Ad Placeholder Image

Waspada PJB pada Bayi, Kenali Gejala dan Penyebabnya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   03 Maret 2026

Kenali Gejala PJB pada Bayi dan Cara Mengatasinya

Waspada PJB pada Bayi, Kenali Gejala dan PenyebabnyaWaspada PJB pada Bayi, Kenali Gejala dan Penyebabnya

Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada bayi merupakan kelainan pada struktur atau fungsi jantung yang terjadi akibat gangguan perkembangan janin selama masa kehamilan. Kondisi ini dapat dideteksi sejak lahir dan memerlukan penanganan medis yang tepat untuk mencegah komplikasi serius. Deteksi dini sangat krusial mengingat sebagian besar kasus berat membutuhkan intervensi medis di tahun pertama kehidupan.

Apa Itu PJB pada Bayi?

Penyakit Jantung Bawaan atau *Congenital Heart Disease* adalah kelainan bawaan yang paling umum terjadi pada bayi baru lahir. Kelainan ini melibatkan masalah pada dinding jantung, katup jantung, atau pembuluh darah arteri dan vena di dekat jantung. Gangguan ini menyebabkan aliran darah melalui jantung menjadi terhambat, melambat, atau mengalir ke arah yang salah.

Masalah kesehatan ini umumnya terbentuk pada trimester pertama kehamilan, saat organ jantung janin sedang berkembang. Tingkat keparahan PJB pada bayi bervariasi, mulai dari kasus ringan yang mungkin tidak menimbulkan gejala hingga kasus kompleks yang mengancam jiwa.

Gejala PJB pada Bayi Baru Lahir

Mengenali tanda-tanda awal kelainan jantung sangat penting bagi orang tua. Gejala klinis dapat muncul segera setelah bayi lahir atau beberapa minggu kemudian. Berikut adalah indikasi umum yang perlu diperhatikan:

  • Kebiruan atau Sianosis: Warna kulit, bibir, lidah, atau kuku bayi tampak membiru. Kondisi ini sering terlihat lebih jelas saat bayi menangis atau sedang menyusu, yang menandakan kurangnya oksigen dalam darah.
  • Kesulitan Menyusu: Bayi tampak kelelahan saat minum susu. Napas menjadi cepat atau terputus-putus, sehingga bayi sering berhenti menyusu untuk beristirahat. Hal ini sering disertai dengan keringat dingin di area dahi.
  • Gagal Tumbuh: Berat badan bayi tidak mengalami kenaikan yang sesuai dengan kurva pertumbuhan, atau bahkan mengalami penurunan berat badan akibat asupan nutrisi yang tidak optimal karena kelelahan saat menyusu.
  • Infeksi Saluran Napas Berulang: Bayi dengan kelainan jantung lebih rentan mengalami batuk, pilek, atau infeksi paru-paru yang sering kambuh.
  • Detak Jantung Cepat: Irama jantung bayi berdetak jauh lebih cepat dibandingkan batas normal, bahkan saat bayi sedang beristirahat atau tidur.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab pasti dari sebagian besar kasus PJB pada bayi belum diketahui secara spesifik. Namun, kondisi ini terjadi karena adanya gangguan pada proses pembentukan jantung di masa awal kehamilan. Berdasarkan analisis medis, terdapat beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya kelainan ini:

  • Faktor Genetik: Adanya riwayat keluarga yang menderita penyakit jantung bawaan atau kelainan genetik seperti sindrom Down.
  • Infeksi Selama Kehamilan: Ibu hamil yang terinfeksi virus tertentu, seperti Rubella (campak Jerman), pada trimester pertama memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan gangguan jantung.
  • Kondisi Kesehatan Ibu: Penyakit kronis pada ibu hamil, seperti diabetes yang tidak terkontrol, dapat memengaruhi perkembangan jantung janin.
  • Gaya Hidup dan Paparan Zat Kimia: Konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, atau penggunaan obat-obatan tertentu tanpa pengawasan dokter selama masa kehamilan dapat mengganggu pembentukan organ janin.

Jenis-Jenis PJB yang Umum Ditemukan

Kelainan jantung bawaan memiliki berbagai variasi berdasarkan lokasi kerusakan pada struktur jantung. Berikut adalah tiga jenis yang paling sering didiagnosis:

  • Ventricular Septal Defect (VSD): Terdapat lubang pada sekat yang memisahkan dua bilik jantung (ventrikel). Kondisi ini menyebabkan darah kaya oksigen bercampur dengan darah miskin oksigen, sehingga kerja jantung menjadi lebih berat.
  • Atrial Septal Defect (ASD): Terdapat lubang pada dinding yang memisahkan dua serambi jantung (atrium). ASD dapat meningkatkan jumlah darah yang mengalir ke paru-paru.
  • Tetralogy of Fallot (TOF): Merupakan kelainan jantung kompleks yang terdiri dari empat kombinasi cacat struktur jantung sekaligus. Kondisi ini sering menyebabkan bayi tampak sangat biru (blue baby syndrome) karena rendahnya kadar oksigen dalam darah.

Diagnosis dan Penanganan Medis

Dokter biasanya melakukan serangkaian pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis PJB pada bayi. Skrining awal sering dilakukan menggunakan *pulse oximetry* untuk mengukur saturasi oksigen dalam darah. Jika ditemukan ketidaknormalan, dokter akan merekomendasikan ekokardiografi atau USG jantung untuk melihat struktur jantung secara lebih detail.

Penanganan medis disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan kelainan jantung. Opsi pengobatan meliputi:

  • Pemantauan Rutin: Pada kasus ringan seperti kebocoran kecil, lubang mungkin dapat menutup dengan sendirinya seiring pertumbuhan anak, sehingga hanya memerlukan pemantauan berkala.
  • Pemberian Obat-obatan: Obat diberikan untuk membantu jantung memompa darah lebih efisien, mengatur irama jantung, atau membuang kelebihan cairan dari tubuh.
  • Intervensi Non-Bedah: Prosedur kateterisasi jantung dapat dilakukan untuk memperbaiki kelainan tertentu, misalnya dengan memasang balon atau *stent* tanpa perlu membuka dada.
  • Operasi Jantung: Pada kasus PJB berat, pembedahan diperlukan untuk memperbaiki lubang, melebarkan pembuluh darah, atau memperbaiki katup jantung.

Kapan Harus ke Dokter?

Deteksi dini dan penanganan yang tepat di tahun pertama kehidupan dapat meningkatkan angka harapan hidup dan kualitas kesehatan anak secara signifikan. Jika orang tua menemukan tanda-tanda seperti bayi tampak membiru, napas cepat, atau kesulitan menyusu, pemeriksaan medis harus segera dilakukan.

Konsultasi dengan dokter spesialis anak atau dokter spesialis jantung anak sangat disarankan untuk mendapatkan diagnosis akurat. Manfaatkan layanan kesehatan di Halodoc untuk berdiskusi dengan tenaga medis profesional mengenai gejala yang muncul serta langkah penanganan terbaik bagi buah hati.