• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Wajib Tahu, Ini Tahapan Perkembangan Psikologi Anak
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Wajib Tahu, Ini Tahapan Perkembangan Psikologi Anak

Wajib Tahu, Ini Tahapan Perkembangan Psikologi Anak

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 27 Oktober 2022

“Seiring pertumbuhan fisik, psikologi anak juga akan terus berkembang. Tahapannya terjadi sejak anak masih bayi, anak usia dini, balita, hingga ia remaja.”

Wajib Tahu, Ini Tahapan Perkembangan Psikologi AnakWajib Tahu, Ini Tahapan Perkembangan Psikologi Anak

Halodoc, Jakarta – Seiring pertumbuhan fisik anak, psikologi anak pun akan terus berkembang. Hal tersebut akan terjadi sepanjang hidupnya, mulai dari baru lahir hingga dewasa kelak.

Perkembangan psikologi anak dapat dilihat dari perkembangan sosial, emosional, dan kognitif yang terjadi sepanjang hidup anak. Hal tersebut juga berkaitan dengan perubahan pengalaman dan perilaku sesuai usia anak. Lantas, seperti apa tahapan perkembangan psikologi anak?

Tahapan Perkembangan Psikologi Anak

Berikut ini tahapan perkembangan psikologi anak yang perlu dipahami:

1. Masa bayi: percaya vs tidak percaya

Periode ini berlangsung sejak lahir sampai usia 18 bulan. Tahapan ini disebut usia percaya vs tidak percaya. Bayi yang datang ke lingkungan baru, dari rahim ibu hanya membutuhkan makanan. Pada usia ini, bayi belajar mempercayai orang lain, mengembangkan kepercayaan diri. 

Anak juga akan mengalami saat-saat kecemasan dan penolakan. Jika bayi gagal mendapatkan dukungan dan perawatan yang dibutuhkan, ia akan mengembangkan rasa ketidakpercayaan, yang mempengaruhi kepribadiannya pada tahap kehidupan selanjutnya. 

2. Anak usia dini: krisis otonomi vs keraguan

Tahap ini berkisar antara 18 bulan sampai 3 tahun. Pada tahun kedua kehidupannya, sistem otot dan saraf anak telah berkembang pesat, dan anak sangat ingin memperoleh keterampilan baru. Ia juga tidak akan suka jika hanya duduk dan menonton, melainkan berkeinginan bergerak dan mengobservasi lingkungannya. 

Pada tahap ini anak butuh bimbingan. Ia juga menghadapi krisis otonomi (tuntutan orang tua) vs keraguan, tapi masalah kritis adalah perasaan kemandirian anak. Jika lingkungan orang tua sangat permisif, anak akan menghadapi kesulitan yang tidak dapat ditanganinya. Kemudian anak dapat mengembangkan keraguan tentang kemampuan dirinya. 

Begitu juga jika anak sangat dikontrol, ia akan merasa tidak berharga dan malu karena kemampuannya begitu kecil. Untuk itu, orang tua perlu menghormati kebutuhan anak dan faktor lingkungan.

3. Masa balita: inisiatif vs rasa bersalah

Tahap ini berlangsung dari usia 3 hingga 5 tahun. Krisis yang dihadapi selama periode ini adalah inisiatif vs rasa bersalah. Setelah rasa kemandirian terbentuk, anak ingin mencoba berbagai kemungkinan. Pada saat inilah kemauan anak untuk mencoba hal-hal baru difasilitasi atau dihambat. 

Jika orang tua mendukung dan mengakui upaya inisiatif dan kreatif anak dalam mencoba beberapa hal baru, maka anak akan menangani krisis ke arah yang menguntungkan. Hal tersebut akan mempengaruhi sikap inisiatif anak di masa depan. Namun, jika orang tua atau pengasuh tidak mendukung inisiatif anak, maka ia akan mengembangkan perasaan bersalah. 

4. Masa kanak-kanak akhir: Kompetensi vs rendah diri

Periode ini berkisar antara 5 hingga 12 tahun. Selama periode ini anak mengembangkan rentang perhatian yang lebih besar. Anak juga dapat mengeluarkan lebih banyak upaya untuk mendapatkan keterampilan, dan membutuhkan pencapaian, terlepas dari kemampuannya. 

Krisis yang dihadapi anak pada tahap ini yaitu industri vs inferioritas. Maksudnya, anak memiliki perasaan untuk mengembangkan kompetensi. Jika usahanya berhasil, maka akan menghasilkan perilaku rajin lebih lanjut. Namun, jika ia gagal, maka anak akan mengembangkan perasaan rendah diri. Maka itu, orang tua perlu membimbing anak untuk mengambil tugas yang sesuai dengan kemampuannya. 

5. Masa remaja: ‘badai’ dan stres

Ini adalah masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang berlangsung antara usia 12 hingga 20 tahun. Selapa periode ini, anak mencapai pubertas yang menyebabkan banyak perubahan. Berbagai perubahan berimplikasi sangat besar pada kehidupan seksual, sosial, emosional, dan kejujuran. Itulah sebanyak tahap ini disebut sebagai periode “badai dan stres”.

Perubahan tersebut membuat remaja menemukan jati diri, yang berarti ia mengembangkan pemahaman tentang diri, tujuan yang ingin dicapai, dan peran pekerjaan. Remaja sangat membutuhkan dorongan dan dukungan dari orang tua dan teman sebaya. Jika ia berhasil, maka ia akan mengembangkan proses penemuan identitas diri. Jika anak tidak berhasil, maka ia akan mengalami kebingungan tentang peran atau identitas dirinya.

Itulah setidaknya tahap perkembangan psikologi anak yang perlu orang tua pahami. Jika orang tua memiliki kesulitan dalam menghadapi psikologi anak, tidak ada salahnya untuk bertanya pada psikolog di Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Very Well Mind. Diakses pada 2022. Developmental Psychology
Psychology Discussion. Diakses pada 2022. Stages of Development of Psychology of People at Different Ages from Infancy to Old Age