Ad Placeholder Image

Vaksinasi COVID-19: Tujuan, Jenis, dan Prosedur

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   05 Juni 2026

“Ada banyak jenis vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia. Masing-masing memiliki efektivitas yang berbeda.”

Vaksinasi COVID-19: Tujuan, Jenis, dan ProsedurVaksinasi COVID-19: Tujuan, Jenis, dan Prosedur

DAFTAR ISI


Pandemi COVID-19 telah mengubah lanskap kesehatan global secara drastis sejak awal kemunculannya. Salah satu pilar utama dalam mengendalikan penyebaran virus SARS-CoV-2 adalah melalui program vaksinasi massal. Vaksin bekerja dengan cara melatih sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan virus tanpa harus membuat kita jatuh sakit terlebih dahulu. Di Indonesia, berbagai jenis vaksin telah mendapatkan izin penggunaan darurat (EUA) dari BPOM untuk melindungi masyarakat dari risiko gejala berat dan kematian.

Memahami jenis-jenis vaksin sangat penting karena setiap platform teknologi memiliki mekanisme kerja yang berbeda dalam memicu respons imun. Ada vaksin yang menggunakan metode tradisional dengan virus yang telah dimatikan, namun ada pula yang menggunakan teknologi mutakhir seperti rekayasa genetik mRNA. Dengan mengetahui perbedaan ini, kamu bisa lebih memahami bagaimana tubuh bereaksi setelah menerima suntikan dan mengapa dosis booster tetap diperlukan untuk menjaga proteksi jangka panjang.

Penting untuk diingat bahwa efektivitas vaksin tidak hanya bergantung pada mereknya, tetapi juga pada kondisi kesehatan penerimanya. Jika kamu memiliki riwayat penyakit penyerta (komorbid) atau alergi berat, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna memastikan keamanan prosedur vaksinasi bagi kondisi kesehatan spesifikmu.

Nah, mau tahu apa saja pilihan jenis vaksin covid yang tersedia dan bagaimana cara kerjanya? Berikut ulasannya!

Mengenal Berbagai Teknologi Vaksin COVID-19

Dunia medis bergerak sangat cepat dalam mengembangkan vaksin COVID-19. Secara umum, platform vaksin yang digunakan saat ini terbagi menjadi empat kategori besar: mRNA, Viral Vector, Inactivated Virus, dan Protein Subunit. Setiap platform ini memiliki tujuan yang sama, yaitu memperkenalkan “instruksi” atau “potongan” virus ke sistem imun agar tubuh membentuk antibodi dan sel memori.

Vaksin mRNA (Pfizer dan Moderna)

Teknologi mRNA (messenger RNA) adalah salah satu terobosan paling mutakhir dalam dunia vaksinologi. Berbeda dengan vaksin tradisional, vaksin ini tidak mengandung virus hidup atau virus yang dimatikan.

1. Cara Kerja mRNA

Vaksin mRNA memberikan instruksi genetik kepada sel-sel tubuh kita untuk membuat protein yang menyerupai protein spike yang ada di permukaan virus COVID-19. Setelah protein ini terbentuk, sistem imun akan mengenalinya sebagai benda asing dan mulai memproduksi antibodi.

2. Keunggulan dan Efektivitas

Vaksin jenis ini, seperti Pfizer-BioNTech dan Moderna, dikenal memiliki efikasi yang sangat tinggi dalam mencegah gejala klinis COVID-19. Keunggulannya adalah proses pengembangannya yang relatif cepat karena hanya membutuhkan kode genetik virus, bukan menumbuhkan virus dalam jumlah besar di laboratorium.

Vaksin Viral Vector (AstraZeneca dan Janssen)

Vaksin vektor virus menggunakan virus lain yang sudah dijinakkan (biasanya adenovirus) sebagai “kendaraan” untuk mengirimkan instruksi genetik virus SARS-CoV-2 ke dalam sel tubuh.

1. AstraZeneca (Oxford)

Vaksin ini menggunakan adenovirus dari simpanse yang tidak bisa bereplikasi dalam tubuh manusia. Begitu masuk, sel akan memproduksi protein spike yang memicu respons imun seluler dan antibodi.

2. Janssen (Johnson & Johnson)

Salah satu keunikan vaksin Janssen adalah efektivitasnya yang cukup baik hanya dengan satu dosis primer, meskipun di kemudian hari dosis booster tetap direkomendasikan untuk menghadapi varian baru.

Vaksin Inactivated Virus (Sinovac dan Sinopharm)

Ini adalah metode pembuatan vaksin yang paling klasik dan sudah digunakan selama puluhan tahun untuk vaksin lain seperti polio dan flu.

1. Mekanisme Inactivated

Para ilmuwan menumbuhkan virus SARS-CoV-2 di laboratorium, kemudian mematikannya menggunakan bahan kimia, panas, atau radiasi. Karena virus sudah mati, ia tidak bisa menginfeksi atau bereplikasi, tetapi struktur fisiknya tetap utuh sehingga sistem imun tetap bisa mengenalinya.

