Volvulus: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Penanganan

DAFTAR ISI
- Apa Itu Volvulus?
- Jenis-jenis Volvulus
- Penyebab dan Faktor Risiko Volvulus
- Gejala Volvulus yang Perlu Diwaspadai
- Cara Mendiagnosis Volvulus
- Penanganan dan Pengobatan Volvulus
- Komplikasi Jika Volvulus Tidak Ditangani
- Studi Mengenai Volvulus
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Apa Itu Volvulus?
Sistem pencernaan manusia merupakan jaringan saluran yang panjang dan kompleks. Salah satu gangguan paling serius yang bisa terjadi pada sistem ini adalah usus yang terpelintir. Dalam dunia medis, volvulus adalah suatu kondisi gawat darurat di mana bagian usus (bisa usus besar maupun usus halus) terpelintir di sekitar jaringan penyangganya (mesenterium). Terpelintirnya usus ini menyebabkan sumbatan total pada saluran cerna dan memotong aliran darah ke bagian usus tersebut.
Kondisi ini tidak boleh dianggap remeh karena dapat berakibat fatal dalam waktu singkat. Ketika aliran darah terhenti (iskemia usus), jaringan usus yang tidak mendapat pasokan oksigen dan nutrisi akan mulai mati (nekrosis). Jaringan yang mati ini sangat rentan mengalami robekan atau perforasi, yang kemudian akan membocorkan isi usus dan bakteri ke dalam rongga perut, memicu infeksi parah yang disebut peritonitis.
Volvulus dapat terjadi pada siapa saja, mulai dari bayi yang baru lahir hingga orang dewasa yang sudah lanjut usia. Pada bayi, volvulus sering kali dikaitkan dengan kelainan bawaan yang disebut malrotasi usus. Sementara pada orang dewasa, terutama lansia, kondisi ini sering dipicu oleh kelemahan otot usus, riwayat operasi perut sebelumnya, atau konstipasi kronis. Mengingat tingkat bahayanya yang sangat tinggi, volvulus merupakan keadaan darurat medis yang memerlukan tindakan operasi atau intervensi medis segera.
Penting untuk dipahami bahwa volvulus bukanlah kondisi yang bisa diobati secara mandiri di rumah atau hanya dengan mengonsumsi obat-obatan bebas. Jika kamu atau orang terdekat menunjukkan gejala nyeri perut hebat yang datang tiba-tiba, sangat disarankan untuk segera mencari pertolongan medis. Kamu bisa konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan panduan medis darurat sebagai langkah awal sebelum menuju rumah sakit.
Jenis-jenis Volvulus
Berdasarkan letak terjadinya pelintiran pada usus, volvulus diklasifikasikan menjadi beberapa jenis utama. Berikut adalah penjelasan untuk masing-masing jenis:
1. Volvulus Sigmoid
Volvulus sigmoid adalah jenis yang paling umum terjadi pada orang dewasa, terhitung menyumbang sekitar 60% hingga 80% dari seluruh kasus volvulus. Kondisi ini terjadi ketika kolon sigmoid (bagian terakhir dari usus besar yang berbentuk huruf S sebelum rektum) terpelintir. Jenis ini lebih banyak dialami oleh pasien lanjut usia (di atas 60 tahun), terutama mereka yang memiliki riwayat sembelit kronis, tinggal di panti jompo, atau memiliki gangguan neurologis dan psikiatris. Pola makan tinggi serat yang menyebabkan usus besar menjadi panjang dan membesar (megakolon) juga sering menjadi pemicunya.
2. Volvulus Sekum (Cecal Volvulus)
Jenis volvulus ini menyumbang sekitar 15% hingga 30% kasus volvulus pada orang dewasa. Volvulus sekum terjadi ketika sekum (bagian awal usus besar yang terhubung dengan usus halus) dan kolon asenden terlepas dari dinding perut dan memelintir dirinya sendiri. Pasien dengan kondisi ini biasanya berusia lebih muda dibandingkan pasien volvulus sigmoid (berkisar antara usia 30 hingga 50 tahun). Faktor risikonya meliputi riwayat operasi perut, kehamilan, atau kelainan bawaan di mana sekum tidak menempel kuat pada dinding perut.
