Ad Placeholder Image

What is NPD: Mengenal Gangguan Kepribadian Narsistik

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 Juni 2026

What is NPD? Gejala, Penyebab, Cara Menangani NPD

What is NPD: Mengenal Gangguan Kepribadian NarsistikWhat is NPD: Mengenal Gangguan Kepribadian Narsistik

DAFTAR ISI


Belakangan ini, istilah “narsistik” atau “narsis” sering kali seliweran di media sosial. Banyak orang menggunakan kata ini untuk melabeli seseorang yang suka pamer, egois, atau terlalu sering mengunggah foto diri sendiri. Namun, dalam dunia medis dan psikologi, istilah ini merujuk pada kondisi yang jauh lebih serius dan kompleks. Pertanyaan yang sering muncul adalah, sebenarnya what is NPD atau Narcissistic Personality Disorder?

Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau Gangguan Kepribadian Narsistik adalah salah satu jenis gangguan kepribadian mental di mana pengidapnya memiliki perasaan yang berlebihan akan kepentingan dirinya sendiri, kebutuhan yang mendalam akan perhatian dan kekaguman yang berlebihan, hubungan yang bermasalah, serta kurangnya empati terhadap orang lain. Namun, di balik topeng kepercayaan diri yang ekstrem ini, terdapat harga diri yang sangat rapuh dan rentan terhadap kritik sekecil apa pun.

Memahami apa itu NPD sangat penting karena kondisi ini tidak hanya merusak kualitas hidup pengidapnya, tetapi juga dapat memberikan dampak emosional yang sangat destruktif bagi orang-orang di sekitarnya, seperti pasangan, keluarga, dan rekan kerja. Pola perilaku manipulatif, eksploitatif, dan minimnya empati sering kali membuat orang terdekat menjadi korban dari pelecehan emosional yang sering tidak disadari.

Jika kamu atau orang terdekatmu sedang berhadapan dengan situasi yang mengarah pada gangguan kepribadian ini, penting untuk membekali diri dengan informasi yang tepat. Nah, mau tahu penjelasan medis lengkap mengenai what is NPD, gejala, penyebab, hingga cara penanganannya? Berikut ulasannya!

Pengertian: What is NPD?

Untuk menjawab pertanyaan what is NPD, kita perlu melihatnya dari kacamata psikiatri. NPD diklasifikasikan sebagai gangguan kepribadian kelompok B (Cluster B) dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Kelompok B ini mencakup kondisi mental yang ditandai dengan perilaku yang sangat dramatis, emosional, atau tidak menentu.

Penting untuk membedakan antara sifat narsis yang sehat (healthy narcissism) dengan NPD. Sifat narsis yang sehat melibatkan rasa percaya diri yang proporsional, kemampuan untuk menghargai pencapaian diri sendiri, namun tetap mampu berempati dan menghargai orang lain. Sebaliknya, pada orang dengan NPD, rasa cinta diri tersebut termanifestasi dalam bentuk keangkuhan, eksploitasi terhadap orang lain demi keuntungan pribadi, dan ketidakmampuan untuk merasakan penderitaan orang lain.

Mereka yang mengidap NPD sering kali merasa kecewa dan tidak bahagia jika tidak diberikan perlakuan khusus atau kekaguman yang mereka yakini pantas mereka dapatkan. Hal ini membuat hubungan sosial mereka sering kali tidak memuaskan, dan orang lain mungkin merasa tidak nyaman berada di dekat mereka.

Gejala dan Tanda-Tanda NPD

Gejala dari gangguan kepribadian narsistik bisa bervariasi dari tingkat ringan hingga sangat parah. Seseorang dengan NPD biasanya menunjukkan pola pikir dan perilaku yang kaku di berbagai situasi. Menurut kriteria diagnostik DSM-5, seseorang dapat didiagnosis mengidap NPD jika menunjukkan setidaknya lima dari ciri-ciri berikut ini:

1. Rasa Kepentingan Diri yang Muluk (Grandiosity)

Pengidap NPD melebih-lebihkan bakat dan pencapaian mereka. Mereka sering berharap diakui sebagai orang yang superior meskipun tanpa pencapaian yang sepadan. Mereka mungkin terus-menerus berbicara tentang betapa hebatnya mereka dalam melakukan suatu hal.

2. Fantasi Kesuksesan dan Kekuasaan yang Berlebihan

Mereka sering kali tenggelam dalam fantasi tentang kesuksesan tanpa batas, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau cinta yang ideal. Fantasi ini bertindak sebagai perisai dari realitas batin mereka yang merasa hampa.

