Usia Lansia Menurut Kemenkes: Klasifikasi & Info Penting

DAFTAR ISI
- Klasifikasi Kategori Usia Secara Umum
- Klasifikasi dan Tahapan Usia Lansia Menurut Kemenkes
- Fokus Kebutuhan Kesehatan Berdasarkan Kategori Usia
- Studi Terkait Penuaan Sehat
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Setiap fase kehidupan manusia, dari bayi hingga lanjut usia (lansia), membawa perubahan fisik, mental, dan emosional yang berbeda-beda. Mengetahui kategori usia sangatlah penting, bukan hanya untuk keperluan demografi, tetapi juga sebagai panduan medis. Dengan mengetahui di mana posisi usia kamu atau anggota keluarga, pencegahan penyakit dan pemberian terapi medis dapat dilakukan secara lebih akurat dan terarah.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah menetapkan standar kategori usia untuk memudahkan program pelayanan kesehatan masyarakat. Pembagian ini didasarkan pada kerentanan penyakit, perubahan fungsi organ tubuh, hingga kebutuhan nutrisi pada masing-masing kelompok umur. Salah satu fokus terbesar Kemenkes saat ini adalah penanganan pada kelompok pralansia dan lansia, mengingat angka harapan hidup di Indonesia yang terus meningkat setiap tahunnya.
Memasuki usia lanjut sering kali diiringi dengan penurunan fungsi kognitif dan fisik, seperti mudah lelah, nyeri sendi, hingga risiko penyakit kronis yang lebih tinggi. Oleh karena itu, perhatian khusus terhadap gaya hidup sehat dan deteksi dini penyakit sangat ditekankan pada fase ini.
Lantas, bagaimana sebenarnya pembagian kategori usia menurut Kemenkes, dan apa saja fokus kesehatan yang perlu diperhatikan pada setiap tahapannya? Berikut ulasan lengkapnya!
Klasifikasi Kategori Usia Secara Umum
Kementerian Kesehatan RI melalui berbagai peraturan dan pedoman kesehatan masyarakat telah membagi kategori usia ke dalam beberapa tahapan kehidupan. Pembagian ini sering digunakan dalam menentukan dosis obat, kebutuhan nutrisi, serta skrining penyakit. Berikut adalah klasifikasi usia secara umum yang sering menjadi rujukan medis di Indonesia:
1. Masa Balita dan Kanak-kanak (0 – 11 Tahun)
Masa balita (0-5 tahun) adalah periode golden age di mana perkembangan otak dan fisik terjadi sangat pesat. Pada masa ini, fokus utama adalah pemenuhan gizi seimbang untuk mencegah stunting, serta kelengkapan imunisasi dasar. Sementara itu, masa kanak-kanak (5-11 tahun) merupakan fase di mana anak mulai banyak berinteraksi dengan lingkungan luar, sehingga rentan terhadap penyakit infeksi menular seperti batuk, pilek, atau diare.
2. Masa Remaja (12 – 25 Tahun)
Kategori ini dibagi lagi menjadi masa remaja awal (12-16 tahun) dan remaja akhir (17-25 tahun). Fase ini ditandai dengan pubertas dan perubahan hormonal yang signifikan. Kebutuhan kesehatan pada fase ini sering kali bergeser ke arah kesehatan mental, masalah kulit seperti jerawat, kesehatan reproduksi, serta risiko anemia pada remaja putri yang mulai mengalami menstruasi.
3. Masa Dewasa (26 – 45 Tahun)
Masa dewasa terbagi menjadi dewasa awal (26-35 tahun) dan dewasa akhir (36-45 tahun). Secara fisik, ini adalah masa di mana tubuh manusia mencapai puncak kebugarannya, namun perlahan mulai mengalami perlambatan metabolisme. Pada fase dewasa akhir, penyakit akibat gaya hidup yang buruk (seperti sering begadang, kurang gerak, dan pola makan tidak sehat) mulai menunjukkan gejalanya. Hipertensi, asam urat, dan peningkatan kadar kolesterol sering terdeteksi di usia ini.
Klasifikasi dan Tahapan Usia Lansia Menurut Kemenkes
Seiring bertambahnya usia, fungsi organ tubuh akan mengalami penurunan yang alamiah. Kemenkes RI memberikan perhatian yang sangat besar pada fase lanjut usia ini. Berdasarkan peraturan dan pedoman Kemenkes, kelompok umur lanjut usia diklasifikasikan menjadi tiga tahapan utama yang memiliki pendekatan medis berbeda:
1. Masa Pralansia (45 – 59 Tahun)
Pralansia adalah masa transisi menuju usia lanjut. Pada masa ini, wanita akan mengalami fase perimenopause hingga menopause yang ditandai dengan berhentinya siklus menstruasi dan perubahan hormon estrogen yang drastis. Penurunan kepadatan tulang (osteopenia) mulai terjadi. Pemeriksaan gula darah, kolesterol, dan tekanan darah harus mulai dirutinkan di fase ini untuk mencegah komplikasi di masa tua.