3. Volvulus Midgut
Berbeda dengan dua jenis di atas, volvulus midgut hampir secara eksklusif terjadi pada bayi dan anak-anak, meskipun terkadang bisa muncul pada usia dewasa muda. Volvulus midgut terjadi ketika seluruh usus halus terpelintir mengelilingi arteri mesenterika superior. Kondisi ini umumnya berakar dari malrotasi usus, yaitu kelainan bawaan di mana usus tidak terbentuk atau tidak berputar pada posisi yang benar selama perkembangan janin di dalam kandungan. Ini adalah kondisi yang sangat mengancam jiwa dan mengharuskan pembedahan darurat (prosedur Ladd) sesegera mungkin.
Penyebab dan Faktor Risiko Volvulus
Penyebab volvulus sangat bergantung pada usia pasien dan jenis volvulus yang dialami. Secara umum, kondisi ini disebabkan oleh adanya anomali anatomi (baik bawaan maupun yang didapat) atau adanya kondisi medis lain yang membuat usus lebih mudah bergeser dan terpelintir.
Pada kasus Volvulus Midgut pada bayi, penyebab utamanya adalah malrotasi usus. Saat janin berkembang, usus normalnya bergerak keluar dari perut dan masuk kembali, kemudian berputar dan menempel pada posisi yang tepat. Jika putaran ini tidak sempurna, usus tidak terfiksasi dengan baik di dalam rongga perut, membuatnya melayang bebas dan sangat mudah terpelintir di sekitar pembuluh darah utamanya.
Sementara itu, pada Volvulus Sigmoid dan Sekum, penyebabnya biasanya bersifat didapat (acquired) seiring berjalannya waktu. Beberapa faktor risiko utamanya meliputi:
- Konstipasi Kronis: Sembelit jangka panjang membuat tinja menumpuk dan membebani usus besar. Hal ini secara perlahan akan meregangkan usus (membuatnya memanjang dan longgar), sehingga lebih rentan melilit.
- Pembesaran Usus Besar (Megakolon): Penyakit Hirschsprung, penyakit Chagas, atau kebiasaan menahan buang air besar dapat menyebabkan megakolon.
- Pita Adhesi (Jaringan Parut): Pasien yang pernah menjalani operasi perut sebelumnya, seperti operasi usus buntu, operasi pengangkatan rahim (histerektomi), atau operasi panggul lainnya, rentan mengembangkan jaringan parut. Jaringan ini dapat menciptakan “poros” di mana usus bisa terpelintir.
- Kehamilan: Rahim yang membesar selama kehamilan trimester ketiga dapat mendorong usus (terutama sekum) keluar dari posisi normalnya, meningkatkan risiko volvulus sekum.
- Faktor Neurologis: Pasien dengan penyakit Parkinson, Multiple Sclerosis, atau kondisi psikiatri kronis yang mengharuskan penggunaan obat penenang dalam jangka panjang sering mengalami penurunan pergerakan usus, yang memicu peregangan kolon sigmoid.
Faktor Pemicu Volvulus Berdasarkan Usia
- Bayi (0-1 tahun): Kelainan kongenital malrotasi usus yang terjadi sejak dalam kandungan.
- Dewasa Muda (20-40 tahun): Kehamilan, riwayat operasi usus buntu, atau olahraga fisik ekstrim yang memberikan tekanan mendadak pada perut.
- Lansia (>60 tahun): Sembelit kronis, tirah baring jangka panjang (bedridden), dan penurunan fungsi saraf sistem pencernaan.
Gejala Volvulus yang Perlu Diwaspadai
Gejala volvulus bisa muncul secara tiba-tiba (akut) dan berkembang sangat cepat. Mengingat volvulus menyebabkan sumbatan total, usus di atas titik sumbatan akan dengan cepat terisi oleh makanan, cairan, dan gas pencernaan. Gejala klinis yang paling sering dikeluhkan oleh pasien meliputi:
- Nyeri Perut Hebat: Nyeri ini datang secara tiba-tiba, terasa sangat intens, dan terus-menerus. Pada orang dewasa, nyeri sering berpusat di bagian bawah perut atau di area panggul.