3. Keyakinan Bahwa Diri Mereka “Spesial”

Mereka percaya bahwa mereka unik, spesial, dan hanya dapat dipahami oleh, atau harus bergaul dengan, orang-orang atau institusi yang berstatus tinggi lainnya.

4. Kebutuhan Akan Kekaguman yang Berlebihan

Ada kebutuhan yang konstan untuk dipuji dan dikagumi. Jika mereka tidak mendapatkan pujian, mereka bisa merasa sangat marah atau merasa direndahkan.

5. Merasa Punya Hak Istimewa (Sense of Entitlement)

Mereka memiliki ekspektasi yang tidak masuk akal untuk mendapatkan perlakuan khusus atau kepatuhan otomatis dari orang lain terhadap harapan mereka. Mereka merasa pantas mendapatkan yang terbaik tanpa harus bekerja keras seperti orang lain.

6. Eksploitatif Secara Interpersonal

Pengidap NPD tidak ragu untuk memanfaatkan orang lain demi mencapai tujuan mereka sendiri. Mereka memandang orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan mereka, bukan sebagai individu yang memiliki hak dan perasaan.

7. Kurangnya Empati

Ini adalah salah satu tanda paling khas. Mereka tidak mau atau tidak mampu mengenali serta memahami perasaan dan kebutuhan orang lain. Mereka sering kali tampak dingin atau tidak peduli dengan penderitaan orang di sekitarnya.

8. Sering Merasa Iri atau Merasa Orang Lain Iri Kepadanya

Mereka sangat kompetitif dan sering merasa iri terhadap kesuksesan orang lain, atau sebaliknya, memiliki delusi bahwa semua orang di sekitarnya merasa iri terhadap kehidupan mereka.

9. Sikap Arogan dan Sombong

Mereka sering menunjukkan sikap angkuh, merendahkan orang lain, atau bertindak seolah-olah mereka lebih baik dari siapa pun dalam percakapan sehari-hari.

Faktor Pemicu Kemarahan Narsistik (Narcissistic Rage)
  1. Mendapatkan kritik atau koreksi sekecil apa pun dari orang lain.
  2. Merasa tidak diutamakan atau tidak mendapat perhatian penuh di sebuah acara.
  3. Ketahuan melakukan kebohongan atau taktik manipulasi oleh pasangannya.
  4. Kehilangan kendali atas situasi atau orang-orang yang biasanya mereka dominasi.

Berbagai Tipe Gangguan Kepribadian Narsistik

Meskipun diagnosis resmi NPD hanya ada satu, para ahli psikologi sering membagi NPD ke dalam beberapa tipe berdasarkan bagaimana perilaku tersebut diekspresikan secara luar. Memahami tipe ini membantu dalam menyadari bahwa tidak semua pengidap NPD tampil mencolok dan arogan secara terang-terangan.

1. Overt Narcissism (Grandiose)

Tipe ini adalah yang paling stereotip dan mudah dikenali. Mereka ekstrovert, sangat percaya diri, agresif, dominan, dan sering mencari perhatian secara terang-terangan. Mereka cenderung melebih-lebihkan prestasi dan secara terbuka merendahkan orang lain.

2. Covert Narcissism (Vulnerable)

Berbeda dengan tipe overt, tipe covert atau narsistik rentan justru terlihat introvert, pemalu, atau bahkan cemas. Namun, di dalam diri mereka, mereka tetap merasa lebih superior dibandingkan orang lain. Mereka sering kali merasa dunia tidak adil karena tidak mengakui “kehebatan” mereka yang tersembunyi. Mereka sangat sensitif terhadap penolakan.

3. Malignant Narcissism

Ini adalah spektrum NPD yang paling berbahaya karena menggabungkan ciri narsisme dengan perilaku antisosial, agresi, dan sadisme. Mereka tidak hanya kurang empati, tetapi juga bisa menikmati proses menyakiti, mengontrol, atau menjatuhkan orang lain.

Penyebab dan Faktor Risiko

Hingga saat ini, penyebab pasti dari NPD tidak diketahui secara terperinci. Namun, seperti banyak gangguan mental lainnya, NPD diyakini merupakan hasil dari interaksi yang kompleks antara faktor biologi, genetik, dan lingkungan.

