Penasaran? Intip Gambar Ari-Ari Bayi dan Fungsinya

DAFTAR ISI
- Apa Itu Plasenta dan Bagaimana Gambarnya?
- Mengenal Anatomi dan Gambar Plasenta Secara Detail
- Fungsi Utama Plasenta bagi Janin
- Berbagai Posisi Plasenta dalam Rahim
- Gangguan Kesehatan pada Plasenta yang Perlu Diwaspadai
- Apa yang Terjadi pada Plasenta Setelah Persalinan?
- Studi Terkait
- FAQ
Selama masa kehamilan, tubuh ibu mengalami perubahan luar biasa untuk mendukung pertumbuhan kehidupan baru. Salah satu organ paling menakjubkan yang terbentuk secara khusus hanya selama periode ini adalah plasenta, atau yang sering disebut oleh masyarakat Indonesia sebagai ari-ari bayi. Meskipun memiliki peran yang sangat krusial, banyak orang tua yang mungkin belum pernah melihat secara langsung bagaimana gambar plasenta dan memahami fungsinya yang kompleks.
Memahami gambar plasenta dan cara kerjanya bukan sekadar memuaskan rasa ingin tahu, melainkan juga bagian penting dari edukasi kesehatan ibu hamil. Plasenta bertindak sebagai jembatan kehidupan antara ibu dan janin, memastikan nutrisi dan oksigen tersalurkan dengan baik. Tanpa plasenta yang sehat, pertumbuhan janin di dalam kandungan dapat terhambat, bahkan bisa membahayakan nyawa ibu dan bayi.
Karena pentingnya organ ini, pemeriksaan rutin melalui USG untuk memantau posisi dan kondisi plasenta sangatlah disarankan. Jika kamu merasakan keluhan seperti perdarahan atau nyeri perut yang hebat saat hamil, sangat penting untuk segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan diagnosis yang tepat.
Nah, mau tahu apa saja fakta menarik dan gambaran mendalam mengenai ari-ari bayi ini? Berikut ulasannya!
Apa Itu Plasenta dan Bagaimana Gambarnya?
Plasenta adalah organ berbentuk cakram yang berkembang di dalam rahim selama masa kehamilan. Organ ini unik karena merupakan satu-satunya organ yang bersifat sementara dalam tubuh manusia, yang akan tumbuh saat hamil dan dikeluarkan setelah bayi lahir. Secara visual, gambar plasenta menunjukkan struktur yang kaya akan pembuluh darah, yang mencerminkan tugas utamanya sebagai pusat pertukaran zat.
Pada akhir masa kehamilan, plasenta biasanya memiliki diameter sekitar 15 hingga 22 sentimeter dengan ketebalan sekitar 2 hingga 3 sentimeter di bagian tengahnya. Beratnya rata-rata mencapai 500 gram, atau sekitar seperenam dari berat bayi lahir. Jika kamu melihat gambar plasenta dari dekat, kamu akan melihat jaringan yang padat dan berwarna merah tua keunguan karena saturasi darah yang tinggi.
Mengenal Anatomi dan Gambar Plasenta Secara Detail
Untuk memahami fungsinya, kita perlu melihat struktur plasenta dari dua sisi yang berbeda. Plasenta memiliki sisi yang menempel pada rahim ibu dan sisi yang menghadap ke arah bayi.
1. Sisi Maternal (Sisi Ibu)
Jika kamu melihat gambar plasenta dari sisi maternal, permukaannya akan tampak kasar, bergelombang, dan berwarna merah tua. Sisi ini terdiri dari sekitar 15 hingga 20 lobus atau bagian yang disebut kotiledon. Kotiledon inilah yang menempel langsung pada dinding rahim (endometrium). Di sinilah terjadi pertukaran antara darah ibu dan sistem plasenta melalui ruang antar-jonjot (intervillous space).
2. Sisi Fetal (Sisi Bayi)
Sebaliknya, gambar plasenta dari sisi fetal tampak sangat berbeda. Sisi ini terlihat halus, licin, dan mengkilap karena dilapisi oleh selaput ketuban (amnion). Di sisi inilah tali pusat (umbilical cord) biasanya menempel di bagian tengah. Kamu akan melihat jaringan pembuluh darah yang menjalar dari tali pusat ke seluruh permukaan plasenta, menyerupai akar pohon yang kuat.
