Ad Placeholder Image

Uretritis: Radang Uretra, Gejala, Penyebab dan Pengobatan

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

Uretritis: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Uretritis: Radang Uretra, Gejala, Penyebab dan PengobatanUretritis: Radang Uretra, Gejala, Penyebab dan Pengobatan

DAFTAR ISI


Saluran kemih manusia terdiri dari beberapa bagian penting, salah satunya adalah uretra. Uretra merupakan saluran tabung yang berfungsi membawa urine dari kandung kemih ke luar tubuh. Sayangnya, area ini sangat rentan terhadap serangan bakteri maupun virus yang dapat memicu terjadinya peradangan atau infeksi uretra (dikenal juga dengan istilah medis uretritis).

Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele. Jika dibiarkan tanpa penanganan medis yang tepat, patogen penyebab infeksi dapat menjalar ke organ lain, seperti kandung kemih, ginjal, hingga organ reproduksi. Hal ini tidak hanya menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa saat buang air kecil, tetapi juga berpotensi mengancam kesuburan di masa depan.

Mengingat penyebab utamanya adalah bakteri, kondisi ini memerlukan diagnosis medis dan resep antibiotik dari dokter. Oleh karena itu, pengobatan mandiri menggunakan obat bebas (OTC) tidak disarankan karena tidak akan membunuh bakteri penyebab utamanya. Mengetahui gejala sejak dini adalah kunci utama untuk mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Lantas, apa saja gejala, penyebab, dan bagaimana cara dokter menangani masalah kesehatan ini? Berikut ulasan lengkap yang perlu kamu pahami!

Apa Itu Infeksi Uretra?

Infeksi pada uretra atau uretritis adalah peradangan yang terjadi pada saluran yang membawa urine dari kandung kemih ke luar tubuh. Peradangan ini membuat saluran uretra membengkak dan teriritasi. Akibatnya, penderita akan merasakan sensasi terbakar, nyeri, hingga anyang-anyangan setiap kali buang air kecil.

Penting untuk dipahami bahwa uretritis berbeda dengan infeksi kandung kemih (sistitis), meskipun keduanya termasuk dalam kategori Infeksi Saluran Kemih (ISK). Uretritis secara spesifik hanya menyerang uretra. Meski bisa dialami oleh siapa saja dari segala usia, kondisi ini tercatat lebih sering terjadi pada individu yang aktif secara seksual, mengingat rute penularan utamanya sering kali melalui hubungan intim yang tidak aman.

Jenis dan Penyebab Utama

Berdasarkan patogen penyebabnya, dunia medis mengklasifikasikan kondisi ini menjadi dua jenis utama. Pembagian ini sangat penting bagi dokter untuk menentukan jenis obat atau antibiotik apa yang paling tepat untuk diberikan kepada pasien.

1. Uretritis Gonokokal (Gonococcal Urethritis)

Jenis ini disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae, yang juga merupakan bakteri penyebab penyakit menular seksual gonore (kencing nanah). Bakteri ini menyebar melalui aktivitas seksual tanpa kondom, baik secara vaginal, anal, maupun oral. Ini adalah salah satu penyebab paling umum dari peradangan uretra akut, terutama pada pria.

2. Uretritis Non-Gonokokal (Non-Gonococcal Urethritis / NGU)

Jika infeksi tidak disebabkan oleh bakteri gonore, maka diklasifikasikan sebagai NGU. Penyebab paling sering dari NGU adalah bakteri Chlamydia trachomatis. Namun, beberapa mikroorganisme lain juga bisa menjadi dalang di baliknya, seperti Mycoplasma genitalium, Ureaplasma urealyticum, Trichomonas vaginalis, hingga virus seperti Herpes Simplex Virus (HSV) dan Cytomegalovirus (CMV).

Selain faktor infeksi bakteri dan virus, uretra juga bisa meradang karena faktor non-infeksi (cedera fisik atau iritasi bahan kimia). Misalnya, akibat pemasangan kateter urine yang kurang higienis, trauma pada area panggul, atau alergi terhadap bahan kimia yang terdapat pada spermisida, pelumas, maupun sabun kewanitaan.

Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai
  1. Memiliki lebih dari satu pasangan seksual (berganti-ganti pasangan).
  2. Melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan kondom.
  3. Memiliki riwayat penyakit menular seksual (PMS) sebelumnya.
  4. Penggunaan produk bahan kimia yang mengiritasi area genital.
  5. Kurangnya menjaga kebersihan area intim setelah buang air kecil.

Gejala yang Muncul pada Pria dan Wanita

Tanda dan gejala yang muncul bisa berbeda antara pria dan wanita. Bahkan, pada beberapa kasus, penderita (terutama wanita) tidak merasakan gejala sama sekali (asimtomatik) di tahap awal, sehingga tanpa sadar menularkannya kepada pasangan.

1. Gejala pada Pria

Pria umumnya lebih cepat menyadari adanya ketidakberesan pada saluran kemihnya. Gejala yang paling sering dikeluhkan meliputi rasa sakit, gatal, atau sensasi terbakar yang intens saat buang air kecil (disuria). Selain itu, sering kali keluar cairan abnormal dari ujung penis. Jika disebabkan oleh gonore, cairan biasanya kental dan berwarna kuning kehijauan (nanah). Jika disebabkan oleh klamidia, cairan mungkin lebih bening. Gejala lainnya bisa berupa darah dalam urine atau sperma, serta pembengkakan di area kelenjar getah bening selangkangan atau pada testis.