1. Faktor Lingkungan (Pola Asuh Masa Kecil): Banyak ahli meyakini bahwa pengalaman di masa kecil memainkan peran krusial. Pola asuh yang terlalu memanjakan anak secara berlebihan, selalu memuji tanpa dasar, dan tidak pernah memberikan batasan (overvaluation) dapat memicu NPD. Di sisi lain, pola asuh yang mengabaikan emosi anak, sangat mengkritik, atau penuh dengan trauma dan pelecehan emosional juga dapat membuat anak mengembangkan NPD sebagai mekanisme pertahanan diri.

2. Genetika dan Keturunan: Ada kemungkinan kuat bahwa kecenderungan untuk mengembangkan NPD diwariskan dalam keluarga. Sifat-sifat kepribadian tertentu, seperti tingkat kepekaan emosional yang tinggi atau kecenderungan temperamental, bisa diwariskan dari orang tua.

3. Neurobiologi: Penelitan otak menunjukkan bahwa pengidap NPD mungkin memiliki perbedaan struktural di otak, khususnya di area korteks insular kiri, wilayah otak yang terkait erat dengan kognitif empati dan pengaturan emosi.

Diagnosis dan Komplikasi

Mendiagnosis gangguan kepribadian narsistik tidaklah mudah karena pengidapnya jarang merasa ada yang salah dengan diri mereka. Mereka biasanya hanya datang ke dokter jiwa atau psikolog karena didorong oleh anggota keluarga, atau ketika mereka mengalami komplikasi lain seperti depresi akut, kecanduan alkohol, atau krisis hidup yang parah.

Diagnosis ditegakkan oleh profesional kesehatan mental melalui evaluasi psikologis yang mendalam, wawancara terstruktur, dan membandingkan gejala dengan kriteria yang tercantum dalam manual DSM-5.

Jika kamu merasa orang terdekat atau bahkan dirimu sendiri mengalami ciri-ciri di atas yang mengganggu kualitas hidup, sangat penting untuk segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc spesialis kesehatan jiwa atau psikolog klinis yang tersedia kapan saja untuk mendapatkan evaluasi yang tepat.

Apabila tidak ditangani, NPD dapat memicu komplikasi serius, antara lain:

  • Kesulitan dalam menjalin hubungan percintaan atau pertemanan.
  • Masalah di tempat kerja atau sekolah.
  • Depresi dan gangguan kecemasan akibat kegagalan memenuhi ekspektasi diri sendiri.
  • Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.
  • Pikiran atau perilaku bunuh diri jika mengalami krisis identitas yang parah.

Pengobatan dan Terapi untuk NPD

Perawatan utama untuk NPD berpusat pada terapi wicara atau psikoterapi. Hal ini bertujuan untuk membantu pengidap memahami emosi mereka, membangun empati, dan mengubah cara mereka berinteraksi dengan orang lain. Karena NPD merupakan bagian dari struktur kepribadian dasar seseorang, perawatannya membutuhkan waktu yang panjang dan komitmen yang kuat.

1. Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behavioral Therapy/CBT)

Terapi ini berfokus pada identifikasi pola pikir yang tidak sehat dan keyakinan diri yang menyimpang, kemudian menggantinya dengan pikiran yang lebih realistis dan positif. CBT dapat membantu pengidap NPD merespons kritik dengan lebih sehat tanpa harus menggunakan mekanisme kemarahan.

2. Terapi Skema (Schema Therapy)

Terapi ini sering digunakan untuk mengobati gangguan kepribadian. Tujuannya adalah untuk membantu pengidap mengidentifikasi “skema” atau pola emosional yang terbentuk di masa kecil (seperti perasaan tidak berharga atau ditinggalkan) dan belajar merespons emosi tersebut dengan cara yang adaptif.

3. Terapi Keluarga atau Pasangan

Sering kali, orang-orang terdekat sangat terdampak oleh perilaku NPD. Terapi keluarga membantu membuka jalur komunikasi, memecahkan konflik, dan mengedukasi anggota keluarga tentang bagaimana menetapkan batasan yang sehat.

Hingga saat ini, tidak ada obat spesifik yang diciptakan atau disetujui untuk menyembuhkan gangguan kepribadian narsistik. Namun, dokter mungkin meresepkan obat-obatan antidepresan atau obat anti-kecemasan untuk mengatasi gejala depresi atau kecemasan yang kerap menyertai kondisi ini. Walaupun demikian, menjaga kesehatan fisik secara umum dan mengelola stres dapat membantu stabilitas emosi. Untuk menunjang rutinitas sehat selama terapi, kamu bisa dengan mudah beli vitamin, suplemen, atau produk kesehatan lainnya secara online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah.