3. Tali Pusat (Umbilical Cord)
Tali pusat adalah saluran yang menghubungkan janin dengan plasenta. Secara anatomi, tali pusat mengandung dua pembuluh nadi (arteri) dan satu pembuluh balik (vena) yang dilindungi oleh zat jeli yang disebut Wharton’s Jelly. Vena membawa darah kaya oksigen dan nutrisi dari plasenta ke janin, sedangkan arteri membawa darah kotor berisi sisa metabolisme dari janin kembali ke plasenta.
Fungsi Utama Plasenta bagi Janin
Plasenta bukan sekadar pelapis, melainkan “mesin” pendukung kehidupan yang multifungsi. Berikut adalah beberapa fungsi vital plasenta:
- Penyalur Nutrisi: Plasenta mentransfer glukosa, protein, vitamin, dan mineral dari darah ibu ke janin.
- Respirasi (Pertukaran Gas): Bertindak layaknya paru-paru bagi janin, menyerap oksigen dari ibu dan membuang karbon dioksida.
- Ekskresi: Membuang zat sisa metabolisme janin seperti urea ke dalam sistem peredaran darah ibu untuk dibuang.
- Perlindungan Imun: Mentransfer antibodi (terutama IgG) dari ibu ke janin untuk memberikan kekebalan sementara setelah lahir.
- Produksi Hormon: Menghasilkan hormon penting seperti hCG, progesteron, estrogen, dan human placental lactogen (hPL) untuk menjaga kelangsungan kehamilan.
Tips Menjaga Kesehatan Plasenta Selama Kehamilan
- Hindari paparan asap rokok dan konsumsi alkohol karena dapat merusak pembuluh darah plasenta.
- Pantau tekanan darah secara rutin untuk mencegah risiko preeklampsia.
- Pastikan asupan nutrisi seimbang dan rutin mengonsumsi vitamin prenatal sesuai anjuran.
Berbagai Posisi Plasenta dalam Rahim
Melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG), dokter akan memantau di mana plasenta menempel pada dinding rahim. Posisi plasenta bisa bervariasi pada setiap ibu hamil. Beberapa posisi yang umum ditemukan meliputi:
1. Plasenta Anterior
Pada posisi ini, plasenta menempel di dinding depan rahim (dekat dengan perut ibu). Gambar plasenta anterior sering kali membuat ibu hamil lebih lambat merasakan gerakan tendangan bayi karena plasenta bertindak sebagai bantalan di bagian depan.
2. Plasenta Posterior
Ini adalah posisi di mana plasenta menempel pada dinding belakang rahim (dekat dengan tulang belakang ibu). Ini dianggap sebagai posisi yang ideal dan sangat umum ditemukan.
3. Plasenta Fundal
Plasenta menempel di bagian atas rahim (fundus). Posisi ini juga termasuk normal dan tidak membahayakan proses kehamilan maupun persalinan.
4. Plasenta Lateral
Plasenta menempel di sisi kiri atau kanan dinding rahim.
Gangguan Kesehatan pada Plasenta yang Perlu Diwaspadai
Meskipun plasenta dirancang untuk bertahan hingga akhir kehamilan, ada beberapa kondisi medis yang dapat mengganggu fungsinya. Memahami gambar plasenta dan posisinya melalui USG dapat membantu mendeteksi masalah ini sejak dini.
1. Plasenta Previa
Kondisi di mana plasenta menempel di bagian bawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir (serviks). Gejala utamanya adalah perdarahan tanpa rasa nyeri pada trimester kedua atau ketiga. Ibu dengan kondisi ini biasanya disarankan untuk menjalani persalinan caesar.
2. Solusio Plasenta (Abruptio Placentae)
Ini adalah kondisi gawat darurat medis di mana plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum bayi lahir. Hal ini dapat memutus pasokan oksigen ke janin dan menyebabkan perdarahan hebat pada ibu. Segera hubungi dokter jika mengalami nyeri perut mendadak dan perdarahan vagina.
3. Plasenta Akreta, Inkreta, dan Perkreta
Kondisi di mana pembuluh darah plasenta tumbuh terlalu dalam ke dalam dinding rahim. Pada plasenta akreta, ia menempel terlalu kuat; pada inkreta, ia masuk ke otot rahim; dan pada perkreta, ia bisa menembus hingga ke organ di sekitarnya seperti kandung kemih. Kondisi ini berisiko menyebabkan perdarahan hebat pasca persalinan.
4. Insufisiensi Plasenta
Terjadi ketika plasenta tidak mampu memberikan nutrisi dan oksigen yang cukup kepada janin. Hal ini sering dikaitkan dengan kondisi medis ibu seperti hipertensi atau diabetes. Dampaknya adalah pertumbuhan janin yang terhambat (IUGR).
