Waspadai MIS-C pada Anak-Anak Penyintas COVID-19
“Infeksi virus corona tidak hanya menyerang orang dewasa dan lansia. Bayi dan anak-anak pun memiliki risiko yang sama tingginya untuk mengalami penyakit tersebut. Bahkan, meski gejalanya yang relatif lebih ringan, ibu tetap perlu waspada akan long haul COVID-19 atau MIS-C pada anak.”

Halodoc, Jakarta – Angka positif COVID-19 kembali melonjak tinggi beberapa waktu terakhir. Sayangnya, kini penularan lebih banyak terjadi pada anak-anak. Memang benar, gejala infeksi virus corona pada anak bisa dikatakan lebih ringan. Akan tetapi, hal tersebut tetap tidak boleh dianggap sepele.
Pasalnya, pada beberapa kondisi atau kasus tertentu, anak dapat mengalami long haul COVID-19 atau Multisystem Inflammatory Syndrome in Children yang lebih dikenal dengan istilah MIS-C. Ini adalah keadaan medis saat terjadi peradangan pada organ tubuh anak, termasuk ginjal, mata, kulit, otak, paru-paru, pencernaan, dan jantung.
MIS-C pada anak muncul sebagai dampak dari infeksi virus corona. Terjadinya kerusakan organ tubuh anak tersebut sering ditemukan dalam waktu dua minggu setelah paparan virus corona terjadi. Mulanya, anak akan tampak sehat dan baik-baik saja. Gejala yang muncul pun tidak berat.
Namun, beberapa waktu kemudian, kondisi kesehatan anak mulai memburuk. Bahkan beberapa kasus ditemukan pemburukan kondisi yang harus segera mendapatkan penanganan medis. Tak hanya itu, anak-anak pengidap COVID-19 juga memiliki risiko yang sama tingginya untuk menularkan virus ke orang lain. Jadi, sudah pasti sangat berbahaya pada orang-orang terdekat.
Kenali Gejala MIS-C pada Anak
MIS-C pada anak bisa disebut membaik apabila sudah mendapatkan penanganan medis. Lalu, apa saja sebenarnya gejala yang muncul saat anak mengalami kondisi MIS-C pasca terinfeksi virus corona? Berikut ini beberapa di antaranya:
- Detak jantung melemah.
- Kulit tampak berwarna kemerahan.
- Anak mengalami sesak napas.
- Otak yang tidak mampu bekerja dengan maksimal.
- Terjadi diare atau muntah karena masalah pada saluran pencernaan.
- Berkurangnya produksi urine.
- Mata terlihat kemerahan.
Sementara itu, keluhan yang umum terjadi adalah demam. Meski demikian, sebaiknya ibu tidak menunda untuk memeriksakan kondisi sang buah hati jika terlihat gejala yang lebih serius, yaitu:
- Anak mengalami kesulitan bernapas.
- Dada terasa sesak dan nyeri.
- Terlihat mengantuk terus-menerus.
- Sering merasa kebingungan.
- Nyeri perut yang hebat.
- Area kuku, bibir, dan kulit terlihat pucat atau kebiruan.
Segera buat janji dengan dokter spesialis anak di rumah sakit terdekat. Gunakan aplikasi Halodoc agar ibu tidak perlu lagi mengantre saat berobat. Download segera aplikasi Halodoc di ponsel ibu, ya!
Mencegah MIS-C pada Anak
Lalu, adakah cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya MIS-C pada anak? Tentu saja cara terbaiknya adalah menghindari paparan virus corona. Namun, hal ini akan sulit dilakukan jika ibu tidak membiasakan anak untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan.
Mulailah membiasakan anak untuk selalu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, tidak mengajak anak ke tempat ramai, tidak berkerumun, dan mengurangi aktivitas di luar rumah. Jangan lupa, untuk anak yang sudah berusia 6 tahun atau lebih, pastikan ia mendapatkan vaksin. Begitu pula dengan kedua orangtua dan anggota keluarga lainnya.
Lalu, selalu pantau perkembangan anak yang mengalami paparan COVID-19. Pasalnya, tidak ada yang tahu bagaimana imunitas tubuh anak bekerja memerangi virus yang masuk ke dalam tubuh. Berikan asupan nutrisi seimbang, perbanyak asupan air mineral, dan vitamin apabila memang diperlukan.