- Perut Membengkak (Distensi Abdomen): Karena gas dan cairan menumpuk, perut akan tampak sangat bengkak, kencang, dan keras ketika disentuh.
- Mual dan Muntah: Tubuh berusaha mengeluarkan isi usus yang tersumbat. Pada kasus volvulus usus halus (midgut), muntahan sering kali berwarna hijau gelap atau kuning pekat karena bercampur dengan cairan empedu (bilious vomiting).
- Tidak Bisa Buang Gas (Flatus) atau BAB: Hambatan total pada saluran cerna menyebabkan gas dan tinja tidak bisa lewat sama sekali. Sembelit absolut ini merupakan tanda bahaya dari sumbatan usus.
- Feses Berdarah: Jika iskemia (kematian jaringan) sudah mulai terjadi, pasien (terutama bayi) mungkin akan mengeluarkan tinja berwarna merah gelap atau berdarah.
- Tanda-tanda Syok: Jantung berdebar cepat (takikardia), napas pendek, demam, keringat dingin, dan kebingungan mental. Ini adalah tanda bahwa infeksi telah menyebar ke darah atau tekanan darah turun drastis.
Pada bayi baru lahir, gejala awal mungkin hanya terlihat sebagai bayi yang menangis terus-menerus sambil menarik kakinya ke arah perut, perut yang membesar, dan muntah berwarna hijau. Jika melihat tanda-tanda ini pada anak, jangan tunda untuk segera membawanya ke unit gawat darurat.
Cara Mendiagnosis Volvulus
Waktu adalah faktor paling krusial dalam mendiagnosis volvulus. Keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan usus menjadi mati sepenuhnya, yang meningkatkan risiko kematian. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik awal untuk memeriksa pembengkakan perut, mencari tanda kekakuan perut (peritonitis), dan mendengarkan bising usus menggunakan stetoskop (yang biasanya menghilang atau menjadi sangat tinggi bunyinya pada kasus sumbatan).
Untuk memastikan diagnosis, beberapa pemeriksaan penunjang wajib dilakukan secara cepat:
1. Rontgen Perut (Abdominal X-Ray)
Ini adalah tes lini pertama yang paling sering dilakukan. Pada volvulus sigmoid, rontgen biasanya akan menunjukkan gambaran usus besar yang sangat membengkak dan berbentuk menyerupai biji kopi yang terbalik, yang dalam dunia medis dikenal sebagai coffee bean sign. Rontgen juga dapat mendeteksi apakah sudah ada udara bebas di rongga perut, yang menandakan usus telah bocor (perforasi).
2. CT Scan Abdomen dengan Kontras
CT scan memberikan gambaran anatomi yang jauh lebih rinci dan merupakan standar emas (gold standard) untuk mendiagnosis berbagai jenis volvulus. Pada CT Scan, dokter dapat melihat dengan jelas lokasi usus yang terpelintir, kondisi aliran darah, serta mengevaluasi ada atau tidaknya jaringan mati. Tanda khas pada CT scan disebut whirlpool sign (tanda pusaran air), yang merepresentasikan pembuluh darah dan jaringan yang terpelintir.
3. Barium Enema atau Rangkaian Saluran Cerna Atas
Pada tindakan ini, cairan kontras yang mengandung barium dimasukkan melalui rektum (untuk evaluasi usus besar) atau diminum (untuk evaluasi usus halus). X-Ray kemudian akan mengambil gambar. Jika ada volvulus, cairan kontras akan terhenti pada titik pelintiran, memberikan gambaran khas berupa penyempitan seperti paruh burung (bird-beak sign). Barium enema sering dilakukan pada anak-anak yang dicurigai mengalami malrotasi.
4. Tes Darah Lengkap
Meski tidak bisa menunjukkan gambaran usus, tes darah penting untuk mengevaluasi derajat dehidrasi, keseimbangan elektrolit, dan tanda infeksi (leukositosis tinggi). Peningkatan kadar asam laktat dalam darah sering kali menjadi penanda kuat bahwa usus sudah mengalami kematian jaringan akibat kekurangan oksigen.
