• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • WHO Tidak Sarankan Konsumsi Klorokuin untuk Pengidap Corona

WHO Tidak Sarankan Konsumsi Klorokuin untuk Pengidap Corona

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Sempat digunakan sebagai obat untuk corona, baru-baru ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengimbau untuk menghentikan konsumsi klorokuin bagi pengidap corona. Menurut jurnal penelitian yang dipublikasikan oleh The Lancet, klorokuin memberikan efek samping signifikan pada orang yang terinfeksi corona.

Bahkan setelah dilakukan penelitian, konsumsi obat ini meningkatkan kematian. Selama ini klorokuin digunakan sebagai obat yang aman untuk penyakit autoimun dan malaria. Informasi selengkapnya mengenai klorokuin corona bisa dibaca di bawah ini!

Dapat Sebabkan Gangguan Irama Jantung

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya klorokuin sejauh ini aman untuk mengobati beberapa kondisi mulai dari malaria, lupus, dan radang sendi. Kekhawatiran mengenai konsumsi klorokuin untuk pengidap corona terjadi karena sejauh ini belum ada uji klinis yang merekomendasikannya untuk digunakan terhadap COVID-19.

WHO menghentikan sementara beberapa penelitian terkait klorokuin karena kekhawatiran risiko kesehatan dan keselamatan yang ditimbulkan oleh penelitian. Disinyalir konsumsi obat ini dapat mengakibatkan masalah jantung. 

Baca juga: PSBB Dilonggarkan, Begini Panduan Perawatan Kesehatan Anak

US Food & Drug Administration juga menegaskan hal ini bahwasanya klorokuin dapat menyebabkan masalah irama jantung yang serius pada pasien dengan COVID-19. Itulah sebabnya konsumsi obat ini dianggap belum terbukti aman dan efektif untuk mengobati atau mencegah COVID-19. 

Klorokuin dapat menyebabkan irama jantung yang tidak normal seperti perpanjangan interval QT dan detak jantung yang sangat cepat yang disebut takikardia ventrikel. Risiko-risiko ini dapat meningkat ketika obat-obatan ini dikombinasikan dengan obat-obatan lain yang diketahui memperpanjang interval QT.

Orang yang juga memiliki masalah kesehatan lain, seperti penyakit jantung dan ginjal cenderung berisiko tinggi mengalami masalah jantung ketika mengonsumsi klorokuin. Untuk orang yang sudah mengonsumsi klorokuin karena kondisi malaria ataupun penyakit autoimun, tidak perlu US Food & Drug Administration mengimbau untuk tidak khawatir.

Jangan berhenti minum obat tanpa terlebih dahulu berbicara dengan dokter. Butuh informasi lebih detail mengenai klorokuin, bisa ditanyakan langsung ke dokter melalui aplikasi Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu.  

Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Baca juga: Waspadai Gelombang Kedua Corona

Sempat Diduga Dapat Menghambat Coronavirus

Dilansir dari ScienceMag.org, sebelum akhirnya disarankan untuk tidak dikonsumsi, sebelumnya klorokuin disinyalir oleh para dokter dapat membantu pengidap COVID-19 dengan menghambat coronavirus memasuki sel dan dengan menjinakkan reaksi berlebihan yang berpotensi mematikan dari sistem kekebalan tubuh. 

Namun, percobaan yang mendukung informasi tersebut dinilai memiliki kelemahan metodologis dan belum terbukti efektivitasnya. Justru malah ditemukan kalau klorokuin berpotensi memicu aritmia.

Obat ini dapat memblokir saluran pada sel-sel otot jantung yang mengontrol aliran ion, yang mengatur pengisian ulang listrik jantung antara denyut. Komplikasi jantung lebih umum terjadi pada orang dengan infeksi coronavirus daripada pada orang dengan penyakit autoimun yang menggunakan klorokuin.

Pengidap COVID-19 yang dirawat di rumah sakit cenderung berusia lebih tua dan beberapa diantaranya sudah menggunakan obat lain yang dapat memperpanjang interval QT mereka. Kondisi jantung yang sudah ada sebelumnya meningkatkan keparahan penyakit karena sebelum terinfeksi corona sudah berisiko terkena aritmia. Corona sendiri dapat menyerang banyak organ, termasuk jantung dan ginjal, kerusakan yang dapat meningkatkan risiko aritmia saat pasien memburuk. 

Referensi:
Wolrd Health Organization. Diakses pada 2020. WHO Director-General's opening remarks at the media briefing on COVID-19 - 25 May 2020.
Bbc.com. Diakses pada 2020. Coronavirus and hydroxychloroquine: What do we know?
US Food & Drug Administration. Diakses pada 2020.  FDA cautions against use of hydroxychloroquine or chloroquine for COVID-19.
Science Mag. Diakses pada 2020. Antimalarials widely used against COVID-19 heighten risk of cardiac arrest. How can doctors minimize the danger?