Kenali Nama Virus Cacar Air, Pelaku Cacar Api Juga

Mengenal Varicella-Zoster Virus: Nama Virus Cacar Air dan Hubungannya dengan Cacar Api
Cacar air adalah penyakit infeksi yang sangat menular, ditandai dengan munculnya ruam kulit berupa lepuh berisi cairan yang gatal di sekujur tubuh. Di balik kondisi ini, terdapat satu nama virus cacar air yang menjadi biang keladinya. Virus tersebut adalah Varicella-Zoster Virus (VZV).
Memahami VZV penting untuk mengetahui bagaimana penyakit ini menyebar, menimbulkan gejala, dan potensi reaktivasi di kemudian hari. VZV termasuk dalam keluarga virus herpes, menjadikannya unik karena kemampuannya untuk bersembunyi di dalam tubuh setelah infeksi awal.
Apa Itu Varicella-Zoster Virus (VZV)?
Varicella-Zoster Virus (VZV) merupakan nama virus cacar air atau varicella. Virus ini adalah anggota dari kelompok virus herpes manusia, secara spesifik dikenal sebagai Human Alphaherpesvirus 3. VZV sangat menular dan menyebabkan infeksi primer yang dikenal sebagai cacar air.
Setelah infeksi awal cacar air sembuh, Varicella-Zoster Virus tidak sepenuhnya hilang dari tubuh. Virus ini bisa tetap aktif dalam kondisi laten (tidur) di sel-sel saraf spinal atau saraf kranial selama bertahun-tahun. Kondisi laten inilah yang memungkinkan virus untuk kembali aktif di masa mendatang.
Bagaimana Varicella-Zoster Virus Menular?
Penularan Varicella-Zoster Virus terjadi dengan sangat mudah dari satu individu ke individu lain. VZV menyebar terutama melalui dua jalur utama yang perlu diketahui.
- Kontak Langsung dengan Cairan Lepuh: Kontak langsung dengan cairan dari lepuh cacar air pada kulit penderita yang terinfeksi adalah metode penularan yang paling umum. Cairan lepuh mengandung partikel virus dalam jumlah tinggi.
- Melalui Udara (Droplet): VZV juga dapat menyebar melalui udara ketika penderita batuk atau bersin. Partikel virus yang terbawa droplet pernapasan dapat terhirup oleh orang lain di sekitarnya, menyebabkan infeksi.
Seseorang yang terinfeksi dapat menularkan virus beberapa hari sebelum ruam muncul hingga semua lepuh mengering dan berkeropeng. Masa inkubasi VZV, atau waktu antara paparan virus dan munculnya gejala, umumnya berkisar antara 10 hingga 21 hari.
Gejala Infeksi VZV (Cacar Air)
Setelah terinfeksi Varicella-Zoster Virus, beberapa gejala umum akan mulai muncul. Gejala ini seringkali berkembang secara bertahap dalam beberapa hari.
- Demam Ringan: Peningkatan suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi seringkali menjadi gejala awal.
- Nyeri Kepala dan Badan: Rasa tidak enak badan, nyeri otot, dan nyeri kepala dapat menyertai demam.
- Hilang Nafsu Makan: Penderita mungkin merasa kurang berselera untuk makan.
- Ruam Kulit Gatal: Ini adalah gejala paling khas, dimulai sebagai bintik merah kecil yang kemudian berkembang menjadi lepuh berisi cairan. Lepuh ini sangat gatal dan bisa muncul di seluruh tubuh, termasuk mulut dan alat kelamin.
- Luka Berkeropeng: Dalam beberapa hari, lepuh akan pecah dan mengering membentuk keropeng.
Penting untuk diingat bahwa ruam cacar air muncul dalam gelombang, artinya lepuh baru dapat terus muncul sementara yang lain sudah mulai berkeropeng. Ini menyebabkan penderita memiliki lepuh pada berbagai tahap penyembuhan secara bersamaan.
Cacar Air dan Cacar Api: Dua Sisi VZV yang Berbeda
Salah satu fakta menarik tentang Varicella-Zoster Virus adalah kemampuannya menyebabkan dua penyakit berbeda. VZV adalah nama virus cacar air (varicella) sebagai infeksi primer. Namun, virus yang sama juga bertanggung jawab atas cacar api atau herpes zoster.
Setelah seseorang sembuh dari cacar air, VZV tidak akan hilang sepenuhnya. Virus ini akan bersembunyi di sel-sel saraf dan dapat reaktifasi di kemudian hari. Reaktivasi virus ini, terutama saat sistem imun melemah, menyebabkan munculnya cacar api.
Cacar api ditandai dengan ruam yang sangat nyeri, seringkali muncul dalam pola garis pada satu sisi tubuh. Ini merupakan manifestasi dari virus yang aktif kembali di sepanjang jalur saraf tertentu. Vaksinasi dapat membantu mencegah cacar api pada orang dewasa yang pernah menderita cacar air sebelumnya.
Pengobatan Cacar Air
Pengobatan cacar air bertujuan untuk meredakan gejala dan mencegah komplikasi. Umumnya, cacar air akan sembuh dengan sendirinya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meredakan ketidaknyamanan meliputi:
- Antihistamin: Untuk mengurangi rasa gatal yang hebat.
- Obat Penurun Demam: Seperti parasetamol, dapat digunakan untuk meredakan demam dan nyeri.
- Losion Kalamin: Untuk membantu menenangkan kulit yang gatal.
- Menjaga Kebersihan: Mandi dengan air hangat dan sabun lembut, serta menjaga kuku tetap pendek untuk menghindari garukan yang bisa menyebabkan infeksi.
- Obat Antivirus: Pada kasus tertentu, dokter mungkin meresepkan obat antivirus seperti acyclovir, terutama jika diberikan dalam 24 jam pertama setelah ruam muncul. Ini efektif pada orang dewasa atau individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Pencegahan Penularan Varicella-Zoster Virus
Mencegah penularan Varicella-Zoster Virus adalah kunci untuk mengurangi penyebaran cacar air. Ada beberapa metode efektif untuk mencegah infeksi VZV.
- Vaksinasi: Vaksin cacar air adalah cara paling efektif untuk mencegah infeksi VZV. Vaksin ini direkomendasikan untuk anak-anak, remaja, dan orang dewasa yang belum pernah menderita cacar air.
- Menghindari Kontak Langsung: Jauhi kontak dengan orang yang sedang menderita cacar air sampai semua lepuh mereka mengering dan berkeropeng.
- Kebersihan Diri: Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah kontak dengan penderita.
- Menutupi Batuk dan Bersin: Jika seseorang sakit, menutupi mulut dan hidung saat batuk atau bersin dapat mencegah penyebaran droplet virus.
Kapan Harus ke Dokter?
Meskipun cacar air seringkali merupakan penyakit ringan, beberapa situasi memerlukan perhatian medis segera. Segera konsultasikan dengan dokter di Halodoc jika mengalami:
- Demam tinggi yang tidak kunjung turun.
- Ruam yang menyebar ke mata atau sangat nyeri.
- Tanda-tanda infeksi bakteri pada lepuh (merah, bengkak, nyeri, nanah).
- Sulit bernapas atau batuk yang memburuk.
- Kondisi sistem imun yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS atau yang sedang menjalani kemoterapi.
Penting untuk tidak mengabaikan gejala yang tidak biasa dan mencari saran medis profesional.