Penanganan dan Pengobatan Volvulus
Volvulus tidak dapat diobati dengan obat-obatan minum. Pasien memerlukan tindakan medis fisik atau pembedahan untuk melepaskan lilitan usus dan memulihkan aliran darah. Secara garis besar, penanganan volvulus terbagi menjadi penanganan medis non-bedah (pada kasus tertentu) dan tindakan operasi.
1. Resusitasi Medis Awal
Sebelum tindakan utama dilakukan, pasien akan distabilkan terlebih dahulu di instalasi gawat darurat. Cairan infus (intravena) diberikan untuk mencegah dehidrasi dan memperbaiki tekanan darah. Sebuah selang kecil (nasogastric tube) akan dimasukkan melalui hidung hingga ke lambung untuk menyedot cairan dan gas yang menumpuk, guna mengurangi tekanan di dalam perut dan mencegah muntah. Dokter juga biasanya akan memberikan antibiotik spektrum luas melalui infus untuk mencegah infeksi sepsis.
2. Sigmoidoskopi atau Dekompresi Endoskopi
Metode ini adalah pilihan pengobatan pertama khusus untuk pasien volvulus sigmoid yang kondisinya masih stabil dan ususnya belum mengalami kematian (nekrosis). Dokter akan memasukkan tabung lentur berkamera (endoskop) melalui anus untuk mencapai kolon sigmoid yang terpelintir. Selang ini akan memompa udara perlahan untuk melepaskan lilitan secara mekanis. Jika berhasil, gas dan tinja yang tersumbat akan langsung keluar dengan deras, dan perut pasien akan segera mengecil. Walaupun metode ini sangat efektif (tingkat keberhasilan 70-90%), risiko volvulus kambuh lagi di kemudian hari sangat tinggi. Oleh karena itu, operasi pengangkatan usus biasanya tetap disarankan beberapa hari setelah kondisi pasien stabil.
3. Prosedur Bedah (Operasi)
Operasi adalah pengobatan definitif untuk semua kasus volvulus sekum, volvulus midgut, dan volvulus sigmoid yang disertai dengan komplikasi (usus mati atau bocor). Beberapa jenis operasi yang umum dilakukan adalah:
- Prosedur Ladd (Ladd’s Procedure): Ini adalah operasi spesifik untuk mengobati volvulus midgut akibat malrotasi pada bayi. Dokter bedah akan melepaskan lilitan usus, memotong pita jaringan yang tidak normal (Ladd’s bands), melebarkan ruang penyangga usus, memposisikan ulang usus halus dan besar, dan biasanya mengangkat usus buntu (apendektomi) untuk menghindari kebingungan diagnostik di masa depan.
- Reseksi Usus (Bowel Resection): Jika saat dioperasi ditemukan bagian usus yang sudah menghitam dan mati, usus yang mati tersebut wajib dipotong dan diangkat (direseksi). Setelah bagian yang rusak dibuang, dokter bedah akan menyambung kembali dua ujung usus yang sehat, sebuah proses yang disebut anastomosis primer.
- Kolostomi atau Ileostomi: Jika kondisi peradangan di dalam perut sangat parah, menyambung langsung usus sangatlah berisiko karena sambungan tersebut bisa bocor. Sebagai gantinya, ujung usus yang sehat akan diarahkan ke luar dinding perut membentuk lubang buatan (stoma). Pasien akan menggunakan kantong stoma untuk mengumpulkan tinja. Tindakan stoma ini biasanya bersifat sementara, dan usus akan disambung kembali (stoma reversal) pada operasi kedua beberapa bulan setelah infeksi mereda.
Pasca operasi, masa pemulihan membutuhkan waktu yang bervariasi. Pasien tidak akan langsung diberi makan melalui mulut. Nutrisi awalnya akan disalurkan melalui pembuluh darah pusat (Total Parenteral Nutrition) hingga usus benar-benar pulih dan bisa dilalui oleh makanan. Untuk menjaga pemeliharaan fungsi sistem saluran pencernaan pasca penyembuhan jangka panjang, dokter mungkin akan meresepkan suplemen penunjang atau obat-obatan perawatan yang aman. Untuk mempermudah proses ini, kamu bisa beli obat, beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah.
