Usia Berapa Anak Bisa Bicara? Cek Tahapan Normalnya

DAFTAR ISI
- Tahapan Perkembangan Bicara Anak Berdasarkan Usia
- Tanda-Tanda Keterlambatan Bicara (Speech Delay)
- Penyebab Anak Terlambat Bicara
- Cara Efektif Menstimulasi Anak agar Cepat Bicara
- Dukungan Nutrisi untuk Perkembangan Bahasa Anak
- Studi Terkait Perkembangan Bahasa Anak
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Menanti kata pertama yang keluar dari mulut Si Kecil adalah momen yang sangat mendebarkan sekaligus dinantikan oleh setiap orang tua. Pertanyaan mengenai kapan anak mulai bicara merupakan salah satu topik yang paling sering dicari, karena kemampuan berbahasa adalah indikator penting dalam proses tumbuh kembang anak secara keseluruhan. Secara medis, perkembangan bahasa ini melibatkan proses kognitif yang kompleks di otak, penguasaan otot-otot mulut, serta kepekaan indera pendengaran.
Sangat penting bagi orang tua untuk memahami bahwa kemampuan bicara terbagi menjadi dua jenis, yaitu bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Bahasa reseptif adalah kemampuan anak untuk memahami apa yang dikatakan orang lain kepadanya, seperti menoleh saat dipanggil atau mengerti perintah sederhana. Sementara itu, bahasa ekspresif adalah kemampuan anak untuk mengutarakan pikiran, perasaan, atau keinginannya melalui suara, gestur, hingga kata-kata. Kedua kemampuan ini harus berkembang secara selaras agar anak dapat berkomunikasi dengan baik di lingkungan sosialnya kelak.
Setiap anak memang memiliki timeline atau garis waktu perkembangannya masing-masing. Ada anak yang sudah mulai mengoceh kata bermakna pada usia 10 bulan, namun ada pula yang baru mulai merangkai kata saat usianya menginjak 15 bulan. Meskipun ada rentang waktu yang normal, orang tua tetap harus waspada terhadap red flags atau tanda bahaya keterlambatan bicara (speech delay). Penanganan sedini mungkin sangat menentukan tingkat keberhasilan terapi dan mencegah gangguan belajar di kemudian hari.
Oleh karena itu, mengenali tahapan perkembangan bicara anak, cara menstimulasinya, hingga mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mencari bantuan profesional medis adalah kunci pengasuhan yang optimal. Yuk, simak ulasan lengkap mengenai tahapan kapan anak mulai bicara beserta panduan kesehatannya di bawah ini!
Tahapan Perkembangan Bicara Anak Berdasarkan Usia
Proses belajar bicara tidak terjadi secara instan. Bahkan sejak hari pertama dilahirkan, bayi sudah mulai menyerap informasi dari suara-suara di sekitarnya. Berikut adalah panduan umum tahapan perkembangan bicara anak dari bayi hingga usia prasekolah yang perlu kamu pantau:
1. Usia 0 hingga 3 Bulan: Tahap Komunikasi Awal
Pada tiga bulan pertama kehidupannya, alat komunikasi utama bayi adalah tangisan. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, bayi memiliki jenis tangisan yang berbeda untuk mengungkapkan kebutuhan yang berbeda, seperti menangis karena lapar, mengantuk, atau popoknya basah. Di usia ini, anak mulai mengembangkan bahasa reseptif dengan mengenali suara ibunya, tersenyum saat diajak bicara, dan merespons suara keras dengan terkejut (refleks Moro). Memasuki akhir bulan ketiga, bayi mulai mengeluarkan suara “cooing” atau bunyi vokal tunggal seperti “aah” atau “ooh”.
2. Usia 4 hingga 6 Bulan: Tahap Mengoceh (Babbling)
Pada rentang usia ini, bayi menjadi lebih interaktif. Mereka mulai mengikuti arah datangnya suara dengan pandangan mata. Kemampuan vokalnya juga meningkat pesat. Kamu akan sering mendengar bayi mengoceh menggunakan kombinasi huruf konsonan dan vokal seperti “ba-ba”, “ma-ma”, atau “pa-pa”. Meskipun suara tersebut belum memiliki arti yang spesifik, ini adalah cara mereka melatih otot-otot mulut, lidah, dan pita suara. Bayi juga mulai merespons perubahan nada suara, misalnya menangis jika mendengar suara marah, atau tertawa jika diajak bermain cilukba.
