur.
Proses Pemulihan Setelah Operasi
Setelah prosedur TURP selesai, pasien biasanya perlu menjalani rawat inap selama 1 hingga 3 hari. Selama masa ini, kateter urin akan dipasang untuk membantu mengalirkan urine dan membersihkan sisa-sisa darah atau potongan jaringan dari kandung kemih. Proses ini disebut sebagai irigasi kandung kemih.
Masa pemulihan di rumah biasanya memakan waktu sekitar 4 hingga 6 minggu. Selama periode ini, sangat penting untuk:
- Minum banyak air putih untuk membantu membilas kandung kemih.
- Menghindari aktivitas fisik berat atau mengangkat beban selama beberapa minggu.
- Menghindari mengejan saat buang air besar (disarankan konsumsi makanan tinggi serat).
- Mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter, seperti antibiotik untuk mencegah infeksi atau pereda nyeri ringan.
Beberapa efek samping jangka pendek yang mungkin muncul adalah sedikit darah pada urine atau rasa tidak nyaman saat berkemih. Namun, kondisi ini umumnya akan membaik dengan sendirinya seiring berjalannya waktu penyembuhan.
Studi Mengenai Keefektifan TURP
National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa TURP tetap menjadi standar emas dalam pengobatan BPH karena tingkat keberhasilannya yang sangat tinggi dalam memperbaiki laju aliran urine hingga lebih dari 100% pada sebagian besar pasien.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kepuasan pasien pasca-TURP mencapai angka di atas 90%, dengan perbaikan gejala jangka panjang yang stabil hingga 10-15 tahun setelah tindakan. Studi ini juga menekankan pentingnya teknik bedah modern untuk meminimalkan risiko seperti sindrom TUR atau perdarahan pasca-operasi.
Jika kamu mengalami gejala yang menyerupai gangguan prostat, jangan menunda untuk memeriksakan diri. Semakin dini dideteksi, semakin banyak pilihan terapi yang bisa dilakukan sebelum memerlukan tindakan bedah.
Kamu bisa mendapatkan informasi lebih lanjut atau mencari kebutuhan kesehatan pendukung dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc.
FAQ Mengenai TURP
1. Apakah TURP adalah operasi besar?
TURP dianggap sebagai prosedur bedah mayor di bidang urologi, namun termasuk teknik invasif minimal karena tidak memerlukan sayatan kulit di bagian luar tubuh.
2. Apakah prosedur TURP menyakitkan?
Selama prosedur, pasien tidak akan merasakan sakit karena berada di bawah pengaruh anestesi. Rasa tidak nyaman mungkin muncul setelah operasi, terutama saat pemasangan kateter, namun dapat diatasi dengan obat pereda nyeri.
3. Apakah TURP memengaruhi fungsi seksual?
Kebanyakan pria tetap dapat memiliki ereksi dan orgasme setelah TURP. Namun, efek samping umum adalah ejakulasi retrograde (air mani masuk ke kandung kemih saat orgasme), yang tidak berbahaya namun dapat memengaruhi kesuburan.
4. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sembuh total?
Meskipun aktivitas ringan bisa dilakukan dalam beberapa hari, pemulihan jaringan secara internal membutuhkan waktu sekitar 4 hingga 8 minggu sebelum kamu benar-benar kembali normal.
Punya Keluhan saat Buang Air Kecil? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan seperti sulit buang air kecil atau gejala prostat, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!
HILDA ([Halodoc Intelligent Digital Assistant](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
[HILDA](https://www.halodoc.com/hilda) akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