2. Gejala pada Wanita

Pada wanita, gejala sering kali mirip dengan infeksi kandung kemih biasa. Keluhan utamanya meliputi rasa panas saat buang air kecil, frekuensi buang air kecil yang meningkat secara drastis (anyang-anyangan), dan nyeri pada panggul atau perut bagian bawah. Terkadang, keputihan yang tidak normal dan berbau tidak sedap juga muncul, disertai rasa sakit ketika melakukan hubungan seksual (dispareunia).

Komplikasi Jika Diabaikan

Mengabaikan gejala dan menunda pemeriksaan medis dapat membawa dampak jangka panjang yang serius. Bakteri dari uretra dapat dengan mudah bergerak naik ke saluran kemih bagian atas dan organ reproduksi.

Pada pria, infeksi yang dibiarkan dapat menyebar ke testis dan prostat, menyebabkan epididimitis (peradangan pada saluran penyimpan sperma) atau prostatitis. Dalam kasus yang parah, hal ini bisa memicu pembentukan jaringan parut pada uretra (striktur uretra) yang membuat penderitanya sulit buang air kecil secara permanen, hingga meningkatkan risiko infertilitas (kemandulan).

Sementara pada wanita, infeksi dapat menyebar ke rahim, indung telur, dan saluran tuba. Kondisi ini dikenal sebagai Pelvic Inflammatory Disease (PID) atau penyakit radang panggul. PID sangat berbahaya karena dapat merusak saluran tuba falopi, menyebabkan nyeri panggul kronis, meningkatkan risiko kehamilan ektopik (hamil di luar kandungan), dan menyebabkan kemandulan.

Kapan Harus ke Dokter dan Penanganannya?

Kamu harus segera memeriksakan diri ke dokter jika merasakan nyeri saat buang air kecil, keluar cairan tidak normal dari alat kelamin, atau mengalami nyeri panggul yang tidak kunjung reda. Sangat penting untuk tidak melakukan diagnosis sendiri atau meminum antibiotik tanpa resep dokter.

Sebagai informasi penting dari sisi farmakologi, kondisi ini tidak bisa disembuhkan hanya dengan obat pereda nyeri bebas (seperti Paracetamol atau Ibuprofen) atau suplemen kesehatan saluran kemih biasa. Obat-obatan tersebut mungkin hanya meredakan gejala nyerinya sementara, tetapi tidak mengeliminasi bakteri penyebab utamanya.

Pengobatan standar untuk kondisi ini memerlukan antibiotik golongan tertentu (seperti Azithromycin, Doxycycline, atau Ceftriaxone) yang termasuk dalam golongan obat keras. Penggunaannya wajib berada di bawah pengawasan ketat dokter untuk memastikan bakteri benar-benar mati dan mencegah terjadinya resistensi antibiotik. Selain itu, pasangan seksual dari penderita juga harus ikut diperiksa dan diobati untuk memutus rantai penularan (efek ping-pong).

Studi Mengenai Insidensi Penyakit Menular Seksual

World Health Organization (WHO) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa lebih dari 1 juta infeksi menular seksual (termasuk gonore dan klamidia yang menjadi penyebab utama uretritis) ditularkan setiap harinya di seluruh dunia. Laporan tersebut menegaskan bahwa kelompok usia muda yang aktif secara seksual memiliki tingkat risiko tertinggi.

Temuan ini sangat relevan karena menekankan pentingnya edukasi seks yang aman (penggunaan kondom) dan pentingnya deteksi dini. Semakin cepat bakteri penyebab terdeteksi melalui tes urine atau swab uretra, semakin cepat pula pengobatan antibiotik dapat diberikan sebelum kerusakan organ reproduksi terjadi.

Jangan ragu untuk memeriksakan diri secara berkala, terutama jika kamu memiliki riwayat berganti pasangan seksual. Jika kamu mencurigai adanya risiko terkena infeksi uretra di kemudian hari, langkah terbaik adalah segera berkonsultasi dengan tenaga medis profesional.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Urologi via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Urologi terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. Urethritis and Cervicitis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Urinary tract infection (UTI).
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Urethritis: Causes, Symptoms & Treatment.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Sexually transmitted infections (STIs).
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual.

FAQ

1. Apakah infeksi uretra bisa sembuh sendiri tanpa obat?

Sebagian besar kasus yang disebabkan oleh bakteri tidak akan sembuh dengan sendirinya dan memerlukan pengobatan antibiotik resep dari dokter. Jika dibiarkan tanpa penanganan medis yang tepat, infeksi bisa menyebar ke organ reproduksi dan ginjal, memicu komplikasi serius jangka panjang.

2. Apa bedanya infeksi saluran kemih (ISK) biasa dengan uretritis?

ISK adalah istilah medis umum untuk infeksi di bagian manapun pada sistem kemih (ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra). Uretritis adalah spesifik peradangan yang hanya terjadi pada saluran uretra. Meski gejalanya mirip, penyebab uretritis sering kali terkait dengan penyakit menular seksual, berbeda dengan sistitis (infeksi kandung kemih) yang umumnya disebabkan oleh bakteri E. coli dari anus.

3. Bagaimana cara mencegah kondisi ini agar tidak kambuh?

Langkah pencegahan paling efektif adalah melakukan hubungan seksual yang aman dengan selalu menggunakan kondom, tidak berganti-ganti pasangan, menjaga kebersihan area genital, serta minum air putih yang cukup setiap hari. Hindari juga penggunaan produk sabun kewanitaan yang mengandung pewangi buatan yang keras.

4. Apakah saat sedang dalam masa pengobatan boleh berhubungan seksual?

Sangat disarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual, baik secara vaginal, anal, maupun oral, selama masa pengobatan berlangsung dan hingga dokter menyatakan kamu benar-benar sembuh. Berhubungan seksual saat masih dalam masa infeksi sangat berisiko menularkan bakteri kepada pasangan, yang pada akhirnya bisa memicu infeksi ulang (efek ping-pong).