3. Usia 7 hingga 12 Bulan: Memahami Makna dan Kata Pertama
Di usia ini, anak mulai mengerti arti dari kata “tidak” dan sering merespons namanya sendiri. Secara gestur, anak mulai bisa menunjuk benda yang ia inginkan dan melambaikan tangan untuk mengatakan “da-dah”. Menjelang usia satu tahun atau 12 bulan, kebanyakan anak mulai mengucapkan satu atau dua kata bermakna, biasanya “mama” atau “papa” yang ditujukan secara spesifik kepada orang tuanya. Anak juga sudah bisa mengikuti instruksi sederhana yang disertai gerakan, seperti “ayo kemari” sambil merentangkan tangan.
4. Usia 13 hingga 18 Bulan: Kosakata Mulai Bertambah
Ini adalah fase di mana perbendaharaan kata anak mulai berkembang. Pada usia 15 bulan, anak biasanya sudah memiliki kosakata sekitar 3 hingga 5 kata yang jelas maknanya. Mereka mulai meniru kata-kata yang sering didengar. Memasuki usia 18 bulan, anak umumnya mampu mengucapkan 10 hingga 20 kata. Mereka bisa menunjukkan bagian tubuh saat ditanya (misalnya, “mana hidung?”) dan menggunakan kata-kata sederhana untuk meminta sesuatu seperti “susu” atau “makan”.
5. Usia 19 hingga 24 Bulan: Menggabungkan Dua Kata
Menjelang ulang tahun keduanya, kosakata anak bisa melonjak hingga mencapai 50 kata atau lebih. Kemampuan kognitifnya yang berkembang pesat memungkinkan anak untuk mulai menggabungkan dua kata menjadi kalimat sederhana, contohnya “mau minum”, “kucing besar”, atau “mama pergi”. Pada usia ini, sekitar 50 persen dari apa yang diucapkan anak sudah dapat dimengerti oleh orang tuanya atau pengasuh yang tinggal serumah.
6. Usia 2 hingga 3 Tahun: Kalimat yang Lebih Kompleks
Anak usia 2 hingga 3 tahun bagaikan spons yang menyerap setiap kata yang kamu ucapkan. Kosakatanya bisa bertambah menjadi 200 hingga 1000 kata. Mereka sudah mampu merangkai tiga hingga empat kata dalam satu kalimat. Anak mulai memahami konsep preposisi (di atas, di bawah, di dalam) dan kata ganti (aku, kamu, dia). Di usia ini pula anak mulai senang bertanya “kenapa?” atau “apa ini?”. Artikulasi atau pengucapan kata juga semakin jelas, di mana orang asing pun sudah mulai bisa mengerti sekitar 75 persen dari ucapan si anak.
Faktor Pemicu Kemampuan Bicara Anak
- Genetik dan Riwayat Keluarga: Anak dengan orang tua yang memiliki riwayat cepat atau lambat bicara seringkali mengikuti pola yang sama.
- Stimulasi Lingkungan: Anak yang sering diajak berinteraksi, dibacakan buku, dan diajak bermain cenderung memiliki kosakata yang lebih kaya.
- Kondisi Fisik: Struktur mulut, lidah, pendengaran, serta kemampuan neurologis otak sangat menentukan kemampuan memproduksi suara yang jelas.
Tanda-Tanda Keterlambatan Bicara (Speech Delay)
Meski perkembangan tiap anak berbeda, terdapat batasan waktu maksimal untuk pencapaian milestone tertentu. Sangat penting bagi orang tua untuk tidak mengabaikan intuisi jika merasa ada yang salah dengan perkembangan bahasa anaknya. Jangan berpegang pada mitos bahwa “nanti juga bicara sendiri jika sudah waktunya” apabila anak menunjukkan beberapa tanda bahaya atau red flags berikut ini:
- Usia 12 bulan: Tidak menggunakan gestur tubuh seperti menunjuk, melambai, atau menggelengkan kepala. Tidak merespons ketika namanya dipanggil dan tidak ada usaha untuk mengoceh (babbling).
- Usia 18 bulan: Lebih memilih menggunakan gestur daripada mencoba mengucapkan kata. Kesulitan meniru suara dan tidak mampu mengucapkan setidaknya 5 kata bermakna.
- Usia 24 bulan: Hanya bisa meniru kata atau tindakan, namun tidak bisa menghasilkan kata secara spontan untuk meminta sesuatu. Kosakata kurang dari 50 kata dan belum bisa merangkai dua kata.
- Usia di atas 2 tahun: Suara berbunyi sengau atau aneh, kesulitan memahami perintah sederhana, dan ucapannya sama sekali tidak bisa dipahami oleh orang di luar anggota keluarga inti.
- Kapan saja: Terjadi kemunduran kemampuan (regresi). Misalnya, anak sebelumnya bisa mengucapkan “mama” dan “papa”, tiba-tiba kehilangan kemampuan bicara dan kontak mata tersebut di usia 18 bulan.
