Ad Placeholder Image

Yuk, Kenali Kelainan Hipospadia pada Si Kecil

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   05 Mei 2026

Pahami Kelainan Hipospadia: Penjelasan Mudah Ortu

Yuk, Kenali Kelainan Hipospadia pada Si KecilYuk, Kenali Kelainan Hipospadia pada Si Kecil

Mengenal Kelainan Hipospadia pada Bayi Laki-Laki

Hipospadia adalah sebuah kondisi bawaan lahir yang mempengaruhi bayi laki-laki, ditandai dengan lokasi lubang kencing (uretra) yang tidak berada di ujung penis. Seharusnya, lubang kencing terletak di ujung kepala penis, namun pada hipospadia, posisinya justru di bagian bawah penis, bahkan bisa lebih dekat ke kantung buah zakar (skrotum).

Kelainan ini seringkali disertai dengan bentuk penis yang melengkung ke bawah serta kulup (kulit depan penis) yang tidak terbentuk sempurna. Penanganan hipospadia biasanya memerlukan prosedur bedah rekonstruksi. Tujuannya adalah untuk mengembalikan fungsi saluran kencing dan memperbaiki tampilan penis.

Apa Itu Hipospadia?

Hipospadia merupakan kelainan perkembangan organ reproduksi pada bayi laki-laki yang terjadi sebelum kelahiran. Kondisi ini membuat saluran kemih atau uretra, yang berfungsi sebagai jalan keluar urine dan sperma, tidak berakhir pada lokasi normalnya.

Alih-alih di ujung kepala penis, lubang uretra bisa ditemukan di sepanjang bagian bawah (ventral) penis. Tingkat keparahan hipospadia bervariasi, mulai dari ringan di mana lubang uretra sedikit bergeser dari ujung, hingga berat di mana lubang berada di pangkal penis atau skrotum.

Gejala Kelainan Hipospadia

Gejala utama hipospadia adalah lokasi lubang kencing yang tidak normal. Selain itu, ada beberapa tanda lain yang dapat diamati pada bayi yang lahir dengan kondisi ini.

Gejala-gejala tersebut meliputi:

  • Lubang uretra tidak terletak di ujung penis, melainkan di bagian bawah penis atau bahkan di area skrotum.
  • Penis melengkung ke bawah, terutama saat ereksi, kondisi ini dikenal sebagai chordee.
  • Kulup (kulit yang menutupi kepala penis) tidak terbentuk sempurna atau hanya menutupi bagian atas penis, sehingga bagian bawah kepala penis tampak terbuka.
  • Pancaran urine yang tidak lurus, seringkali mengarah ke bawah atau samping, menyebabkan anak harus jongkok saat buang air kecil.

Penyebab Kelainan Hipospadia

Penyebab pasti hipospadia seringkali tidak diketahui, namun kondisi ini diyakini merupakan hasil dari kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Kelainan ini terjadi akibat gangguan pada perkembangan uretra dan kulit penis selama masa kehamilan, biasanya antara minggu ke-8 hingga ke-12.

Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko hipospadia meliputi:

  • Faktor Genetik: Ada kemungkinan faktor keturunan, di mana bayi laki-laki lebih berisiko jika ada riwayat hipospadia dalam keluarga.
  • Hormonal: Gangguan pada produksi atau respons tubuh terhadap hormon androgen (hormon pria) selama perkembangan janin dapat berkontribusi.
  • Usia Ibu: Ibu yang berusia 35 tahun ke atas saat hamil mungkin memiliki risiko yang sedikit lebih tinggi.
  • Paparan Zat Tertentu: Paparan terhadap bahan kimia atau obat-obatan tertentu selama kehamilan, seperti obat kesuburan atau pestisida, meskipun belum ada bukti konklusif yang kuat.
  • Berat Badan Lahir Rendah: Bayi yang lahir dengan berat badan di bawah normal memiliki risiko yang sedikit lebih tinggi.
  • Faktor Lingkungan: Penelitian masih terus dilakukan untuk mengidentifikasi potensi faktor lingkungan lain yang mungkin berperan.

Pengobatan untuk Hipospadia

Penanganan hipospadia biasanya melibatkan prosedur bedah rekonstruksi. Tujuan utama operasi adalah untuk memposisikan ulang lubang kencing ke ujung penis dan memperbaiki kelengkungan penis jika ada.

Prosedur ini juga bertujuan untuk menciptakan bentuk penis yang lebih normal secara fungsional dan estetika. Operasi hipospadia umumnya dilakukan ketika anak berusia antara 6 bulan hingga 18 bulan, atau sebelum anak mulai berlatih toilet (toilet training).

Dalam beberapa kasus, kulit kulup mungkin digunakan untuk membantu rekonstruksi uretra. Oleh karena itu, sunat biasanya ditunda pada bayi dengan hipospadia hingga setelah operasi. Tingkat keberhasilan operasi ini cukup tinggi, namun terkadang mungkin diperlukan lebih dari satu prosedur, terutama untuk kasus yang lebih kompleks.

Apakah Hipospadia Dapat Dicegah?

Karena penyebab pasti hipospadia seringkali tidak diketahui dan melibatkan faktor genetik, pencegahan yang spesifik sulit dilakukan. Namun, ada beberapa langkah umum yang dapat diambil selama kehamilan untuk mendukung kesehatan janin secara keseluruhan.

Ini termasuk menjaga gaya hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi, menghindari paparan zat berbahaya seperti rokok dan alkohol. Penting juga untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai obat-obatan yang dikonsumsi selama kehamilan.

Kapan Harus ke Dokter dan Rekomendasi Halodoc

Jika terindikasi adanya kelainan hipospadia pada bayi laki-laki, baik saat pemeriksaan fisik setelah lahir atau melalui gejala yang muncul kemudian, sangat penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak atau urolog anak.

Penanganan dini dapat memberikan hasil yang lebih baik dalam jangka panjang. Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk menentukan tingkat keparahan kondisi dan merekomendasikan rencana perawatan yang tepat, termasuk opsi bedah jika diperlukan. Jangan ragu untuk mencari informasi dan dukungan medis yang akurat.

Melalui aplikasi Halodoc, orang tua dapat dengan mudah berkonsultasi dengan dokter spesialis secara daring untuk mendapatkan saran awal atau membuat janji temu. Halodoc menyediakan informasi medis terpercaya dan membantu menghubungkan pengguna dengan tenaga kesehatan profesional.