Cara Menghadapi Orang dengan NPD

Berhadapan dengan individu yang memiliki NPD bisa menguras tenaga, pikiran, dan emosi. Jika kamu berada dalam hubungan dengan seseorang yang narsistik—baik itu orang tua, pasangan, maupun atasan—berikut adalah beberapa strategi yang bisa diterapkan:

  • Tetapkan Batasan Tegas: Jangan biarkan diri kamu disalahkan atas hal-hal yang bukan tanggung jawabmu. Buat batasan yang jelas mengenai perilaku apa yang bisa dan tidak bisa kamu terima.
  • Jangan Memasukkan Semuanya ke dalam Hati: Orang dengan NPD sering kali memproyeksikan rasa tidak aman mereka kepada orang lain melalui kritik tajam. Sadarilah bahwa serangan mereka sebenarnya adalah cerminan dari diri mereka sendiri, bukan kelemahanmu.
  • Hindari Berdebat tentang Benar dan Salah: Mencoba membuktikan bahwa orang dengan NPD salah sering kali hanya memicu narcissistic rage. Jika memungkinkan, alihkan percakapan atau tinggalkan situasi saat mulai memanas.
  • Cari Dukungan Eksternal: Jangan isolasi dirimu. Bergabunglah dengan grup dukungan atau berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental untuk menjaga kewarasan dan memvalidasi realitasmu sendiri yang mungkin sering mereka manipulasi (gaslighting).

Studi Terkait NPD

Journal of Psychiatric Research menerbitkan sebuah studi yang menemukan adanya penipisan materi abu-abu di area otak insula kiri pada pasien dengan gangguan kepribadian narsistik dibandingkan dengan orang sehat.

Temuan ini sangat penting secara medis karena insula kiri terkait langsung dengan empati kognitif dan emosional. Studi ini membuktikan bahwa kurangnya empati pada pengidap NPD bukan sekadar kebiasaan buruk yang disengaja, melainkan ada dasar defisit neurobiologis yang memengaruhi kemampuan mereka dalam merasakan belas kasih.

Konsultasi dengan Psikiater atau Psikolog via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, atau merasa kelelahan emosional menghadapi orang terdekat dengan indikasi narsistik, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Psikiater atau Psikolog Klinis terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Narcissistic personality disorder – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Narcissistic Personality Disorder (NPD).
American Psychiatric Association. Diakses pada 2024. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR).
Psychology Today. Diakses pada 2024. Narcissistic Personality Disorder.
National Institutes of Health (NIH). Diakses pada 2024. Narcissistic Personality Disorder.

FAQ

1. What is NPD dalam bahasa sehari-hari?

Dalam bahasa awam, Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah kondisi kesehatan mental di mana seseorang merasa dirinya paling penting, sangat butuh dipuji dan dikagumi, namun sama sekali tidak memiliki kepedulian atau empati terhadap perasaan orang lain di sekitarnya.

2. Apakah orang dengan NPD menyadari bahwa dirinya narsistik?

Sebagian besar pengidap NPD tidak menyadari atau tidak mau mengakui bahwa mereka memiliki masalah psikologis. Karena mereka memiliki pandangan bahwa diri mereka superior, mereka cenderung menyalahkan orang lain atau situasi atas masalah dan konflik yang terjadi di hidup mereka.

3. Apakah gangguan kepribadian narsistik bisa disembuhkan total?

Mengingat NPD adalah gangguan kepribadian yang tertanam dalam struktur karakter seseorang sejak lama, “kesembuhan” total mungkin sulit dicapai. Namun, dengan terapi psikologis jangka panjang yang konsisten, gejalanya bisa ditekan dan pengidap bisa belajar beradaptasi untuk menjalin hubungan yang lebih sehat dan berempati.

4. Apa bedanya perilaku narsis biasa dengan gangguan kepribadian narsistik?

Narsis biasa sering kali hanya sebatas rasa percaya diri yang tinggi atau kebanggaan sesaat atas pencapaian tertentu, di mana orang tersebut masih bisa menerima kritik dan berempati. Sedangkan NPD adalah kondisi patologis yang merusak fungsi sosial individu secara menyeluruh, disertai manipulasi, eksploitasi, dan kurangnya empati yang ekstrem.