Water Fasting 7 Hari: Turun Berapa Kilo Berat Badan?

DAFTAR ISI
- Apa Itu Water Fasting dan Bagaimana Cara Kerjanya?
- Water Fasting 7 Hari: Turun Berapa Kilo?
- Manfaat Water Fasting secara Medis
- Risiko dan Efek Samping Water Fasting 7 Hari
- Siapa Saja yang Tidak Boleh Melakukan Water Fasting?
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Pernahkah kamu mendengar tentang metode diet yang hanya memperbolehkan minum air putih selama berhari-hari? Tren ini dikenal dengan nama water fasting atau puasa air. Belakangan ini, metode tersebut semakin populer di kalangan masyarakat yang ingin menurunkan berat badan secara instan atau melakukan detoksifikasi tubuh.
Kondisi obesitas atau berat badan berlebih memang menjadi salah satu pemicu utama berbagai penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak orang mencari jalan pintas untuk memangkas lemak tubuh, salah satunya dengan melakukan puasa air selama 7 hari berturut-turut.
Namun, di balik janjinya yang menggiurkan untuk menurunkan berat badan dengan cepat, muncul sebuah pertanyaan penting dari kacamata medis: apakah melakukan water fasting selama seminggu penuh benar-benar aman dan sehat untuk tubuh? Metode ekstrem ini ternyata menyimpan berbagai mekanisme kompleks sekaligus risiko yang tidak boleh diabaikan.
Nah, mau tahu fakta medis di balik tren water fasting 7 hari, seberapa banyak berat badan yang bisa turun, serta tingkat keamanannya? Berikut ulasan lengkapnya!
Apa Itu Water Fasting dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Water fasting adalah jenis puasa di mana kamu sama sekali tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung kalori, melainkan hanya minum air putih saja. Berbeda dengan puasa Ramadan yang dibatasi oleh waktu terbit dan tenggelamnya matahari, puasa air biasanya dilakukan selama 24 jam hingga beberapa hari berturut-turut.
Secara medis, saat kamu berhenti memasukkan kalori ke dalam tubuh, akan terjadi perubahan metabolisme yang signifikan. Dalam 24 jam pertama, tubuh akan menghabiskan cadangan glikogen (gula otot dan hati) sebagai sumber energi utama. Setelah glikogen habis, tubuh dipaksa mencari sumber energi alternatif.
Fase inilah yang disebut dengan ketosis, di mana tubuh mulai memecah cadangan lemak menjadi keton untuk digunakan sebagai bahan bakar otak dan organ lainnya. Selain itu, tubuh juga akan mulai memecah protein dari otot, meskipun dalam jumlah yang ditekan seiring berjalannya waktu puasa.
Water Fasting 7 Hari: Turun Berapa Kilo?
Banyak orang penasaran, melakukan water fasting 7 hari sebenarnya bisa menurunkan berat badan berapa kilo? Jawabannya bisa sangat bervariasi tergantung pada metabolisme basal, usia, dan berat badan awal seseorang. Namun, secara umum, seseorang bisa kehilangan sekitar 0,9 kilogram (kg) per hari saat melakukan puasa air.
Artinya, dalam 7 hari, penurunan berat badan bisa mencapai 6 hingga 7 kilogram. Angka ini memang terdengar sangat fantastis, namun kamu perlu memahami komposisi dari berat yang hilang tersebut.
Pada 2 hingga 3 hari pertama, sebagian besar berat badan yang hilang bukanlah lemak, melainkan berat air dan massa otot. Ketika glikogen habis, air yang mengikat glikogen tersebut juga akan ikut terbuang dari tubuh. Jadi, penurunan berat badan yang sangat cepat di awal puasa sebagian besar hanyalah cairan tubuh. Jika kamu tidak menjaga pola makan setelah puasa selesai, berat badan ini akan dengan sangat mudah dan cepat kembali naik (efek yoyo).
Tips Memulai Puasa dengan Aman
- Jangan langsung mencoba 7 hari; mulailah dengan puasa intermiten (seperti 16:8) untuk melatih tubuh.
- Hindari melakukan aktivitas fisik atau olahraga berat selama melakukan puasa air untuk mencegah pingsan.
- Pastikan minum air mineral setidaknya 2-3 liter per hari untuk mencegah dehidrasi parah.
Manfaat Water Fasting secara Medis
Meskipun ekstrem, beberapa penelitian medis menemukan bahwa puasa air memiliki manfaat jika dilakukan dengan benar dan di bawah pengawasan medis. Berikut adalah beberapa manfaatnya:
1. Memicu Autofagi
Autofagi adalah proses alami di mana sel-sel tubuh membersihkan dan mendaur ulang komponen sel yang sudah rusak atau tua. Proses ini diyakini sangat penting untuk mencegah penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer, serta menghambat pertumbuhan beberapa jenis sel kanker. Autofagi biasanya mulai terjadi setelah tubuh berpuasa lebih dari 24-48 jam.
2. Menurunkan Tekanan Darah
Sebuah observasi klinis menunjukkan bahwa puasa air di bawah pengawasan medis dapat membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Hal ini diyakini berhubungan dengan penurunan asupan garam yang drastis, penurunan berat badan, serta perbaikan fungsi pembuluh darah.
3. Meningkatkan Sensitivitas Insulin
Dengan tidak adanya karbohidrat dan gula yang masuk, kadar gula darah dan insulin dalam tubuh akan menurun drastis. Hal ini dapat membantu mereset sensitivitas insulin, yang sangat bermanfaat bagi mereka yang memiliki kondisi resistensi insulin atau pradiabetes.
