Ad Placeholder Image

Waspadai Ciri Intoleransi Laktosa pada Bayi, Bunda!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Mei 2026

Ciri Intoleransi Laktosa pada Bayi, Orang Tua Perlu Tahu

Waspadai Ciri Intoleransi Laktosa pada Bayi, Bunda!Waspadai Ciri Intoleransi Laktosa pada Bayi, Bunda!

Mengenali Ciri Intoleransi Laktosa pada Bayi: Panduan Lengkap untuk Orang Tua

Intoleransi laktosa pada bayi dapat menjadi kekhawatiran bagi banyak orang tua. Kondisi ini terjadi ketika tubuh bayi kesulitan mencerna laktosa, yaitu jenis gula alami yang banyak ditemukan dalam susu dan produk olahannya. Mengenali ciri intoleransi laktosa pada bayi sejak dini sangat penting untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Artikel ini akan membahas secara detail mengenai gejala, penyebab, dan penanganan kondisi ini.

Apa Itu Intoleransi Laktosa pada Bayi?

Intoleransi laktosa adalah kondisi ketika saluran pencernaan bayi tidak mampu memproduksi cukup enzim laktase. Enzim laktase berperan penting dalam memecah laktosa menjadi dua jenis gula yang lebih sederhana, yaitu glukosa dan galaktosa, agar mudah diserap tubuh. Ketika laktosa tidak tercerna dengan baik, ia akan masuk ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri, menyebabkan berbagai gejala pencernaan yang tidak nyaman.

Ciri-Ciri Intoleransi Laktosa pada Bayi yang Perlu Diwaspadai

Gejala intoleransi laktosa pada bayi umumnya muncul 30 menit hingga 2 jam setelah bayi mengonsumsi susu atau produk yang mengandung laktosa. Ciri intoleransi laktosa pada bayi bervariasi, namun ada beberapa tanda yang paling umum dan harus diwaspadai:

  • Diare Encer dan Berbusa. Salah satu gejala paling menonjol adalah diare. Tinja bayi mungkin terlihat encer, berbusa, berwarna kuning kehijauan, dan seringkali berbau asam yang sangat kuat. Frekuensi buang air besar juga bisa menjadi lebih sering dari biasanya.
  • Perut Kembung dan Nyeri. Akumulasi gas di usus akibat fermentasi laktosa dapat menyebabkan perut bayi terasa kembung, tegang, dan sering berbunyi ‘krucuk-krucuk’. Hal ini seringkali disertai dengan nyeri perut yang membuat bayi tidak nyaman.
  • Sering Buang Angin (Flatus). Gas berlebih yang terbentuk di saluran pencernaan akan menyebabkan bayi lebih sering kentut. Kentut ini juga dapat berbau asam.
  • Rewel atau Gelisah Setelah Minum Susu. Rasa tidak nyaman pada perut akibat kembung dan nyeri dapat membuat bayi menjadi lebih rewel, sering menangis, atau gelisah terutama setelah menyusu atau mengonsumsi susu formula. Bayi mungkin menarik kakinya ke arah perut sebagai tanda nyeri.
  • Muntah. Beberapa bayi dengan intoleransi laktosa juga bisa mengalami muntah setelah mengonsumsi susu. Muntah ini bisa bervariasi mulai dari gumoh ringan hingga muntah yang lebih banyak.
  • Pertumbuhan Terhambat. Jika intoleransi laktosa tidak ditangani, penyerapan nutrisi yang buruk akibat diare kronis dan gangguan pencernaan lainnya dapat memengaruhi berat badan bayi dan menghambat pertumbuhannya.
  • Ruam Popok Parah. Tinja yang berbau asam dan sering dapat mengiritasi kulit di area popok, menyebabkan ruam popok yang lebih parah dan sulit sembuh.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika orang tua mengamati beberapa ciri intoleransi laktosa pada bayi, seperti diare berulang, muntah, rewel yang tidak biasa, atau berat badan tidak naik sesuai harapan, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau dokter anak. Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan merekomendasikan tes untuk menegakkan diagnosis. Diagnosis yang tepat akan membantu dalam menentukan penanganan yang sesuai.

Penyebab Intoleransi Laktosa pada Bayi

Intoleransi laktosa pada bayi dapat disebabkan oleh beberapa faktor:

  • Defisiensi Laktase Primer. Ini adalah jenis paling umum, di mana produksi enzim laktase secara alami menurun seiring bertambahnya usia, namun pada bayi sangat jarang terjadi dan biasanya baru terlihat pada usia yang lebih tua.
  • Defisiensi Laktase Sekunder. Kondisi ini terjadi ketika kerusakan pada usus halus, seperti akibat infeksi virus (misalnya rotavirus), alergi makanan, atau penyakit celiac, mengurangi produksi laktase. Biasanya bersifat sementara dan akan membaik setelah kondisi yang mendasarinya diobati.
  • Defisiensi Laktase Kongenital. Ini adalah kondisi genetik langka di mana bayi lahir tanpa kemampuan untuk memproduksi laktase sama sekali. Gejala akan muncul sejak bayi pertama kali mengonsumsi ASI atau susu formula.
  • Defisiensi Laktase Developmental (Prematur). Bayi yang lahir prematur mungkin memiliki usus yang belum matang sepenuhnya, sehingga produksi laktase belum optimal. Kondisi ini umumnya membaik seiring waktu.

Penanganan dan Pencegahan Intoleransi Laktosa pada Bayi

Penanganan intoleransi laktosa pada bayi berfokus pada pengurangan asupan laktosa untuk meredakan gejala. Beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  • Susu Formula Bebas Laktosa. Untuk bayi yang mengonsumsi susu formula, dokter mungkin akan merekomendasikan penggantian dengan susu formula bebas laktosa.
  • Manajemen ASI untuk Ibu Menyusui. Jika bayi masih menyusu, ibu mungkin tidak perlu berhenti menyusui. Dokter dapat menyarankan teknik menyusui tertentu, seperti memastikan bayi mengonsumsi ASI hingga habis (foremilk dan hindmilk) atau menyesuaikan durasi menyusu. Dalam beberapa kasus, ibu mungkin perlu menghindari produk susu dalam dietnya, namun ini harus di bawah pengawasan medis.
  • Pemberian Enzim Laktase Tambahan. Dalam beberapa kasus, dokter mungkin akan merekomendasikan suplemen enzim laktase yang dapat ditambahkan ke ASI atau susu formula sebelum diberikan kepada bayi.
  • Obat untuk Mengatasi Gejala. Untuk meredakan gejala seperti ruam popok, dokter mungkin meresepkan salep khusus.

Kesimpulan

Mengenali ciri intoleransi laktosa pada bayi merupakan langkah awal yang krusial untuk memastikan penanganan yang tepat dan mendukung tumbuh kembang bayi. Apabila terdapat dugaan bayi mengalami kondisi ini, penting untuk tidak menunda konsultasi dengan dokter anak. Halodoc menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis anak yang berpengalaman untuk membantu orang tua dalam mendiagnosis dan merencanakan penanganan terbaik bagi buah hati.