Waspada, Ini Pengaruh Sabu pada Kesehatan Otak

3 menit
Ditinjau oleh  dr. Fadhli Rizal Makarim   29 September 2021

Penggunaan sabu juga dapat meningkatkan risiko mengalami serangan stroke, yang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak.

Waspada, Ini Pengaruh Sabu pada Kesehatan OtakWaspada, Ini Pengaruh Sabu pada Kesehatan Otak

Studi pada pengguna sabu kronis mengungkapkan perubahan struktural dan fungsional yang parah di area otak yang terkait dengan emosi dan memori, yang menjelaskan banyak masalah emosional dan kognitif pada penggunanya. Sabu mengubah struktur otak yang terlibat dalam pengambilan keputusan dan merusak kemampuan untuk menjadi produktif.“

Halodoc, Jakarta – Sabu atau metamfetamin adalah stimulan kuat dan bersifat sangat adiktif yang memengaruhi sistem saraf pusat. Bentuknya seperti bubuk kristal putih, tidak berbau, dengan rasa pahit yang mudah larut dalam air atau alkohol.

Penyalahgunaan sabu jangka panjang dapat memiliki banyak konsekuensi negatif, termasuk kecanduan. Ketergantungan adalah penyakit kronis yang kambuh, ditandai dengan pencarian dan penggunaan obat secara kompulsif dan disertai dengan perubahan fungsional dan molekuler di otak. Simak selengkapnya pengaruh sabu pada kesehatan otak di sini!

Insomnia dan Gejala Psikotik

Seperti halnya dengan banyak obat lainnya, toleransi terhadap efek menyenangkan pada sabu berkembang ketika dikonsumsi berulang kali. Orang yang menyalahgunakan obat ini kerap minum obat dengan dosis yang lebih tinggi serta meminumnya lebih sering, atau mengubah cara mereka meminumnya dalam upaya untuk mendapatkan efek yang diinginkan. 

Kalau sudah mengalami ketergantungan kronis, penggunanya kerap mengalami kesulitan merasakan kesenangan apa pun selain yang diberikan oleh sabu. Pada akhirnya ini akan memicu penyalahgunaan lebih lanjut. 

Baca juga: Lebih Bahaya Mana, Ganja atau Narkoba?

Penarikan diri dari sabu buat pengguna kronis dapat mengalami gejala depresi, kecemasan, kelelahan, dan keinginan yang kuat untuk mengonsumsi sabu. Selain itu, orang yang menggunakan sabu dalam periode jangka panjang dapat menunjukkan gejala yang dapat mencakup kecemasan yang signifikan, kebingungan, insomnia, gangguan mood, dan perilaku kekerasan.

Penggunanya dapat menunjukkan sejumlah gejala psikotik, termasuk paranoiavisual, halusinasi pendengaran, delusi (misalnya, sensasi serangga merayap di bawah kulit).  Gejala psikotik kadang-kadang dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah seseorang berhenti menggunakan sabu.

Selain itu, stres telah terbukti memicu kambuhnya psikosis sabu secara spontan pada pengguna sebelumnya yang pernah mengalami psikosis.

Menurunkan Aktivitas Otak

Studi neuroimaging telah menunjukkan perubahan dalam aktivitas sistem dopamin yang terkait dengan penurunan kecepatan motorik dan gangguan pembelajaran verbal pada pengguna sabu.

Studi pada pengguna sabu kronis juga mengungkapkan perubahan struktural dan fungsional yang parah di area otak yang terkait dengan emosi dan memori, yang dapat menjelaskan banyak masalah emosional dan kognitif yang diamati pada pecandu obat-obatan jenis ini.

Baca juga: Risiko Kesehatan Penggunaan Narkoba dengan Cara Booty Bumping

Sabu telah mengubah struktur otak yang terlibat dalam pengambilan keputusan dan merusak kemampuan untuk menjadi produktif. Kedua efek tersebut berkorelasi dan menunjukkan perubahan struktural telah menyebabkan penurunan fleksibilitas mental penggunanya.

Perubahan dalam struktur dan fungsi otak ini dapat menjelaskan mengapa kecanduan sabu begitu sulit untuk diobati dan memiliki peluang yang signifikan untuk kambuh di awal pengobatan.

Penggunaan sabu juga dapat meningkatkan risiko mengalami serangan stroke, yang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak. Sebuah penelitian baru-baru ini bahkan menunjukkan insiden penyakit Parkinson yang lebih tinggi di antara pengguna sabu ketimbang yang tidak.

Selain konsekuensi neurologis dan perilaku, penyalahgunaan sabu untuk pengguna jangka panjang juga dapat mengalami efek fisik, termasuk penurunan berat badan, kerusakan gigi parah dan kehilangan gigi akibat luka kulit. 

Baca juga: Selain Kerusakan Sel, Apa Saja Bahaya Narkoba?

Masalah gigi dapat disebabkan oleh kombinasi gizi buruk dan kebersihan gigi serta mulut kering dan kertakan gigi yang disebabkan oleh obat. Luka kulit adalah hasil dari menggaruk kulit untuk menyingkirkan serangga yang dibayangkan merayap di bawahnya. 

Setelah tahu dampak buruk dari sabu pada kesehatan otak, apakah kamu masih punya keinginan melarikan diri dari masalah dengan mengonsumsinya? Jika kamu punya masalah dengan penggunaan obat-obatan, periksakan dirimu segera ke rumah sakit terdekat. Kamu bisa membuat janji dengan dokter melalui aplikasi Halodoc, agar tidak perlu mengantre sesampainya di rumah sakit pilihan.

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg
Referensi:
National Institute On Drug Abuse. Diakses pada 2021. Methamphetamine Research Report
What are the long-term effects of methamphetamine misuse?
National Institute On Drug Abuse. Diakses pada 2021. Methamphetamine Research Report
What is methamphetamine?
WebMD. Diakses pada 2021. Crystal Meth: What You Should Know

Mulai Rp50 Ribu! Bisa Konsultasi dengan Ahli seputar Kesehatan