Komplikasi Jika Volvulus Tidak Ditangani
Kecepatan penanganan adalah segalanya dalam kasus volvulus. Keterlambatan intervensi medis dapat menyebabkan berbagai komplikasi fatal, di antaranya:
- Nekrosis Usus: Kematian jaringan usus secara permanen akibat terhentinya suplai darah. Usus yang mati tidak dapat dihidupkan kembali dan wajib dipotong.
- Perforasi Usus: Dinding usus yang nekrosis akan menjadi sangat rapuh, tipis, dan akhirnya pecah. Pecahnya usus akan membebaskan triliunan bakteri anaerob dan aerob serta asam lambung langsung ke dalam rongga perut yang steril.
- Peritonitis: Infeksi hebat pada selaput yang melapisi organ dalam perut (peritoneum). Kondisi ini menyebabkan rasa sakit perut yang tidak tertahankan, kekakuan perut seperti papan, dan demam tinggi.
- Sepsis dan Syok Septik: Bakteri dari usus yang bocor dapat masuk ke dalam aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Sepsis adalah respons peradangan sistemik yang bisa menyebabkan kegagalan berbagai organ vital (ginjal, paru-paru, hati), penurunan tekanan darah yang dramatis, hingga kematian mendadak.
- Short Bowel Syndrome (Sindrom Usus Pendek): Ini adalah komplikasi jangka panjang jika dokter terpaksa memotong sangat banyak bagian usus halus yang mati. Tanpa panjang usus yang memadai, tubuh pasien kehilangan kemampuannya untuk menyerap nutrisi dan cairan dari makanan, yang berujung pada malnutrisi kronis dan keharusan mengandalkan nutrisi infus seumur hidup.
Studi Mengenai Volvulus
National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi klinis yang menjelaskan bahwa tingkat mortalitas (kematian) akibat volvulus sigmoid dapat ditekan secara signifikan jika diagnosis dilakukan secara dini dan prosedur dekompresi endoskopi dilakukan pada tahap awal.
Studi tersebut juga menegaskan bahwa pada pasien yang mengalami iskemia atau gangren usus, angka kematian melonjak hingga lebih dari 40% jika terjadi keterlambatan dalam tindakan bedah. Fakta medis ini menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap gejala sakit perut mendadak, terutama pada pasien lanjut usia dan anak-anak.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
FAQ
1. Apakah volvulus adalah kondisi yang bisa sembuh sendiri?
Tidak. Volvulus adalah keadaan darurat bedah yang tidak mungkin sembuh dengan sendirinya. Lilitan usus harus diuraikan secara mekanis melalui tindakan medis seperti dekompresi menggunakan endoskop atau operasi pembedahan. Mengabaikan kondisinya hanya akan mempercepat kematian jaringan usus.
2. Apa perbedaan antara volvulus dan usus buntu?
Meskipun keduanya menyebabkan sakit perut yang hebat, sumbernya berbeda. Apendisitis (usus buntu) adalah peradangan yang terjadi karena infeksi atau penyumbatan pada kantong apendiks. Sedangkan volvulus adalah terpelintirnya usus secara fisik yang menyebabkan sumbatan total pada saluran cerna dan terhentinya sirkulasi darah ke area yang terpelintir.
3. Apakah volvulus bisa dicegah?
Pada bayi dengan malrotasi bawaan, volvulus tidak dapat dicegah. Namun pada orang dewasa, risiko volvulus sigmoid dapat diturunkan dengan menerapkan gaya hidup sehat untuk mencegah konstipasi. Memperbanyak minum air putih, mengonsumsi diet tinggi serat dengan takaran tepat, serta berolahraga rutin dapat menjaga motilitas dan kekuatan otot usus.
4. Kapan saya harus segera ke UGD jika mengalami sakit perut?
Kamu harus segera menuju instalasi gawat darurat rumah sakit jika sakit perut terasa sangat tajam, datang secara tiba-tiba tanpa sebab jelas, perut terasa keras dan tegang seperti papan, muntah terus menerus (terutama berwarna hijau atau coklat), feses bercampur darah, atau tidak bisa buang angin sama sekali selama lebih dari satu hari.
Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.