2. Lansia (60 – 69 Tahun)
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, seseorang dikategorikan sebagai lansia ketika ia telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Pada masa ini, penurunan fungsi fisik mulai terasa nyata. Keluhan seperti osteoarthritis (pengapuran sendi), gangguan pendengaran, katarak, hingga masalah gigi dan mulut menjadi keluhan yang paling sering ditemui di fasilitas kesehatan.
3. Lansia Risiko Tinggi (Di atas 70 Tahun)
Kategori lansia risiko tinggi (resti) adalah mereka yang berusia lebih dari 70 tahun, atau lansia usia 60 tahun ke atas yang memiliki masalah kesehatan komorbiditas (penyakit penyerta ganda). Lansia di tahap ini sangat rentan terhadap infeksi paru-paru, demensia, penyakit Alzheimer, gangguan keseimbangan yang memicu risiko jatuh, serta frailty syndrome (sindrom kerentaan lansia). Pada fase ini, ketergantungan terhadap caregiver (perawat atau anggota keluarga) menjadi lebih tinggi.
Tips Menjaga Kualitas Hidup di Masa Lansia
- Tetap Aktif Bergerak: Lakukan olahraga ringan seperti jalan kaki santai, senam lansia, atau yoga minimal 30 menit sehari untuk menjaga kelenturan sendi dan kekuatan otot.
- Perhatikan Asupan Nutrisi: Perbanyak konsumsi serat dari sayur dan buah untuk mencegah sembelit, serta penuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D untuk kepadatan tulang.
- Jaga Kesehatan Mental: Tetap bersosialisasi dengan teman sebaya atau keluarga dapat menurunkan risiko stres dan depresi pada lansia.
- Lakukan Skrining Rutin: Jangan tunggu sakit. Pemeriksaan tensi darah, gula darah, dan kolesterol sebaiknya dilakukan secara berkala.
Fokus Kebutuhan Kesehatan Berdasarkan Kategori Usia
Setiap tingkatan usia membutuhkan pendekatan penanganan preventif dan kuratif yang spesifik. Jika kamu merasa kesulitan untuk memenuhi asupan nutrisi harian hanya dari makanan ringan, kamu bisa memanfaatkan layanan apotek online. Untuk menjaga daya tahan tubuh diri sendiri maupun keluarga, kamu bisa beli vitamin, suplemen, dan produk kesehatan di Halodoc yang 100% asli dan pesanan akan diantar langsung ke rumahmu.
Sementara itu, seiring transisi dari usia dewasa menuju lansia, organ tubuh seperti jantung, ginjal, dan pankreas tidak lagi bekerja secara maksimal. Penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, dan stroke sering kali muncul tanpa gejala di awal. Jika kamu atau orang tuamu mengalami keluhan kesehatan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan menunda pengobatan. Segera lakukan konsultasi ke dokter di Halodoc yang tersedia 24 jam untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan medis yang tepat secara praktis.
Studi Mengenai Kesehatan Berdasarkan Usia
Journal of Aging Research menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa intervensi gaya hidup sehat yang dimulai pada masa pralansia (usia 45-59 tahun) secara signifikan dapat menunda onset penyakit kronis di usia lansia.
Penelitian tersebut membuktikan bahwa mereka yang mulai menjaga pola makan rendah garam, mengurangi gula harian, dan rutin bergerak di usia dewasa akhir atau pralansia memiliki persentase 60% lebih tinggi untuk mencapai kondisi healthy aging (penuaan yang sehat dan mandiri) dibandingkan mereka yang baru memulai kebiasaan sehat setelah divonis sakit di usia 60 tahun ke atas.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2024. Peraturan Menteri Kesehatan RI tentang Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Ageing and Health.
Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. Diakses pada 2024. Situasi Lanjut Usia (Lansia) di Indonesia.
National Institute on Aging (NIH). Diakses pada 2024. What Do We Know About Healthy Aging?
FAQ
1. Umur berapa seseorang bisa disebut lansia menurut Kemenkes?
Berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan RI dan Undang-Undang No. 13 Tahun 1998, seseorang resmi dikategorikan sebagai lanjut usia (lansia) apabila telah mencapai umur 60 tahun ke atas.
2. Apa yang dimaksud dengan masa Pralansia?
Pralansia adalah fase persiapan menuju masa lansia, yang berada pada rentang usia 45 hingga 59 tahun. Pada masa ini, sangat penting untuk melakukan deteksi dini terhadap penyakit metabolik seperti hipertensi dan diabetes.
3. Mengapa kebutuhan nutrisi lansia berbeda dengan orang dewasa muda?
Metabolisme lansia berjalan lebih lambat dan kemampuan tubuh menyerap nutrisi dari makanan mulai menurun. Lansia membutuhkan lebih banyak kalsium, vitamin D, vitamin B12, dan serat, namun perlu sangat membatasi asupan kalori, gula, dan garam tinggi.
4. Kapan sebaiknya lansia mulai melakukan cek kesehatan rutin?
Cek kesehatan rutin sebaiknya sudah dimulai sejak masa pralansia (usia 45 tahun). Namun untuk lansia (60 tahun ke atas), cek tensi darah, gula darah, dan fungsi ginjal sangat disarankan untuk dilakukan minimal setiap 6 bulan hingga 1 tahun sekali tergantung riwayat medisnya.