Apabila ibu atau ayah mendapati si Kecil mengalami gejala atau tanda-tanda keterlambatan seperti di atas, jangan ragu atau menunda waktu. Kamu sangat disarankan untuk segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam. Penanganan medis sedini mungkin dari Dokter Spesialis Anak atau dokter tumbuh kembang dapat membantu mengevaluasi apakah ini sekadar keterlambatan biasa atau ada gangguan medis lain yang mendasarinya.
Penyebab Anak Terlambat Bicara
Keterlambatan bicara bukanlah sebuah diagnosis tunggal, melainkan sebuah gejala yang bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor. Mengetahui akar masalah sangat krusial dalam menentukan jenis terapi yang akan diberikan kepada anak. Beberapa penyebab umum anak terlambat bicara meliputi:
1. Gangguan Pendengaran
Ini adalah penyebab organis yang paling umum dan harus disingkirkan pertama kali. Anak belajar bicara dengan meniru suara yang mereka dengar. Jika seorang anak mengalami infeksi telinga kronis, penumpukan cairan di telinga tengah, atau ketulian bawaan, mereka secara otomatis akan kesulitan untuk memproduksi kata-kata. Oleh karena itu, tes pendengaran (seperti OAE atau BERA) sangat wajib dilakukan pada anak dengan suspek speech delay.
2. Gangguan Struktur Mulut (Kelainan Fisik)
Beberapa anak terlambat bicara karena organ yang digunakan untuk memproduksi suara mengalami masalah struktural. Kondisi seperti bibir sumbing, langit-langit mulut terbelah (cleft palate), atau tongue-tie (frenulum lidah yang terlalu pendek) dapat menghambat pergerakan lidah dan bibir untuk membentuk huruf-huruf tertentu dengan sempurna.
3. Kurangnya Stimulasi Sosial dan Psikososial
Lingkungan di mana anak tumbuh sangat mempengaruhi kemampuan bahasanya. Anak yang tumbuh di lingkungan yang sepi, kurang interaksi dua arah dengan orang tua, diabaikan (neglect), atau terlalu sering dititipkan pada gadget (penggunaan screen time yang tidak terkontrol sebelum usia 2 tahun) sangat rentan mengalami keterlambatan bicara. Komunikasi satu arah dari layar kaca tidak mengajarkan anak bagaimana berinteraksi, membaca ekspresi wajah, atau merespons percakapan.
4. Autism Spectrum Disorder (ASD)
Keterlambatan bicara sering kali menjadi salah satu tanda awal dari spektrum autisme. Namun, pada anak autis, keterlambatan bicara biasanya juga disertai dengan gangguan komunikasi sosial lainnya. Misalnya, anak tidak memiliki kontak mata saat diajak bicara, tidak menoleh saat dipanggil namanya, asik dengan dunianya sendiri, melakukan gerakan berulang (flapping hands), dan tidak tertarik bermain dengan teman sebayanya.
5. Apraksia Bicara pada Anak (Childhood Apraxia of Speech)
Ini adalah gangguan neurologis di mana anak memiliki masalah pada motorik bicaranya. Otak anak sebenarnya tahu persis apa yang ingin ia katakan, namun terdapat hambatan dalam mengirimkan sinyal ke otot lidah, bibir, dan rahang untuk bergerak secara berurutan membentuk kata tersebut. Anak dengan apraksia biasanya membutuhkan terapi wicara yang intensif dan spesifik.
Cara Efektif Menstimulasi Anak agar Cepat Bicara
Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Peran aktif orang tua setiap hari di rumah adalah terapi dan stimulasi terbaik bagi anak. Berikut adalah beberapa langkah praktis namun terbukti efektif secara medis dan psikologis untuk mendorong anak cepat berbicara:
- Ajak Bicara Sejak Bayi: Jadilah komentator atau narator bagi kegiatan anak. Bicarakan apa yang sedang kamu lakukan bersamanya, misalnya, “Sekarang kita ganti popok ya, ini air hangatnya, wah seger sekali!” Meskipun anak belum bisa membalas, otaknya sedang merekam jutaan kosakata baru setiap hari.
- Membacakan Buku Dongeng (Read Aloud): Kegiatan membacakan buku bergambar sangat menstimulasi perkembangan bahasa anak. Tunjuk gambar pada buku dan sebutkan namanya berulang kali. Ini membantu anak mengasosiasikan visual benda dengan suara dari kata tersebut.
- Bernyanyi Bersama: Irama dan nada dari lagu anak-anak sangat mudah diingat oleh otak balita. Bernyanyi sambil menggerakkan tubuh membiasakan anak dengan pola intonasi dan pengucapan kata dasar.