2. Profil Keamanan

Vaksin seperti Sinovac (Coronavax) cenderung memiliki efek samping atau KIPI yang lebih ringan dibandingkan platform mRNA, sehingga seringkali menjadi pilihan untuk individu yang lebih sensitif terhadap reaksi pasca vaksinasi.

Vaksin Protein Subunit (Novavax dan Indovac)

Vaksin protein subunit mengandung potongan-potongan protein virus (spike protein) yang telah dimurnikan. Vaksin ini tidak mengandung materi genetik virus sama sekali.

1. Penggunaan Adjuvan

Biasanya, vaksin jenis ini menyertakan bahan tambahan yang disebut adjuvan untuk membantu memperkuat respons imun agar antibodi yang terbentuk lebih banyak dan bertahan lama.

2. Indovac (Produksi Dalam Negeri)

Indonesia juga telah berhasil memproduksi vaksin protein subunit sendiri yaitu Indovac, yang merupakan bukti kemandirian bangsa dalam menghadapi pandemi global.

Tips Menghadapi Vaksinasi COVID-19
  1. Pastikan tubuh dalam kondisi fit dan istirahat cukup sebelum jadwal suntik.
  2. Informasikan riwayat alergi atau penyakit kronis kepada petugas medis di lokasi.
  3. Tetap tenang saat penyuntikan untuk meminimalkan rasa nyeri pada otot lengan.

Menangani Efek Samping Pasca Vaksinasi

Efek samping atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) adalah tanda bahwa sistem imun kamu sedang belajar merespons vaksin. Gejala umum meliputi nyeri di bekas suntikan, demam ringan, sakit kepala, dan rasa lelah.

Jika kamu mengalami demam atau nyeri otot yang mengganggu aktivitas setelah vaksin, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah untuk meredakan gejalanya. Penggunaan paracetamol biasanya disarankan jika demam muncul, namun pastikan untuk membaca aturan pakai pada kemasan.

Studi Mengenai Efektivitas Vaksin

The Lancet menerbitkan studi di tahun 2022 yang menjelaskan bahwa vaksinasi booster secara signifikan meningkatkan perlindungan terhadap varian Omicron dibandingkan dengan hanya dua dosis primer.

Studi ini melibatkan ribuan partisipan dan menunjukkan bahwa meskipun antibodi bisa menurun seiring waktu, sel memori (sel T dan sel B) tetap memberikan perlindungan krusial terhadap risiko rawat inap. Hal ini menegaskan pentingnya melengkapi dosis vaksinasi hingga booster terbaru.

Penting untuk diingat bahwa perlindungan terbaik didapatkan dari kombinasi vaksinasi dan protokol kesehatan. Jika kamu merasa gejala tidak kunjung membaik setelah vaksinasi atau memiliki kekhawatiran khusus mengenai jenis vaksin tertentu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis profesional.

Kamu bisa mendapatkan suplemen daya tahan tubuh atau obat pereda nyeri di Toko Kesehatan Halodoc dengan praktis. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc.

Referensi:
World Health Organization. Diakses pada 2026. Coronavirus disease (COVID-19): Vaccines.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2026. Understanding How COVID-19 Vaccines Work.
Ministry of Health Republic of Indonesia. Diakses pada 2026. FAQ Vaksinasi COVID-19.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. COVID-19 vaccines: Get the facts.
The Lancet. Diakses pada 2026. Safety and efficacy of the ChAdOx1 nCoV-19 vaccine.

FAQ

1. Apa perbedaan utama antara vaksin mRNA dan inactivated virus?

Vaksin mRNA menggunakan kode genetik untuk melatih sel membuat protein virus, sedangkan inactivated virus menggunakan virus yang sudah dimatikan secara fisik untuk memicu sistem imun.

2. Apakah boleh mencampur merek vaksin (mix-and-match) untuk booster?

Ya, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan merek vaksin yang berbeda untuk booster (heterolog) seringkali menghasilkan respons imun yang lebih kuat dibandingkan menggunakan merek yang sama (homolog).

3. Apakah orang dengan komorbid boleh divaksin?

Boleh, asalkan kondisi penyakit penyertanya dalam keadaan terkontrol dan sudah mendapatkan rekomendasi atau izin dari dokter spesialis yang menangani.

4. Berapa lama efektivitas vaksin COVID-19 bertahan dalam tubuh?

Kadar antibodi umumnya mulai menurun setelah 6 bulan, itulah sebabnya dosis booster sangat dianjurkan untuk memperkuat kembali sistem pertahanan tubuh terhadap varian baru.

Punya Pertanyaan Seputar Efek Samping atau Jenis Vaksin COVID-19? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan atau bingung mengenai jadwal vaksinasi, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.