Untuk mendukung kesehatan janin dan menjaga kualitas plasenta, jangan lupa memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk mendapatkan suplemen kehamilan atau vitamin prenatal yang direkomendasikan dokter dengan lebih praktis.
Apa yang Terjadi pada Plasenta Setelah Persalinan?
Setelah bayi lahir, proses persalinan belum sepenuhnya usai. Rahim akan terus berkontraksi untuk melepaskan plasenta dari dinding rahim. Proses ini disebut sebagai kala tiga persalinan. Biasanya, plasenta akan keluar dalam waktu 5 hingga 30 menit setelah bayi dilahirkan.
Dokter atau bidan akan memeriksa gambar plasenta secara fisik setelah keluar untuk memastikan bahwa organ tersebut utuh. Jika ada bagian kecil plasenta yang tertinggal di dalam rahim (retensio plasenta), hal ini dapat menyebabkan infeksi atau perdarahan pasca persalinan (HPP) yang serius bagi ibu.
Di Indonesia, terdapat berbagai tradisi budaya terkait penanganan ari-ari setelah lahir, seperti mencucinya dengan bersih dan menguburnya dengan doa tertentu. Secara medis, plasenta adalah limbah biologis, namun penghormatan terhadap ari-ari merupakan bagian dari kearifan lokal yang masih dijaga oleh banyak keluarga.
Studi Mengenai Kesehatan Plasenta
American Journal of Obstetrics and Gynecology menerbitkan studi di tahun 2016 yang menjelaskan bahwa pemeriksaan patologi pada plasenta setelah lahir dapat memberikan informasi penting mengenai penyebab komplikasi kehamilan dan risiko pada kehamilan berikutnya.
Studi ini menekankan bahwa kelainan pada pembuluh darah plasenta sering kali menjadi indikator awal adanya gangguan metabolisme pada ibu yang mungkin tidak terdeteksi selama pemeriksaan rutin. Oleh karena itu, observasi mendalam terhadap bentuk dan kondisi plasenta sangat krusial dalam dunia kedokteran obstetri.
Jika kamu memiliki kekhawatiran tentang posisi ari-ari atau kesehatan kehamilanmu secara umum, jangan ragu untuk berkonsultasi. Diagnosis dini dan pemantauan yang tepat sangat menentukan keselamatan ibu dan buah hati.
Kamu bisa mendapatkan berbagai produk kesehatan pendukung kehamilan dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc agar masa kehamilanmu tetap nyaman dan aman.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Placenta: How it works, what’s normal.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Placenta: Function, Anatomy & Complications.
NHS UK. Diakses pada 2026. What is the placenta?.
Healthline. Diakses pada 2026. Everything You Need to Know About the Placenta.
FAQ
1. Apakah gambar plasenta di USG bisa menentukan jenis kelamin bayi?
Tidak, gambar plasenta melalui USG tidak digunakan untuk menentukan jenis kelamin. Namun, posisi plasenta dipantau untuk memastikan tidak menutupi jalan lahir atau menghambat pertumbuhan bayi.
2. Apa yang menyebabkan plasenta cepat tua (kalsifikasi)?
Kalsifikasi plasenta adalah proses penumpukan kalsium yang wajar terjadi seiring bertambahnya usia kehamilan. Namun, jika terjadi terlalu dini, hal ini bisa dipicu oleh kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi, atau stres yang berlebihan pada ibu.
3. Apakah plasenta previa bisa berpindah posisi?
Ya, seiring dengan pertumbuhan dan peregangan rahim ke arah atas, plasenta yang tadinya berada di bawah bisa ikut “tertarik” ke atas menjauhi serviks. Fenomena ini sering disebut dengan migrasi plasenta.
4. Mengapa dokter memeriksa ari-ari setelah saya melahirkan?
Dokter perlu memastikan plasenta keluar secara utuh. Jika ada jaringan yang tertinggal di dalam rahim, hal itu dapat menyebabkan perdarahan hebat atau infeksi rahim (endometritis) yang membahayakan nyawa ibu.
## Punya Kekhawatiran Tentang Kondisi Kehamilan Kamu? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan atau ingin tahu lebih banyak soal perkembangan janin, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!
HILDA ([Halodoc Intelligent Digital Assistant](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
[HILDA](https://www.halodoc.com/hilda) akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.