- Hindari Baby Talk: Gunakan bahasa yang jelas dan tata bahasa yang benar saat berbicara dengan si Kecil. Hindari menggunakan bahasa cadel buatan (misal: “cucu” untuk susu, atau “mimi” untuk minum). Jika anak mengucapkan kata yang salah, perbaiki secara tidak langsung dengan mengulang kata yang benar tanpa memarahinya.
- Kurangi Waktu Layar (Screen Time): Ikuti panduan dari badan kesehatan dunia yang merekomendasikan nol screen time untuk anak di bawah usia 18-24 bulan (kecuali untuk video call bersama keluarga). Pada usia 2-5 tahun, batasi tontonan maksimal 1 jam per hari dengan pendampingan interaktif dari orang tua.
- Beri Kesempatan Anak Menjawab: Saat bertanya pada anak, berikan jeda waktu sekitar 5-10 detik untuk ia memproses pertanyaan dan mencoba menjawab. Jangan terburu-buru mewakili menjawab pertanyaannya.
Dukungan Nutrisi untuk Perkembangan Bahasa Anak
Selain stimulasi lingkungan, nutrisi memainkan peran biologis yang sangat penting dalam perkembangan otak yang mengatur kemampuan bicara. Periode emas anak dari usia 0-2 tahun membutuhkan nutrisi pembentuk selubung mielin dan koneksi sinapsis di otak. Pastikan si Kecil mendapatkan ASI eksklusif dan MPASI yang kaya akan Zat Besi, Omega-3 (DHA/EPA), Kolin, dan Zinc. Kekurangan zat besi pada balita terbukti secara medis dapat menurunkan fungsi kognitif dan berdampak pada kelambatan bicara.
Jika anak sulit makan (GTM) dan kamu khawatir asupan nutrisinya tidak tercukupi dari makanan harian, pertimbangkan pemberian suplemen tambahan atas saran dokter. Kamu bisa beli vitamin anak online di Halodoc, produk 100% asli, aman, dan langsung diantar ke rumah tanpa perlu repot keluar.
Studi Terkait Perkembangan Bahasa Anak
Pediatrics (Jurnal Resmi American Academy of Pediatrics) menerbitkan studi di tahun 2018 yang menjelaskan bahwa kualitas interaksi dua arah (serve and return) antara orang tua dan anak jauh lebih penting daripada sekadar jumlah kata yang didengar anak pasif dari televisi.
Studi ini menunjukkan bahwa anak-anak yang orang tuanya responsif terhadap ocehan mereka sejak bayi mengalami perkembangan sirkuit saraf bahasa di otak (Area Broca dan Wernicke) yang jauh lebih kuat. Hal ini menegaskan bahwa komunikasi manusia membutuhkan respons emosional langsung untuk bisa berkembang optimal, sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh gawai secanggih apa pun.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Referensi:
American Academy of Pediatrics (HealthyChildren.org). Diakses pada 2024. Language Development: 8 to 12 Months.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. CDC’s Developmental Milestones.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Delayed speech or language development.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Keterlambatan Bicara.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age.
FAQ
1. Di usia berapa anak biasanya mengucapkan kata pertama?
Sebagian besar anak mengucapkan kata bermakna pertamanya (seperti “mama”, “papa”, atau “nen”) pada rentang usia 10 hingga 14 bulan. Namun, ini bisa bervariasi. Jika anak belum memproduksi kata hingga usia 15 bulan, observasi lebih ketat diperlukan.
2. Apakah gadget bisa membuat anak terlambat bicara?
Ya, penggunaan gadget (screen time) berlebihan pada anak di bawah usia 2 tahun sangat berkaitan erat dengan risiko keterlambatan bicara. Hal ini dikarenakan tontonan bersifat pasif dan searah, tidak melatih otak anak untuk berinteraksi dan membalas komunikasi.
3. Kapan saya harus membawa anak ke dokter untuk masalah bicara?
Kamu harus segera membawa si Kecil ke dokter jika anak tidak mengoceh sama sekali di usia 12 bulan, tidak bisa menunjuk barang pada usia 15 bulan, belum ada kata bermakna di usia 18 bulan, atau tidak bisa merangkai dua kata saat usianya menginjak 2 tahun.
4. Apakah membiarkan anak menangis baik untuk melatih paru-paru dan bicaranya?
Itu adalah mitos medis. Menangis memang cara bayi berkomunikasi di bulan-bulan awal, namun membiarkannya menangis tanpa ditenangkan (cry it out secara ekstrem) justru bisa meningkatkan hormon stres (kortisol) pada anak dan berdampak negatif pada perkembangan emosi serta kognitifnya.