Risiko dan Efek Samping Water Fasting 7 Hari
Melakukan puasa air selama 7 hari tanpa pemantauan medis sangat tidak disarankan oleh para ahli kesehatan karena tingginya risiko komplikasi. Jika kamu mengalami keluhan seperti pusing hebat, pandangan gelap, atau jantung berdebar keras, jangan ragu untuk segera konsultasi ke dokter agar mendapatkan penanganan dan saran medis yang tepat.
Berikut adalah beberapa bahaya dari water fasting jangka panjang:
1. Dehidrasi Tersembunyi
Terdengar ironis, namun kamu bisa mengalami dehidrasi saat melakukan puasa air. Alasannya, sekitar 20-30 persen kebutuhan air harian manusia sebenarnya berasal dari makanan yang dikonsumsi. Jika kamu hanya minum dalam jumlah biasa tanpa makan sama sekali, tubuh akan kekurangan cairan dan elektrolit esensial.
2. Kehilangan Massa Otot
Saat tubuh berada dalam mode kelaparan ekstrem, lemak bukanlah satu-satunya sumber energi. Tubuh juga akan memecah protein dari otot untuk mempertahankan fungsi organ vital. Kehilangan massa otot akan memperlambat metabolisme basal, yang justru membuat tubuh lebih mudah menimbun lemak setelah kamu kembali makan normal.
3. Hipotensi Ortostatik
Ini adalah kondisi di mana tekanan darah turun secara drastis saat kamu berubah posisi dari duduk atau berbaring ke posisi berdiri. Efeknya adalah rasa pusing berkunang-kunang hingga risiko pingsan. Hal ini sering terjadi karena kurangnya cairan dan kalori yang menopang sistem sirkulasi darah.
Siapa Saja yang Tidak Boleh Melakukan Water Fasting?
Metode ini sangat dilarang untuk beberapa kelompok orang karena dapat mengancam nyawa. Jika kamu memiliki kebutuhan gizi harian yang wajib dipenuhi, atau sering mengonsumsi vitamin atau suplemen harian untuk menjaga kondisi tubuh, puasa ekstrem bukanlah pilihan yang tepat.
Kelompok yang dilarang melakukan water fasting meliputi:
- Ibu hamil dan menyusui: Janin dan bayi membutuhkan asupan nutrisi makro dan mikro yang konstan untuk perkembangan otak dan fisiknya.
- Penderita diabetes (terutama tipe 1): Sangat berisiko mengalami hipoglikemia (gula darah anjlok) yang fatal.
- Orang dengan riwayat gangguan makan: Puasa ekstrem dapat memicu kembali gejala anoreksia nervosa atau bulimia.
- Lansia dan anak-anak: Memiliki metabolisme dan daya tahan fisik yang tidak siap menghadapi defisit kalori ekstrem.
Studi Mengenai Puasa Air
Journal of Alternative and Complementary Medicine menerbitkan studi komprehensif mengenai efek water fasting di bawah pengawasan medis terhadap penderita tekanan darah tinggi. Studi tersebut menjelaskan bahwa mayoritas pasien hipertensi yang melakukan puasa air selama beberapa hari mengalami penurunan tekanan darah yang signifikan.
Namun, studi tersebut juga menegaskan bahwa puasa dilakukan secara rawat inap di fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, para peneliti sepakat bahwa efektivitas dan keamanan puasa air sangat bergantung pada pemantauan tanda-tanda vital secara berkala oleh tenaga medis profesional, bukan dilakukan sembarangan di rumah.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Healthline. Diakses pada 2024. Water Fasting: Benefits and Dangers.
Medical News Today. Diakses pada 2024. What to know about water fasting.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Intermittent fasting: What are the benefits?
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Is water-only fasting safe?
FAQ
1. Berapa lama batas aman melakukan water fasting sendiri di rumah?
Bagi orang sehat, batas maksimal yang dianjurkan untuk melakukan water fasting tanpa pengawasan dokter adalah 24 hingga 72 jam (1-3 hari). Lebih dari itu, risiko terjadinya komplikasi seperti ketidakseimbangan elektrolit dan pingsan akan meningkat tajam.
2. Apakah boleh minum kopi atau teh tanpa gula saat water fasting?
Secara teknis, water fasting sejati hanya memperbolehkan konsumsi air mineral murni. Namun, banyak praktisi puasa memperbolehkan minum kopi hitam atau teh tawar karena keduanya hampir tidak mengandung kalori dan tidak akan merusak proses ketosis atau autofagi.
3. Bagaimana cara yang benar untuk berbuka (refeeding) setelah water fasting?
Saat membatalkan puasa panjang, sistem pencernaan tertidur dan sangat sensitif. Hindari makan porsi besar secara langsung. Mulailah dengan kaldu tulang (bone broth), jus buah murni encer, atau sup ringan. Secara bertahap, masukkan makanan padat yang mudah dicerna seperti sayuran rebus dan protein tanpa lemak pada hari berikutnya.
4. Apakah berat badan pasti akan kembali naik setelah water fasting 7 hari selesai?
Kemungkinan besar iya. Sebagian besar penurunan berat badan awal adalah air dan glikogen. Jika setelah puasa kamu kembali ke pola makan tinggi kalori dan tidak sehat, berat badan akan kembali seperti semula dengan sangat cepat. Perubahan gaya hidup jangka panjang adalah kunci utama menurunkan berat badan yang sehat.



